Kenali Dirimu, Kenali Tuhanmu, Berbahagialah

Bahagia itu seperti sedih, datangnya dari HATI. Silakan selami hati masing-masing. Kalau nggak ada, coba cek di toko sebelah. 

happiness-is

pic by hipwee.com

* * *

“Kak, usiaku sudah mau kepala tiga, tapi belum juga menemukan jodoh,” ucap seorang perempuan kepada temannya. Karena perbedaan umur beberapa tahun, ia pun menganggap sang teman seperti kakaknya sendiri, karena ia tak punya kakak perempuan.

“Tenang dik, gaperlu risau. Di luaran sana masih banyak orang-orang dewasa, umur 30 bahkan mau 40, yang jangankan menemukan jodoh, menemukan jati diri dan Tuhannya saja belum,” ucap sang ‘kakak’

Si ‘adik’ terdiam. Belumlah ia percaya ada kenyataan seperti itu. Tapi ia beruntung tak tersasar sejauh itu.

“Jikalau kamu baik, percayalah kamu akan menemukan orang (jodoh) yang baik. Atau ditemukan oleh orang yang baik,” kata sang kakak lagi.

* * *

Dalam kehidupan, ada banyak perjalanan. Banyak pertemuan. Perpisahan. Kita mungkin sudah banyak melihat, banyak mendengar, banyak mengeksplor, tapi tak ada jawaban yang diinginkan.
Begitu banyak pertanyaan akan hadir di benak seseorang, mengenai apa saja yang ditemuinya, dirasakannya, diinginkannya. Sehingga seseorang itu mungkin saja perlu melintasi banyak daerah, mengunjungi banyak tempat, bertemu banyak orang, untuk menemukan apa yang ia cari. Menemukan jati diri.

Bisakah kebahagiaan dihadirkan oleh sejumlah uang? Belilah apapun yang kamu mau, pergi kemana pun kamu inginkan dengan uang tersebut. Tapi apakah kamu akan bahagia? Jikalau kedamaian dan kesyukuran belum menghampiri, saya hampir yakin, perjalanan sejauh apapun dan benda semahal apapun yang dibeli dengan uang tersebut hanya akan jadi sebuah ‘ritual’, sekedar barang tak bernyawa atau kegiatan/peristiwa, tanpa ada makna.

  • Pergi ke Raja Ampat, jauh dan pricey, tempatnya bagus banget, pondokan yang instagramable, senang riang, lantas ambil foto, cekrak-cekrek, posting, banyak like. Selesai.
  • Pergi ke Gunung Papandayan, dekat, murah, tidur di tenda, makan seadanya, pemandangan tak kalah indahnya. Tapi merasa damai, lebih dekat dengan Tuhan.
  • Kumpul sama teman-teman, nongkrong asik, makan-ngebir-rokok, begadang bareng, haha-hihi. Hepi. Besok-besok diulang lagi. Soalnya males kalau sendiri.
  • Nonton dvd di rumah, menikmati waktu luang di antara kesibukan & kepenatan. Syukur banget kalo udah berdua sama pasangan. Ngobrolin banyak hal, becanda-becanda. Cuddling. 

Sejauh apapun kau pergi, kebahagiaan tak akan kau temui, selain di dalam dirimu sendiri.

Bagi seseorang yang bisa memaknai sesuatu, ia takkan melihat sebuah peristiwa / benda tak sekedar sebagai fasilitas, tapi juga dapat menemukan arti yang mendalam. Kenapa bisa begitu? Karena ia tau dirinya sendiri, ia tau Tuhannya yang mengirimkan rasa itu padanya, dan juga segala ciptaan yang ia lihat.

Nikmati Setiap Fase Kehidupan
Menurut suami saya, setiap fase dalam kehidupan memiliki jangka waktu / batasan, arti, dan cara menikmatinya masing-masing. Ketika bayi kita tak ingat apa-apa, sebagai anak kecil cara kita menikmatinya ya dengan bermain-main, beranjak remaja mungkin kita sudah mulai cinta-cintaan, setelah bekerja kita menikmati hidup dengan mempergunakan hasil kerja keras, setelah menikah cara menikmatinya mungkin jalan-jalan berdua, kalau sudah punya anak cara menikmatinya ya dengan mengurus anak. Dan seterusnya.

“Tapi ada batasannya seseorang harus sudah move on. Artinya, kalau sudah di fase tertentu kita nggak akan bisa mundur. Untuk melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan, mungkin aja, tapi nggak akan rutin seperti sebelumnya, dan esensinya pun akan lain,” katanya.
Kalau dulu kita bisa hura-hura, di batasan usia tertentu hal itu sudah nggak ‘menarik’ lagi, nggak seru lagi, karena fase dan prioritas yang berubah. Yang dulu kita anggap menyenangkan belum tentu sama menyenangkannya di masa sekarang. Semua itu terjadi secara alamiah. Kita nggak bisa kembali ke masa remaja seperti film “17 Again”, dan nggak akan bisa untuk selalu 17 tahun. Sebagai manusia dewasa kita harus mengerti dan menerima kenyataan bahwa kita semakin tua. Semakin tua. Semakin tua. Lantas apa? MATI. Yap, semua manusia dan makhluk di bumi ini akan mati. Dengan meyakini hal itu, kita akan semakin meyakini keberadaan Tuhan. Dia yang menciptakan dan juga yang men-switch off segalanya.
Bagaimana memaknai kematian bagi mereka yang tak menemukan Tuhan di hatinya? Bisa jadi, sebenarnya mereka berasal dari keluarga yang religius, sejak kecil diajarkan agama, keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Tapi kemudian lingkungan dan pikirannya menjerumuskan mereka pada kondisi yang sedemikian rumit sehingga tak mampu atau tak mau menerima ‘jawaban dari Tuhan’. Sebagai muslim, saya meyakini segala sesuatu yang ada di bumi, setiap fase kehidupan telah diatur dalam kitab suci Al Quran. Begitu pula ketika pikiran kita ‘tersesat’, hal itu tak luput dari campur tangan-Nya.

Mengutip website quran.al-shia.org, ada beberapa ayat yang menerangkan hal tersebut:

  1. Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
  2. Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
  3. Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.
  4. Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Jadi, kata siapa kalau kita tidak (baca: belum) mengenal Tuhan, Ia tidak akan campur tangan dalam kehidupan kita? Setiap helai rambut yang rontok, kulit yang gosong, gigi yang kuning (*eh* hehe), setiap hela nafas, setiap kedip mata, gerakan tangan-kaki-seluruh tubuh kita, ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Semua itu cuma-cuma diberikan pada kita. Lantas kenapa kita selalu mengeluh, “AKU NGGAK PERNAH BAHAGIA”.

Bahagia itu Syukur, dan Bukan Gratis Kayak Hadiah Makanan Ringan

Hallo Jeng, Mas, Mba, Tuan, Puan, FYI ya, KEBAHAGIAAN ITU NGGAK GRATIS. Lha wong buang air aja banyak tempat yang mengharuskan bayar. Kalau semua keinginan manusia dikasih gratis, bukan kedamaian tapi yang timbul justru kekacauan. Gimana kalau ternyata banyak manusia yang tinggal di bumi ini lebih berbahagia di atas penderitaan orang lain, coba?

Tidak ada satu pun manusia yang bisa menentukan kebahagiaan manusia yang lainnya. Karena hal yang membuat seseorang bahagia belum tentu bikin orang lain juga bahagia. Buat saya, kebahagiaan adalah hal yang langka, ibarat berlian. Untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan, mungkin juga rasa pahit, sakit, sedih, depresi, putus asa. Sudah barang tentu, kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan tahu yang namanya kebahagiaan. Jadi kalau seseorang merasa sulit untuk bahagia, kemungkinannya ada dua : dia nggak pernah merasa sedih (banget), atau mungkin dia kurang bersyukur.

Dengan mengenal Tuhan, mengenal iman, kita akan senantiasa bersyukur. Jangan terlalu sering membandingkan diri dengan mereka yang “lebih”.

“Kok dia hepi-hepi terus ya hidupnya, barang-barangnya branded, stylish, punya mobil, rumah, gadget terkini, nongki blenji sana-sini, (*dalam hati, aku kok nggak?)” kalau kebahagiaan orang lain bikin kamu sedih, mendingan balik lagi jadi orok. Bahagia itu bukan cuma hal-hal yang bersifat duniawi.

Sering-seringlah melihat ke bawah dan merasakan kepedihan mereka yang “selalu sedih”. Tidakkah kita menyadari, bahwa di belahan bumi lain masih banyak orang yang terpaksa merasakan sedih sebagai “kegiatan sehari-harinya”. Kekurangan uang untuk beli beras, makan nasi kemarin cuma dengan garam dan sambal, harus rela anaknya keterbelakangan mental karena waktu hamil nggak mampu beli makanan bergizi, rumah gubuk tak mampu merenovasi– yang kalau hujan harus rela kebasahan karena bocor. Di belahan bumi lain itu, banyak yang kelaparan, busung lapar–badan tinggal kulit dan tulang, hidup dalam peperangan sehingga ditinggal orang tua ketika masih kecil. Sementara kita yang hidup berkecukupan, makan enak, kasur empuk, keluarga lengkap dan sehat, pekerjaan layak, bisa menginap di hotel-hotel, jalan-jalan ke luar kota (dan atau luar negeri), masiiiih aja mengeluh enggak bahagia. Hati mereka itu di mana ya? Selfish tingkat tinggi.

Remember, selalu ada alasan untuk bahagia. Paling tidak, merasa senang. Lihat sekeliling, lihat siapa yang mengisi kehidupan kita, bagaimana mereka peduli pada kita, kondisi badan dan kehidupan kita secara menyeluruh, dan lain sebagainya. Pasti selalu ada alasan untuk kita mensyukuri semua hal yang hadir di hidup kita sekarang ini. Kalau memang belum, mungkin kita belum maksimal mengejar dan memperjuangkannya. Tuhan akan menghadiahkan kebahagiaan buat mereka yang berjuang dan sabar melewati perjuangannya.

“Sebenernya yang bikin aku bahagia tuh ini, TAPI…….blablabla…..” bahagia itu nggak mengenal TAPI. Bahagia itu nggak instant. Karena yang instant (dan enak) cuma Indomie 😛

Indomie_Rebus_Ra_50f38909bfff5-500x500.jpg

Indomie paling enak ya rasa kari ayam *drooling #salahfokus (pic by indo.wsj.com)

Bahagia (Memang) Enggak Pernah Sederhana

Panjang perjalanan saya untuk bisa mendeskripsikan “arti bahagia” menurut saya sendiri. Untuk mengetahui kita sudah bahagia atau belum, kita harus mengenal diri kita sendiri. Yang terutama adalah mengetahui tujuan hidup (yang sejalan dengan prinsip), dari sana kita akan menemukan hal-hal yang bisa membuat kita senang, meresapi kesenangan kita, dan berujung rasa bahagia.

Mungkin karena kebanyakan nonton cerita Disney, saya pernah berpikir, bisa bersama dengan seseorang yang dikagumi akan membuat saya bahagia. Tapi ternyata menurut Tuhan nggak seperti itu, Tuhan nggak pernah mengijinkan saya pacaran sama laki-laki yang saya suka (*yailah curcol). Dulu sih saya kesel, kok Tuhan nggak mengijinkan saya untuk bahagia. Tapi akhirnya saya ngerti, kalau laki-laki yang indah dipandang mata, yang kelihatan bagus di kemasan luarnya (*ups) belum tentu laki-laki yang bisa membahagiakan saya.

*sambil nengokin orang-orang dari masa lalu buat berkaca dan berkata, “hey, mereka belum se-bahagia saya deh,” lalu tersenyum bangga. ha ha ha.

Bahagia itu proporsional, cukup (karena dalam kondisi kekurangan kita akan sulit merasa bahagia), dan tak berhenti bersyukur. Lebih dari itu, bahagia adalah hasil dari proses. Proses dan hasil berbeda-beda pada setiap orang (*kok kayak tulisan dalam kemasan produk ya ^_^). Bahagia memang nggak pernah sederhana. Tapi saya percaya, orang-orang yang menghargai proses akan lebih mudah bahagia daripada mereka yang hanya mengharapkan hasil akhir. Bahagia itu bukan pura-pura, jadi kalau kita lebih sering melakukan kepura-puraan, percuma aja, nggak akan berujung bahagia.

Abaikan aja hashtag #BahagiaItuSederhana kalau nggak sesuai dengan pandangan kita. Mereka-mereka itu hanya orang-orang yang (berusaha/sedang) menghargai hal-hal kecil dalam kehidupannya. Which is, engga ada salahnya juga kan?

Buat yang belum merasa bahagia, enggak pernah merasa bahagia, kalau udah mentok banget boleh deh dibantuin cari “Apa Itu Bahagia” di mesin pencari Google, siapatau nemu artikel-artikel yang mencerahkan. Misalnya ini :

Fakta-fakta Kecil Tentang Bahagia – hipwee

Advertisements

Melahirkan Sendiri atau Dekat Orang Tua?

Melahirkan sendiri buat kita mandiri, sedangkan melahirkan dekat keluarga akan banyak yang bantu. Bener? Atau justru menjadi beban?

Sejak merantau ikut suami ke Samarinda, kami menata dan me-manage semuanya berdua. Tanpa Asisten Rumah Tangga (ART), ngurus rumah dengan dua kamar aja sih ngga ada kendala berarti. Toh, cucian juga diserahkan ke laundry aja, karena kita juga belum punya mesin cuci waktu itu. Awal-awal kepindahan, justru saya punya banyak waktu luang, karena memang sejak awal suami meminta saya untuk stay di rumah, jadi ibu rumah tangga saja. Kegiatan cuma masak, beres-beres rumah, belanja ke pasar seminggu sekali, sisanya ya nonton tv dan tidur. Seems so boring? Ya gitulah, dinikmati aja. Kan nggak semua orang bisa punya waktu luang seperti saya, cara orang menikmati hidup juga beda-beda.

Saya cukup menikmati momen-momen di ketika suami pulang, saya bisa menyambutnya dengan cium tangan, senyum dan tersedianya makan malam. Gak semua orang bisa. Begitu weekend datang, sama seperti pasangan lainnya, pergi nonton di bioskop dan makan di luar. *yeaay free dari tugas masak hehehe*

Setelah punya baby, keadaan berubah. Waktu luang yang banyak, sekarang terisi dengan mengurus si kecil. Malah, dulu waktu yang terasa lama menunggu suami pulang, sekarang terasa cepat. Eh, tau-tau udah waktunya sikecil mandi sore, setelah itu menyusui, mandi, dan suami pun pulang. Gak jarang yang masak buat makan malam justru suami. Atau kita masak bareng. *another precious and romantic moment adalah masak berdua sambil ngobrol segala hal😊
Nah, dengan segala kerepotannya, saya pernah terpikir untuk melahirkan di Jakarta. Karena sama sekali belum terbayang capek dan riweuh-nya, saya sempat kepikiran kalo melahirkan dekat keluarga akan lebih tenang karena bakal banyak yang bantuin. Tapi entah kenapa waktu itu suami keukeuh supaya saya melahirkan di Samarinda, dekat dengan dia.

“Aku pingin nemenin kamu di setiap momennya, baik sebelum dan sesudah melahirkan,” katanya. Memang, kalau saya melahirkan di Jakarta, mau gak mau kami harus terpisah jarak sedari saya hamil 7 bulan dan setidaknya 3 bulan setelah melahirkan. Kalau dihitung-hitung bisa LDR-an 5 bulan. Antara tega-nggak tega juga sih ninggalin suami sendirian, walau memang dia bisa sebulan sekali pulang, tapi kan cuma sebentar (dan MAHAL). Salah-salah pas hari-H malah nggak bisa nemenin lahiran (*oh no!! 😱🙈)

Karena masukan dari temen kantornya dia, dan melihat pengalaman temen yang senasib sama saya (ngikut suami ke Samarinda), saya sempet galau. Karena sepertinya mereka sangat menyarankan untuk lahiran dekat sama keluarga. But then, dengan pertimbangan sendiri, kami memutuskan untuk melahirkan berdua aja di Samarinda. Why?? This is the reason..

Pertama, alasan yang sama saya sebutkan sebelumnya. Saya nggak tega ninggalin suami sendirian dalam jangka waktu lama (*waktu itu suami belum se-mandiri sekarang: bisa masak, ke pasar dll). Dan lagi, saya tipe istri yang lebih nggak bisa jauh dari suami ketimbang jauh dari keluarga. (Udah kenyang LDR-an dari jaman pacaran heheee).

Kedua, melahirkan dekat keluarga justru bakal bikin mereka kerepotan. Karena kondisi setiap keluarga berbeda ya, dan kami hafal betul bagaimana kondisi orang tua kami. Mama mertua single parent sejak lama, orang tua saya pun terhitung sepuh karena keduanya sudah menginjak usia lebih dari 60 tahun, dan sudah nggak bisa nyetir. Kebayang dong kalo saya kontraksi, mau ke rumah sakit bareng orang tua tapi yang nyetir saya sendiri. Untuk minta tolong kakak, agak segan ya, karena dia juga kan punya keluarga dan kepentingannya sendiri. Jadi, kalau orang bilang orang tua akan bantu, mungkin iya, tapi sejauh mana? Dan sejauh mana juga kalau justru sebaliknya: kita malah bikin mereka jadi repot di usia yang sudah tua.

Kalau dipikir lagi, semua orang (pasangan) punya rezekinya masing-masing. Melahirkan dekat keluarga, nggak menjamin prosesnya se-nyaman yang dikira. Kembali lagi, itu rezeki yang diatur oleh Tuhan berbeda-beda kepada setiap calon ibu. Ada juga kok yang melahirkan dekat keluarga tapi ada kendala di bayinya sehingga harus melewati C-section. **Seperti diketahui, sampai sekarang operasi cesar masih jadi momok yang menakutkan atau jalan yang dilalui dengan ‘terpaksa’ bagi calon ibu dan calon ayah. Selain karena biayanya, juga proses pemulihannya yang lebih lama. Alhamdulillah, keputusan yang kami ambil untuk melahirkan berdua aja, dilimpahi rezeki kemudahan dalam prosesnya. Kalau kenapa-kenapa gimana? Ya jangan mikir bakal kenapa-kenapa hehe. Kitasih kuncinya satu, yaQin aja.

Ketiga, suami takut nggak bisa menemani di momen terpenting. Jarak Samarinda-Jakarta yang harus dilewati selama setengah hari, bikin parno tersendiri. Memang sih, proses melahirkan nggak ujug-ujug mules trus langsung keluar bayinya. Tapi, suami punya pemikiran tersendiri untuk bisa nemenin saya dari bulan-bulan terakhir kehamilan sampai awal-awal bulan kelahiran.

“Aku mau melewati itu semua, ngajak ngobrol waktu masih di perut, mengazani sewaktu lahir, dan mengurus si kecil di awal-awal usianya, dari masih 0 tahun,” katanya. “Memang repot sih, tapi aku percaya, bayi baru lahir itu punya feeling yang kuat, meskipun belum secara sadar merasakannya. Tapi bonding dari dia digendong dekat dengan jantung kita, itu akan melekat di alam bawah sadarnya, dan mendekatkan ikatan batin.”

 

Suami waktu pertama kali mandiin dan mijit sikecil

Nggak bisa dipungkiri, sebulan pertama adalah proses penyesuaian yang paling berat. Tapi bukan berarti nggak bisa. Lihat deh orang-orang bule di luaran sana, mereka bisa koq mandiri mengurus buah hatinya, nggak tergantung sama orang tua. Bahkan sejak memasuki usia dewasa, kebanyakan dari mereka “keluar dari rumah” untuk hidup mandiri. Cuma di Indonesia aja nih, yang sering ‘menyarankan atau terpaksa’ untuk menitipkan cucu ke orang tua, sementara anaknya sibuk bekerja.

“Orang tua itu sudah punya ‘jatah’-nya ngurusin kita waktu kecil sampai dewasa. Masa udah tua masih aja disuruh ngurusin cucunya,” kata suami lagi. Saya setuju dengan pendapat suami. Inilah alasan keempat, yang mana menurut kami, orang tua semestinya ‘kebagian’ main barengnya aja, bukan ngurusin dari mandi, makan dll, karena itu kewajiban kita sebagai ayah-ibunya. Kecualiii.. kalau memang orang tua kita yang menawarkan *again, ini tergantung dari kondisi masing-masing orang tua ya. Kami berpikir mama-mama kita sudah punya kegiatan dan kepentingannya sendiri, untuk mencari bekal di kehidupan mendatang*
Last but not least, alasan terakhir ini yang justru bikin saya terharu (dan setuju). Suami pingin melihat proses perkembangan anak lanangnya dari awal. Tau dan merasakan langsung begadang-begadangnya, mandiinnya, tau kebiasaan-kebiasaan si jagoan kecil dari awal kehidupannya.

“Aku gak pingin, tau-tau sianak udah bisa diajak main,” kata suami. Ya sih, kalau melahirkan di Jakarta, seenggaknya bakal jauh-jauhan sama istri dan anak sampai tiga bulan awal. Biasanya bayi umur tiga bulan memang udah bisa diajakin main. Kalau LDR-an, belum tentu suami bisa menyaksikan Ziel yang udah bisa keluar bedong sendiri di usia 3 hari, tidur miring di usia dua setengah minggu, tidur yang menggeliat-geliat sampai gumoh, tidur nyengsol ke kanan-kiri dan ndlosor dari bantal, melihat Ziel tidur sambil senyum-senyum dan ketawa terkekeh, melihat pertama kali Ziel bisa mengeluarkan suara “hao..” seolah-olah mengerti waktu diajakin ngobrol, dan lain-lainnya.

 

Aren’t they cute? 😍😙

 

Suami bilang, kalau nggak ngerasain sendiri gimana repotnya, kita nggak akan bisa mandiri kayak sekarang, ngurusin sikecil dan rumah sendiri. Secara nggak langsung, ikatan kami berdua juga lebih dekat karena saling menguatkan, saling membantu dan saling pijit-pijitan (lol haha) “Belum tentu lho, suami-suami lain itu mau ke dapur untuk masak, gantiin popok, nyuciin baju bayinya. Kamu beruntung punya suami kayak aku!” Kata suami lagi dengan nada bangga, lalu kami berdua ketawa-ketawa.

“Nah makanya, kenapa nggak dari dulu? (menikah lebih cepat)” Tanya saya.

“Kalau nikah dari dulu, belum tentu bisa kayak sekarang,” pungkasnya. Kalau nikah (dan punya anak) lebih cepat, kemungkinan besar kami akan ‘nebeng’ di rumah orang tua, membesarkan anak di rumah orang tua, dan selanjutnya dan selanjutnya yang ujung-ujungnya nyusahin orang tua juga hehee.

“Lebih enak kayak gini,” katanya.

“Tos dulu dong..!” kata saya. Makan malam kami pun selesai. Obrolan yang panjang, dan untungnya sikecil tidur nyenyak. Padahal biasanya dia bangun hampir setiap kali kami mau makan (siang ataupun malam). Kondisi begini juga bikin kami sadar, tinggal terpisah dari orang tua biar bagaimanapun memang lebih enakkkk. Tetiba saya jadi keingetan wejangan Bpk Ridwan Kamil.

Ngerasain ngontrak. ngerasain roller coaster kehidupan sambil nangis, ketawa, nangis lagi, ketawa lagi. sambil saling berpelukan menguatkan. *indah tauuukkk itu!

-Ridwan Kamil, Walikota Bandung

Beginilah cerita kami. Tidak bermaksud membanding-bandingkan. Karena semua keputusan itu ada konsekuensinya. Ini yang kami yakini, kami putuskan, dan kami jalani. Walau bagaimana pun, toh, hampir semua orang pada dasarnya ingin berbagi kebahagiaan di tengah-tengah keluarga. Hanya saja, kondisi kami tidak demikian adanya. Tapi, tak ada yang perlu disesali. Jadi, nikmati saja apa yang ada di depan mata.

Selamat menjadi ibu, untuk semua ibu baru di seluruh dunia! *halah*

Baby Blues : Drama yang Terjadi Pada Ibu Baru

Having a baby is a true gift. Being a mother is a bless. But it doesn’t mean HAPPY ALL THE TIME.

Setelah menunggu selama hampir sembilan bulan dan melahirkan, punya bayi adalah hal yang sangat membahagiakan buat seorang perempuan. Apalagi kalau prosesnya lancar dan melegakan. Pinginnya deket-deket dan cium-cium terus, menggemaskan!

In the beginning of welcoming a baby, pastinya kita takjub banget. Kemarin-kemarin perut masih buncit, bawa bayi kemana-mana di dalam perut, begitu ke rumah sakit eeh tau-tau pulang bawa bayi. Kadang masih belum percaya kalau sekarang punya status baru : jadi seorang Ibu.

Calon ibu kebanyakan berpikir kalau melahirkan bayi bakal bikin hepi-hepi terus. Pada kenyataannya, usai melahirkan, seorang perempuan akan struggling melakukan penyesuaian sebagai ibu baru. Paling nggak, sebulan pertama jadi waktu yang paling ‘menyiksa’. *Jangan salah paham ya, ini bukan berarti kita nggak siap atau nggak ikhlas mengurus si bayi, tapi hanya soal proses penyesuaian aja.

Tiba-tiba ada seorang bayi di pelukan, tiba-tiba harus berkali-kali bangun malam hari untuk ganti popok dan menyusui, ASI belum keluar dengan lancar, mencuci baju bayi, merawat diri pasca melahirkan, harus menyiapkan kebutuhan suami, suami sangat sibuk di kantor, dll dll bisa bikin seorang ibu baru yang kecapean jadi melow. Dalam kondisi sepwrti itu, ketika melihat bayinya sendiri bikin si ibu baru bahagia bercampur sedih, tiba-tiba (pingin) nangis, bahkan tau-tau udah nangis aja.

 

Gejala seperti ini dikenal sebagai sindrom baby blues. Banyak perempuan yang mengalami ini, termasuk saya. Seminggu setelah melahirkan, saya merasakan capek yang luar biasa secara fisik dan psikologis. Mengerjakan pekerjaan di rumah tanpa ART, perubahan hormonal yang drastis, ditambah suami yang sibuk kerja dan jadi agak cuek karena pulang ke rumah sudah dalam keadan capek. I feel drained. Beruntung, seminggu pertama mama mertua datang dan membantu beberapa kerjaan seperti masak, nyetrika baju bayi dan beres-beres. Meski akhirnya beliau harus istirahat karena kecapean yang menyebabkan typhus-nya kambuh. Ini juga jadi beban pikiran saya waktu itu, takut merepotkan.
One day, waktu pulang kerja suami mendapati saya sedang memeluk Ziel sambil nangis.

“Kamu kenapa..?”

Saya diam nggak menjawab.

“Ada masalah sama mama?”

Saya menggeleng. Cuma bisa diam membiarkan air mata mengalir di pipi.

“Capek ya….?”

Saya mengangguk pelan. Suami saya diam.

Tidak bermaksud lebay atau mendramatisir, tapi yang saya rasakan ada energi yang nggak bisa saya kontrol dalam diri saya. Seminggu sebelum melahirkan saya baru kehilangan Papa. Rasa sesal nggak bisa pulang karena sedang hamil besar, nggak bisa merawat di waktu-waktu terakhirnya, nggak bisa menyaksikan pemakamannya, sedikit banyak mengganggu kestabilan emosi saya. Tubuh yang masih begitu lelah, harus tetap bergerak mengurusi ini-itu, sambil merasakan nyeri di jahitan yang belum kering. Dan jujur saja, suami yang agak cuek karena kecapean kerja, bikin saya tambah sedih. Mama mertua yang begitu proaktif mengerjakan berbagai hal juga bikin saya parno sendiri, takut dibilang pemalas (padahal cuma pikiran saya aja). Sedangkan keluarga yang nun jauh di sana masih sibuk dengan pengurusan ini-itu, gono-gini dan tahlilan meninggalnya Papa.

 

Bagaimanapun capeknya laki-laki bekerja, nggak bisa dibandingkan dengan kondisi seorang istri yang baru melahirkan dan harus mengerjakan semuanya sendiri.

 

Satu faktor yang paling nggak bisa dibandingin, itu faktor homonal *again, blame those hormones 🙈*. Secara fisik mungkin sama-sama terkuras energi dan emosi, karena suami juga kan menemani waktu saya melahirkan sementara kerjaan terus mengejarnya.

Dalam prosesnya toh saya juga berbagi, supaya fair *buktinya saya berbagi ranjang rumah sakit dan saya tidur di sofa waktu merasakan kontraksi sambil menunggu melahirkan heheh. Seminggu setelah melahirkan, dengan kondisi badan yang masih lelah pun saya tetap melayani suami yang minta pijit. Ini yang baru lahiran aja belom dipijit lho ya, hohoho.

Besoknya, waktu suami saya sedang kerja, saya kirimkan sebuah link untuk dia baca. Artikel yang menggambarkan kondisi saya saat itu. Setelah membaca artikel itu, barulah suami mengerti kondisi saya. Yang saya butuhkan adalah support dan bantuan. Kondisi memang memaksa kami nggak menggunakan bantuan ART. Alhamdulillah setelah mama mertua pulang, suami mulai membantu saya mengurus Ziel, mengganti popoknya dan mencuci baju sebelum berangkat kerja. *Bahkan sekarang mau bantuin masak, mandiin dan nyetrika baju Ziel. Seneng banget. prokprokprok 👏👏😆

Untungnya, saya nggak berlama-lama mengalami baby blues. Dukungan suami adalah hal terbesar yang membantu saya bangkit. Other than that, saya harus mengangkat diri saya sendiri dari keterpurukan. Dengan menepis pemikiran yang negatif, mengerjakan semuanya tanpa terlalu banyak mikir atau berasumsi, gak menggubris omongan-omongan miring atau apapun yang sekiranya bakal bikin saya down, sehingga kondisi tersebut nggak semakin parah.

My greatest cure 😙

 

Sindrom baby blues kalau berkepanjangan bisa berubah jadi Post Partum Depression (PPD) di mana si ibu baru merasakan depresi yang lebih panjang dan mendalam. Di beberapa kasus yang cukup parah, si ibu malah merasa benci terhadap bayinya, gak mau merawat atau bahkan terpikir untuk menyakiti bayi yang baru dia lahirkan *serem😰. Saya pernah baca blog seorang perempuan yang mengalami PPD, and she really needs help. Bahkan walaupun dari luar ia kelihatan seperti perempuan yang kuat, kondisi yang jauh dari keluarga, melahiran dan merawat tanpa suami, dan harus menanggung biaya hidup sendirian, beban yang dipikulnya terlalu berat. Women with PPD needs a particular treatment, bukan hanya butuh dukungan dan bantuan keluarga tapi juga psikolog bahkan psikiater, tergantung segimana parah kondisinya.

Saya bersyukur banget kondisi berangsur-angsur membaik. Sekarang Ziel sudah berumur satu bulan, perkembangannya pesat, sehat, dan lucu. Suami juga banyak sekali membantu, dan kita saling menguatkan. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi informasi tambahan buat para calon ibu, ibu baru, calon ayah dan ayah baru, atau kerabat yang baru punya bayi, untuk memahami adanya kondisi tertentu pasca melahirkan. Baby blues itu sama sekali gak dibuat-buat dan gak bisa ditepis sendirian.

Untuk ibu-ibu yang nggak mengalami baby blues dan kondisinya lebih kuat, apalagi yang belum pernah mengalami atau bahkan belum menikah, please nggak usah nge-judge “lebay”, “ngeluh mulu”, “jadi ibu koq ngeluh”, “nggak tulus/ikhlas ngurus anak”, “kalau nggak mau ribet ya nggak usah punya anak”, atau bilang “kayaknya belom siap deh jadi ibu” dan komentar-komentar miring lainnya. Terlepas dari kondisi yang bagaimanapun, bertemu dengan perempuan yang baru punya baby sepatutnya ya di-support ajalah, berempati itu jauh lebih baik. Selaiknya kasih tips atau masukan aja supaya si ibu baru ini juga bisa ‘ketularan’ tegar dan kuat melaluinya ketimbang bikin dia down. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat untuk sesama. Ya nggak?? 😄

So, menghadapi baby blues enggak bisa sendirian.

– Minta bantuan dan support suami. Sering-sering minta peluk kalau sudah mulai melow. Don’t take it by yourself. Don’t let yourself feel alone.

– If you’re not that strong and perfect, it’s okay, you’re still learning. Gausah dijadiin beban dan gausah ngerjain semuanya sendirian dulu. Jangan ngoyo mau mengerjakan ini-itu semua (*ini saya banget), terlebih tubuh ibu baru yang masih dalam pemulihan butuh kondisi fisik dan psikologis yang fit untuk sehat kembali. Karena orang bilang, kondisi badan ibu habis melahirkan itu seperti orang yang lagi sakit.

– Cari hal-hal yang bisa menaikkan mood. Browsing-browsing tentang hal yang menyenangkan, tonton acara tv yang bikin ketawa, masak atau beli makanan yang enak (*tapi jangan yang ber-gas ya, kasian baby-nya hehe)

Last but not least, support yourself for recovery your condition. Minta dipanggilin tukang pijit (khusus untuk setelah melahirkan), bakal ngebantu banget. I loove massage 😊😊. Faktanya, badan saya baru bisa ‘bener’ setelah dipijit kedua kalinya. Kalau memang belum bisa olah raga (ada tipe orang yang bisa ilang badmood-nya dengan olah raga), latihan pernafasan aja. Di playstore ada aplikasi Prana Breath, atau dengerin musik-musik relaksasi. Lumayan buat membantu menenangkan pikiran. Jangan lupa, kita punya Tuhan. Ini adalah proses menguatkan untuk mempersiapkan proses berikutnya.

Yang terpenting, cari orang yang bisa membantu kita. Jangan pernah merasa sendiri. Because you are not. 

Newlywed Story Part 3: Aku Bukan Chelsea, Kamu Bukan Glenn

Tanggal 1 Oktober kemarin bukan hanya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan Hari Kopi se-Indonesia, tapi juga berita-berita infotainment ramai menyiarkan soal pernikahan Chelsea Olivia dan Glenn Alinskie yang aduhai. Saya bukan penggemar nonton acara gosip tapi ya berita kayak ginian gak sengaja kepantau begitu aja. 

Iseng-iseng liat instagram, *well yeah I do stalking sometimes* memang kehidupan percintaan mereka yang delapan tahun itu terlihat sangat romantis dan full of joy. Kelihatan. Dikeliatanin (bahasa apa ini), jadilah orang banyak yang lihat termasuk saya. Bisa dibilang Glenn memang tipikal lelaki romantis, selain karena bawaan juga kemampuan. Eh ini bukan bermaksud gosip lho ya hahha.

Trus kemarin di mobil waktu saya dan suami jalan-jalan. Tetiba kita terjebak di obrolan seputar mereka gegara santer ada meme soal Glenn di Path orang-orang. 

“Kalo perempuannya Chelsea ya pantes dapet treatments kayak gitu,”

“Emangnya kamu gak mau (cowok kayak gitu)?” tanya suami. 

“Kayaknya nggak akan ada yang nolak deh kalo pasangannya romantis kayak gitu. Aku sih mau aja tapi kan kamu nggak (harus) begitu, hahaha”

“Ooo yaudah sama Glenn aja,” 

“Kalo cowoknya Glenn juga ceweknya gak akan (seperti) aku, kali, sayang,” saya berkomentar.

“Aku juga mau kalo sama Chelsea,” kata suami. 

“Chelsea juga kalo milih cowok nggak bakalan kamu, honey, heheheh,”

“Hahahaha…”

“Aku kan bukan Chelsea, kamu bukan Glenn, jadi ya nggak masalah laah hehehehe” 

Siapa sih yang nggak mau dikirimi bunga yang banyak (bukan cuma pas nikah aja), nggak akan ada perempuan yang nolah toh? Tapi kalo udah mulai ngerasa “hidup harus seindah cerita orang lain” kayaknya gak akan balance deh. Setiap pasangan kan punya ‘trademark’ masing-masing. Kalau pasangan mau dan mampu memberi hadiah-hadiah sudah pasti si perempuan seneng. Itu salah satu cara untuk menjaga keharmonisan. 

Dulu waktu pacaran juga suami kadang-kadang bawain saya setangkai mawar putih, coklat, kue, walaupun kegiatannya sama setiap ngapel hehe. Justru karena udah terlalu bingung mau ngapain, nggak ada tenaga buat pergi jauh-jauh, ya kita habiskan waktu bareng seperti orang kebanyakan aja, asal berkualitas. Selama nggak harus diselingi problems yang aneh-aneh sih saya cukup tenang. Ngetrip lebih sering dilewatin bareng temen-temen. 

Kadang-kadang suatu hubungan jadi bermasalah justru karena salah satunya menginginkan hubungan mereka berjalan seperti orang lain. Harus romantis padahal pasangannya nggak romantis lah, harus trip ke luar negeri padahal nggak ada budget, harus makan di tempat fancy padahal pasangan yang dipilih lebih suka makanan kaki lima. Gimana coba? 

Saya pikir, apa yang orang lihat itu nggak harus sama teraplikasikan di kehidupannya. Kemampuan dan kepribadian tiap orang juga beda-beda. Saya sih nggak nolak dikasih bouqet bunga, makan di resto mewah, tapi saya lebih suka setangkai mawar putih, makan bakmi atau nasi uduk pake ayam goreng dan sambel yang udah jadi favorit kita. Ke resto boleh sesekali kalo lagi pengen hehehe. 

Sampe kapanpun juga (saya sadar) nggak akan dapet cowok yang high class selama saya bergaul di kalangan menengah, orang biasa. 

 
We’re just orddinary people

“Cinderella itu kan cuma dongeng, hahaha,” setelah itu kita ketawa-ketawa bareng. 

Gosip gak penting kadang bisa bikin kita berpijak lebih teguh dan tahu diri dengan kehidupan masing-masing. Tidak perlu iri dengan kehidupan orang lain karena yang terpenting bukan melihat rumput orang lain yang lebih hijau, tapi mengupayakan supaya tanah di rumah kita sendiri lebih subur supaya pohon apapun bisa tumbuh, gak cuma rumput hijau tapi juga bunga mawar, pohon cabe dan bawang-bawangan buat masak, hahaha😁

Enjoy your life, don’t forget to smile😊

When I’m With You, I Have No Past

Setiap manusia pasti punya yang namanya masa lalu. (Para) mantan, pengalaman, cerita nggak enak, dan lain-lain yang stucked di pikiran. Kalau dilihat dari sisi positif, semua yang terjadi di waktu lampau memiliki andil yang besar untuk perubahan pemikiran dan sikap yang lebih baik dalam diri seseorang, walaupun efek yang terjadi berbeda-beda.  

Itu kalo (masa lalu) bisa membuat seseorang lapang dada dan berbesar hati. Tapi kalau nggak? Hal-hal yang kurang enak di hati bisa jadi masih suka teringat di kepala, atau bukannya jadi lebih dewasa malah buat orang bersikap seperti anak kecil. Nah, saya sendiri termasuk orang yang kadang masih suka nginget-nginget hal tersebut. Bukan hanya yang terjadi pada saya tapi juga yang terjadi sama pasangan (dan mau gak mau punya efek negatif ke saya). 

  
Mantan yang super posesif lah, yang emosian lah, temen yang maksa jadi demen padahal udah tau saya udah punya pacar, di-pedekate-in cowok tapi waktu mulai deket nyeritainnya dia suka sama temen saya lah, naksir gebetan tapi tetiba ditikung temen lah, pacar ditaksir temen kantor dan sipacar (temen kantornya dia) saking cemburu pake ngelabrak dia lah, dibikin underestimate sama adiknya mantan lah, banyak deh. 

Saya nggak tau apakah saya tipe orang yang sulit memaafkan atau sulit melupakan. Yang udah pasti sih tipe kedua ya. Saya hepi banget sama kondisi hubungan yang sekarang tapi tetep suka kepingin nyinyir sama kejadian-kejadian di masa lalu yang sulit dilupakan. Kadang-kadang saya kepingin mereka tau bahwa mereka pernah salah menilai saya. But in the end, batu permata itu hanya akan ditemukan oleh orang yang tepat sih *ge-er* 

Minggu lalu, saya sama suami entah lagi ngobrol apa, tapi tiba-tiba saya ngomongin mantan yang gak lama kenal langsung jadian walau beda agama, well bukan pacaran serius sih. Meskipun biasa aja, tapi nggak tau kenapa tiba-tiba cerita gituan dan jadi panjang obrolannya. Setelah itu loncat cerita ke mantan yang lain, masih soal cinta monyet. Waktu saya liatin dia dan berharap dia gantian cerita (walau nggak harus cerita soal mantan sih), tiba-tiba dia bilang,

“Aku nggak inget apa-apa soal mantan,” 

Jleb. Saya kok tetiba ngerasa bersalah sekaligus minder ya. Padahal waktu pedekate dia sering cerita soal mantannya yang pacaran lima tahun akhirnya berakhir putus, temen-temen deket (ceweknya) yang sempet bikin saya jealous (dan baru kali pertama itu saya jadi segitu cemburunya). Tapi setelah nikah, sepertinya dia udah nggak mau nginget-nginget lagi soal cerita masa lalu (terutama cerita-cerita yang menyakitkan saya), nggak pernah saya denger lagi. Juga soal temen-temen deketnya dulu. 

Lucu sih, walau mungkin menurut dia biasa aja, tapi buat saya kalimat itu bikin saya merasa istimewa. Karena itu berarti dia lebih menghargai dan menjaga perasaan saya. Waktu nikah pun dia nggak undang satu pun mantannya karena mau ngejaga perasaan saya, begitu juga saya. Gak ada satu pun bagian dari masa lalu kita yang dateng di hari bahagia kita. And that’s what supposed to be happen. Untuk pasangan yang masih bisa, mau, and feel fine dengan kehadiran dan cerita soal mantan di antara kehidupan mereka, saya pikir itu sah-sah aja, normal, selama masih pada batasan wajar. 

Tapi sejak menikah, saya udah nggak pernah denger lagi suami cerita soal satu pun mantan dan temen perempuannya dulu. And it’s good, karena kita semua tau ya, perempuan pada dasarnya suka tanya-tanya soal mantan tapi kadang suka nyesel sendiri karena pernah bertanya, hahaha. Even it happend to me, perempuan yang jarang cemburu tapi sekali dikasih taunya terlalu banyak malah bikin bete (*jealous). 

  Seems that I need to learn from him. Oh, i love you, my man 😚

Tukang Pijat Favorit

Pegel-pegel, mau ‘dapet’, gak enak badan. Dulu waktu masih tinggal di rumah ortu, saya punya tukang pijat langganan yang bisa dipanggil ke rumah. Namanya Bu Liwon, rumahnya masih satu komplek dengan rumah kami, udah seumuran mama tapi tenaganya masih gress banget. 

Gak jarang kami panggil Bu Liwon buat mijit papa, mama dan saya secara bergantian. Belum lagi panggilan di rumah lain. Kebayang kan stok energinya kayak gimana..? 😁

Pindah ke Samarinda, semuanya baru, gak ada kenalan, keperluan ini-itu harus cari sendiri. Nah, tempat pijat di sini yang terkenal cuma satu, mahal pula. Karena udah tau macam-macam tempat pijat, saya agak worry karena nggak semua tempat pijat yang mahal punya service memuaskan. 

Saya termasuk orang yang percaya bahwa pijat bisa bikin badan fresh lagi. Karena ketika badan lagi pegal-pegal atau nggak fit, otot kaku, pijat bisa bikin peredaran darah lancar lagi. Suami sih tadinya nggak terlalu suka dipijat karena biasanya kalo dia  nggak enak badan suka sembuh sendiri.

Tapi waktu pertama kali dia ngerasain pijatan saya, dia berubah pikiran. Sekarang malah setiap capek atau pegel dikit minta dipijat. Sebelum bisa mijit badan, saya belajar totok wajah. Caranya ya dateng ke salon untuk totok wajah dan meningat-ingat titik-titik yang ditekan sama therapist. Setelah tau, saya coba sendiri dan mengeksplor titik-titik lain yang menurut saya enak dan bikin rileks. Dulu saya sering banget migrain dan pusing, bahkan pegel di tempat yang gak wajar, misalnya alis, pipi atau di dekat kuping. Jadi ya saya pijit-pijit sendiri aja. Kalau nggak begitu, saya bisa terus-terusan insomnia gegara pusing yang nggak ilang-ilang. 

 

The Body Shop Divine Calm Relaxing Massage Oil

 
Bukan karena pernah kerja di TBS saya jadi hobi pake produknya. Tapi beberapa produk memang cocok buat saya. Salah satunya The Body Shop Divine Calm Relaxing Massage Oil. Meski bisa dipake untuk seluruh badan, saya pake produk tersebut untuk pijat bagian tulang mata, dekat kuping dan leher aja. The Body Shop Divine Calm Relaxing Massage Oil* mengandung organic jojoba oil & sesame oil yang melembabkan dan melembutkan kulit. Hasilnya bikin saya tidur lebih rileks dan segar waktu bangun pagi.

*buat ibu hamil dan penderita penyakit tertentu baiknya konsultasi dulu ke dokter ya. 

Sedangkan untuk bagian badan saya pake The Body Shop Mango Beautifying Oil yang pake wangi buah mangga. Minyak ini wanginya segar dan bikin kulit kinclong. Malah bisa diusap ke kulit dan rambut untuk dapet sensasi yang lebih berkilau. Suami saya seneng banget dipijat pake Mango Beautifying Oil ini. Mungkin supaya tambah kece juga yahhh haha.

The Body Shop Mango Beautifying Oil

Saya suka nggak tega ngeliat dia lemes dan lunglai, karena dia harus selalu punya energi setiap harinya supaya bisa bekerja. Meski membutuhkan usaha yang lebih kuat karena bentuk tubuh dan otot laki-laki kan beda dan lebih tebal. Kalo tangan udah mulai pegel mijitin dia, saya pake teknik shiatsu abal-abal hehe. Yang penting jangan memijat/menekan di bagian tulang belakang, masih terbilang aman. 

Seneng kalo liat dia bisa tidur pulas setelah dipijat. Terlebih lagi suami nggak perlu ke tempat pijat. Selain irit juga nggak perlu disentuh sama mbak-mbak therapist nya hehehe..🙈

Newlywed Story Part 1 : Being Married

“Gimana rasanya menikah?” tanya temen saya. Waktu itu, saya dan Aji baru sebulan menikah dan dalam kondisi masih LDR alias jauh-jauhan. Saya di Tangerang dan dia di Samarinda. Alasan keuangan jadi dasar buat saya untuk ngantor lebih lama. 

Saya yang masih dalam kebingungan untuk menjawab pertanyaan temen, akhirnya cuma menjawab, “Ya gitu. Enak sih,” meski sebenernya semua orang yang baru menikah, honeymoon, tentu bakal bilang hal yang sama. Walau jujur aja, nggak banyak perbedaan mendasar antara saya dan Aji sebelum dan sesudah menikah, karena kami udah cukup lama pacaran, empat setengah tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengenal, mendalami, dan memutuskan apakah dia orang yang tepat atau nggak buat saya. Begitu pula dia. 

  
Karena baru seumur jagung, saya merasa jawaban akan jadi tidak objektif, karena pada kenyataannya menikah itu nggak melulu merasa happy. Selain itu, di bulan pertama menikah, saya belum merasakan hidup bersama yang sebenarnya. Sekarang, setelah pindah ke Samarinda, hidup bareng, ketemu setiap hari, mengalami dan menghadapi masalah bersama, saya lebih berani untuk berbagi bagaimana rasanya menikah. 


Lebih Tau Pasangan Secara Detail

Saya termasuk orang yang gak percaya dengan perkenalan singkat. Untuk tau kepribadian seseorang secara mendalam, butuh waktu dan proses. Perkenalan singkat biasanya hanya memperlihatkan sikap seseorang di kondisi-kondisi tertentu, belum sama sifat-sifatnya secara lengkap. Yang kelihatan ya yang baik-baiknya aja. Gak sedikit orang yang baru kenal dan menikah lalu dikejutkan dengan sifat-sifat ‘ajaib’ pasangannya. Makanya yang seperti itu bukan berubah sejak menikah, tapi memang belum kelihatan aslinya waktu masih kenalan. Proses yang panjang mengajarkan saya untuk terhindar dari hal begini. Gak perlu kelamaan juga, yang penting sudah bikin yakin kalo dia tipe yang akan selalu menjaga kita lahir batin, ketika siap ya menikahlah. 

Kalo dulu saya tau pasangan saya suka ngupil, sekarang saya lebih tau kapan dan di mana dia suka menebar ‘debu-debu intan’, ha ha ha. 🙈🙊 Enggak ada sama sekali niatan untuk membeberkan kebiasaan buruk pasangan. Itu cuma salah satu yang kecil aja, yaaa kecil sih dan kadang risih. Tapi walau bagaimana pun juga kita bakal nemuin hal-hal kecil yang mengganjal macam ini, asalkan kita bisa compromize to each other, persoalam seperti ini gak akan menjadi besar. Just take it easy.

Contoh lainnya, waktu masih pacaran, dulu suami saya selalu berperan sebagai The Wise One (bijaksana), selalu keliatan cool and calm. Siapa sangka setelah married dia jadi amat sangat manja. Dia bisa bertingkah very cute, bener-bener kayak anak kecil (begitu juga saya) dan itu bikin saya jadi makin gemesss kepingin cubit pipi atau perut tembemnya. Every single day we seems to be two kids living together. Kita punya chemistry yang kuat dan unik, makin lama makin tau satu sama lain dan terkadang punya pemikiran yang sama tanpa diomongin. 

being kids: playing all day

Banyak hal yang secara langsung akan menular dari satu ke yang lainnya. Misalnya cara bicara dan memilih nama panggilan. Dari dulu saya nggak pernah bisa manggil pasangan dengan sebutan Aa, Kang, Mas, Abang, dan sejenisnya. Jadi waktu ibu mertua minta saya manggil suami dengan sebutan “Abang”, dan ketika papa saya manggil dia “Aa”, saya enggak sreg. Bukan karena umur dia yang sedikit lebih muda daripada saya. Saya lebih suka dengan kesetaraan, walau pada hakikatnya istri akan selalu dan harus menurut dan menghargai suami. Waktu pacaran kami pakai panggilan tertentu, di awal menikah panggilannya berubah lagi. Sekarang panggilan kami bisa berubah jadi apa aja, and always something cute, seperti nyonyoo (karena dia sering asked for a kiss dengan bibir yang monyong yang bikin geli ngeliatnya 😚) atau tetiba saya spontan panggil dia nyangnyang. Semau kita lah pokoknya. Saya yakin semua pasangan menikah lain punya hal serunya masing-masing Hihihi

Coba perhatikan / ingat-ingat kebiasaan pasangan / pacar waktu lagi makan. Apa dia termasuk orang yang rewel harus makan di resto, harus higienis, harus mendekati rasa masakan mamanya, harus enak (yang ini berlaku buat semua orang dong yaaa hehe), ketika menikah semua itu akan lebih keliatan alias lebih rewel, atau berkebalikan. Terlebih buat perempuan yang normalnya harus masak buat suami, nggak serta merta masakan jadi enak, alias butuh proses. Suami yang baik tentu akan menghargai proses. Nggak heran selalu ada scene ‘lucu’ di sinetron-sinetron di mana seorang suami pura-pura bilang enak waktu pertama kali nyicipin masakan istrinya. Alhamdulillah scene itu nggak pernah terjadi pada saya hihii. Meski ada kalanya masakan saya sedikit keasinan, kurang atau agak terlalu banyak minyak dll, tapi gak pernah bikin suami bilang nggak enak (yaiyalah mana ada sih suami yang tega begitu hehehe). 

Berkebalikan dari kebiasaan suami waktu masih pacaran dulu : pada prinsipnya, buat dia cuma ada dua jenis rasa masakan, kalo bukan enak ya enak banget. Sekarang, dia lebih terus terang kalo memang gak banyak makanan enak di kota ini. Makanya dia lebih suka masakan rumah daripada harus beli, kecuali terpaksa. Beberapa kali dia menyempatkan untuk pulang dan makan siang di rumah ketimbang beli di luaran yang rasanya belum jelas. Di satu sisi saya bangga bisa masak buat suami, nggak memulainya dari nol, tapi di sisi lain saya juga harus terus cari ide untuk menu masakan yang lebih variatif supaya nggak bosen. Dengan banyak nyontek resep dari internet, aplikasi menu masakan seperti ‘Masak Apa’ dan ‘Cookpad’ bisa membantu banget menambah menu dan jenis masakan yang bisa dipilih. Apalagi kalo harus masak tiga kali sehari dengan menu yang beda, tiap hari yang paling saya pikirin adalah, “nanti masak apa?” Hohoho. 
Siapa Yang (Harusnya) Lebih Rajin? 

Pasti orang kebanyakan akan menjawab, “Perempuan / Si Istri,” namun pada kenyataannya nggak melulu seperti itu. Walaupun seringkali pasangan saya bilang begitu (biasanya dia bilang gitu kalo saya lupa nyapu / ngepel atau ogah-ogahan ngerjain sesuatu aja), yang terjadi sejak saya tinggal bareng dia, dia yang kelihatan lebih rajin daripada saya. Setelah makan, terutama makan malam, pekerjaan mencuci piring jadi kerjaan utamanya dia. Jadi saya bisa santai-santai deh selesai makan, hehe. Jarang kan cowok lokal kayak begini.

Weekend selesai masak, dia juga cuci piring makan siang, kadangkala beres-beresnya udah dimulai setelah saya selesai masak. Gak jarang dia juga ngingetin saya untuk selalu membereskan kembali perabotan setelah memasak. Lucu sih karea ternyata dia lebih bawel soal kebersihan dan kerapihan. Di lain waktu, kadang-kadang dia pulang kerja dan langsung ngerjain hal-hal lain. Misalnya beresin sampah, nyapu kamar, ngepel kamar dan dapur, tanpa diminta. Padahal yang di rumah seharian ya istrinya ini 😁 

Saya beruntung banget punya pasangan seperti dia. Kebayang kan nanti kalo punya anak repotnya kayak gimana. Dengan punya suami yang mau berbagi kerjaan rumah pasti bakal ngebantu banget untuk bikin rumah tetap bersih dan rapi. 
Mendukung Mimpi Masing-masing

Perlu diakui, orang Indonesia agak rese soal kehidupan orang lain. Udah tau banget kan dengan pertanyaan beruntun yang nggak ada ujungnya. Setelah ditanya kapan lulus trus ditanya udah kerja apa belum, kerja di mana, ditanya udah punya pacar apa belum, pacar anak mana kerja apa, trus ditanya kapan nikah (jangan tanya kapan kawin ya hahaha), udah punya baby apa belom, de el el. Capek yah. Kadang tekanan semacam ini (terutama soal kapan nikah) kadang mendahului ekspektasi dan prediksi pribadi orang yang ditanya. 

he helped me to build my (dream) kitchen

Ketika ditanya “Kenapa Anda mau menikah?” Setiap orang pasti punya jawaban sendiri. Saya, misalnya, punya mimpi sederhana untuk jadi ibu sekaligus istri yang hebat. (*gak gampang yahhh). Menikah adalah gerbang saya untuk mewujudkan mimpi itu. Dari dulu banget saya pingin nikah. Pinginnnn banget, tanpa tau kenapa. Saya juga belum punya gambaran soal gimana kehidupan pernikahan. Ini bener-bener menyiksa. Saran saya, sebelum menikah, pikirkan lagi jangan hanya kenapa ingin menikah, tapi tanyakan ke diri kita sendiri, “Apa ini yang benar-benar saya inginkan? Siapkah saya?” Yang harus jadi perhatian, pertanyaan kedua itu perlu mantap dijawab sebelum benar-benar mewujudkannya.

Why? 

Karena pernikahan nggak akan semulus wajah bintang Korea. Nggak ada yang sempurna. Dua kepala dengan dua kepribadian yang complicated pasti banyak hal yang nggak sesuai, di situlah gunanya compromize, saling mengisi dan mengesampingkan ego. Memahami cara berkomunikasi dan problem solving (sebagai pasangan) penting banget dalam proses berkompromi dan menerima pasangan dengan segala kekurangannya (kalo yang lebih pasti diterima dong yaaaa). Sebelum memutuskan untuk hidup dengan seseorang, alangkah baiknya siapapun itu untuk jujur dengan diri mereka sendiri, dan berhenti melakukan drama-drama yang nggak penting. Karena ketika menikah, kejujuran menimbulkan kepercayaan dan keharmonisan yang harus selalu dijaga. 

Sebelum kepo sama mimpi orang lain, yakini mimpi kita sendiri. Apa yang ingin diraih dalam hidup, bagaimana cara meraihnya. Ketika menikah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk saling mendukung mimpi masing-masing. Katanya, kebahagiaan dan keridhoan istri membuka pintu rezeki bagi suami. Tapi sebagai istri, kita juga harus tau diri. Jangan mempersulit suami dengan permintaan yang nggak masuk akal. Intinya saling toleran dan mendukung lah, bukan menjatuhkan, karena inti pernikahan bukan kompetisi. 

Ahhh, banyak dan panjang banget pokoknya kalo ada yang tanya. Gimana Rasanya Menikah. Yang pasti sih, happy. Tapi rasanya nggak cukup diwakili dengan satu kata, satu kalimat, atau satu paragraf. Mungkin cukup sih kalo dengan satu hari cerita, meski nggak akan mewakili keseluruhannya, karena cerita-cerita yang lain akan datang menyusul. Kalau mau tau gimana rasanya, ya rasakan sendiri, wujudkan ceritamu sendiri. Tapi ada satu pekerjaan berat sebelum semua itu terjadi : find the right one and be sure he’s/she’s the one. Keraguan nggak akan memberikan jawaban, apalagi kebahagiaan. Make sure and be sure you’ll happy 😊  

always happy together💏

How about yours?