A Sky Full of Stars : Cerita Indah dari Ranu Kumbolo dan Kalimati

Sekembalinya ke rumah, dan balik ke meja kerja, sebetulnya masih ada cerita yang tersisa dari Ranu Kumbolo. Cerita tentang malam-malam yang ditaburi bintang, membuat leher dan kepala tak bosan-bosannya menengadah ke arah langit yang gemerlap oleh cahayanya. Mereka seolah berbondong-bondong memperlihatkan keindahannya masing-masing.

“Tunjuk satu bintang untukku, dan aku akan menunjuk satu bintang untukmu,” canda seorang teman pada perjalanan di atas truk menuju Tumpang. Beberapa lagu mengalun sayup-sayup dari speaker salah satu teman, mengiringi teman-teman yang lain pada lelapnya tidur di atas tumpukan carrier, sementara sebagian lainnya masih asyik memandangi bintang, dan berharap ada salah satu dari mereka yang jatuh (lagi).

Sebetulnya, gugusan dan cahaya bintang-bintang itu sudah bermunculan ketika kami memulai perjalanan yang terpotong malam menuju Ranu Kumbolo. Di setiap jeda, saya menengadahkan kepala untuk sejenak melepas lelah. Tak berlebihan, tetapi mereka memang sungguh membawa semangat yang tersendat untuk kemudian kembali menghitung langkah. Sampai di tepi Ranu Kumbolo dan mendirikan tenda untuk beristirahat, membuat angan-angan saya sirna ketika membayangkan bisa menggelar alas tidur di luar tenda, merebahkan diri dan berbincang dengan seseorang sambil memandangi bintang-bintang yang berhamburan di langit.

Dari dulu memang saya memiliki bayangan seperti itu. Memandangi bintang-bintang yang tak akan pernah ada habisnya. Berbicara apa saja, tentang apa saja. Angan-angan itu mungkin hanya akan menjadi angan-angan.. atau mungkin saja bisa terwujudkan. Siapa yang tau…?

Di antara waktu makan malam pertama di Ranu Kumbolo, pemandangan sedap terlihat di sekitar.

 

Eh, jangan salah.

 

Ini tentang mereka yang merasakan indahnya jatuh cinta di Ranu Kumbolo. Entah membawa cerita indah mereka sebelum menginjakkan kaki di sana, atau memang semua itu semakin bermekaran di sana. Makan malam sepiring berdua alangkah mesranya, sambil satu sama lain mengingatkan pentingnya mengisi perut selama perjalanan dan jangan sampai ada salah satu dari mereka yang jatuh sakit.

Ranu Kumbolo dan langitnya…………. mereka terlihat sangat indah malam itu. Seindah cerita dua sejoli yang memupuk cinta dalam perjalanan ini.

#Ehm

Ketika kami menghabiskan waktu untuk memasak makan malam di Kalimati, sambil sesekali mengaduk makanan, sambil saya menyapa salah satu bintang itu dalam hati.

“Hai, apa kabarmu,?”

Seiring bau makanan yang menyeruak ke sekitar, saat itu pula mereka berkedap-kedip. Seakan mereka ikutan menari, menyambut makanan yang matang dan perut yang mulai kenyang. Pun ketika orang-orang merasa kedingingan di luar, saya tidak merasakan hal yang sama. Memasak itu menyenangkan, walau hanya dengan bahan-bahan seadanya. Lebih menyenangkan ketika melihat mereka merasa kekenyangan dan cukup puas dengan apa yang mereka santap. Di atas gunung, apa pun yang dihidangkan akan terasa sedap, sesedap wangi rumput yang tergores alas kaki dan harumnya terbawa angin.

“Selamat malam, dan selamat beristirahat, kamu”

Pukul sebelas malam saya terbangun. Dengan mata yang berat dan kelopaknya yang masih saling melekat, saya memaksakan diri bangun dan bersiap. Seketika saat saya keluar tenda, saya melihat dia dan mereka ada di sana. Masih di tempat yang sama. Membawa cahaya-cahaya berlarian dan saling berpantulan.

“Makan, kamu harus makan, perjalanan kita akan berat dan panjang,”

Bukan. Itu bukan suara dalam benak saya ataupun sejoli yang sedang kasmaran. Entah, mungkin kalimat itu bisa dilontarkan oleh siapa saja kepada siapapun di dalam kelompok kami.

“Selamat malam, kamu. Segera malam ini akan berubah kepada pagi. Pagi ini mungkin kamu akan sirna bersama warna merah jingga di langit lereng Semeru, atau di Puncak Mahameru. Yang jelas, kamu akan selalu berada di dekatku, menemani perjalanan ini hingga berakhir esok hari,”

2014527044306

Terima kasih telah menemaniku di perjalanan ini, saling menguatkan ketika kaki merasa lelah dan tubuh sulit untuk bergerak merangkak naik. Perjalanan yang sungguh sangat tak mudah, terlebih jika aku sendiri.

Perjalanan yang lebih panjang akan kita lewati, tapi mungkin pula kita akan mengulangi perjalanan di sini suatu hari nanti, dengan tetap saling berpegangan satu sama lain, di Puncak Mahameru atau di puncak gunung lainnya. Kamu, aku, dan mereka mengiringi kita. 

 

*diinspirasi oleh lagu a sky full of stars by Coldplay, dan cerita tentang sejoli yang menghabiskan waktu bersama di perjalanan ini.  akan betapa terasa indahnya, jika kalian, suatu hari nanti, mengulangi perjalanan ini diiringi lagu indah itu hihihi…     

You Don’t Know Me, You Don’t Understand What I Want

“You will never sure you’ll be happy or not after getting married,” he said.

This is not the first time we talk about it. Thousand times this big issue appears between us. I never know how the future will be, or change me to be a different person. Or will I reach that moment or not. In my mind I’m just missing it, wanting it so much, and expecting someone who leads me in God’s Way of everything in togetherness.

That statement has hurt me, deeply. I have no any words no more. I want to run, anywhere, or disappeared to different world, if I could. All of my life wanting, why would I didn’t feel happy if later I be on the very first step reaching my dream? This is a wrong question, so wrong….

Three years long, I’ve been waiting and begging him to make me be an important person in his life. I never put myself into a poor place like this. He knew this is my biggest dream in life. A dream that other women maybe think this is just one of million steps of life. But no, for me it’s a dream. Dream of build a life in togetherness.

I’ve made up my mind, don’t need to think it over
If I’m wrong I am right, don’t need to look no further
This ain’t lust, I know this is love

But if I tell the world, I’ll never say enough
‘Cause it was not said to you
And that’s exactly what I need to do if I’m in love with you

Should I give up or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste even if I knew my place
Should I leave it there?
Should I give up or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere?

I build myself up and fly around in circles
Waiting as my heart drops and my back begins to tingle
Finally could this be it?

Wejangan Mami, Oma, dan Kegundahan Nay

Malam itu perut serasa merengek-rengek untuk diberi makan. Kulkas kosong. Tak ada pula sayuran atau buah di meja dapur. Akh!

Mami seharian ngapain aja sih? tanya Nay dalam hati. Ia bergegas ke lemari dapur mencari-cari biskuit atau apa pun yang bisa dimasak dan dimakan.

“Nyari apa Nay?” tanya mami sambil menepuk pundak Nay, hingga membuatnya terkaget-kaget.

“Ya ampuun mami.. kaget tau!” pekik Nay yang tak sengaja menjatuhkan sebungkus mi instan ke lantai. “Mami kok nggak masak hari ini?” tanya Nay.

“Mami lagi gaenak badan. Pening, flu seharian,” jawab mami sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal.

Malam itu pun sembari memasak dan melahap mi instant kesukaan Nay, ia dan mami ngobrol panjang. Mulai dari anak-anak Bang Buyung dan Kak Siska yang sudah mulai sekolah, ngomongin papi di belakang, dan akhirnya sampai ke topik yang paling Nay hindari belakangan ini.

“Apa sih yang kamu tunggu, Nay?” tanya mami tiba-tiba.

Nay curiga. Ia tahu ke mana arah pembicaraan mami. Tapi ia memilih diam, kemudian menyeruput kuah mi yang paling gurih sedunia.

“Kenapa nggak nikah dulu aja. Resepsi kan bisa kapan-kapan…” ucap mami pelan dan hati-hati, takut menyinggung perasaan Nay, sembari menelisik respon Nay yang duduk di depannya.

Nay menghela nafas panjang. Memutar-mutar matanya ke semua arah.

“Terakhir mami ketemu oma, Oma tanya kapan kamu menikah. Katanya, oma kepingin bisa menyaksikan kamu menikah sebelum nggak ada,”

“Mi….hmm.. mami istirahat aja ya. Lagi nggak enak badan gitu gausah kebanyakan mikirin aku lah. Nggak ada pangeran yang tiba-tiba datang dengan kuda putih, mi. Semua perempuan juga pingin jadi ratu di kerajaannya masing-masing. Tapi.. itukan cuma kisah dari negeri dongeng mi. Tuh kan, aku jadi ngawur, hehe.. Aku tidur dulu ya mi, udah kenyaang.” jawab Nay panjang tak tentu arah. Kaki-kaki mungilnya menapaki anak-anak tangga menuju ke ‘istana’ tempat dia singgah setiap hari menitipkan mimpi dalam tidur.

Tak ada acara televisi yang menarik sama sekali. Tak ada pula pesan yang masuk di ponselnya untuk mengantarkannya pada tidur yang nyenyak.

Nay tertegun. Ia kembali teringat pembicaraan tadi. Nay membatin…

Mami dan pertanyaannya. Terlalu pelik untuk dijawab. Apa daya aku tak punya jawaban. Tuhan pun tak punya jawaban selain menunda mimpi untuk jatuh ke bumi. Mimpi-mimpi itu lebih memilih singgah di takdir orang-orang lain untuk terwujud. Satu.. dua.. sepuluh.. belasan.. mereka yang mendahuluiku meraih mimpinya. Setiap orang punya cerita indah masing-masing. Dan mungkin belum buatku. Aku bisa apa… Tuhan mungkin belum percaya. Karena nyatanya kita tak punya apa-apa. Cinta? Apa iya… hmmhh..

Image Nay mengacak-acak rambutnya. Matanya kembali berputar-putar ke sekeliling langit-langit. Berusaha berbicara dari hati ke hati. Dengan langit-langit? Tentu tidak.

Tuhan yang ia tuju. Rasanya ia terlalu banyak bertanya. Pertanyaan yang sama bertahun-tahun tertahan di sana. Di sudut pikirnya. Nay mulai jengah dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi dirinya tetap tak bisa mengelak setiap kali mereka singgah dan mendatanginya.

ImageKenapa setiap orang ingin menikah? Kenapa pula lebih banyak presentase perempuan yang menginginkan dan merasakan kegundahan yang lebih ketimbang lelaki? Hampir semua perempuan teman sekantor merasakan yang sama, baik itu mereka yang belum, akan, atau sudah menikah. Kenapa pula pernikahan dipatok dengan umur yang pas, dan terlalu tua untuk menikah?

*       *       *

Seperti pagi ini ketika Nay berbicara melalui mobile messenger dengan teman baiknya di kampus dulu. Fath, yang baru saja menyambut kelahiran putera pertamanya, mengatakan hal yang sama.

“30 Nay? Sepertinya terlalu lama ditunda. Apa nggak ketuaan, Nay?” tanya Fath, ceplas-ceplos.

“Fath… Kalau aku bisa menentukan apa yang akan terjadi semauku, kamu tentu tahu apa yang akan aku lakukan. Mungkin aku akan melakukan apa yang disarankan Mami. Aku nggak mikirin soal kebanggaan, Fath. Aku nggak butuh kemewahan atau resepsi yang dilihat orang. Walaupun… mungkin dari pihak lain yang nggak bisa seperti itu. Apalagi cowok, Fath, idealisme dan gengsinya gede kalau soal pride-pride-an.”

“Aku ngerti Nay. Tiap keluarga punya pride masing-masing. Tapi aku nggak begitu, Nay. Hmm.. makanya sih aku nggak suka sama cowo, Haha..”

“Aku cuma.. Rasa ingin bersama yang membuatku ingin sekali selalu dekat. Kalau aja bisa hidup bebas kayak di negeri sana, aku bakal tinggal bareng tanpa harus nikah. Naif banget ya. Ini nih kayaknya ada jin yang nempel-nempel jadinya aku kebelet pengen nikah. Hahaha..”

“Hahaha…”

“By the way, Fath.. Selamat ya.. Atas kelahiran puteramu. Jadi ayah!!!! Cool!”

“Thanks, Nay. I hope for your happiness too. SOOOON!!!!”

 

Kutitip Rindu untuk Andro

Apa kabar kau, lelaki yang katanya aku cinta?
Apa kabar kau, lelaki yang katanya menyimpan angin surga untuk dihadiahkan pada langit yang hitam?

Jakarta hujan terus, sayang. Air meluap, bersamaan dengan segala jenis kendaraan di atas aspal hitam. London pastinya tetap menyenangkan ya.. Sudah setahun kau tak pulang. Sibuk sekali, katamu. Ya, tentu aku tau betapa menyenangkannya bagimu untuk tetap menyibukkan diri.

Katamu, jika setahun ini bisa membantu perusahaan untuk memperoleh profit yang tinggi, kemungkinan kamu akan mendapatkan promosi dan kenaikan gaji. Ah, menyenangkan sekali kedengarannya.

Aku di sini menggigil setiap hari. Bukan hanya karena hujan dan suhu udara yang turun drastis. Tapi juga karena aku menyimpan kerinduan yang teramat sangat untukmu.

Dalam empat bulan ini bahkan kamu menyempatkan untuk bertatap muka via skype dapat dihitung jari. Hmm.. Dua kali? Entahlah. Aku tak punya banyak ruang untuk menyampaikan kerinduanku. Pesan singkat yang kukirim setiap hari pun berbalas hanya tiga kali sehari. Sesekali dalam seminggu kau kirimkan voice message di antara riuh suara orang-orang menyiapkan meeting.

“I’m preparing for a meeting for a big thing, dear. Wish me luck!” Katamu.

Betapa kudengar getaran suara yang berenergi penuh. Layaknya seseorang yang sedang menjamu pemimpin besar. Akankah kamu bertemu Ratu Elizabeth atau David Cameron?

Di waktu yang dulu. Ketika kamu menjemputku untuk pulang kantor bersama dan kita basah kuyup di bawah payung halte Pondok Indah, kamu memberikan kedua tanganmu untuk menghangatkanku. Dan ketika hujan reda, roti bakar serta cokelat hangat ikut pula menghiasi manisnya malam.

Aku tersenyum di depan cermin kamar. Membayangkan indahnya malam itu walau oleh momen sederhana. Bagiku justru peristiwa-peristiwa sederhana itulah yang membuatku semakin kedinginan di saat ini. Kamu ada tapi seperti mengawang-awang antara mimpi dan kenyataan. Selimut tebal kembali menghangatkan tubuhku di tengah malam ini, di mana rasa kantukku menguap bersama udara, atau entah ikut hanyut bersama air deras menuju ke laut.

Tapi tidak hati dan pikiranku. Yang selalu dilanda tanda tanya. Tanda tanya dalam jumlah yang banyak sekali. Seperti laiknya butiran hujan yang menempel di dinding jendela kamarku. Walau mereka telah jatuh ke bumi, rasanya seperti tetap menggantung di langit tanpa jawaban.

Aku rindu.

Cinta Pertama : Andro atau Ayah?

21 April. Hari Kartini. Adalah momen di mana para perempuan merayakan kesetaraan gender dari para pria, adalah momen bagi para perempuan untuk merasa sama hebatnya seperti laki-laki, dan merayakan penghargaanya terhadap diri mereka sendiri.

Tak ada salahnya dengan hal itu. Menghargai diri sendiri tentu adalah hal yang paling utama sebelum kita terpikir untuk membahagiakan orang lain.

Di sudut kafe itu, seperti biasa, Nay menghabiskan waktu di depan laptop untuk menuliskan sesuatu. Di antara riuh angin dan turunnya hujan yang cukup lebat di luar sana, Nay sesekali menyapukan pandangan ke sekitar dan ke arah luar jendela. Nampaknya hujan memang selalu menghadirkan kekosongan yang lebih dalam, ketika harus sendiri, padahal dalam relung hati tersimpan seseorang yang sangat istimewa.

Raga memang terpisah jauh. Tapi hati dan pikiran selalu terpaut pada ia yang sedang menikmati musim semi di kota terbaik dunia: London.

Sebelum Andro memutuskan untuk tinggal di London, ia dan Nay sempat menghabiskan waktu bersama 1,5 tahun di Jakarta. Dan sebelum pergi, Andro selalu mengatakan bahwa ia akan kembali nanti, dan pada waktunya akan membawakan cinta yang utuh beserta sebuah cincin pengikat janji sehidup semati.

Apakah memang ada hal yang dinamakan sehidup-semati?

Atau hanya ada sebuah slogan yang dibuat untuk melambungkan mimpi sekaligus memberdayakan kita untuk percaya akan adanya cinta sejati? Atau mungkin hanya rangkaian kata-kata penghibur diri?

Meski begitu, setiap enam bulan sekali Andro mengunjunginya di tanah Jakarta, ia selalu berhasil membawakan dongeng yang luar biasa pantas digantungkan sebagai harapan. Cerita tentang dua insan yang akan berbagi hidup, menghabiskan waktu untuk menua bersama, hingga saat keriput di sel-sel kulit tiba, tak ada satu pun yang bisa memisahkan kebersamaan dan kebahagiaan mereka. Mereka yang di usia matang kini terpisahkan. Namun mata hati dan mimpi tertuju pada tujuan dan cita-cita yang sama. Sehingga…

“Meski berapa pun waktu yang harus dihabiskan untuk menunggu….akan aku lakukan,” tulis Nay dalam catatan pribadinya.

Ini bukan soal berapa lama waktu yang harus ditempuh untuk menanti. Tetapi soal menemukan perasaan tulus, yang belum pernah datang di waktu mana pun di masa lampau. Belum pernah se-sempurna dan se-lengkap ini. Seperti menemukan CINTA PERTAMA yang sesungguhnya.

Kata orang, cinta pertama seorang perempuan adalah Ayahnya. Ketika sang ayah dapat memenuhi kebutuhannya akan sosok pengayom dan penyayang, sang ayah bisa menjadi sosok contoh bagi lelaki idamannya kelak.

“Pokoknya gue kalo cari calon suami, harus yang mirip-mirip bokap. Soalnya gue ngerasa lelaki yang paling pantes dijadiin panutan ya bokap,” Nay ingat perbincangan dengan teman sekantornya, Maya di sela-sela waktu istirahat Jumat lalu. Nay hanya mengangguk penuh tanda tanya.

Berapa banyak perempuan yang merasakan hal yang sama seperti Maya? dan…. Berapa banyak perempuan yang merasakan hal yang sama seperti.. Nay..?

“Sorry, Dad, you will never be my first love,” ucap Nay membatin.

Somebody that I really love, and it could be my first (and hopefully) to be my last love, is not you. Not even similar to you. — Nay mulai menuliskan new post dalam blog pribadinya yang tak pernah dibaca orang itu. Hanya melalui cara itu Nay bisa menumpahkan seluruh perasaannya. Menjadikan dirinya sebagai anonim, sehingga tidak diketahui oleh siapa pun dari dunia nyatanya.

I will never search a person to choose, that somebody like you, dad. I will never like you or anything in you. Never. — lanjut Nay dalam tulisannya.

“Hhhhh…” Nay menyandarkan badannya di kursi. Memejamkan matanya beberapa detik. Seketika saat dirinya membuka mata, ia tersadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya dari balik notebook berwarna perak, dari ujung kafe. Tapi sosok itu lantas memalingkan pandangannya kembali ke arah layar monitor ketika ‘tertangkap basah’ beradu pandangan dengan Nay.

Hujan pun kemudian menjadi saksi bisu….

 

 

 

 

Nay, Blueberry Cheesecake dan Senja

Senja ini Nay mendatangi cafe favoritnya sepulang kerja. Lain dari biasanya, pukul lima sore Nay sudah bisa membebaskan diri dari rutinitas pekerjaan. Kopi tanpa gula yang biasanya ada di atas meja bersamaan dengan notebook dan smartphone kesayangannya, sore ini tidak nampak.

Nay menyeruput orange juice dengan sedikit gula, ia meminta pelayan untuk menambahkan perasan lime dan daun mint. “Ahhh….” segarnya minuman tersebut masuk ke dalam kerongkongannya yang kering sedari tadi. Ia pun meninggalkan kursinya sejenak untuk menghampiri bakery showcase yang terletak di sebelah kasir dan mulai memilih-milih cake yang sesuai untuk menjadi camilan sore ini.

Ia memilih blueberry cheese cake yang menghantarkannya pada lamunan panjang. Kue yang terlihat kecil namun mengenyangkan ini dulu dibawakan Andro ketika ia seringkali ngambek. Sifat moody-nya yang tak berubah sudah dihafal Andro bila Nay tiba-tiba dingin atau cuek. Sikap ini bahkan sudah diperlihatkan Nay ketika mereka belum pacaran.

“Belom juga pacaran udah berani-berani ngambek…” ledek Andro suatu hari. “Tapi baik-baikin kamu tuh gampang. Bawa aja makanan enak, pasti langsung baik lagi deh. Dasar gembul,” canda Andro sambil mencubit pipi Nay.

Mengisi perut adalah hal paling mujarab dan menyenangkan bagi Nay untuk mengembalikan mood yang amburadul. Kue berdiameter 10cm itu membawa lembar demi lembar kenangan bersama Andro yang kini menetap di London untuk bekerja. Karir adalah salah satu impian yang mesti mereka masing-masing capai, sebelum memutuskan untuk menyatukan hidup. Image

Andro adalah lelaki paling ambisius yang pernah Nay temui. Di usianya yang menginjak 26 tahun, Andro tentu sedang berada di atas angin. Usia muda, karir melejit dengan kesempatan yang terbuka lebar untuk meraih posisi setinggi-tingginya di perusahaan dengan reputasi baik di Eropa.

Eropa… London…

Semua itu hanya mimpi bagi Nay. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya, Nay merasa banyak hal yang akan menjegalnya untuk mendapatkan kesempatan bekerja di luar negeri.

London….

Adalah mimpi yang sangat indah bagi Nay dan Andro. Keduanya memiliki keinginan untuk singgah di kota yang romantis, bersejarah dan tersohor tersebut. Tapi Nay, atas satu dan lain hal, tak dapat menikmati udara dan kesempatan yang sama seperti yang Andro rasakan kini: menikmati musim semi yang paling menyenangkan dengan bersantai di Hyde Park, atau sekedar menikmati udara segar di seputar Big Ben dengan bis tingkat dua.

Senja ini Nay memutuskan untuk bahagia dengan kesendiriannya di sudut cafe itu. Melihat satu per satu foto yang dikirimkan Andro melalui email hari ini. Andro di sana terlihat sangat senang dan menikmati waktu-waktu senggangnya, di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai strategic business analyst sebuah perusahaan multinasional di sana.

“Aku bahagia untukmu, Andro,” bisiknya pada telinga kanan. “Sungguh aku bahagia,” bisiknya ke telinga kiri.

Di luar hujan, Andro. Seringkali aku membawa imajinasiku jauh dan liar di saat-saat seperti ini. Terkadang aku terlihat menyedihkan di sofa merah ini sendirian, di mana orang-orang berbagi tawa dengan kolega mereka, atau berbagi lirikan manis dengan pasangannya.

Senja ini semoga uap-uap air menyampaikan pesannya kepada kesejukan hawa dan cerahnya langit di negaramu. Negaramu? ya, kini menjadi negaramu, meski untuk sementara. Sampaikan salamku untuk senyum manismu, yang entah kapan aku bisa melihatnya lagi, sementara hampir setahun ini aku ‘menikmati’ segala hal yang harus aku lewati di Indonesia. Salam dari Jakarta untuk London. Katakan pada lelaki yang kucintai itu, aku sungguh merindukannya.

Nay dan Ayah

Hari ini hari di mana Ayah tepat menginjak usia 70 tahun. Tidak ada yang istimewa seperti biasa. Nay hanya mengucapkan selamat ulang tahun melalui pesan singkat. Tak ada selebrasi. Biasanya juga Ayahbtak ingat hari ulang tahun Nay dan kedua saudaranya.

Sejak Nay dilahirkan hingga usia dewasa, Ia tak pernah melakukan perayaan di setiap hari lahirnya. Masa kanak-kanak Nay tak pernah ada satu pun perayaan tiup lilin maupun menghabiskan waktu makan bersama keluarga seperti yang dilakukan keluarga lain. Kadang ia merasa ada yang kurang di masa kecilnya. Ia tak se-ceria anak-anak kebanyakan, yang setiap tahunnya dihiasi dengan perayaan tiup lilin, potong kue danbagi-bagi souvenir pada teman-teman, dengan hiasan dekorasi yang meriah.

Hadiah terbesar bagi Ayah mungkin adalah melihat anak-anaknya bahagia. Tapi Nay tak tahu pasti apa itu bahagia menurut Ayahnya.
“Aku juga tak bisa memastikan apakah Ayah peduli aku merasa bahagia atau tidak dengan kehidupanku yang terbentuk ketika masih hidup bersamanya,” pikir Nay. “Aku tak peduli apakah ia peduli dengan kebahagiaanku,”

Nay bahagia dengan kehidupannya sendiri tanpa berada di tengah-tengah keluarga. Apalagi Ayah. Nay beberapa bulan ini enggan untuk mengunjungi lelaki tua itu.

Shhh… Asap rokok menghembus dari mulut Nay. Hanya kedai kopi tua itu yang bisa membuatnya merasa sedikit semarak. Sambil menuangkan kata-kata melalui notebook miliknya di atas meja, dan ditemani secangkir kopi tanpa gula di atas meja.

Namun seharian ini Nay disambangi bayang-bayang tentang her old man. Meski bukan keinginan untuk bertemu Ayahnya itu, ia justru teringat segala hal yang membuatnya jera atas segala sikap yang ia tunjukkan selama ini. Nay teringat berbagai kekecewaan yang dirasakannya hingga hatinya tak bisa lagi memaafkan. Tak bisa lagi menghargai.

Namun begitu ia akan tetap menghormati kata “Ayah” dalam silsilah keluarganya. Ia tak akan berontak. Ia tak akan menuntut apa pun di masa depan. Segala yang tak bisa diwujudkan di masa lalu tak akan ia minta dikembalikan di masa kini.

Ayah.. Diam-mu menyakiti hatiku. Kalimat tajam dan lakumu itu menusuk-nusuk pikirku.
Mengapa kau tak sehangat mentari pagi yang selalu setia bersinar pada dunia? Mengapa tak ada satu pun senyum dan tawa yang aku ingat. Terkadang aku iri melihat tawa-tawa kecil bayi di video dan foto-foto balita yang menggemaskan terpampang di dunia maya. Apakah dulu aku memilikinya? Tanya Nay dalam hati.

Terlalu banyak kekecewaan yang Nay terima. Kepercayaan yang seharusnya anggota keluarga rasakan dan simpan, tak pernah diberikan Ayah. Ayah lebih percaya apa kata orang. Terkadang untuk menentukan pilihan dan keputusan pun ia lebih percaya pada orang lain. Orang asing.

Ahhh.. “Berapa banyak bait yang harus aku tulis untuk mengungkapkan perasaanku. Akan menjadi terlalu panjang. Mungkin perlu 70 judul tulisan sesuai dengan angka usiamu untuk menjabarkannya,” tulis Nay dalam jurnal hariannya.

“Ayah.. Aku hanya memerlukan satu hal di waktu mendatang. Sehari saja cukup bagiku kau ada di hidupku kelak. Hanya satu hari itu. Aku tak akan meminta yang lain. Terima kasih sudah menanamkan benih di rahim ibuku sehingga ia melahirkan aku ke dunia. Sekarang biarkan aku menikmati hidupku sendiri. Dan lebih baik begini,” lanjutnya bercerita pada halaman berikutnya.