Newlywed Story Part 3: Aku Bukan Chelsea, Kamu Bukan Glenn

Tanggal 1 Oktober kemarin bukan hanya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan Hari Kopi se-Indonesia, tapi juga berita-berita infotainment ramai menyiarkan soal pernikahan Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie yang aduhai. Saya bukan penggemar nonton acara gosip tapi ya berita kayak ginian gak sengaja kepantau begitu aja. 

Iseng-iseng liat instagram, *well yeah I do stalking sometimes* memang kehidupan percintaan mereka yang delapan tahun itu terlihat sangat romantis dan full of joy. Kelihatan. Dikeliatanin (bahasa apa ini), jadilah orang banyak yang lihat termasuk saya. Bisa dibilang Glenn memang tipikal lelaki romantis, selain karena bawaan juga kemampuan. Eh ini bukan bermaksud gosip lho ya hahha.

Trus kemarin di mobil waktu saya dan suami jalan-jalan. Tetiba kita terjebak di obrolan seputar mereka gegara santer ada meme soal Glenn di Path orang-orang. 

“Kalo perempuannya Chelsea ya pantes dapet treatments kayak gitu,”

“Emangnya kamu gak mau (cowok kayak gitu)?” tanya suami. 

“Kayaknya nggak akan ada yang nolak deh kalo pasangannya romantis kayak gitu. Aku sih mau aja tapi kan kamu nggak (harus) begitu, hahaha”

“Ooo yaudah sama Glenn aja,” 

“Kalo cowoknya Glenn juga ceweknya gak akan (seperti) aku, kali, sayang,” saya berkomentar.

“Aku juga mau kalo sama Chelsea,” kata suami. 

“Chelsea juga kalo milih cowok nggak bakalan kamu, honey, heheheh,”

“Hahahaha…”

“Aku kan bukan Chelsea, kamu bukan Glenn, jadi ya nggak masalah laah hehehehe” 

Siapa sih yang nggak mau dikirimi bunga yang banyak (bukan cuma pas nikah aja), nggak akan ada perempuan yang nolah toh? Tapi kalo udah mulai ngerasa “hidup harus seindah cerita orang lain” kayaknya gak akan balance deh. Setiap pasangan kan punya ‘trademark’ masing-masing. Kalau pasangan mau dan mampu memberi hadiah-hadiah sudah pasti si perempuan seneng. Itu salah satu cara untuk menjaga keharmonisan. 

Dulu waktu pacaran juga suami kadang-kadang bawain saya setangkai mawar putih, coklat, kue, walaupun kegiatannya sama setiap ngapel hehe. Justru karena udah terlalu bingung mau ngapain, nggak ada tenaga buat pergi jauh-jauh, ya kita habiskan waktu bareng seperti orang kebanyakan aja, asal berkualitas. Selama nggak harus diselingi problems yang aneh-aneh sih saya cukup tenang. Ngetrip lebih sering dilewatin bareng temen-temen. 

Kadang-kadang suatu hubungan jadi bermasalah justru karena salah satunya menginginkan hubungan mereka berjalan seperti orang lain. Harus romantis padahal pasangannya nggak romantis lah, harus trip ke luar negeri padahal nggak ada budget, harus makan di tempat fancy padahal pasangan yang dipilih lebih suka makanan kaki lima. Gimana coba? 

Saya pikir, apa yang orang lihat itu nggak harus sama teraplikasikan di kehidupannya. Kemampuan dan kepribadian tiap orang juga beda-beda. Saya sih nggak nolak dikasih bouqet bunga, makan di resto mewah, tapi saya lebih suka setangkai mawar putih, makan bakmi atau nasi uduk pake ayam goreng dan sambel yang udah jadi favorit kita. Ke resto boleh sesekali kalo lagi pengen hehehe. 

Sampe kapanpun juga (saya sadar) nggak akan dapet cowok yang high class selama saya bergaul di kalangan menengah, orang biasa. 

 
We’re just orddinary people

“Cinderella itu kan cuma dongeng, hahaha,” setelah itu kita ketawa-ketawa bareng. 

Gosip gak penting kadang bisa bikin kita berpijak lebih teguh dan tahu diri dengan kehidupan masing-masing. Tidak perlu iri dengan kehidupan orang lain karena yang terpenting bukan melihat rumput orang lain yang lebih hijau, tapi mengupayakan supaya tanah di rumah kita sendiri lebih subur supaya pohon apapun bisa tumbuh, gak cuma rumput hijau tapi juga bunga mawar, pohon cabe dan bawang-bawangan buat masak, hahaha๐Ÿ˜

Enjoy your life, don’t forget to smile๐Ÿ˜Š

When I’m With You, I Have No Past

Setiap manusia pasti punya yang namanya masa lalu. (Para) mantan, pengalaman, cerita nggak enak, dan lain-lain yang stucked di pikiran. Kalau dilihat dari sisi positif, semua yang terjadi di waktu lampau memiliki andil yang besar untuk perubahan pemikiran dan sikap yang lebih baik dalam diri seseorang, walaupun efek yang terjadi berbeda-beda.  

Itu kalo (masa lalu) bisa membuat seseorang lapang dada dan berbesar hati. Tapi kalau nggak? Hal-hal yang kurang enak di hati bisa jadi masih suka teringat di kepala, atau bukannya jadi lebih dewasa malah buat orang bersikap seperti anak kecil. Nah, saya sendiri termasuk orang yang kadang masih suka nginget-nginget hal tersebut. Bukan hanya yang terjadi pada saya tapi juga yang terjadi sama pasangan (dan mau gak mau punya efek negatif ke saya). 

  
Mantan yang super posesif lah, yang emosian lah, temen yang maksa jadi demen padahal udah tau saya udah punya pacar, di-pedekate-in cowok tapi waktu mulai deket nyeritainnya dia suka sama temen saya lah, naksir gebetan tapi tetiba ditikung temen lah, pacar ditaksir temen kantor dan sipacar (temen kantornya dia) saking cemburu pake ngelabrak dia lah, dibikin underestimate sama adiknya mantan lah, banyak deh. 

Saya nggak tau apakah saya tipe orang yang sulit memaafkan atau sulit melupakan. Yang udah pasti sih tipe kedua ya. Saya hepi banget sama kondisi hubungan yang sekarang tapi tetep suka kepingin nyinyir sama kejadian-kejadian di masa lalu yang sulit dilupakan. Kadang-kadang saya kepingin mereka tau bahwa mereka pernah salah menilai saya. But in the end, batu permata itu hanya akan ditemukan oleh orang yang tepat sih *ge-er* 

Minggu lalu, saya sama suami entah lagi ngobrol apa, tapi tiba-tiba saya ngomongin mantan yang gak lama kenal langsung jadian walau beda agama, well bukan pacaran serius sih. Meskipun biasa aja, tapi nggak tau kenapa tiba-tiba cerita gituan dan jadi panjang obrolannya. Setelah itu loncat cerita ke mantan yang lain, masih soal cinta monyet. Waktu saya liatin dia dan berharap dia gantian cerita (walau nggak harus cerita soal mantan sih), tiba-tiba dia bilang,

“Aku nggak inget apa-apa soal mantan,” 

Jleb. Saya kok tetiba ngerasa bersalah sekaligus minder ya. Padahal waktu pedekate dia sering cerita soal mantannya yang pacaran lima tahun akhirnya berakhir putus, temen-temen deket (ceweknya) yang sempet bikin saya jealous (dan baru kali pertama itu saya jadi segitu cemburunya). Tapi setelah nikah, sepertinya dia udah nggak mau nginget-nginget lagi soal cerita masa lalu (terutama cerita-cerita yang menyakitkan saya), nggak pernah saya denger lagi. Juga soal temen-temen deketnya dulu. 

Lucu sih, walau mungkin menurut dia biasa aja, tapi buat saya kalimat itu bikin saya merasa istimewa. Karena itu berarti dia lebih menghargai dan menjaga perasaan saya. Waktu nikah pun dia nggak undang satu pun mantannya karena mau ngejaga perasaan saya, begitu juga saya. Gak ada satu pun bagian dari masa lalu kita yang dateng di hari bahagia kita. And that’s what supposed to be happen. Untuk pasangan yang masih bisa, mau, and feel fine dengan kehadiran dan cerita soal mantan di antara kehidupan mereka, saya pikir itu sah-sah aja, normal, selama masih pada batasan wajar. 

Tapi sejak menikah, saya udah nggak pernah denger lagi suami cerita soal satu pun mantan dan temen perempuannya dulu. And it’s good, karena kita semua tau ya, perempuan pada dasarnya suka tanya-tanya soal mantan tapi kadang suka nyesel sendiri karena pernah bertanya, hahaha. Even it happend to me, perempuan yang jarang cemburu tapi sekali dikasih taunya terlalu banyak malah bikin bete (*jealous). 

  Seems that I need to learn from him. Oh, i love you, my man ๐Ÿ˜š

Newlywed Story Part 1 : Being Married

“Gimana rasanya menikah?” tanya temen saya. Waktu itu, saya dan Aji baru sebulan menikah dan dalam kondisi masih LDR alias jauh-jauhan. Saya di Tangerang dan dia di Samarinda. Alasan keuangan jadi dasar buat saya untuk ngantor lebih lama. 

Saya yang masih dalam kebingungan untuk menjawab pertanyaan temen, akhirnya cuma menjawab, “Ya gitu. Enak sih,” meski sebenernya semua orang yang baru menikah, honeymoon, tentu bakal bilang hal yang sama. Walau jujur aja, nggak banyak perbedaan mendasar antara saya dan Aji sebelum dan sesudah menikah, karena kami udah cukup lama pacaran, empat setengah tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengenal, mendalami, dan memutuskan apakah dia orang yang tepat atau nggak buat saya. Begitu pula dia. 

  
Karena baru seumur jagung, saya merasa jawaban akan jadi tidak objektif, karena pada kenyataannya menikah itu nggak melulu merasa happy. Selain itu, di bulan pertama menikah, saya belum merasakan hidup bersama yang sebenarnya. Sekarang, setelah pindah ke Samarinda, hidup bareng, ketemu setiap hari, mengalami dan menghadapi masalah bersama, saya lebih berani untuk berbagi bagaimana rasanya menikah. 


Lebih Tau Pasangan Secara Detail

Saya termasuk orang yang gak percaya dengan perkenalan singkat. Untuk tau kepribadian seseorang secara mendalam, butuh waktu dan proses. Perkenalan singkat biasanya hanya memperlihatkan sikap seseorang di kondisi-kondisi tertentu, belum sama sifat-sifatnya secara lengkap. Yang kelihatan ya yang baik-baiknya aja. Gak sedikit orang yang baru kenal dan menikah lalu dikejutkan dengan sifat-sifat ‘ajaib’ pasangannya. Makanya yang seperti itu bukan berubah sejak menikah, tapi memang belum kelihatan aslinya waktu masih kenalan. Proses yang panjang mengajarkan saya untuk terhindar dari hal begini. Gak perlu kelamaan juga, yang penting sudah bikin yakin kalo dia tipe yang akan selalu menjaga kita lahir batin, ketika siap ya menikahlah. 

Kalo dulu saya tau pasangan saya suka ngupil, sekarang saya lebih tau kapan dan di mana dia suka menebar ‘debu-debu intan’, ha ha ha. ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™Š Enggak ada sama sekali niatan untuk membeberkan kebiasaan buruk pasangan. Itu cuma salah satu yang kecil aja, yaaa kecil sih dan kadang risih. Tapi walau bagaimana pun juga kita bakal nemuin hal-hal kecil yang mengganjal macam ini, asalkan kita bisa compromize to each other, persoalam seperti ini gak akan menjadi besar. Just take it easy.

Contoh lainnya, waktu masih pacaran, dulu suami saya selalu berperan sebagai The Wise One (bijaksana), selalu keliatan cool and calm. Siapa sangka setelah married dia jadi amat sangat manja. Dia bisa bertingkah very cute, bener-bener kayak anak kecil (begitu juga saya) dan itu bikin saya jadi makin gemesss kepingin cubit pipi atau perut tembemnya. Every single day we seems to be two kids living together. Kita punya chemistry yang kuat dan unik, makin lama makin tau satu sama lain dan terkadang punya pemikiran yang sama tanpa diomongin. 

being kids: playing all day

Banyak hal yang secara langsung akan menular dari satu ke yang lainnya. Misalnya cara bicara dan memilih nama panggilan. Dari dulu saya nggak pernah bisa manggil pasangan dengan sebutan Aa, Kang, Mas, Abang, dan sejenisnya. Jadi waktu ibu mertua minta saya manggil suami dengan sebutan “Abang”, dan ketika papa saya manggil dia “Aa”, saya enggak sreg. Bukan karena umur dia yang sedikit lebih muda daripada saya. Saya lebih suka dengan kesetaraan, walau pada hakikatnya istri akan selalu dan harus menurut dan menghargai suami. Waktu pacaran kami pakai panggilan tertentu, di awal menikah panggilannya berubah lagi. Sekarang panggilan kami bisa berubah jadi apa aja, and always something cute, seperti nyonyoo (karena dia sering asked for a kiss dengan bibir yang monyong yang bikin geli ngeliatnya ๐Ÿ˜š) atau tetiba saya spontan panggil dia nyangnyang. Semau kita lah pokoknya. Saya yakin semua pasangan menikah lain punya hal serunya masing-masing Hihihi

Coba perhatikan / ingat-ingat kebiasaan pasangan / pacar waktu lagi makan. Apa dia termasuk orang yang rewel harus makan di resto, harus higienis, harus mendekati rasa masakan mamanya, harus enak (yang ini berlaku buat semua orang dong yaaa hehe), ketika menikah semua itu akan lebih keliatan alias lebih rewel, atau berkebalikan. Terlebih buat perempuan yang normalnya harus masak buat suami, nggak serta merta masakan jadi enak, alias butuh proses. Suami yang baik tentu akan menghargai proses. Nggak heran selalu ada scene ‘lucu’ di sinetron-sinetron di mana seorang suami pura-pura bilang enak waktu pertama kali nyicipin masakan istrinya. Alhamdulillah scene itu nggak pernah terjadi pada saya hihii. Meski ada kalanya masakan saya sedikit keasinan, kurang atau agak terlalu banyak minyak dll, tapi gak pernah bikin suami bilang nggak enak (yaiyalah mana ada sih suami yang tega begitu hehehe). 

Berkebalikan dari kebiasaan suami waktu masih pacaran dulu : pada prinsipnya, buat dia cuma ada dua jenis rasa masakan, kalo bukan enak ya enak banget. Sekarang, dia lebih terus terang kalo memang gak banyak makanan enak di kota ini. Makanya dia lebih suka masakan rumah daripada harus beli, kecuali terpaksa. Beberapa kali dia menyempatkan untuk pulang dan makan siang di rumah ketimbang beli di luaran yang rasanya belum jelas. Di satu sisi saya bangga bisa masak buat suami, nggak memulainya dari nol, tapi di sisi lain saya juga harus terus cari ide untuk menu masakan yang lebih variatif supaya nggak bosen. Dengan banyak nyontek resep dari internet, aplikasi menu masakan seperti ‘Masak Apa’ dan ‘Cookpad’ bisa membantu banget menambah menu dan jenis masakan yang bisa dipilih. Apalagi kalo harus masak tiga kali sehari dengan menu yang beda, tiap hari yang paling saya pikirin adalah, “nanti masak apa?” Hohoho. 
Siapa Yang (Harusnya) Lebih Rajin? 

Pasti orang kebanyakan akan menjawab, “Perempuan / Si Istri,” namun pada kenyataannya nggak melulu seperti itu. Walaupun seringkali pasangan saya bilang begitu (biasanya dia bilang gitu kalo saya lupa nyapu / ngepel atau ogah-ogahan ngerjain sesuatu aja), yang terjadi sejak saya tinggal bareng dia, dia yang kelihatan lebih rajin daripada saya. Setelah makan, terutama makan malam, pekerjaan mencuci piring jadi kerjaan utamanya dia. Jadi saya bisa santai-santai deh selesai makan, hehe. Jarang kan cowok lokal kayak begini.

Weekend selesai masak, dia juga cuci piring makan siang, kadangkala beres-beresnya udah dimulai setelah saya selesai masak. Gak jarang dia juga ngingetin saya untuk selalu membereskan kembali perabotan setelah memasak. Lucu sih karea ternyata dia lebih bawel soal kebersihan dan kerapihan. Di lain waktu, kadang-kadang dia pulang kerja dan langsung ngerjain hal-hal lain. Misalnya beresin sampah, nyapu kamar, ngepel kamar dan dapur, tanpa diminta. Padahal yang di rumah seharian ya istrinya ini ๐Ÿ˜ 

Saya beruntung banget punya pasangan seperti dia. Kebayang kan nanti kalo punya anak repotnya kayak gimana. Dengan punya suami yang mau berbagi kerjaan rumah pasti bakal ngebantu banget untuk bikin rumah tetap bersih dan rapi. 
Mendukung Mimpi Masing-masing

Perlu diakui, orang Indonesia agak rese soal kehidupan orang lain. Udah tau banget kan dengan pertanyaan beruntun yang nggak ada ujungnya. Setelah ditanya kapan lulus trus ditanya udah kerja apa belum, kerja di mana, ditanya udah punya pacar apa belum, pacar anak mana kerja apa, trus ditanya kapan nikah (jangan tanya kapan kawin ya hahaha), udah punya baby apa belom, de el el. Capek yah. Kadang tekanan semacam ini (terutama soal kapan nikah) kadang mendahului ekspektasi dan prediksi pribadi orang yang ditanya. 

he helped me to build my (dream) kitchen

Ketika ditanya “Kenapa Anda mau menikah?” Setiap orang pasti punya jawaban sendiri. Saya, misalnya, punya mimpi sederhana untuk jadi ibu sekaligus istri yang hebat. (*gak gampang yahhh). Menikah adalah gerbang saya untuk mewujudkan mimpi itu. Dari dulu banget saya pingin nikah. Pinginnnn banget, tanpa tau kenapa. Saya juga belum punya gambaran soal gimana kehidupan pernikahan. Ini bener-bener menyiksa. Saran saya, sebelum menikah, pikirkan lagi jangan hanya kenapa ingin menikah, tapi tanyakan ke diri kita sendiri, “Apa ini yang benar-benar saya inginkan? Siapkah saya?” Yang harus jadi perhatian, pertanyaan kedua itu perlu mantap dijawab sebelum benar-benar mewujudkannya.

Why? 

Karena pernikahan nggak akan semulus wajah bintang Korea. Nggak ada yang sempurna. Dua kepala dengan dua kepribadian yang complicated pasti banyak hal yang nggak sesuai, di situlah gunanya compromize, saling mengisi dan mengesampingkan ego. Memahami cara berkomunikasi dan problem solving (sebagai pasangan) penting banget dalam proses berkompromi dan menerima pasangan dengan segala kekurangannya (kalo yang lebih pasti diterima dong yaaaa). Sebelum memutuskan untuk hidup dengan seseorang, alangkah baiknya siapapun itu untuk jujur dengan diri mereka sendiri, dan berhenti melakukan drama-drama yang nggak penting. Karena ketika menikah, kejujuran menimbulkan kepercayaan dan keharmonisan yang harus selalu dijaga. 

Sebelum kepo sama mimpi orang lain, yakini mimpi kita sendiri. Apa yang ingin diraih dalam hidup, bagaimana cara meraihnya. Ketika menikah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk saling mendukung mimpi masing-masing. Katanya, kebahagiaan dan keridhoan istri membuka pintu rezeki bagi suami. Tapi sebagai istri, kita juga harus tau diri. Jangan mempersulit suami dengan permintaan yang nggak masuk akal. Intinya saling toleran dan mendukung lah, bukan menjatuhkan, karena inti pernikahan bukan kompetisi. 

Ahhh, banyak dan panjang banget pokoknya kalo ada yang tanya. Gimana Rasanya Menikah. Yang pasti sih, happy. Tapi rasanya nggak cukup diwakili dengan satu kata, satu kalimat, atau satu paragraf. Mungkin cukup sih kalo dengan satu hari cerita, meski nggak akan mewakili keseluruhannya, karena cerita-cerita yang lain akan datang menyusul. Kalau mau tau gimana rasanya, ya rasakan sendiri, wujudkan ceritamu sendiri. Tapi ada satu pekerjaan berat sebelum semua itu terjadi : find the right one and be sure he’s/she’s the one. Keraguan nggak akan memberikan jawaban, apalagi kebahagiaan. Make sure and be sure you’ll happy ๐Ÿ˜Š  

always happy together๐Ÿ’

How about yours? 

Keluarga Kedua

Pertemanan bisa sangat berarti apabila kedua belah pihak (atau banyak orang) dalam lingkup pertemanan bisa memaknai secara positif. Bisa menjaga dan saling menghargai, mengayomi dan mengasihi. Setau saya, tidak banyak yang bisa menggugah saya dengan cara itu.

designsold.com

designsold.com

Sejauh yang saya alami dan rasakan, ada berbagai macam dan jenis pertemanan. Teman biasa, teman dekat, teman akrab, teman bermain, sobat karib, sahabat, you name it. Setiap hubungan punya title-nya sendiri. Dilihat dan dirasakan sendiri.
Terus terang, sampai saat ini saya tak pernah mengalami dan merasakan persahabatan sejati. Sangat sulit menemukan pertemenan jenis itu. Ada yang berteman lama tapi tak pernah berbagi cerita pribadi secara mendalam. Akhirnya, masing-masing tak pernah mengenal terlalu dalam satu sama lain. Hanya ada waktu-waktu tertentu untuk bertemu, hangout, kemudian pulang. Bertemu lagi beberapa bulan kemudian, apabila ada kesempatan tertentu.
Ada pula teman yang sering menghabiskan waktu bersama, bercerita secara sepihak, kemudian mengecewakan, bubar jalan karena hal pribadi. Padahal, baru saja ada niatan untuk berbagi lebih, menghabiskan waktu lebih banyak, dan menobatkannya sebagai kawan dekat. Gagal sudah.
Lain lagi ketika bertemu dengan teman yang sama-sama menganggap dekat, tapi gelagat-gelagat kedekatan pertemanan justru membuat kami canggung. Bercium pipi atau berpelukan setelah lama tak bertemu malah jadi terasa aneh. Saya pikir, kita dekat, tapi ternyata tak se-akrab itu. Kehidupan dan cara pandang pun sudah jauh berubah. Saya sendiri, tidak terlalu suka cara hidup yang terlalu memaksakan dengan gaya hidup modern Ibukota. Akhirnya, lama-kelamaan juga hilang, jarang bertemu, jarang berkomunikasi.
Terakhir, saya baru merasakan kedekatan yang sama dengan sekelompok orang. Well, to be honest, sejauh ini nggak ada teman yang membuat saya nyaman untuk blak-blakan menceritakan kehidupan pribadi saya sekaligus yang sering saya temui. Memang, saya tetap tak terlalu terbuka dengan mereka. Banyak hal yang memang lebih aman jika disimpan sendiri. Walau begitu, saya merasakan keakraban setiap kali saya bertemu dengan mereka. Ada sesekali waktu atau kesempatan merasa seperti itu.

pic from athenna.com

pic from athenna.com

Terkadang saya merasa mereka seperti keluarga kedua. Meski tak ingin melabelkan apa pun terhadap hubungan pertemanan kami. Saya hanya ingin menikmatinya.
Percuma menaruh harapan dan memberi label tertentu jika tak sesuai. Akhirnya saya hanya berdiri di atas bayang-bayang. Menganggap mereka penting tapi mereka tak pernah menganggap saya penting. Justru, yang pernah saya rasakan hanya pahit. Pahit bukan karena pengalaman buruk yang terjadi di antara kami, tapi karena pengalaman buruk itu tidak bisa menyatukan kami kembali se-dekat dulu. *baiklah cukup sudah tentang pengalaman masa lalu*

now it’s time to move on.

Saya hanya ingin berbagi manisnya berada di antara mereka yang mau saling berbagi, bukan hanya kesenangan tapi juga kesusahan. Mau mengerti dan memahami. Kamu tau, di dalam keluarga saja sudah pasti ada konflik atau masalah-masalah kecil yang muncul. Sama pula, karena dalam pertemanan pun terdapat berbagai cara berpikir yang berbeda. Karena kami dibesarkan dengan cara dan lingkungan yang berbeda. Masalah-masalah yang timbul dalam keluarga, semestinya tak memecah belah. Dengan pengertian dan kesabaran, semestinya masalah tersebut berlalu, dan keluarga tetaplah keluarga, kita mesti menerima anggota keluarga apa adanya, dengan kelebihan dan kekurangannya.
Dan itulah yang akan saya terapkan dalam mindset saya kepada mereka. Jika di dalam keluarga asli saja, saya menyimpan banyak rahasia sendiri. Dengan mereka, saya tak perlu memberitau saya ini tipe orang seperti apa. Biar mereka tau sendiri. Begitu pula saya akan membiarkan proses dan waktu agar saya dapat mengenal mereka satu per satu. Menerima apa pun dan bagaimana pun mereka adanya.
Seperti halnya keluarga normal yang mengalami berbagai masalah. Pertemanan yang melibatkan banyak orang ini pun sudah tentu akan menghadirkan kerikil-kerikil permasalahan. Apa sebab? Karena pada dasarnya setiap individu berharap orang yang ditemuinya selalu menyenangkan, dengan pribadi yang sesuai dengan dirinya. Faktanya, hal tersebut tidak selalu terjadi.

peter-pan-quotes
Saya, tipe orang yang agak keras dan perfeksionis, plegmatis dan berharap tidak ada hal aneh menghampiri. Sayangnya, saya lebih sering diam apabila ada hal yang tidak beres. Karena saya takut menyakiti apabila saya langsung mengutarakannya. Yang lebih salah, saya justru menceritakan problem tersebut di tempat lain atau orang lain. Alhasil, orang yang berkenaan dengan permasalahan, justru mengetahui masalah paling terakhir. Yang ada, orang tersebut malah merasa tersakiti, atau berpaling karena tidak suka. Menghindar, kemudian lama-lama menghilang. Kesalah pahaman seperti ini justru bisa lebih membahayakan. Prinsip JUJUR DI AWAL LEBIH BAIK tidak diterapkan dengan benar. Yap, pertemanan berakhir karena kesalah pahaman. Atau paling tidak, saling menghindar karena ketidak sukaan.
Sejujurnya hal itu tidak perlu terjadi apabila keduanya bisa saling membuka pikiran. Meski, saya tidak perlu menggubris atau memikirkan apabila orang yang berkenaan dengan permasalahan justru memberitaukan kepada teman lain, dan akhirnya pihak ketiga justru ikut membenci. Saya, sebagai orang yang sudah dapat dikatakan cukup dewasa dalam berpikir, tak perlu membenci pfriendship-50aribadi seseorang karena tidak sesuai dengan harapan saya. Yang patut diperbaiki adalah atmosfir pertemanan yang kadung rusak. Apabila kedua belah pihak bisa saling membuka pikiran, mengerti dan menerima lapang dada, maka jalinan pertemanan akan aman.
Sayangnya, tidak semua orang berpikiran sama. Terlebih perempuan. Terhadap sesama perempuan pun, kadang mereka ‘posesif’, kadang mereka lebih memilih membenci apabila pendapat orang lain bertentangan dengan dirinya, yang terkadang juga mereka membela diri secara berlebihan seperti innocent people padahal opini lain mengatakan dirinya membawa andil dalam permasalahan.
Saya sendiri tak peduli apabila ada opini atau suara-suara sumbang dengan tulisan pemikiran saya di sini. Lagipula, ini adalah halaman pribadi saya. Yang terpenting, saya tak menyakiti orang lain. Saya hanya beropini. Dan itu wajar, saya punya cara pandang. Apabila tak sesuai, Anda tak perlu memutus pertemanan atau membenci, bukan?
Anggota keluarga yang baik semestinya bisa saling menerima dan memberi masukan. Begitu pula dengan pertemanan, apabila ia dikatakan SEJATI. Tak perlu ada saling menyakiti hati, atau merasa sakit hati dengan opini anggota keluarga yang lain, atau marah karena sebuah candaan. Teman akrab tak perlu merasakan seperti itu. Bila memang terjadi, mungkin permasalahan ada pada pribadi yang terlalu sensitif. Ingat, tiap-tiap orang dibesarkan dengan adat dan lingkungan yang berbeda, juga level kedewasaan pemikiran yang berbeda.
Dalam pertemanan yang saya sebut keluarga kedua ini, saya ingin berbagi keceriaan, waktu dan pengalaman yang menyenangkan. Selebihnya, kesusahan pun dibagi rata. Sebaiknya tak ada yang menanggung beban terlalu banyak sementara yang lain melenggang dengan manis dalam kesusahan, padahal niatan awal adalah berbagi kebersamaan. Kesenangan maupun kesusahan, semestinya dibagi rata untuk keadilan, bukan? ^_^

Home is (should be) The People, Not The Place

And I never found it (yet).

Akhir-akhir ini, saya kembali bertanya-tanya. Seperti apakah rumah yang ideal. Dan apa sesungguhnya yang disebut sebagai ‘rumah’. Saya pun menyepakati bahwa RUMAH adalah orang-orang yang membuat kita merasa nyaman dan tentram, yang membuat kita selalu ingin kembali. RUMAH bukanlah si bangunan dan seisinya. Ya, memang terkadang yang kita rasakan ketika jauh dan lama meninggalkan tempat kita biasa tidur dan beraktivitas, kemudian kita merasakan rindu untuk kembali. Kembali di tempat tidur yang selama ini dirasa nyaman, kamar yang suananya telah disesuaikan dengan keinginan kita. Ya, itulah yang seringkali saya rindukan.

Selama ini, saya masih dalam perjalanan, mencari ‘rumah’. Ini adalah sebuah perjalanan yang panjang. Sejak kecil, rumah tak pernah terasa seperti rumah yang sebenarnya. Ayah dan ibu yang diharapkan ada untuk menanyakan pelajaran sekolah saya, hilang dilanda kesibukan. Ya… memang kami bukan berasal dari kalangan berada, sehingga kedua orang tua harus bekerja semua. Kami berlima main semaunya, diawasi oleh pembantu. Ya, kami semua tumbuh besar dengan pembantu. Jadi.. wajar saja kalau kami seperti tak punya ambisi, hidup apa adanya dan hanya ikut arus, asal bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan.LL57_P_Family_Black-300x245

Kini, setelah keduanya tak lagi bekerja, rumah tetaplah bukan ‘rumah’. Mungkin, ini terkesan seperti tak mensyukuri. Bukan. Hanya saja saya berharap mendapat hidup yang normal. Damai. Satu-satunya yang membuat saya bahagia hanya kedamaian, ketenangan. Mungkin, dulu saya tak masalah dengan tidak adanya orang tua di rumah, selama saya bisa bermain dengan senang. Sekarang, bukan lagi permainan yang membuat saya senang atau tidak senang.

Memang, kata orang, jika ingin bahagia, kita sebaiknya belajar menerima dan melihat apa yang kita punya, bukan apa yang tidak dipunya. Tapi, ketidak punyaan terhadap ketenangan, adalah sesuatu yang salah bagi saya. Saya punya Allah, Tuhan tempat mengadu. Betul, saya hanya bisa berdoa untuk kedamaian. Tapi, ibarat kata perang, jika kedua pihak tak pernah berdamai, bagaimana rakyat bisa hidup tenang..?

 

Juga, hal yang paling tidak menyenangkan adalah ketika kita merasa tak berdaya. Ingin berbuat sesuatu tapi tak bisa. Berbicara tapi seolah tak didengar. Satu hal yang terpikir hanya menjauh. Menutup mata dan telinga untuk segala hal yang membuat gusar atau marah.

Home…
Is something that I need and will build
In the future
Peaceful and will be missed

Home…
Is a great place for my children to grow
Where they will be raised
And be a great people someday ahead

this is our future

this is our future

Cara Bijak dalam Menghadapi Kritik

Kritik adalah senjata yang bisa kau gunakan untuk berubah dan memanah masa depan yang lebih baik -nde

 

Sebagai manusia yang bersosialisasi, kita diharuskan berhubungan dengan banyak orang, baik itu berteman, kolega, atau keluarga. Bersosialisasi artinya kita melakukan banyak komunikasi. Tapi kita perlu sadar, komunikasi itu tidak selalu menyenangkan. Terkadang, dalam berkomunikasi kita dihadapkan pada kritik. Ingat, kritik itu baik atau tidak, tergantung kepada pola pikir kita sendiri.

Dari cara penyampaian dan isinya, ada jenis kritik konstruktif yang disampaikan secara baik dengan isi yang membangun. Kedua adalah kritik destruktif, yang dari penyampaian maupun isinya bisa jadi dengan cara yang kasar tanpa tedeng aling-aling. Kritik konstruktif biasanya didasarkan pada penunjukkan mana yang salah disertai dengan pengemukaan hal-hal yang sebaiknya dilakukan untuk berubah. Sedangkan kritik destruktif cenderung secara langsung menyakiti orang yang diberi kritik.

150166_10151285088898973_545190964_n

Walaupun begitu, kembali kepada pola pikir tadi, terkadang ada saja orang yang menmandang kritik konstruktif sebagai sesuatu yang negatif. Sikap yang muncul kemudian adalah menghindar, karena ada rasa tak terima. Ada saja orang yang berlaku seperti itu. Bahkan, ada juga yang memutus pertemanan atau persaudaraan dengan alasan sakit hati. Padahal belum tentu niat di balik orang pemberi kritik adalah niat yang buruk.

1. Pikir dengan Jernih
Salah satu ciri orang yang sudah bisa berpikir bijak dan dewasa adalah jalan pikirannya yang jernih. Dalam menerima masukan, saran dan kritik sekalipun, mereka cenderung lebih tenang. Bahkan dalam menghadapi fitnah pun mereka cenderung santai. Kita semua sedang berproses ke arah sana.

2. Lihat dari Sisi Positif
Setiap orang punya pandangan dan jalan pikiran yang berbeda-beda, tergantung bagaimana ia dibesarkan (dengan nilai-nilai hidup), di lingkungan seperti apa ia tumbuh, dan bagaimana prosesnya dalam tumbuh dan berkembang. Coba untuk melihat saran dan kritik tersebut dari kaca mata si pemberi kritik. Yang perlu dilakukan, lepas dulu kaca mata kita. Karena memakai dua cara pandang yang berbeda sekaligus, itu hanya akan membenturkan dua kepentingan yang kemungkinan besarnya, kritik itu akan patah dengan egoisme kita.

3. Tahan Emosi
Berpikir ulang sebelum memberikan respon. Artinya, dalam bentuk apa pun dan bagaimanapun kritik itu disampaikan, jangan langsung terbawa emosi. Terima kritik itu dengan tenang dan respon yang baik. Apabila tidak sesuai, usahakan untuk tak merespon dengan berlebihan. Apabila kritik disampaikan dengan cara yang tidak baik, lebih baik diam ketimbang terpancing emosi. Atau, jalan terbaik adalah dengan menunjukkan bahwa pandangan mereka salah. Bukti.

4. Belajar dan Pikir Ulang
Ada baiknya kita belajar dari apa yang orang nilai dari diri kita. Apabila memang mereka mengatakan kita lemah dalam satu hal, coba lihat dengan seksama apa memang benar begitu. Jangan langsung menuduh balik bahwa mereka tidak suka kepada kita. Dengan kritik yang disampaikan, kita patut berpikir ulang apakah tujuan mereka mengalamatkan kritik tersebut, apakah memang ingin melihat perubahan dalam diri kita, atau ingin melihat kita jatuh. Seorang teman yang baik tidak akan menjatuhkan temannya.

5. Jangan Menghindar, Hadapi!
Apabila kritik yang disampaikan tersebut terasa menyakitkan tetapi mengandung kebenaran, jangan tutup mata kita. Jangan menghindar dari hal tersebut, apalagi menghindar dari si pemberi kritik dan memusuhinya, entah karena mereka benar atau karena ketidaksukaan kita pada kritik mereka. Hadapi semua kritik dengan lapang dada. Karena kritik walaupun bisa saja adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan, adalah rupa dari kepedulian seseorang kepada kita. Dengan memberi kritik, berarti mereka telah melakukan ‘penelitian kecil’ terhadap diri kita. Itulah yang saya namakan kepedulian. Setidaknya mereka meluangkan waktunya untuk mengamati diri kita.

critic may be the truth

critic may be the truth


Be happy
, kritik seharusnya menjadi pecut yang membuat kita berjalan lebih cepat ke arah perubahan yang lebih baik (ini bukan kampanye capres lhooo hehe). Tapi terkadang, bahkan ini pernah terjadi pada saya sendiri, ketika menghadapi kritik justru kita mengabaikan kritik tersebut karena merasa tak mau terlihat ‘cacat’ di hadapan orang lain. Keinginan kita, tentu saja, dapat terlihat baik di hadapan siapapun… teman-teman, di kantor, maupun di antara keluarga. Tapi, tidak ada yang sempurna bukan? Semestinya justru kita belajar dari ketidaksempurnaan itu.

So, jangan pernah takut atau anti terhadap kritik. Justru seharusnya kita senang diberi kritik, karena bisa menjadi bahan untuk renungan untuk berkembang, jadi lebih dewasa. Sudah cukup waktu kita bermain-main seperti anak kecil. Janganlah juga menghadapi masalah ataupun kritik seperti anak kecil juga. Ngambek is so last year, isn’t it…? Now it’s time to be wise, brave and stronger than ever before!!

Salam semangat perubahan!!
*sekali lagi ini bukan kampanye capres ya hihi…

I Only Have One Heart and Already Owned

Mmm.. Hmm… Hmmm….

What should I say..

Begini..

Hmm.. Bingung…

Okay, I’ll start to tell the story.

Beberapa waktu ke belakang, ada hal yang menjengkelkan sekaligus membingungkan pada diri saya. Yang membuat saya bertanya-tanya apakah saya salah berucap, bersikap atau memperlihatkan bagaimana sesungguhnya diri saya di mata orang.

Pada dasarnya saya bukan orang yang punya banyak teman. Dan nggak begitu nyaman punya teman-teman perempuan. Kenapa? Karena kebanyakan dari perempuan itu cerewet, sensitif, drama queen, rumpi, suka gosip, ngomongin & jelek-jelekin orang di belakang. To be honest, saya akan menghindar untuk dekat dengan orang seperti itu. Yap, memang dari dulu saya lebih nyaman untuk berteman dengan kaum pria. Cuek, bebas berekspresi, nggak jaim. Pokoknya santailah. Meski resikonya memang ada yang berharap lebih. Okey,.. Kalau saya dalam posisi sedang single, masih memungkinkan untuk pedekate dan cinlok.

Tapi kalo udah punya pacar mbok yo lebih bijak dalam bersikap dan berharap gitu lho..

Filosofi “Jangan Ganggu Pasangan Orang” sepertinya harus digalakkan lagi. Ketimbang mempercayai prinsip “Sebelum Janur Kuning Melengkung” apalagi mempercayai pasangan orang lain adalah jodoh kita, sama sekali bukan hal bijak. well setidaknya bagi saya. Sampe kapanpun saya nggak akan pernah berpikir dan menyakiti orang untuk meraih kebahagiaan saya. Bukan pilihan bagi saya.

Saya berpikir saya harus membagi cerita ini. Sekian kali terjadi di mana seorang lelaki mengharapkan pertemanan bisa berubah menjadi seseorang yang istimewa. Dengan cara yang aneh. Kenapa aneh?

Karena mereka datang tiba-tiba, secara intens, tapi dengan cara dan waktu yang tidak tepat.

Cerita pertama, datanglah seorang teman yang dulu nggak pernah saya kenal secara dekat, tiba-tiba datang, seringkali ngobrol via Yahoo Messenger dan beberapa kali dia menceritakan kesukaannya pada salah satu teman saya. Yang saya tahu, teman saya sudah punya pacar sangat lama, bahkan dia kenal juga dengan kedua orang yang berpasangan itu. Lalu kemudian di satu waktu dia mengharapkan saya menjadi seorang yang spesial buat dia. Duh!

Parahnya lagi dia menyalahkan pacar saya karena ‘menyalip’ usaha dia untuk mendekati saya. Padahal dia nongol juga setelah saya punya pacar. Hooo.. Okeyy, mungkin dia nggak paham dengan konsep dan trik pedekate. Walau begitu, saya betul-betul merasa desperate berada di sekitar dia karena jalan pikirannya yang nggak pernah saya mengerti. Begitu membingungkan, ruwet, super pessimistic yang mana sama sekali bukan tipe lelaki yang saya suka. totally wrong person, dude. Setelah itu pun saya berhenti berkomunikasi dengan dia. Hilanglah salah satu teman. it’s fine for me.

Next story, juga terjadi pada waktu yang salah. Di mana saya sudah 3 tahun pacaran dengan sangat hepi. Kemudian timbullah satu peristiwa yang sama sekali nggak saya duga. Di mana salah seorang teman mengeluhkan bahwa saya jarang menanyakan dia, walaupun komunikasi teks seringkali saya yang memulai untuk menanyakan kabar dsb. Kemudian muncullah komplain dari teman saya itu, yang mana katnya saya selalu mengabaikan dia. Huhh?

Usut punya usut ternyata dia selama ini saya mengabaikan perasaannya. Memang.. Beberapa kali dia menyatakan perasaannya pada saya dan saya selalu diam. Bukan tanpa alasan, karena dia nggak pernah menanyakan apa pun pada saya. Pada prinsip saya, tanpa ditanya, saya tidak perlu terlalu banyak berkomentar atau bicara. Pun, pada perasaan orang, saya membiarkan dan mempersilakan. Menyayangi adalah hak setiap orang bukan??

Prinsip yang dia pegang, selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan.

Hmmm.. Mungkin itu bisa terjadi pada orang lain. Tapi maaf, seumur hidup saya, saya sudah mengunci hati hanya untuk satu orang teristimewa. Saya hanya punya satu hati, dan sudah dimiliki seseorang sejak tiga tahun lalu. Perjalanan kisah kami memang tidaklah mudah dan berkelok-kelok. Tapi ibarat kata sudah punya toko langganan untuk berbelanja yang lengkap, dapat dipercaya, nyaman dan pelayanannya ramah, rasanya saya nggak perlu mencari toko lain. Begitu pun dengan hati saya.

Dan itu pulalah yang saya kemukakan pada si teman. Kebutuhan saya terhadap sebuah hubungan sudah terpenuhi, jadi kenapa saya harus membagi hati?? Tidak ada satu alasan pun.

Mungkin saya mahfum, selama ini kami sering menghabiskan waktu untuk ngetrip bareng. Tapi apa itu cukup untuk bisa mengambil hati seseorang? Bukan materi yang menyilaukan yang membuat saya tertarik pada seseorang. Sekali waktu teman kantor pun pernah berusaha menjodohkan saya dengan salah seorang di dalam divis yang sama, karena dia sudah berumur cukup dan juga cukup mapan. Dia bilang, “Udalah nde, sama si mas X aja. Udah punya rumah dan mobil juga lho, daripada kamu LDR terus”

Hahaha.. Sungguh naif ya.
Tapi maaf, bukan materi yang saya permasalahkan, tapi kepribadian. Pemikiran yang dewasa, berprinsip kuat, tegar, bertanggung jawab, hormat dan menghargai, tapi juga bisa memanjakan, apalagi rajin beribadah dan mampu memimpin doa. Terlebih lagi kita punya kesamaan pemikiran dan get clicked in many ways.

Memangnya saya butuh apa lagi? Saya hanya butuh sedikit lebih banyak kesabaran untuk menunggu. Untuk orang seperti apa saya harus melepas seseorang yang untuk pertama kalinya bisa membuat saya merasa CUKUP?

I said, “NONE! I feel and filled ENOUGH with my life.” But thanks for coming by as a good friend, dear friends.