My Wedding Vendors

Saya agak bingung kalo harus ngejembrengin vendor-vendor resepsi pernikahan. Karena kita ngurus sendiri sebagian vendor makanan, jadi agak kerepotan di hari-H. Ada kejadian-kejadian yang sedikit lucu selama planning dan hari-H. Walaupun bukan resepsi yang besar-besaran, tapi semoga sedikit info ini bisa jadi referensi untuk membantu teman-teman yang sedang merencanakan pernikahan di sekitaran Tangerang Selatan.

Kami memilih tema outdoor garden party untuk resepsi, sedangkan akad nikah menggunakan ruang serbaguna di tempat resepsi kami. Pemilihan vendor-vendor ini hasil nembak aja, gak terlalu banyak pertimbangan ina-inu karena saya dan pasangan gak mau terlalu ribet atau perfeksionis. Nyari yang menurut kami oke dan terpercaya aja, dan bisa mendukung keinginan / ekspektasi. Kami percaya, setiap perencanaan dengan kenyataan itu nggak selalu seiring sejalan 100%. Manusia berencana, Allah yang menentukan. Kitamah pasrahan anaknya hahaha
1. Wedding Organizer (Dekor, Rias Pengantin, Dokumentasi) by Sanggar Pengantin Nisa Salon, Serpong. Borongan, haha. Pertama kali liat dekor dan riasan Mba Ana (owner, make up artist, floor director) di nikahan temen saya di Januari 2015. Mba Ana sangat kooperatif dan kerjanya cepat menangani semua keinginan kita. Dekornya cukup baik dan rapi. Riasannya cukup lah, gak menor dan lebih simple-modern. Saya buat buku dan kliping khusus untuk gambaran resepsi yang saya inginkan. Mulai dari contoh dekor dan pernak-perniknya, contoh gaun, dan contoh riasan beserta model jilbab yang kepingin saya pake. Semua cuma buat gambaran aja, gak harus sama persis. Saya sih percaya aja sama Mba Ana. Untuk daerah tempat saya tinggal, sepertinya Sanggar Nisa “megang banget”. Untuk paket sudah termasuk dekor (akad + resepsi), make up dan kostum (pengantin + 2 ibu) dan dokumentasi biasa + album pengantin, free foro kanvas ukuran besar. Sayangnya saya gak punya kameramen pribadi buat mendokumentasikan detail-detail dekornya.  Tapi saya suka concern mereka sama pelaminan yang ukuranya mini, balon-balon putih yang menggantung di pohon dekat panggung band, plus menjawab tantangan cuaca yang Mei lalu ternyata masih hujan. Waktu dirias buat akad, ternyata hujan cukup deras, begitu saya keluar menuju ke tempat akad (ruang rias & ruang akad terpisah gedung), hujan reda. Setelah itu hijan lagi pas persiapan resepsi, tapi begitu mau mulai resepsi, hujan berhenti total. Thanks, Allah. 😇

2.jpg

dekor simple sesuai deh sama keinginan kita

1

makeup akad

3

makeup resepsi

Ada yang lucu waktu Mba Ana lagi ngerias sambil wara-wiri mantau jelang akad. Setelah selesai rias mau mulai akad, tetiba Mba Ana dateng ke ruang rias, “Mba, kamu putrinya Pak ***** toh?”, saya jawab, “Iya mbak, kenapa?” Ternyata Mba Ana dulu sekolah di SMA yang sama dengan saya dan dua kakak perempuan saya (yang mana papa saya jadi Kepsek waktu itu). Lucunya lagi, ternyata Mba Ana temen deket kakak perempuan tertua saya waktu kami baru pindah ke daerah ini. Woalaaah, sempit amat dunia. Termasuk waktu ngurus dokumen nikah ke kantor kelurahan, bapak-bapak di sana ‘ngeh’ juga sama papa saya. Well, I don’t know my dad were that famous, LOL. 

Tips : kalo punya banyak waktu, lebih baik luangkan lebih banyak untuk survey, pintar-pintar nego supaya dapet bonus tambahan. Tadinya waktu penawaran pertama mereka nggak termasuk dekor akad, setelah nego ternyata budget masuk untuk tambahan dekor akad tanpa tambahan biaya. Kami cukup puas juga denga dekor akadnya. Simple, rapi, elegan. Makeupnya bagus difoto. Cuma beberapa hasil foto terutama di tempat gelap kurang maksimal.

2. Venue + Prasmanan, Restaurant Remaja Kuring Serpong. Manajer Restoran, Mas Uci kooperatif banget dari awal pertama kali banget kami dateng. FYI, begitu Aji diumumin penempatan di Samarinda, dia langsung ngasitau saya, minggu itu kita hunting, datengin sanggar dan venue langsung nego, minggu depannya dia udah terbang ke Samarinda. No time for being bewildered😎

Kami ambil makanan prasmanan utama aja dari resto. Mereka nggak men-charge sewa tempat untuk pemesanan paket makan min.100 porsi. Cuma ada charge tambahan Rp 500ribu untuk listrik dan Rp 100ribu/menu untuk makanan yang diambil dari luar. Menurut hitung-hitungan memang lebih murah ambil makanan gubukan dari luar. Jadilah kami ambil makanan favorit dari luar (sate ayam + lontong, dimsum fav mama mertua, bakso beliau bikin sendiri, siomay kesukaan saya di deket stasiun Serpong, martabak by Orins BSD, es krim diamond dari Kebon Jeruk–udah termasuk pramusaji, nyari online). Pramusaji tambahan kita cari sendiri.

Tempat ini sebenernya bagus buat dipake acara sore, tempatnya bakal jadi adem. Cuma karena kita adain acaranya Jumat jadi nggak mungkin ya, orang masih pada kerja. Ada beberapa tempat yang seharusnya bisa jadi bikin venue jadi lebih luas, tapi karena ornamen-ornamennya nggak bisa dipindahin, jadinya bikin tamu bakal terpencar-pencar. Mudah-mudahan ke depannya Remaja Kuring mau memikirkan untuk bisa memindahkan beberapa ornamen tersebut supaya lebih nyaman buat wedding venue. Saya sih nggak begitu suka venue atas (indoor) karena justru keliatannya jadi lebih sempit.

Lalu, buat acara malam, saya sarankan untuk menambah beberapa penerangan (bisa request ke pihak resto), karena path buat masuk ke pesta saya kemarin kayaknya kurang terang, takutnya kalau tamunya udah pada sepuh ntar kesandung-sandung. Terus, tempat ini agak sulit buat yang pake kursi roda. Alhamdulillahnya nenek saya masih bisa jalan walau agak sulit, jadi tetap bisa mengakses tempat ini meski nggak bisa banyak wara-wiri.

Tips : Cari info selengkapnya, nego-nego untuk bonus tambahan (kalau katering terpisah). Biasanya bonus juga mereka sertakan waktu nego pertama, misal katering khusus buat keluarga inti pengantin. Pilih venue yang sesuai tema. Kalau di outdoor saya sarankan untuk tenda tambahan, siapatau ada hujan dadakan. Dan kalau memang percaya, nggak ada salahnya untuk sewa pawang hujan. Saya sih engga, percaya sama Tuhan aja, kita pasrah tanpa Plan B. Alhamdulillah Tuhan Maha Baik hehe…

3. Undangan by Yanti Card, Tangerang. Yak, setelah insiden undangan gagal, akhirnya saya diselamatkan oleh Yanti Card yang bisa memenuhi kebutuhan saya untuk mencetak undangan kurang dari sebulan. Saya dapet kontaknya dari web Bridestory. Gak babibu saya langsung minta ketemuan. Dan saya diarahkan ke workshop Yanti Card di Tangerang Kota. Saya dianter mama di hari kerja, saya sampai ijin gak masuk kantor karena saya butuh untuk diproses secepatnya.

wpid-picsart_1447918041580.jpg

tadinya pingin ini tapi ga sempat

Alhamdulilah akhirnya kami pilih desain undangan yang simple, full gold.  Undangan bisa jadi dua minggu dari pertama kali saya datang ke workshop. Dalam prosesnya saya cuma ketemu Si Koko (saya lupa namanya) tiga kali : Pertama waktu datang ke workshop, kedua waktu saya tanda tangan approval untuk cetak undangan (desain sudah finished), dan ketiga waktu saya ambil undangan. Pertemuan kedua dan ketiga di rumah Si Koko yang posisinya lebih dekat yaitu di Alam Sutera. Harga yang ditawarkan mulai Rp 4000-20.000 udah termasuk plastik dan kartu ucapan terima kasih sesuai jumlah undangan. Kerjaan rapi, cepat, memuaskan lah buat saya. Saya merekomendasikan Yanti Card buat daerah Tangerang ini. Karena di beberapa tempat yang saya datangi nggak sanggup mengerjakan kebutuhan saya, dan juga mereka mematok minimal 500 buah undangan.

Tips : Untuk memilih dan mencetak undangan prosesnya beragam. Tapi usahakan dimulai 3-4 bulan sebelumnya. Terutama kalau hunting di Pasar Tebet. Pengerjaan mereka rata-rata sampe dua bulan. Apalagi kalau nikah di waktu “musim kawin” alias rame customer. Buat saya tempat rame seperti itu bisa “untung-untungan”, kadang keberuntungan bisa mampir ke beberapa orang, puas sama kerjaan satu percetakan. Tapi buat yang lain belum tentu. So, don’t put your expectation too high, especially kalo budgetnya pas-pasan. Ada harga ada rupa, hehe.

4. Souvenir. Lagi-lagi karena saya gak terlalu banyak luangin waktu buat hunting secara langsung, akhirnya saya pesan souvenir penjepit foto / kertas dari Jogja. Saya percaya orang Jogja mah nggak neko-neko, saya lihat dari webnya Dani Craft harga yang mereka tawarin lebih murah daripada di Jakarta.  Memang sih saya nambah Rp 100 ribu untuk ongkos. Saya sih bukan tipe orang yang mau blusukan ke Pasar Jatinegara atau Pasar Pagi Asemka buat hunting sendirian. Karena waktu itu calon suami udah jauh alias LDR. Udah terlalu nervous dengan ina-inu dan saya harus bertahan “sendirian” sementara calon suami di sana free timenya enak-enakan main PS terus (>.<) Jadilah saya pesan online, dan souvenir udah jadi 1,5 bulan sebelum Hari-H.

But……ternyata saya salah perhitungan. Dari 300 undangan saya cuma pesan 300 buah souvenir. Sedangkan keluarga besar (sekitar 100 orang) yang datang tanpa undangan nggak mungkin nggak disediain souvenir. Selain itu, kami juga mengirimkan beberapa undangan kolektif (satu kantor satu undangan, atau perkumpulan tertentu). Nah, yang dateng kan pasti lebih dari satu. Jadilah akhirnya saya dateng juga ke Pasar Pagi Asemka untuk beli souvenir tambahan. Glek!

Tips : Kalau punya banyak waktu, bisa cari-cari souvenir di banyak tempat. Tergantung kemauan kita. Kalau yang standar-standar ada di Pasar Jatinegara, Pasar Pagi Asemka, atau di Pasar Tebet sekalian pas cari undangan. Pilih souvenir dengan presentase gagal / cacatnya sedikit. Kalau saya sih prefer nggak memilih barang pecah belah, karena bisa jadi pas pembuatan dan pengiriman ada yang pecah. Pesan souvenir tambahan sekitar 25-30 % dari jumlah undangan, hitung dari keluarga (yang datang tanpa undangan).

5. Entertainment / Band / Wedding Singer. Karena saya dan calon suami waktu itu consider banget buat menjadikan pernikahan kami sebagai sarana untuk menghibur, kami rela memberikan main stage buat band sementara mini pelaminan diletakkan di pinggir. Sejak pertama, kami punya band pilihan untuk mengisi wedding kami. Kami suka band ini dari pertama kali kami lihat performance mereka di area BSD Square. Mereka memang manggung di sana setiap Sabtu Malam. Kami termasuk penonton yang menyaksikan mereka dari awal (penonton masih sepi) sampai sekarang penontonnya udah banyak banget sampe-sampe kalau ke sana sering nggak kebagian tempat duduk. Maklum gratis hehe.. Beatnite, namanya. Mereka khusus menyanyikan lagu-lagu The Beatles. We love their songs. Kami bukan penggemar fanatik, tapi kami suka lagu-lagunya dari yang slow sampai yang enak buat dancing. Cocok lah sama suasana yang mau kita bawain.

Mas Abhe (bassist sekaligus salah satu manager) pertama kali ketemu kita waktu sebelum mereka perform. Dia sudah cukup paham kemauan kita. Setelah menyodorkan song list, saya email-email-an dan berkomunikasi via Whatsapp soal konsep dan lagu yang kami pingin mereka bawain. Saya lebih banyak berkontribusi daripada calon suami. Karena memang saya yang lebih punya waktu untuk ngurusin ini. Fasilitas full band, dan perelengkapan sound system kami mintakan tolong sekalian ke Mas Abhe.

IMG_2145.JPG

Waktu itu kami minta untuk perform satu lagu, Love Me Tender dari Elvis Presley. Dalam prosesnya agak sulit karena kami nggak pernah punya waktu buat latihan. Akhirnyalah kami nodong aja di Hari-H, sedikit kacau karena sejak pertama calon suami dikasih tau ini-itu soal duet performance kita, kayaknya dia seperti sulit untuk paham apa yang saya maksud. Setelah married, saya baru tau kalo waktu itu dia “sibuk” main karena punya PS Baru. Jadinya nggak fokus sama apa-apa yang saya omongin. Setelah punya gitar sendiri, dia malah bisa nyanyiin lagu itu dan mainin chord-nya. DUH!

Tips : Untuk meminimalisir entertainment budget, pilih mini band yang terdiri dari tiga orang dengan dua sampai tiga instrument. Kami beresiko untuk mengalokasikan budget yang cukup besar buat band, karena kepingin mewujudkan mimpi kami di awal tadi. Full band format akan selalu lebih mahal daripada mini-band karena mereka akan butuh sound system yang lebih banyak. Sering-sering dateng ke tempat (mall, cafe) yang menampilkan band / mini-band untuk referensi pilihannya.

6. Foto Prewedding. Hmmm… Kalo saya bilang sih penting-nggak penting ya. Ada yang beranggap kalau foto prewed jadi salah satu hal wajib untuk dipajang di pernikahan mereka. Meskipun buat saya ini nggak wajib, kami mencoba untuk membuatnya dengan budget yang minim, alias minta fotoin temen, hehe… Karena kebetulan calon adik ipar punya kamera mirrorles yang cukup bagus untuk dipake, akhirnya kami pinjam. Untuk proses foto, saya minta tolong temen buat fotoin buat asal jepret, and in the end yang lebih banyak motoin justru pacarnya dia hahaha.. Thanks to my bestfriend, mwahhh.. 

Tips : Kalau memang punya budget lebih, memang nggak ada salahnya untuk menyewa fotografer khusus untuk pre-wedding yang sekalian mengerjakan dokumentasi di Hari-H. Well, saya nggak punya budget khusus buat itu, jadi saya cari jalan keluar untuk hal ini. Kalau punya temen wedding photographer / videographer, bisa sangat membantu karena kita bisa minta “harga temen” dengan kualitas setara fotografer wedding. 

7. Dekor perintilan. Nah, ini buat yang punya budget minim untuk dekor, ternyata kita bisa bikin dekorasi tambahan sendiri lho. Saya membuat dekor tambahan untuk memenuhi idealisme saya, karena tim dekor Mba Nisa nggak menyediakan dekor semacam ini. Dekor tambahan berupa gelas-gelas berisi lilin, nggak bisa mereka penuhi karena mungkin sebelumnya nggak ada yang minta dekor semacam ini di wedding yang mereka pernah tangani. Berhubung sepertinya ini outdoor wedding dengan konsep yang nggak mainstream yang pertama buat mereka, akhirnyalah saya buat sendiri.

wpid-picsart_1437790861628.jpg

Saya beli beberapa mason jar dan kertas khusus untuk scrapbook, dan tali rami serta lilin kecil. Saya buat seperti ini, dan saya tempatkan di sisi kolam renang supaya kelihatan lebih cantik. Selain itu, saya membeli beberapa lilin berbentuk bunga yang ditempatkan di kolam renang (mengapung). Terakhir, saya beli lampion untuk diterbangkan di akhir acara. Tapi harus hati-hati penempatannya karena bisa jadi ketendang orang atau malah hilang. Yap, gelas-gelas ini di akhir acara hilang entah ke mana. padahal tadinya mau saya bawa pulang buat dipake di rumah Hahaaha

Tadinya saya mau menambahkan kembang api kecil (untuk dinyalakan ketika kami masuk venue), dan kembang api besar untuk memeriahkan di akhir acara. Tapi karena camer terlalu takut bakal menyebabkan kebakaran (maklum, venue memang bersebelahan dengan SPBE), akhirnya kami coret dari daftar.

Tips : Jangan pilih dekorasi tambahan yang terlalu menguras tenaga dan pikiran (juga uang) kalau kita merasa nggak sanggup membuatnya. Ide-ide bisa didapatkan di Pinterest, banyak kok.

 

Oke, untuk sementara kayaknya itu dulu ya ulasan saya mengenai wedding vendor saya tanggal 15 – 5 – 15 yang lalu. Gak harus sempurna semuanya, yang penting bisa memenuhi harapan soal wedding impian kita. Again, ada harga ada rupa, jadi jangan berharap wedding yang sempurna kalau kenyataannya budget kita terbatas tas tas…..

Gak Nyangka…

Jumat lalu, Aji jemput saya di St.Palmerah. Saya memang tau dia ada pekerjaan dinas di Tangerang dari Senin-Rabu. Waktu dikabarin dia bakal pulang, saya agak kaget juga sih. Dari Samarinda, dinasnya jauh banget sampe ke Gading Serpong, which is lumayan deket sama rumah saya. Nasib baik banget ini namanya wuhuuuw. Walaupun nggak bisa ketemuan karena kerjaannya sampe malem, saya tetep ngerasa lebih deket. Sebulan lebih nggak ketemu dan terpisah pulau, gitu kan… kangen banget pastinya.

Sebenernya hari sebelumnya dia dateng ke kantor buat ngambil undangan. Kebetulan Kamis itu, dia mau ngasih undangan ke kantor cabangnya di Cipete tempat OJT dulu. Ketemunya cuma bentar, karena dia juga pake taksi jadi gak bisa lama-lama. Duuh, namanya juga kangen ya, saya cubit-cubitin deh tuh pipinya yang makin lebar dan perutnya yang makin gembul di depan gerbang kantor. Untung nggak ada yang liat. hahaha…

Nah, di Jumat itu, kita ketemuan di St.Palmerah buat ngasih undangan ke kantor lama kita di daerah Tanah Abang. Dia tau saya bukan tipe perempuan yang harus dijemput di rumah. Kalo bisa cari tempat ketemu yang searah sama tempat tujuan ya di situ kita ketemu. Biasanya kalo nggak di Palmerah ya di Kebayoran. Tapi jalan di St.Kebayoran terlalu sempit jadi susah buat berhenti, sedangkan kita nggak tau siapa yang bakal sampe duluan. Jadi lah kita putuskan untuk ketemu di Palmerah, kebetulan juga lebih deket ke Tanah Abang.

Setelah cari cemilan dan makan siang sebentar sebelum Jumatan, kita berangkat ke SPOT (kantor lama saya & Aji). Kebanyakan temen-temen ‘seangkatan’ kita dah pada nggak ada, kecuali ‘dedengkot’nya hehe. Sambil nunggu Aji dan temen cowok lain Jumatan, saya ngobrol-ngobrol sama ‘anak-anak baru’ SPOT. Beda banget sama yang dulu, sekarang anaknya rame-rame dan kayaknya nggak terlalu ‘ngenes’ nasibnya sama kita dulu, lebih keliatan terawat lah hahah..

Setelah itu, saya dan Aji pulang ke rumahnya di daerah Cinere buat ketemuan sama MC kita di Hari-H nanti. Mba Lela, yang juga mantan anak buah mamanya Aji, orangnya rame dan ramah. Awalnya kita sempet ragu karena kita pengen acara kita nanti seru dan entertaining. Setelah ketemuan sih saya yakin beliau bisa. Walaupun bagian dari Angkatan Laut, bukan berarti nggak bisa bikin suasana cair.

Habis Maghrib, saya dan Aji cari-cari glitter buat ditabur di pigura berisi mahar. Tapi dah cari ke tiga tempat, semua nggak ada. Akhirnya kita cuma makan dan beliin makanan buat mama (camer). Karena kemaleman buat nganter saya pulang, Aji minta saya nginep aja di rumah, bobok sama Mama, judulnya, hehe…

Jam setengah sebelasan, setelah ngobrol-ngobrol dikit, saya dan mama camer tidur. Jam tiga pagi, saya kebangun karena mama camer bangun. Beliau memang biasa terbangun pagi banget untuk Tahajjud dan baca Quran. Saya bangun sih, tapi karena bingung mau ngapain, akhirnya baru bener-bener beranjak dari kasur sekitar setengah empat-an, wudhu, Tahajjud, baru deh kita bertiga pergi ke masjid untuk Shalat Subuh berjamaah di masjid terdekat, walaupun nggak deket-deket banget ya, sekitar 500m dari rumah.

Pulang dari masjid, beli nasi liwet dulu buat sarapan. Ini kayaknya pertama kalinya deh saya sarapan jam 5.30 pagi. Biasanya jarang sarapan atau nggak sama sekali, yang jelas nggak se-pagi itu. Habis itu, kita semua bobok lagi dan bangun jam 8. Itu juga kebangun karena suara telepon mama camer. Karena nggak biasa tidur kelamaan, saya juga bangun, mandi. Mama camer yang dasarnya ‘nggak bisa diem’ alias selalu aktif, pagi itu bersihin rumput di halaman belakang. Sedangkan saya diminta masangin label dan plastik undangan yang (ternyata) belum disebar ke kolega beliau.

Sabtu sore kita janjian ketemu sama Mas Abhe (band), Mbak Nisa (dekor), dan Mas Uci (pihak resto) dan Bang Ayat (sepupu Aji yang in charge di acara kita nanti). Alhamdulillah semua bisa ketemu hari itu, sekalian Mbak Nisa juga bawain baju yang mau kita pake nanti untuk fitting. Dan ternyata oh ternyata, akusih memang ngerasa banget sejak Jumat itu udah naik berat badan ya, tulang sayapku nggak nonjol-nonjol banget seperti biasanya. Pas ditimbang juga memang naik sekitar 1-1,5 kg. Itu juga karena Aji nggak mau liat saya terlalu kurus (duh terharu banget dibilang kurus). Tapi memang sih, kerasa sebelumnya tulang-tulang tangan dan belikat saya nongol-ngongol. Sekarang-sekarang, udah mulai keliatan lebih bohay kalo ngaca hihiiiwww.. *orang lain mati-matian diet buat ngurusin badan, saya malah bersusah-susah naikin berat badan.* Tapi sekarang saya lagi mati-matian memberantas jerawat yang tiba-tiba dateng nih huhuuu sedih banget deh, kenapa harus sekarang..??

Nah, waktu Aji nyobain bajunya. Waaaaawwww, perutnya offside jauh. Kancing jadi mletek-mletek (kayak mau copot). Haaaaaa, baru juga sebulan di Samarinda dah menggemuk lagi. Saya pun jadi makin bawel minta dia berhenti makan gorengan dan karbohidrat berlebihan malam-malam, pokoknya jangan ngemil malem deh. Itu kebiasaan buruk dia dari dulu. Dulu sering banget katanya makan nasi goreng lewat jam 9 malem, bikin mi instant, atau ngemil snack potato chips yang (tau banget dong kita) kalorinya banyak. Udah gitu, gak lama, tidur. Walaupun perut buncitnya emang unyu-unyu dan ngangenin buat dielus-elus (bhahahh), tapi sekarang saya lebih concern supaya kita berdua lebih sehat. Soalnya ngeri ya, jaman sekarang banyak orang-orang masih muda kena cancer, serangan jantung sampe meninggal di usia yang terbilang muda, 35-40an, mana anaknya masih kecil-kecil (SD-SMP).

Pokoknya, kalo orang lain married jadi gemuk gak beraturan, saya kepingin nanti kita lebih sehat dari sebelumnya. Saya bakal masak makanan yang sehat juga, gak terlalu goreng-gorengan, kalori dan lemak berlebihan. Buncit sedikit gak masalah ya, tapi kalo udah mirip om-om, aduuuh… bikin worry. 

However, di jalan menuju tempat ketemuan, kita ngobrolin lagi. Betapa semua ini nggak disangka berjalan cepat.

“Gak kerasa ya, tiga minggu lagi. Berasa cepet,” dia bilang.

“Hehehe iya,”

“Dulu (banget) aku pernah bilang, kamu siap-siap aja kalau suatu hari nanti aku tiba-tiba ngajak nikah,”

*saya flashback ke momen itu. Momen perjalanan kami ke Bandung naik kereta, cuma mau numpang makan siang di sana, sambil nikmatin pemandangan pergi-pulang.

“Aku tuh, kayak udah tau aja, gak tau gimana. Sepertinya aku udah tau mau begini dan begitu,” katanya.

“Heheee…” saya nyengir-nyengir aja.

di tengah dilema naiknya berat badan (dia) dan jerawat yg bertebaran (saya)

di tengah perbincangan, dilema naiknya berat badan (dia) dan jerawat yg bertebaran (saya)

Nggak sebentar memang saya menunggu sampai hari itu datang. Perjalanannya panjang (banget) rasanya. Walaupun kalau dibandingin, saya masih punya beberapa teman yang udah lama banget pacaran, ada yang 7 tahun, 8 tahun, bahkan 10 tahun pacaran, tapi belum nikah. Salah satunya yang udah pacaran 8 tahun bakal nikah seminggu sebelum pernikahan kami.

Nggak nyangka juga sih, Bulan November (kalo nggak salah) saya jalan bareng dia ke nikahan temen, waktu saya ajak ke Rinjani, dia bilang nggak bisa karena dia punya ‘big plan‘ di Bulan Mei. Sedangkan saya dan Aji baru memutuskan untuk menikah beberap bulan lalu. Persiapan juga singkat, sekitar 2,5 bulan. Surprisingly, semua udah sampe di 85%, mungkin lebih. Diselingi dengan prahara undangan, diganggu kegalauan ini-itu. Mudah-mudahan semua bisa berjalan dengan baik. Walaupun, kami sih lebih mementingkan bagaimana setelah menikah nanti.

Semoga semuanya lancar, amiiiiiiin…

Dua Kali Dibuat Nangis Tukang Undangan

Sekitar tiga minggu lalu adalah puncaknya stress selama nyiapin wedding. Pasalnya, undangan yang dibuat di tempat pertama, gagal total. Kenapa? Karena orangnya sama sekali nggak ngerti prosedur dan proses desain sampai cetak. Kacau banget. Memang sih, salah juga milih percetakan dari online, liat barang (undangan) cuma dari contoh. Tapi gak teliti liat contoh gambar asli hasil cetak. Alhasil, ya sudahlah, kesel banget pokoknya. Ini gara-gara si tukang percetakannya gak bener kerjanya. 1. Dia nggak ngerespon komunikasi saya dengan benar. Komunikasi keputus-putus gara-gara saya ngomong ini-itu ga ditanggepin. Tau-tau dia bilang undangan udah dicetak dan siap kirim. Emang sih saya yang nggak suka pekerjaan yang dilakuin di akhir-akhir, memutuskan untuk gak menunda-nunda buat undangan. Pinginnya lebih dari sebulan sebelum hari-H udah jadi, supaya bisa santai ngurusin yang lain. 2. Dia nyetak undangan tanpa final approval dari saya. Well sebenernya saya udah bikin sendiri desainnya, dia tinggal tambah ornamen-ornamen aja. Saya minta untuk dikasih liat desain finalnya sebelum cetak tapi dia gak pernah respon sampai akhirnya dia bilang udah selesai cetak. Di sini udah rada curiga sih, tapi saya coba cuek dan hanya berharap hasilnya bagus. Hmmm, sepertinya emang etos/etika kerja itu sejalan dengan hasil akhir deh. Jadi yaudah, maklum aja kalo emang hasilnya juga ancur. 3. Sikapnya kasar. Ini yang paling  parah. Berhubung saya pesan via T*kopedia, ada prosedur buat komplain dan diskusi sama penjual untuk dapet jalan keluar. Awalnya dia bilang bau ganti uang kerugian saya. Tapi waktu saya bilang ganti (bagi) rugi setengah-setengah (dikembalikan uang 50%), dia mencak-mencak. Sampai mengancam mau datang ke rumah. Saya sih gak takut ya. Lagian apa mungkin dia berani? Bukan sekali ini saya digertak sama tukang jualan yang gak terima sama kesalahannya sendiri. Hmm kata temen sih emang banyak penjual di Tokped yang arogan gamau disalahkan, dan matanya ijo sama bintang supaya dinilai bagus jualannya.

image

image image image image image image Kekesalan ini berlanjut ke Tokped. Well akhirnya uang saya dikembaliin 20%, yang mana tetap aja rugi. Karena undangan tersebut sama sekali nggak layak dipake. Mau liat perbedaannya? Ini dia..

image

image

Hwaaaaahh, bener-bener gila ini orang. Berani-beraninya bikin percetakan padahal material dia sama sekali gak layak. Itu baru luarnya. Dalamnya lebih parah lagi. Maka saya putuskan undangan itu diloak aja. 😪 Ceritanya, pada proses alot minta pengembalian tersebut, saya udah mulai curhat sama si percetakan yang kedua. Saya dapet dari internet juga, hasil melakukan googling dengan keywords “Undangan Murah Tangerang Selatan”. Wajar dong saya mau undangan yang simpel dan murah aja karena diharapkan bisa diproses cepat. Kontak saya dapatkan dari blog WordPress mereka. Nah, kebetulan saya terhubung via Whatsapp dengan si mbak-mbaknya dan mulai bertanya-tanya. Yang saya liat sih awalnya prosedurnya bener. Yang gak bener cuma attitude-nya: Sensi Tingkat Tinggi. Singkat kata saya udah DP kepada simbak via rekening suaminya (katanya). Sampai terima DP, dia masih ramah ala-ala Islami. Esok harinya saya menemukan blog lain yang punya harga mirip dengan blog si mbaknya. Karena sudah pernah hampir janjian datang ke tempat simbaknya, waktu saya tanya alamat workshop ke pemilik blog kedua, rupanya alamat mereka sama. Maka, saya pun berkesimpulan kalau kedua blog ini (mbak dan masnya) berbisnis bersama dan terkoneksi. Saya pun sempat berasumsi bahwa si pemilik blog kedua adalah nama pemilik akun rekening tempat saya mengirimkan DP. Ga ada salah dengan asumsi tersebut donggggg. Besoknya, saya berniat datang ke rumah (workshop atau apalah namanya), pokoknya alamat yang tertera di blog keduanya. Tapi karena hujan, setengah perjalanan pun saya memilih untuk pulang karena takut nyasar. Maklum hujannya besar banget sedangkan saya bermotor dan belum paham daerah yang mau saya datangi. Saya pun bilang akan datang keesokan hari. Malam tersebut saya bertanya sama simbaknya, mengenai keberadaan blog kedua milik simasnya. Saya menanyakan melalui siapa saya bisa berdiskusi soal desain (desain dari undangan sebelumnya sudah saya kirim via email). image image image image image image Gilaaaaaa.. Kebayang dong gimana herannya saya. Ajaib banget ni orang. Belom apa-apa udah bikin pusing. Orang-orang yang saya ceritain soal ini, juga pada takjub, ada tukang jualan yang ajaib kayak gitu. I was upset. Saya hampir give up nyari alternatif percetakan lain yang bisa ngerjain cepet. Sedangkan waktu saya udah mepet, tinggal sebulan setengah lagi, sekitaran lima minggu lah. Saya sempet tanya ke percetakan di Tebet, tapi (rata-rata) mereka butuh sebulan (lebih) buat cetak undangan. Maklum lah, di sana kan yang order juga ngantri. Kalau cetak aja butuh waktu sebulan, belum lagi keterlambatan bisa seminggu-dua minggu, habis dong waktu saya keburu hari-H #tepokjidat Seharian saya nggak konsen. Saya minta pacar saya yang nyari, saya nggak mau tau lagi soal undangan. *mulai deh emosi goyah* gabisa berhenti nangis. Tapi saya ngerti banget dia gak bakat buat nyari-nyari ginian. He’s not good in digging information, FYI. Jadi akhirnyalah saya buka lagi web http://bridestory.com dan mulai cari-cari percetakan dengan sortiran kota. Ngeliat desain-desain yang ciamik dari vendor-vendor percetakan di Jakarta bikin saya jiper (kapok) liat harganya. Saya pun menyortir pencarian untuk kota Tangerang. Dan ternyata, hanya ada satu vendor yang tertera di sana. Dari sanalah “keajaiban undangan” terjadi…. *bersambung ke cerita selanjutnya

In Two Days, We Decide…

Welcoming New Year, there’s nothing special with it. I was just spending time with his family (mom and his twin sisters), doing a barbeque thing and watch movie. Also watching the firework from his neighbors. Then sleeping and… tadaa.. Welcome 2015. 

Ha!

Okay, let’s started to talk about US.

Honestly, we (actually him) avoid to talk about a wedding before ‘the right time’. The right time means nothing but financially ready (read : settled). Karena kalau dilihat dari sejarah pacaran yang udah 4,5 tahun, kayaknya nggak perlu diragukan ya, kalau kita berhubungan bukan buat main-main. Intinya sih kita (dia) gamau memulai hidup bersama tanpa kepastian. Namanya juga laki-laki, ya gamau asal-asalan nikahin anak orang dong, tanpa kejelasan sumber keuangan dan pekerjaannya. Mau dikasih makan apa nanti??

When is your final test?” I asked.

February 17th, then I’ll have a closing ceremony a week after”

Then?” this girl (I) asked impatiently *LOL

The replacement announcement will be on Friday, 20th,” 

Oh, okay,” setelah ada pengumuman lulus ujian, hati udah tenang, karena itu artinya dia udah joined with the company sebagai karyawan tetap. Walaupun kita gak pernah tau his replacement ke mana, kota mana. Bakalan stay di Jakarta, pindah ke Jakarta bagian lain, ke luar kota, luar provinsi dan sebagainya.

Wednesday, February 18th 2015 

Ding! Suara message masuk via Whatsapp.

Pack your stuff honey, we’ll move to Samarinda. 

*melongo baca message dia.

Maksudnya? 

Ding!

Aku dipindah ke Samarinda.

Entah mau bersorak sorai atau sedih. Yang jelas nggak nyangka, kalau akhirnya dia dipindah ke luar pulau. Udah gitu katanya Samarinda kota banjir, karena ketinggiannya sama rendah dengan Sungai Mahakam. Katanya Samarinda itu gak tertata baik seperti Balikpapan, nggak ada flight langsung ke sana, dan bla bla bla. Ada keraguan juga sih, karena nggak ada bayangan kotanya seperti apa.

Bismillah aja.

The next day, I did a searching for a venue, asking about vendors, and everything about the wedding. Only two days after, we visit and do the meeting with the vendors. Hari Sabtu itu, kita datengin Mbak Nisa, langsung janjian di sanggarnya. Tanpa tanya-tanya dulu, langsung ngebahas maunya kita begini-begitu, langsung pilih kostum dan konsep.

Nanti saya email ya rinciannya,” 

Oke mbak,” gak sampe sejam deh kayaknya ketemu sama Mbak Nisa sore itu, udah gak nanya-nanya lagi make-upnya bagus apa nggak, dekornya dia bagus apa nggak, dan pertanyaan lainnya.

Tumben nih si Bebey nggak rempong tanya ini-itu. Hehe.. Mungkin karena dia juga udah kebanyakan pikiran karena dalam waktu seminggu dia bakalan terbang ke Samarinda, gak bisa nemenin untuk nyiap-nyiapin kerempongan wedding. Mbak Nisa provide kebutuhan kita secara sekaligus : dekor, make-up, dan dokumentasi. Tiga kerjaan selesai sekali, yippie!!

Dari sanggar Mbak Nisa, kita datengin Venue. Jujur ajasih saya nggak kepikiran bakal langsung decide untuk ambil tempat itu sebagai venue. Namanya juga baru survey. Tapi ternyata setelah kita ketemu sama supervisornya, Mas Uci, yang welcome dan langsung ngerti apa maunya kita, kita ngerasa gak perlu cari tempat lain lagi. Selain karena venue deket dari rumahku, tempatnya sesuai dengan konsep dan keinginan kita, udahlah, kita ambil.

pic by pinterest

pic by pinterest

Hari itu, yang tadinya kita mau nonton, gak jadi karena sudah padat sama jadwal ketemuan dan survey. Akhirnya cuma makan malam bareng. Tapi cukup lega karena hal inti udah kepegang.
Eh, tunggu dulu…

Ternyata di Sabtu itu, kita ada janjian sama band yang mau ngisi acara nanti. Mas Abhe, salah satu personil Beatnite, nemuin kita di Papa Ong, persis di samping stage dia dan bandnya biasa manggung. Kenapa kita pilih band tersebut?

Karena sejarahnya dulu, pertama kali kita liat band tersebut manggung di salah satu kompleks pertokoan di daerah BSD, penontonnya masih sepi banget. Kita salah satu penonton mereka sebelum kursi-kursi di depan panggung penuh sesak seperti sekarang. Dari awal, kita pengen band itu yang ngiringin dan mengisi wedding kita. Padahal waktu itu kita gak tau kapan mau married. Hahaha..

Fiuhh… such a tiring day. Agak lucu juga sih, karena semua serba cepat. Gak ada propose2an. Yaudah layah, kita udah cukup dewasa untuk merencanakan sesuatu tanpa basa-basi. Lagipula, udah dari lama kita sama-sama tau apa yang kita mau. We don’t want to waste the time for something ‘silly’. We have the different way to be a ‘romantic’ couple, do things like mature people, easy weezy. Yang penting SAH. *nyengirlebar

Malem itu, sebenernya Mas Abhe nanyain request lagu yang pengen kita mainin. Saya request dua lagu. Tapi sayang, kita harus cepet-cepet pergi karena ada barang yang mau dibeli, jadi nggak sempet deh denger lagu yang direquest. Saya pun minta maaf via Whatsapp karena gak bisa nonton sampai selesai.

Well, kita lupa sesuatu. Udah ngurus ini-itu, tapi belum bilang apa-apa sama keluarga. Padahal, kita udah pesen semuanya di satu tanggal tertentu. Tapi yaudahlah, palingan keluarga iya-iya aja.

Ternyata……………………

*bersambung