Jalan-jalan Sore ke Kota Tenggarong

“Nanti mau berangkat jam berapa?” tanya saya.

“Jam sebelasan lah, kan perjalanan cuma sebentar, setengah jam,”

Kemudian sampai jam 12 lewat kami masih leyeh-leyeh di kasur. Maklum, weekend terutama Hari Sabtu paling enak buat tiduran sampai siang. Apalagi buat para pekerja seperti suami, akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk santai-santai dan bermalas-malasan, hehe.

Akhirnya baru jam tiga sore setelah makan siang, kami baru berangkat ke Tenggarong. Saya pikir kami bakal kemaleman pulang dari sana. Tetapi mengingat hitungan waktu yang lebih cepat daripada Jakarta, jadi sampai pukul enam sore, di Kalimantan ini suasananya masih seperti sejam lebih lambat.

Setengah empat lewat, kami sudah sampai di Tenggarong dan berputar-putar sekitaran kota, kantor pemerintahan, dan taman. Secara keseluruhan, tata kota di Tenggarong lebih rapi daripada Samarinda. Well, kalo dibandingkan dari segi luas kota sih Samarinda jauh lebih luas. Kalau dilihat-lihat, Kota Tenggarong mirip sama kota-kota kecil di Pulau Jawa. Meski kecil, tapi tetap rapi dan bersih.

IMG_4583[1]

Jembatan Tenggarong

Begitu masuk kotanya melalui Jembatan Tenggarong, kami disambut oleh kawasan CBD (pusat bisnis) yang berada dekat dengan kantor walikota dan kantor pemerintahan lainnya. Pandangan kami pun tertuju kepada Creative Park yang berada di pinggir Sungai Mahakam, berseberangan dengan Pulau Kumala.

IMG_4579[1].JPG

Pulau Kumala yang terletak di seberang

Meski tak se-panjang keseluruhan taman di pinggiran Kota Samarinda, tapi Creative Park Kota Tenggarong terlihat lebih bersih dan teratur. Banyak mainan untuk anak-anak seperti skuter dan mobil remote control. Di beberapa bagian juga terdapat tenda-tenda penjual makanan.

Dari creative park, kami bergeser sedikit untuk duduk-duduk di pinggiran sungai sambil menikmati angin yang berhembus. Banyak orang-orang lain, baik pasangan maupun berkelompok yang duduk-duduk santai, istilahnya nongkrong-nongkrong di pinggir sungai.

Kata suami, Kota Tenggarong ya segitu aja, gak ada mall dan sejenisnya.

“Mungkin orang Tenggarong kalau nonton film ya perginya ke Samarinda,” katanya.

IMG_4585[1]

Creative Park Kota Tenggarong

Overall, saya suka kota kecil ini. Memang tak banyak tempat hiburan, tapi keteraturan sangat terjaga. Dulu, saya sempat kepikiran gimana rasanya tinggal di kota-kota kecil di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, kota yang tak terlalu hingar-bingar, yang penting rapi, teratur dan banyak makanan enak, ha ha ha…

Walau bagaimanapun, sekarang diberi “jatah” untuk tinggal di Samarinda, kami bersyukur aja. Kotanya luas, meski kurang teratur dan pusat bisnisnya ada di kota tetangga (Balikpapan), tapi gak ada polusi dan macet seperti yang kami alami kalau tinggal di Jakarta.

Semalam di Hotel Sagita Balikpapan

Masih dalam rangka mengisi Liburan Natal 2015, saya dan suami mendatangi beberapa tempat dan menginap semalam di Hotel Sagita Balikpapan. Mengingat okupansi yang cukup padat di waktu libur, hotel-hotel sudah banyak yang dibooking dan harganya pun melambung tinggi.

Waktu itu, Hotel Sagita Balikpapan memberikan harga yang cukup murah di webpemesanan hotel. Kami mendapat harga di bawah Rp 400ribu via PegiPegi. Rencana sudah dibuat, hotel sudah dibooking, tinggal capcus deh. 

Setelah mendatangi Pantai Lamaru, makan siang di Warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan,  kami check in dulu ke Hotel Sagita Balikpapan. Kami sampai di sana sudah menjelang sore, sekedar meluruskan badan sebelum melanjutkan jalan-jalan ke Pantai Kemala. Posisinya berada di Jl. Mayjen Sutoyo No.69 Balikpapan.

Dari foto-foto yang diperlihatkan web-web pemesanan hotel, Hotel Sagita Balikpapan tampak cukup bagus. Tapi melihat televisi yang mereka pakai, saya kok yakin kalau Hotel Sagita Balikpapan ini termasuk hotel yang agak jadul, karena mereka masih memakai televisi tabung meski dalam ukuran besar.

IMG_3965

kamar di hotel sagita balikpapan

Kamar (standar) yang mereka punya cukup luas, dengan sofa dan meja kerja. Kasurnya juga lebar (king size), empuk dan nyaman. Dalam penilaian saya, Hotel Sagita Balikpapan ini pernah jadi hotel yang cukup baik dalam hal tersebut di atas, pada jamannya.

Tapi semakin lama semakin banyak hotel bermunculan menawarkan fasilitas yang lebih baik. Seiring berjalannya waktu, Hotel Sagita Balikpapan pun jadi semakin “tua”. Furniture yang mereka punya semakin terlihat ketinggalan jaman, kebersihan pun semakin berkurang.

Serupa dengan kamar yang mereka punya, kamar mandi pun berada pada kondisi yang sama. Kayu pada cermin sudah semakin lapuk. Meski Hotel Sagita Balikpapan menawarkan bathtub di kamar mandi mereka, kebersihan di sela-sela tegel terlihat memudar. Walaupun begitu, hot water tetap bisa kami pakai tanpa menunggu terlalu lama.

Saya pun menyempatkan diri untuk berendam air hangat pada malam harinya. Meski tak bisa berlama-lama karena saya harus mempertimbangkan kondisi hamil muda yang katanya nggak bagus untuk berendam air hangat karena akan berpengaruh pada suhu di dalam rahim yang akan naik.

Oya, Hotel Sagita Balikpapan punya kolam renang untuk anak kecil dan dewasa. Tapi saya mengurungkan niat untuk berenang setelah melihat ukurannya. Selain itu posisinya juga berada jauh dari kamar saya menginap. Overall, I had a nice sleep in Hotel Sagita Balikpapan. Saya nggak begitu rewel soal tempat menginap. Tak harus pricey tapi yang penting bersih dan bisa tidur enak mengembalikan energi yang terkuras. Terutama karena perjalanan kami dari dan ke Samarinda harus ditempuh sekitar 200km selama dua setengah jam. Meski begitu, saya akan mempertimbangkan untuk menginap di tempat lain bila mengunjungi Kota Balikpapan lagi, mencoba hotel yang lebih baru dan minimalis.

Coba-Cobi di Warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan

Karena kotanya dekat dengan laut, ga salah kalau Balikpapan punya kuliner andalannya seafood. Pertama kali diajakin makan siang di warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan saya sih ngikut aja. Suami pernah makan di sini sebelumnya, karena katanya enak, dia pun kemudian mengajak saya.

Posisi Warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan ini berada di Jl. Marsma R. Iswahyudi, cukup dekat dengan Bandara Sepinggan Balikpapan, sekitar 300m ke arah dalam kota. Letaknya bersebrangan jalan dengan bandara. Bagi yang belum pernah tau, gak akan pernah nyangka ada warung makan di dalam gang sempit begitu.

Dari seberang, yang kelihatan bukan warung makan, tapi travel agent (kalo nggak salah). Mobil-mobil pengunjung diparkir di depan bangunan ini. Dan Warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan berada persis di samping toko tersebut. Bangunannya sederhana dan terbuat dari kayu dengan dominasi warna biru.

Berhubung masih merasa mual karena hamil muda, saya gak makan banyak. Kami hanya memesan ikan bakar, pete bakar dan terong bakar. Suami cuma bilang pesan ikan pantai selatan, jadi saya nggak begitu hafal ikan apa yang mereka sajikan. Yang jelas ikan bakarnya enak, disajikan dengan bumbu kuning yang gurih. Tekstur ikannya padat tapi cukup lembut. Pete bakar dan terong bakarnya juga enak. Baru kali ini saya nyobain makan terong bakar, rasanya lembut lebih daripada jantung pisang yang dibakar.

IMG_3957.JPG

Sambal yang disajikan di Warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan adalah sambal tomat yang nggak pedas sama sekali (menurut saya). Selain itu, semua menu dilengkapi dengan sayur bayam bening, lalapan timun dan kemangi, serta daun singkong rebus. Dengan menu tersebut kami perlu merogoh kocek sekitar Rp 130ribu-an (sudah termasuk pajak). Agak pricey sih mengingat menu yang kami pesan juga nggak banyak. Mungkin kalau makan dengan jumlah orang yang banyak akan lebih worth the price karena bisa coba-cobi menu lainnya. Tapi kalau dihitung, rata-rata makan per orang mulai dari Rp 60ribu-an, tergantung menu yang dipesan. Menu lainnya yang jadi andalan adalah udang galah dengan ukuran jumbo.

Saya kurang mengerti keramahan pelayanan di Warung Ikan Bakar Pelangi Balikpapan. Dengan jumlah orang dan pesanan menu yang banyak, mungkin mereka akan lebih ramah. Tapi kalau dipikir-pikir, gak heran ya mereka terlihat kurang ramah kalau pesanannya minim seperti saya waktu itu, hehee. Tadinya kami mau pesan menu lain tapi kami batalkan karena makan berdua hanya dengan menu tersebut ternyata sudah cukup kenyang di perut kami.

 

Mengunjungi Enclosure Beruang Madu Balikpapan

Jalan-jalan ke Balikpapan, yang menjadi andalan selain pantai-pantainya, adalah juga wisata alamnya. Salah satu yang membuat saya penasaran adalah Bukit Bengkirai dan Taman Wisata Beruang Madu. Kapan lagi bisa ketemu Winnie The Pooh versi aslinya kan?

Berhubung sedang hamil muda, jadi tak mungkin untuk mengunjungi Bukit Bengkirai yang akan menguras energi saya. Jadi kami memutuskan untuk mengunjungi enclosure beruang madu di Balikpapan. Kawasan wisata pendidikan lingkungan hidup ini merupakan salah satu tempat yang didukung oleh kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) Chevron dan Pertamina, dan terletak di KM 23 Jalan Raya Balikpapan – Samarinda.

IMG_4052.JPG

Didukung oleh beberapa balai konservasi lainnya, Enclosure Beruang Madu Balikpapan menyediakan informasi berbagai jenis beruang lainnya yang masih merupakan kerabat beruang madu.

IMG_4001.JPG

Masuk ke kawasan Enclosure Beruang Madu Balikpapan ini, kita disambut oleh patung beruang madu berukuran besar, sekitar 2,5 meter. Untuk melihat langsung beruang madu, mereka memberlakukan jadwal kunjungan yang dibagi menjadi dua shift. Untuk shift awal saya sedikit lupa, tapi kebetulan kami sampai di sana pukul 14.30 dan harus menunggu setengah jam karena shift kunjungan kedua  adalah pukul 15.00.

Kawasan Enclosure Beruang Madu Balikpapan dibagi menjadi dua, yaitu kawasan edukasi dan kawasan pemeliharaan beruang madu. Jika dari arah pintu masuk, kawasan edukasi berada di sebelah kanan. Kami pun masuk ke kawasan ini sambil menunggu tiba waktu kunjungan beruang madu.

Selain edukasi mengenai kerabat-kerabat beruang madu, di kawasan Enclosure Beruang Madu Balikpapan juga memberikan informasi mengenai jenis satwa lainnya. Seperti satwa-satwa endemik Pulau Kalimantan. Ada beberapa quiz yang ditempatkan di beberapa tempat supaya pengunjung bisa menguji sejauh mana mereka mendapatkan informasi di tempat ini.

Di bagian kawasan pemeliharaan beruang madu, pengunjung terlihat lebih antusias karena mereka bisa melihat langsung beruang madu yang dipelihara di Enclosure Beruang Madu Balikpapan. Saya melihat ada empat ekor (dari lima) beruang yang ditempatkan di “hutan mini” yang dikelilingi pagar kawat. Kawasan seluas 1.3 hektar ini sangat alami, karena dihiasi juga dengan suara merdu burung-burung yang tinggal di sana.

Untuk mengunjungi Winnie The Pooh asli yang memiliki ciri khas huruf V berwarna cokelat di dadanya ini, pada dasarnya tidak dikenakan tiket masuk. Pengunjung hanya dikenakan tarif parkir kepada pengelola / jukir yang berjaga. Di pintu masuk kawasan pemeliharaan, terdapat serupa “kotak amal” bila pengunjung ingin memberikan bantuannya untuk mendukung kawasan konservasi ini.

Kawasan Enclosure Beruang Madu Balikpapan sangat cocok bagi keluarga dan anak-anak agar mereka bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai jenis-jenis beruang di dunia. Selain itu mereka bisa menyaksikan langsung beruang madu yang mungkin hanya mereka lihat dari film kartun di televisi. Hanya saja, sebagai informasi, masuk ke kawasan ini pengunjung tidak diperkenankan memberi makan beruang-beruang yang ada di sana yahh…

Sepoi Angin Malam di Pantai Kemala Balikpapan

Masih dalam rangka Libur Natal 2015, setelah siang hari saya dan suami mengunjungi objek wisata pantai di Balikpapan yakni Pantai Lamaru, malamnya kami memutuskan untuk mengunjungi objek wisata pantai di Balikpapan lainnya, yang lebih dekat ke pusat kota, yaitu Panati Kemala. Berada di Jl. Jenderal Sudirman, di mana terdapat banyak hotel dan perkantoran, masuk ke wilayah Pantai Kemala juga terdapat banyak tempat makan yang bisa dicoba. Yang saya lihat seperti food court di pinggir pantai.

Sayangnya, karena kami datang pukul 20.30, kebanyakan tempat makan di sana sudah tutup. Jadi kami cukup menikmati suara ombak kecil dan angin pantai saja. Orang-orang menyebut Pantai Kemala dengan nama lain Pantai Polda, karena kawasan ini dikelola oleh Polda Kalimantan Timur. Tiket masuknya hanya Rp 2.000 untuk parkir.

Sebetulnya, waktu yang paling enak untuk datang ke objek wisata Balikpapan Pantai Kemala adalah sore hari, karena sinar matahari tidak terlalu terik dan pengunjung masih bisa menikmati pemandangan pantai sambil duduk-duduk dan memesan makanan atau sekedar minuman segar. Bila pengunjung ingin mencoba watersport Banana Boat, cukup membayar Rp 25.000 per orang dan bisa dinikmati pada pukul 16.00. Permainan lainnya bisa dicoba adalah flying fox, tapi di tempat ini, permainan tersebut hanya dikhususkan bagi anak-anak saja.

IMG_3996[1]

 

Menikmati Kelapa Muda di Pantai Lamaru Balikpapan

Libur Natal 2015, saya yang baru empat bulan tinggal di Samarinda (sebagai nyonya rumah tangga) sudah cukup bosan karena di Samarinda tak banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk refreshing. Dalam kondisi hamil lima minggu, saya diajak suami untuk jalan-jalan ke salah satu objek wisata pantai di Balikpapan. Namanya Pantai Lamaru.

Tanpa ekspektasi berlebih, kami yang berbekal GPS dituntun ke objek wisata pantai di Balikpapan yang terletak di Desa Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur, tepatnya berjarak 24 km sebelah timur Kota Balikpapan.

IMG_3956[1]

 

Pantai memang jadi salah satu andalan objek wisata di Balikpapan. Meskipun tak seindah pantai di Pulau Derawan, tapi cukup menghibur para pengunjung. Di Pantai Lamaru, kita bisa menggelar tikar sambil membakar ikan sambil memandangi lautan (kalau bawa sendiri), atau bisa juga membeli ikan bakar dan hidangan laut lainnya di beberapa rumah makan yang ada di Pantai Lamaru.

Berjarak sekitar setengah jam dari pusat kota, objek wisata pantai di Balikpapan ini menyuguhkan garis pantai yang panjang, dengan suasana hijau dari pohon-pohon pinus yang rindang. Selain untuk wisata bersama keluarga, Pantai Lamaru ini juga cocok untuk acara gathering kantoran karena banyak spot luas yang bisa dipilih. Untuk masuk ke objek wisata pantai di Balikpapan ini, pengunjung dikenakan tarif sebagai berikut :

  • Biaya / tarif masuk Rp 10.000 per orang
  • Kendaraan roda 6    Rp 50.000
  • Kendaraan roda 4    Rp 15.000
  • Kendaraan roda 2    Rp 5.000

Saya dan suami lebih memilih untuk jalan-jalan di pantai, merasakan butiran pasir halus dan membasahi kaki dengan air laut. Pantainya luas banget, dan pasir-pasirnya dihiasi oleh jejak-jejak kepiting kecil-kecil. Jarak dari rindangnya pepohonan ke air laut cukup panjang. Warna air lautnya agak keruh seperti air danau / sungai.

Terdapat permainan air yang bisa dinikmati di Pantai Lamaru, misalnya Banana Boat. Selain itu juga ada permainan Flying Fox dan menunggang kuda. Bagi pengunjung yang mau bermain banana boat, disarankan untuk datang agak siang sekitar pukul 14.00 supaya menghindari air laut yang dangkal.

Hal terakhir yang kami lakukan sebelum meninggalkan objek wisata pantai di Balikpapan ini adalah menikmati sebutir kelapa muda yang nikmat, sambil memandangi luasnya lautan. Angin sepoi-sepoi menambah syahdu suasana. Dengan harga Rp 15ribu, daging kelapa muda yang lembut dan kenyal, serta air kelapa yang dingin melegakan tenggorokan yang kering di tengah cuaca yang cukup terik.

IMG_3953[1]

Setelah menikmati segarnya kelapa muda, kami pun bergegas meninggalkan Pantai Lamaru untuk menuju objek wisata di pusat Kota Balikpapan. Bagi para pelancong yang datang ke Balikpapan baik untuk berwisata maupun urusan kerja, tidak ada salahnya untuk mencoba datang ke Pantai Lamaru sekedar untuk melepas penat atau menikmati waktu bersama keluarga.

Merenda Cerita di Pulau Tunda

Pantai…

Adalah tempat di mana jiwa bisa berpikir lebih sederhana. Mengagumi keindahan yang Tuhan turunkan di bumi. Di mana hati dan pikiran belajar mensyukuri tiap jengkal kehidupan mulai dari hal kecil yang sederhana.

 

Begitu sampai di pesisir di mana kapal kami berlabuh, pandangan saya tertuju pada gradasi warna air di depan ‘dermaga’ Pulau Tunda. Pulau ini belum memiliki dermaga sungguhan, jadi pengemudi kapal harus ekstra hati-hati dan cermat menyandarkan kapalnya untuk menurunkan para penumpang dengan jumlah barang bawaan yang bervariasi. Dengan bersemangat, kami menginjakkan kaki di Postponene Island aka Pulau Tunda.

Tunda Island 2014

Tunda Island 2014, semirip kue lapis 😉

Berangkat pukul lima pagi dari rumah, teman saya mengira kami akan terlambat. Ternyata begitu sampai di terminal bayangan Kebon Nanas, teman-teman yang seharusnya berangkat dari Terminal Kampung Rambutan pukul 5.00 belum juga berangkat ketika waktu menjelang pukul enam pagi. Ada beberapa orang yang terlambat. Lagipula, sudah biasa ada yang terlambat dalam keberangkatan trip kan. Selalu saja ada. Dan kali ini keterlambatan mencapai hingga satu jam dari yang seharusnya.

Baiklah. Terpenting, pukul enam pagi saya sudah duduk di bis Bima Suci menuju Serang. Dengan mata yang perih karena kurang tidur, saya mencoba memejamkan mata, tapi tetap nggak bisa tidur. Errrrr… Mudah-mudahan bisa tidur di kapal nanti.

Sejam kemudian kami sampai di Serang. Beberapa orang juga sudah datang. Kami memutuskan untuk berkumpul di depan Ind*m*r*t untuk sarapan dan menunggu teman-teman yang masih dalam perjalanan. Akhirnya, setelah satu setengah jam berlalu, mereka sampai, dan kami bisa melanjutkan perjalanan menggunakan angkot charteran menuju Pelabuhan Karangantu.

2014830094536

Panjang 1,5 Km, Lebar +- 20 meter

2014831152644

POM pengisian bahan bakar untuk perahu

2014831152716

Kapal-kapal yang bersandar di P. Karangantu

Menurut sejarah yang dituliskan Cornelis de Houtman, pada tahun 1596 Banten merupakan Kota Pelabuhan dan Perdagangan yang sama besar dengan Amsterdam saat itu, seperti yang juga diungkapkan Vincent Leblanc asal Perancis ketika tiba di Banten pada abad 16. Hal ini menjadikan Banten sebagai pelabuhan yang penting dilihat dari sudut geografi dan ekonomi karena letaknya yang strategis dalam penguasaan Selat Sunda. Kejatuhan Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 menyebabkan para pedagang muslim enggan untuk melalui Selat Malaka. 

Para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat mengalihkan jalur perdagangan ke Selat Sunda, sehingga mereka pun singgah di Karangantu. Sejak itu, perlahan tapi pasti, Karangantu menjadi pusat perdagangan Internasional yang banyak disinggahi oleh para pedagang dari Benua Asia, Afrika dan Eropa. Karangantu sendiri terletak tidak jauh dari objek-objek wisata di Banten lainnya seperti Masjid Agung Banten, Keraton Kaibon, dan lain-lain di Kecamatan Kasemen, Serang – Banten. Tapi sekarang, kondisi pelabuhan ini cukup memprihatinkan karena pengelolaanya yang kurang baik.

Kini, Pelabuhan Karangantu lebih banyak digunakan oleh masyarakat pulau sekitar untuk berbelanja ke Kota Serang, begitu pula bagi para nelayan yang hendak menjual ikan-ikan hasil tangkapan mereka. Selain itu, melalui pelabuhan ini juga, para pelancong singgah untuk kemudian menuju pulau-pulau di sekitar seperti Pulau Panjang, Pulau Kambing, Pulau Kubur, dan Pulau Tunda. Kegiatan rekreasi biasanya adalah snorkeling, diving, atau memancing.

Yap… itu pula yang hendak kami lakukan di Pulau Tunda : menikmati keindahan panorama pulau beserta kehidupan bawah lautnya.

Ketika datang di Pulau Tunda, waktu menunjukkan saatnya untuk makan siang. Kebetulan, makan siang sudah disediakan di homestay. Dengan banyaknya peserta yang terlibat, kami dibagi ke empat homestay. Saya (untungnya) kebagian di Homestay 1, yang menjadi pusat kegiatan (alias penyediaan makanan hehehe). Setelah solat dan makan siang, kami bersiap untuk snorkeling pertama. Dan itu dimulai pukul 13.00. Woawww, kebayang banget panasnya dan saya sudah rela kulit terbakar matahari, demi bersenang-senang. Heeheee…

Sekira sepuluh menit, kami sudah sampai di tempat snorkeling. Memang, spotnya hanya di sekitaran pulau saja, beda seperti di tujuan wisata lain yang kebanyakan spot snorkelingnya agak jauh dari pulau tempat singgah. Am sooo ready to get wet. LOL

JUMP!!

JUMP!!

10410305_898667296828673_1369753754222944676_n 10606126_898668380161898_3968368739483940541_n10653743_898667536828649_1097309750211562878_n

7056-1 7062-1 7064-1

7067-1 IMG-20140902-WA0003 IMG-20140902-WA0011 IMG-20140902-WA0015 IMG-20140905-WA0001 IMG-20140905-WA0002

*courtesy Sabil dan Yoga

Jadwal snorkeling siang sampe sore hari pertama, dibagi jadi dua spot, dengan karakter karang yang mirip. Memang, tak terlalu istimewa pemandangan bawah laut di Pulau Tunda ini, karena sangat disayangkan, terumbu karang di sana sudah rusak cukup parah akibat berbagai alasan. Tapi, kami tetap menikmatinya. Saat menuju kembali ke Pulau, kami menemukan sekawanan lumba-lumba yang melintas. Sayang sekali tak satupun dari kami berhasil mengabadikannya, karena sepertinya mereka terlalu takut untuk muncul kembali akibat weice-weice yang berteriak terlalu kencang. Sayang sekali…

Kembali ke Homestay dan mandi, kami pergi lagi untuk hunting sunset. Tapi sayang, matahari sudah tertutup awan dan hanya menyisakan gradasi warna awan. Sepertinya kami terlambat, karena dari homestay menuju menara pandang pun membutuhkan waktu berjalan sekitar 15 menit. Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke menara pantau, karena selepas snorkeling tadi sempat mau naik tapi nggak diperbolehkan. Menjalang malam begini, penjaganya mungkin sudah pulang.

7085-1 7079-1 7087-1

Malamnya setelah makan, Mas Dirman, anak dari ibu pemilik Homestay 1 berbagi sedikit cerita kepada kami mengenai sejarah Pulau Tunda. Katanya, dulu Pulau Tunda adalah tempat favorit mantan presiden Soeharto untuk memancing. Ajudan beliau mengatakan, kalau memancing di sana, dijamin akan dapat ikan yang bagus. Pada masanya, Pulau Tunda adalah pulau yang sangat kaya akan ikan dan terumbu karang yang indah. Tapi seiring waktu, banyak oknum yang tak bertanggung jawab mengeruk kekayaan bawah air dengan menjaring ikan dalam skala yang sangat besar, termasuk juga mengeruk pasirnya untuk dijadikan pulau buatan di daerah Pantai Indah Kapuk. Miris.

7096-17091-1

Selepas itu, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke dermaga dan menerbangkan lampion, sementara ABK dan beberapa orang yang lain memancing di sekitar dermaga. Tapi sayang, angin yang terlalu kencang membuat lampion tak semuanya berhasil terbang jauh. Hanya dua dari lima lampion yang mampu terbang melintasi lautan. Setelah puas bermain lampion, kami kembali ke Homestay untuk beristirahat. Besok pagi masih ada kegiatan hunting sunrise, snorkeling dan hopping island.

Pukul 4.30 selepas subuhan, kami menuju ke pesisir Timur untuk melihat matahari menampakkan diri dan memulai hari. Berjalan kaki selama 20 menitan, rasanya jauh juga. Ketika sampai di spot  munculnya sunrise, kami harus kecewa karena langit kembali berawan. Setelah setengah jam, kami pun memutuskan untuk kembali ke homestay untuk sarapan pagi. And guess what? Ternyata sepanjang perjalanan pulang ke homestay ini banyak bunga-bunga yang indah, yang tak kami lihat sewaktu berangkat tadi (tak lain karena masih gelap).

7097-1Bunga bermekaran di tamaaaaaan…………………………………………….

2014831062128 2014831062133 2014831062412 2014831062625 20148310627462014831062519

Tadinya, kami berpikir untuk jalan ke pantai. Tapi kemudian berubah pikiran dan memilih ikut kapal supaya bisa snorkeling terlebih dulu sebelum menginjakkan kaki di pasir pantai yang putih.

10450348_898667223495347_1498735337482409105_n10354737_898670060161730_3565743722200145356_n10646661_898666760162060_784804497091444947_n

Selesai snorkeling dan hopping island, kami kembali ke pulau untuk bersih-bersih dan beres-beres alias packing untuk pulang. Setelah semua barang masuk, kami disuguhi makan siang. Menu makan siang hari ini, makan malam dan makan siang kemarin hampir sama, yakni nasi putih, ikan goreng/bakar dan sayur serta sambal. Bagi saya sih, sudah cukup nikmat ya. Untuk trip dengan share cost seperti ini, sepertinya tidak perlu minta yang enggak-enggak. Ditambah dengan buah semangaka, siang itu semakin segar rasanya.

Kapal 1 yang lebih besar memang memuat banyak, tapi tak banyak ruang yang bisa dipakai untuk selonjoran apalagi tiduran. Saya di kapal 2 yang lebih kecil rasanya lebih nyaman dan leluasa, tiduran ataupun selonjoran bebas deh. Sayangnya, siang itu kami harus say goodbye kepada Pulau Tunda untuk kembali pulang.

ready to sleep

ready to sleep. bye bye, Postpone Island

NOTE :

  • Di Pulau Tunda ini katanya sebagian rumah gak nyala listrik kalau siang. Tapi di homestay 1, siang hari bisa nyalain kipas angin (tapi tv nggak). Katanya di setiap rumah terdapat solar cell untuk membantu pengadaan listriknya. Sayang sekali sebatas kipas angin dan chargeran handphone yang bisa dipakai, sementara pompa air tetap ngak nyala. Jadi, setiap kali beres snorkeling dan mandi pagi, kita harus menimba air sendiri dari sumur, termasuk untuk urusan buang air.
  • Sama sekali nggak ada sinyal handphone kalau di homestay. Walaupun di ponsel menunjukkan ada dua bar sinyal, tapi nyatanya tetap nggak bisa kirim pesan. Begitu juga untuk data service, ditandai dengan huruf E alias edge. Yang mana seharusnya masih bisa digunakan untuk berkirim pesan data, misalnya via Whatsapp atau BBM, Line dll. Nyatanya nggak bisa mengirim pesan via semua jenis messenger tersebut. Tapi saya sempat bisa menerima SMS dan Whatsapp. (Teteeep, gabisa bales #doh)
  • Tanah di Pulau Tunda ini masih banyak yang mau dijual oleh pemerintah kepada siapapun yang minat. Untuk yang suka/minat berinvestasi, boleh tuh dibeli via Dinas Pariwisata setempat, daripada dijual sama pihak asing kan….
  • Ingat, usahakan untuk membawa kembali sampah, karena pesisir pantai di Pulau Tunda (terutama di sekitar dermaga) banyak sekali sampah yang menumpuk, menyangkut di bebatuan karang sehingga merusak lingkungan dan keindahan. Keep travelling and love the nature yaaaaaaaaaaaaaaa..