My Wedding Vendors

Saya agak bingung kalo harus ngejembrengin vendor-vendor resepsi pernikahan. Karena kita ngurus sendiri sebagian vendor makanan, jadi agak kerepotan di hari-H. Ada kejadian-kejadian yang sedikit lucu selama planning dan hari-H. Walaupun bukan resepsi yang besar-besaran, tapi semoga sedikit info ini bisa jadi referensi untuk membantu teman-teman yang sedang merencanakan pernikahan di sekitaran Tangerang Selatan.

Kami memilih tema outdoor garden party untuk resepsi, sedangkan akad nikah menggunakan ruang serbaguna di tempat resepsi kami. Pemilihan vendor-vendor ini hasil nembak aja, gak terlalu banyak pertimbangan ina-inu karena saya dan pasangan gak mau terlalu ribet atau perfeksionis. Nyari yang menurut kami oke dan terpercaya aja, dan bisa mendukung keinginan / ekspektasi. Kami percaya, setiap perencanaan dengan kenyataan itu nggak selalu seiring sejalan 100%. Manusia berencana, Allah yang menentukan. Kitamah pasrahan anaknya hahaha
1. Wedding Organizer (Dekor, Rias Pengantin, Dokumentasi) by Sanggar Pengantin Nisa Salon, Serpong. Borongan, haha. Pertama kali liat dekor dan riasan Mba Ana (owner, make up artist, floor director) di nikahan temen saya di Januari 2015. Mba Ana sangat kooperatif dan kerjanya cepat menangani semua keinginan kita. Dekornya cukup baik dan rapi. Riasannya cukup lah, gak menor dan lebih simple-modern. Saya buat buku dan kliping khusus untuk gambaran resepsi yang saya inginkan. Mulai dari contoh dekor dan pernak-perniknya, contoh gaun, dan contoh riasan beserta model jilbab yang kepingin saya pake. Semua cuma buat gambaran aja, gak harus sama persis. Saya sih percaya aja sama Mba Ana. Untuk daerah tempat saya tinggal, sepertinya Sanggar Nisa “megang banget”. Untuk paket sudah termasuk dekor (akad + resepsi), make up dan kostum (pengantin + 2 ibu) dan dokumentasi biasa + album pengantin, free foro kanvas ukuran besar. Sayangnya saya gak punya kameramen pribadi buat mendokumentasikan detail-detail dekornya.  Tapi saya suka concern mereka sama pelaminan yang ukuranya mini, balon-balon putih yang menggantung di pohon dekat panggung band, plus menjawab tantangan cuaca yang Mei lalu ternyata masih hujan. Waktu dirias buat akad, ternyata hujan cukup deras, begitu saya keluar menuju ke tempat akad (ruang rias & ruang akad terpisah gedung), hujan reda. Setelah itu hijan lagi pas persiapan resepsi, tapi begitu mau mulai resepsi, hujan berhenti total. Thanks, Allah. 😇

2.jpg

dekor simple sesuai deh sama keinginan kita

1

makeup akad

3

makeup resepsi

Ada yang lucu waktu Mba Ana lagi ngerias sambil wara-wiri mantau jelang akad. Setelah selesai rias mau mulai akad, tetiba Mba Ana dateng ke ruang rias, “Mba, kamu putrinya Pak ***** toh?”, saya jawab, “Iya mbak, kenapa?” Ternyata Mba Ana dulu sekolah di SMA yang sama dengan saya dan dua kakak perempuan saya (yang mana papa saya jadi Kepsek waktu itu). Lucunya lagi, ternyata Mba Ana temen deket kakak perempuan tertua saya waktu kami baru pindah ke daerah ini. Woalaaah, sempit amat dunia. Termasuk waktu ngurus dokumen nikah ke kantor kelurahan, bapak-bapak di sana ‘ngeh’ juga sama papa saya. Well, I don’t know my dad were that famous, LOL. 

Tips : kalo punya banyak waktu, lebih baik luangkan lebih banyak untuk survey, pintar-pintar nego supaya dapet bonus tambahan. Tadinya waktu penawaran pertama mereka nggak termasuk dekor akad, setelah nego ternyata budget masuk untuk tambahan dekor akad tanpa tambahan biaya. Kami cukup puas juga denga dekor akadnya. Simple, rapi, elegan. Makeupnya bagus difoto. Cuma beberapa hasil foto terutama di tempat gelap kurang maksimal.

2. Venue + Prasmanan, Restaurant Remaja Kuring Serpong. Manajer Restoran, Mas Uci kooperatif banget dari awal pertama kali banget kami dateng. FYI, begitu Aji diumumin penempatan di Samarinda, dia langsung ngasitau saya, minggu itu kita hunting, datengin sanggar dan venue langsung nego, minggu depannya dia udah terbang ke Samarinda. No time for being bewildered😎

Kami ambil makanan prasmanan utama aja dari resto. Mereka nggak men-charge sewa tempat untuk pemesanan paket makan min.100 porsi. Cuma ada charge tambahan Rp 500ribu untuk listrik dan Rp 100ribu/menu untuk makanan yang diambil dari luar. Menurut hitung-hitungan memang lebih murah ambil makanan gubukan dari luar. Jadilah kami ambil makanan favorit dari luar (sate ayam + lontong, dimsum fav mama mertua, bakso beliau bikin sendiri, siomay kesukaan saya di deket stasiun Serpong, martabak by Orins BSD, es krim diamond dari Kebon Jeruk–udah termasuk pramusaji, nyari online). Pramusaji tambahan kita cari sendiri.

Tempat ini sebenernya bagus buat dipake acara sore, tempatnya bakal jadi adem. Cuma karena kita adain acaranya Jumat jadi nggak mungkin ya, orang masih pada kerja. Ada beberapa tempat yang seharusnya bisa jadi bikin venue jadi lebih luas, tapi karena ornamen-ornamennya nggak bisa dipindahin, jadinya bikin tamu bakal terpencar-pencar. Mudah-mudahan ke depannya Remaja Kuring mau memikirkan untuk bisa memindahkan beberapa ornamen tersebut supaya lebih nyaman buat wedding venue. Saya sih nggak begitu suka venue atas (indoor) karena justru keliatannya jadi lebih sempit.

Lalu, buat acara malam, saya sarankan untuk menambah beberapa penerangan (bisa request ke pihak resto), karena path buat masuk ke pesta saya kemarin kayaknya kurang terang, takutnya kalau tamunya udah pada sepuh ntar kesandung-sandung. Terus, tempat ini agak sulit buat yang pake kursi roda. Alhamdulillahnya nenek saya masih bisa jalan walau agak sulit, jadi tetap bisa mengakses tempat ini meski nggak bisa banyak wara-wiri.

Tips : Cari info selengkapnya, nego-nego untuk bonus tambahan (kalau katering terpisah). Biasanya bonus juga mereka sertakan waktu nego pertama, misal katering khusus buat keluarga inti pengantin. Pilih venue yang sesuai tema. Kalau di outdoor saya sarankan untuk tenda tambahan, siapatau ada hujan dadakan. Dan kalau memang percaya, nggak ada salahnya untuk sewa pawang hujan. Saya sih engga, percaya sama Tuhan aja, kita pasrah tanpa Plan B. Alhamdulillah Tuhan Maha Baik hehe…

3. Undangan by Yanti Card, Tangerang. Yak, setelah insiden undangan gagal, akhirnya saya diselamatkan oleh Yanti Card yang bisa memenuhi kebutuhan saya untuk mencetak undangan kurang dari sebulan. Saya dapet kontaknya dari web Bridestory. Gak babibu saya langsung minta ketemuan. Dan saya diarahkan ke workshop Yanti Card di Tangerang Kota. Saya dianter mama di hari kerja, saya sampai ijin gak masuk kantor karena saya butuh untuk diproses secepatnya.

wpid-picsart_1447918041580.jpg

tadinya pingin ini tapi ga sempat

Alhamdulilah akhirnya kami pilih desain undangan yang simple, full gold.  Undangan bisa jadi dua minggu dari pertama kali saya datang ke workshop. Dalam prosesnya saya cuma ketemu Si Koko (saya lupa namanya) tiga kali : Pertama waktu datang ke workshop, kedua waktu saya tanda tangan approval untuk cetak undangan (desain sudah finished), dan ketiga waktu saya ambil undangan. Pertemuan kedua dan ketiga di rumah Si Koko yang posisinya lebih dekat yaitu di Alam Sutera. Harga yang ditawarkan mulai Rp 4000-20.000 udah termasuk plastik dan kartu ucapan terima kasih sesuai jumlah undangan. Kerjaan rapi, cepat, memuaskan lah buat saya. Saya merekomendasikan Yanti Card buat daerah Tangerang ini. Karena di beberapa tempat yang saya datangi nggak sanggup mengerjakan kebutuhan saya, dan juga mereka mematok minimal 500 buah undangan.

Tips : Untuk memilih dan mencetak undangan prosesnya beragam. Tapi usahakan dimulai 3-4 bulan sebelumnya. Terutama kalau hunting di Pasar Tebet. Pengerjaan mereka rata-rata sampe dua bulan. Apalagi kalau nikah di waktu “musim kawin” alias rame customer. Buat saya tempat rame seperti itu bisa “untung-untungan”, kadang keberuntungan bisa mampir ke beberapa orang, puas sama kerjaan satu percetakan. Tapi buat yang lain belum tentu. So, don’t put your expectation too high, especially kalo budgetnya pas-pasan. Ada harga ada rupa, hehe.

4. Souvenir. Lagi-lagi karena saya gak terlalu banyak luangin waktu buat hunting secara langsung, akhirnya saya pesan souvenir penjepit foto / kertas dari Jogja. Saya percaya orang Jogja mah nggak neko-neko, saya lihat dari webnya Dani Craft harga yang mereka tawarin lebih murah daripada di Jakarta.  Memang sih saya nambah Rp 100 ribu untuk ongkos. Saya sih bukan tipe orang yang mau blusukan ke Pasar Jatinegara atau Pasar Pagi Asemka buat hunting sendirian. Karena waktu itu calon suami udah jauh alias LDR. Udah terlalu nervous dengan ina-inu dan saya harus bertahan “sendirian” sementara calon suami di sana free timenya enak-enakan main PS terus (>.<) Jadilah saya pesan online, dan souvenir udah jadi 1,5 bulan sebelum Hari-H.

But……ternyata saya salah perhitungan. Dari 300 undangan saya cuma pesan 300 buah souvenir. Sedangkan keluarga besar (sekitar 100 orang) yang datang tanpa undangan nggak mungkin nggak disediain souvenir. Selain itu, kami juga mengirimkan beberapa undangan kolektif (satu kantor satu undangan, atau perkumpulan tertentu). Nah, yang dateng kan pasti lebih dari satu. Jadilah akhirnya saya dateng juga ke Pasar Pagi Asemka untuk beli souvenir tambahan. Glek!

Tips : Kalau punya banyak waktu, bisa cari-cari souvenir di banyak tempat. Tergantung kemauan kita. Kalau yang standar-standar ada di Pasar Jatinegara, Pasar Pagi Asemka, atau di Pasar Tebet sekalian pas cari undangan. Pilih souvenir dengan presentase gagal / cacatnya sedikit. Kalau saya sih prefer nggak memilih barang pecah belah, karena bisa jadi pas pembuatan dan pengiriman ada yang pecah. Pesan souvenir tambahan sekitar 25-30 % dari jumlah undangan, hitung dari keluarga (yang datang tanpa undangan).

5. Entertainment / Band / Wedding Singer. Karena saya dan calon suami waktu itu consider banget buat menjadikan pernikahan kami sebagai sarana untuk menghibur, kami rela memberikan main stage buat band sementara mini pelaminan diletakkan di pinggir. Sejak pertama, kami punya band pilihan untuk mengisi wedding kami. Kami suka band ini dari pertama kali kami lihat performance mereka di area BSD Square. Mereka memang manggung di sana setiap Sabtu Malam. Kami termasuk penonton yang menyaksikan mereka dari awal (penonton masih sepi) sampai sekarang penontonnya udah banyak banget sampe-sampe kalau ke sana sering nggak kebagian tempat duduk. Maklum gratis hehe.. Beatnite, namanya. Mereka khusus menyanyikan lagu-lagu The Beatles. We love their songs. Kami bukan penggemar fanatik, tapi kami suka lagu-lagunya dari yang slow sampai yang enak buat dancing. Cocok lah sama suasana yang mau kita bawain.

Mas Abhe (bassist sekaligus salah satu manager) pertama kali ketemu kita waktu sebelum mereka perform. Dia sudah cukup paham kemauan kita. Setelah menyodorkan song list, saya email-email-an dan berkomunikasi via Whatsapp soal konsep dan lagu yang kami pingin mereka bawain. Saya lebih banyak berkontribusi daripada calon suami. Karena memang saya yang lebih punya waktu untuk ngurusin ini. Fasilitas full band, dan perelengkapan sound system kami mintakan tolong sekalian ke Mas Abhe.

IMG_2145.JPG

Waktu itu kami minta untuk perform satu lagu, Love Me Tender dari Elvis Presley. Dalam prosesnya agak sulit karena kami nggak pernah punya waktu buat latihan. Akhirnyalah kami nodong aja di Hari-H, sedikit kacau karena sejak pertama calon suami dikasih tau ini-itu soal duet performance kita, kayaknya dia seperti sulit untuk paham apa yang saya maksud. Setelah married, saya baru tau kalo waktu itu dia “sibuk” main karena punya PS Baru. Jadinya nggak fokus sama apa-apa yang saya omongin. Setelah punya gitar sendiri, dia malah bisa nyanyiin lagu itu dan mainin chord-nya. DUH!

Tips : Untuk meminimalisir entertainment budget, pilih mini band yang terdiri dari tiga orang dengan dua sampai tiga instrument. Kami beresiko untuk mengalokasikan budget yang cukup besar buat band, karena kepingin mewujudkan mimpi kami di awal tadi. Full band format akan selalu lebih mahal daripada mini-band karena mereka akan butuh sound system yang lebih banyak. Sering-sering dateng ke tempat (mall, cafe) yang menampilkan band / mini-band untuk referensi pilihannya.

6. Foto Prewedding. Hmmm… Kalo saya bilang sih penting-nggak penting ya. Ada yang beranggap kalau foto prewed jadi salah satu hal wajib untuk dipajang di pernikahan mereka. Meskipun buat saya ini nggak wajib, kami mencoba untuk membuatnya dengan budget yang minim, alias minta fotoin temen, hehe… Karena kebetulan calon adik ipar punya kamera mirrorles yang cukup bagus untuk dipake, akhirnya kami pinjam. Untuk proses foto, saya minta tolong temen buat fotoin buat asal jepret, and in the end yang lebih banyak motoin justru pacarnya dia hahaha.. Thanks to my bestfriend, mwahhh.. 

Tips : Kalau memang punya budget lebih, memang nggak ada salahnya untuk menyewa fotografer khusus untuk pre-wedding yang sekalian mengerjakan dokumentasi di Hari-H. Well, saya nggak punya budget khusus buat itu, jadi saya cari jalan keluar untuk hal ini. Kalau punya temen wedding photographer / videographer, bisa sangat membantu karena kita bisa minta “harga temen” dengan kualitas setara fotografer wedding. 

7. Dekor perintilan. Nah, ini buat yang punya budget minim untuk dekor, ternyata kita bisa bikin dekorasi tambahan sendiri lho. Saya membuat dekor tambahan untuk memenuhi idealisme saya, karena tim dekor Mba Nisa nggak menyediakan dekor semacam ini. Dekor tambahan berupa gelas-gelas berisi lilin, nggak bisa mereka penuhi karena mungkin sebelumnya nggak ada yang minta dekor semacam ini di wedding yang mereka pernah tangani. Berhubung sepertinya ini outdoor wedding dengan konsep yang nggak mainstream yang pertama buat mereka, akhirnyalah saya buat sendiri.

wpid-picsart_1437790861628.jpg

Saya beli beberapa mason jar dan kertas khusus untuk scrapbook, dan tali rami serta lilin kecil. Saya buat seperti ini, dan saya tempatkan di sisi kolam renang supaya kelihatan lebih cantik. Selain itu, saya membeli beberapa lilin berbentuk bunga yang ditempatkan di kolam renang (mengapung). Terakhir, saya beli lampion untuk diterbangkan di akhir acara. Tapi harus hati-hati penempatannya karena bisa jadi ketendang orang atau malah hilang. Yap, gelas-gelas ini di akhir acara hilang entah ke mana. padahal tadinya mau saya bawa pulang buat dipake di rumah Hahaaha

Tadinya saya mau menambahkan kembang api kecil (untuk dinyalakan ketika kami masuk venue), dan kembang api besar untuk memeriahkan di akhir acara. Tapi karena camer terlalu takut bakal menyebabkan kebakaran (maklum, venue memang bersebelahan dengan SPBE), akhirnya kami coret dari daftar.

Tips : Jangan pilih dekorasi tambahan yang terlalu menguras tenaga dan pikiran (juga uang) kalau kita merasa nggak sanggup membuatnya. Ide-ide bisa didapatkan di Pinterest, banyak kok.

 

Oke, untuk sementara kayaknya itu dulu ya ulasan saya mengenai wedding vendor saya tanggal 15 – 5 – 15 yang lalu. Gak harus sempurna semuanya, yang penting bisa memenuhi harapan soal wedding impian kita. Again, ada harga ada rupa, jadi jangan berharap wedding yang sempurna kalau kenyataannya budget kita terbatas tas tas…..

Newlywed Story Part 1 : Being Married

“Gimana rasanya menikah?” tanya temen saya. Waktu itu, saya dan Aji baru sebulan menikah dan dalam kondisi masih LDR alias jauh-jauhan. Saya di Tangerang dan dia di Samarinda. Alasan keuangan jadi dasar buat saya untuk ngantor lebih lama. 

Saya yang masih dalam kebingungan untuk menjawab pertanyaan temen, akhirnya cuma menjawab, “Ya gitu. Enak sih,” meski sebenernya semua orang yang baru menikah, honeymoon, tentu bakal bilang hal yang sama. Walau jujur aja, nggak banyak perbedaan mendasar antara saya dan Aji sebelum dan sesudah menikah, karena kami udah cukup lama pacaran, empat setengah tahun. Waktu yang cukup panjang untuk mengenal, mendalami, dan memutuskan apakah dia orang yang tepat atau nggak buat saya. Begitu pula dia. 

  
Karena baru seumur jagung, saya merasa jawaban akan jadi tidak objektif, karena pada kenyataannya menikah itu nggak melulu merasa happy. Selain itu, di bulan pertama menikah, saya belum merasakan hidup bersama yang sebenarnya. Sekarang, setelah pindah ke Samarinda, hidup bareng, ketemu setiap hari, mengalami dan menghadapi masalah bersama, saya lebih berani untuk berbagi bagaimana rasanya menikah. 


Lebih Tau Pasangan Secara Detail

Saya termasuk orang yang gak percaya dengan perkenalan singkat. Untuk tau kepribadian seseorang secara mendalam, butuh waktu dan proses. Perkenalan singkat biasanya hanya memperlihatkan sikap seseorang di kondisi-kondisi tertentu, belum sama sifat-sifatnya secara lengkap. Yang kelihatan ya yang baik-baiknya aja. Gak sedikit orang yang baru kenal dan menikah lalu dikejutkan dengan sifat-sifat ‘ajaib’ pasangannya. Makanya yang seperti itu bukan berubah sejak menikah, tapi memang belum kelihatan aslinya waktu masih kenalan. Proses yang panjang mengajarkan saya untuk terhindar dari hal begini. Gak perlu kelamaan juga, yang penting sudah bikin yakin kalo dia tipe yang akan selalu menjaga kita lahir batin, ketika siap ya menikahlah. 

Kalo dulu saya tau pasangan saya suka ngupil, sekarang saya lebih tau kapan dan di mana dia suka menebar ‘debu-debu intan’, ha ha ha. 🙈🙊 Enggak ada sama sekali niatan untuk membeberkan kebiasaan buruk pasangan. Itu cuma salah satu yang kecil aja, yaaa kecil sih dan kadang risih. Tapi walau bagaimana pun juga kita bakal nemuin hal-hal kecil yang mengganjal macam ini, asalkan kita bisa compromize to each other, persoalam seperti ini gak akan menjadi besar. Just take it easy.

Contoh lainnya, waktu masih pacaran, dulu suami saya selalu berperan sebagai The Wise One (bijaksana), selalu keliatan cool and calm. Siapa sangka setelah married dia jadi amat sangat manja. Dia bisa bertingkah very cute, bener-bener kayak anak kecil (begitu juga saya) dan itu bikin saya jadi makin gemesss kepingin cubit pipi atau perut tembemnya. Every single day we seems to be two kids living together. Kita punya chemistry yang kuat dan unik, makin lama makin tau satu sama lain dan terkadang punya pemikiran yang sama tanpa diomongin. 

being kids: playing all day

Banyak hal yang secara langsung akan menular dari satu ke yang lainnya. Misalnya cara bicara dan memilih nama panggilan. Dari dulu saya nggak pernah bisa manggil pasangan dengan sebutan Aa, Kang, Mas, Abang, dan sejenisnya. Jadi waktu ibu mertua minta saya manggil suami dengan sebutan “Abang”, dan ketika papa saya manggil dia “Aa”, saya enggak sreg. Bukan karena umur dia yang sedikit lebih muda daripada saya. Saya lebih suka dengan kesetaraan, walau pada hakikatnya istri akan selalu dan harus menurut dan menghargai suami. Waktu pacaran kami pakai panggilan tertentu, di awal menikah panggilannya berubah lagi. Sekarang panggilan kami bisa berubah jadi apa aja, and always something cute, seperti nyonyoo (karena dia sering asked for a kiss dengan bibir yang monyong yang bikin geli ngeliatnya 😚) atau tetiba saya spontan panggil dia nyangnyang. Semau kita lah pokoknya. Saya yakin semua pasangan menikah lain punya hal serunya masing-masing Hihihi

Coba perhatikan / ingat-ingat kebiasaan pasangan / pacar waktu lagi makan. Apa dia termasuk orang yang rewel harus makan di resto, harus higienis, harus mendekati rasa masakan mamanya, harus enak (yang ini berlaku buat semua orang dong yaaa hehe), ketika menikah semua itu akan lebih keliatan alias lebih rewel, atau berkebalikan. Terlebih buat perempuan yang normalnya harus masak buat suami, nggak serta merta masakan jadi enak, alias butuh proses. Suami yang baik tentu akan menghargai proses. Nggak heran selalu ada scene ‘lucu’ di sinetron-sinetron di mana seorang suami pura-pura bilang enak waktu pertama kali nyicipin masakan istrinya. Alhamdulillah scene itu nggak pernah terjadi pada saya hihii. Meski ada kalanya masakan saya sedikit keasinan, kurang atau agak terlalu banyak minyak dll, tapi gak pernah bikin suami bilang nggak enak (yaiyalah mana ada sih suami yang tega begitu hehehe). 

Berkebalikan dari kebiasaan suami waktu masih pacaran dulu : pada prinsipnya, buat dia cuma ada dua jenis rasa masakan, kalo bukan enak ya enak banget. Sekarang, dia lebih terus terang kalo memang gak banyak makanan enak di kota ini. Makanya dia lebih suka masakan rumah daripada harus beli, kecuali terpaksa. Beberapa kali dia menyempatkan untuk pulang dan makan siang di rumah ketimbang beli di luaran yang rasanya belum jelas. Di satu sisi saya bangga bisa masak buat suami, nggak memulainya dari nol, tapi di sisi lain saya juga harus terus cari ide untuk menu masakan yang lebih variatif supaya nggak bosen. Dengan banyak nyontek resep dari internet, aplikasi menu masakan seperti ‘Masak Apa’ dan ‘Cookpad’ bisa membantu banget menambah menu dan jenis masakan yang bisa dipilih. Apalagi kalo harus masak tiga kali sehari dengan menu yang beda, tiap hari yang paling saya pikirin adalah, “nanti masak apa?” Hohoho. 
Siapa Yang (Harusnya) Lebih Rajin? 

Pasti orang kebanyakan akan menjawab, “Perempuan / Si Istri,” namun pada kenyataannya nggak melulu seperti itu. Walaupun seringkali pasangan saya bilang begitu (biasanya dia bilang gitu kalo saya lupa nyapu / ngepel atau ogah-ogahan ngerjain sesuatu aja), yang terjadi sejak saya tinggal bareng dia, dia yang kelihatan lebih rajin daripada saya. Setelah makan, terutama makan malam, pekerjaan mencuci piring jadi kerjaan utamanya dia. Jadi saya bisa santai-santai deh selesai makan, hehe. Jarang kan cowok lokal kayak begini.

Weekend selesai masak, dia juga cuci piring makan siang, kadangkala beres-beresnya udah dimulai setelah saya selesai masak. Gak jarang dia juga ngingetin saya untuk selalu membereskan kembali perabotan setelah memasak. Lucu sih karea ternyata dia lebih bawel soal kebersihan dan kerapihan. Di lain waktu, kadang-kadang dia pulang kerja dan langsung ngerjain hal-hal lain. Misalnya beresin sampah, nyapu kamar, ngepel kamar dan dapur, tanpa diminta. Padahal yang di rumah seharian ya istrinya ini 😁 

Saya beruntung banget punya pasangan seperti dia. Kebayang kan nanti kalo punya anak repotnya kayak gimana. Dengan punya suami yang mau berbagi kerjaan rumah pasti bakal ngebantu banget untuk bikin rumah tetap bersih dan rapi. 
Mendukung Mimpi Masing-masing

Perlu diakui, orang Indonesia agak rese soal kehidupan orang lain. Udah tau banget kan dengan pertanyaan beruntun yang nggak ada ujungnya. Setelah ditanya kapan lulus trus ditanya udah kerja apa belum, kerja di mana, ditanya udah punya pacar apa belum, pacar anak mana kerja apa, trus ditanya kapan nikah (jangan tanya kapan kawin ya hahaha), udah punya baby apa belom, de el el. Capek yah. Kadang tekanan semacam ini (terutama soal kapan nikah) kadang mendahului ekspektasi dan prediksi pribadi orang yang ditanya. 

he helped me to build my (dream) kitchen

Ketika ditanya “Kenapa Anda mau menikah?” Setiap orang pasti punya jawaban sendiri. Saya, misalnya, punya mimpi sederhana untuk jadi ibu sekaligus istri yang hebat. (*gak gampang yahhh). Menikah adalah gerbang saya untuk mewujudkan mimpi itu. Dari dulu banget saya pingin nikah. Pinginnnn banget, tanpa tau kenapa. Saya juga belum punya gambaran soal gimana kehidupan pernikahan. Ini bener-bener menyiksa. Saran saya, sebelum menikah, pikirkan lagi jangan hanya kenapa ingin menikah, tapi tanyakan ke diri kita sendiri, “Apa ini yang benar-benar saya inginkan? Siapkah saya?” Yang harus jadi perhatian, pertanyaan kedua itu perlu mantap dijawab sebelum benar-benar mewujudkannya.

Why? 

Karena pernikahan nggak akan semulus wajah bintang Korea. Nggak ada yang sempurna. Dua kepala dengan dua kepribadian yang complicated pasti banyak hal yang nggak sesuai, di situlah gunanya compromize, saling mengisi dan mengesampingkan ego. Memahami cara berkomunikasi dan problem solving (sebagai pasangan) penting banget dalam proses berkompromi dan menerima pasangan dengan segala kekurangannya (kalo yang lebih pasti diterima dong yaaaa). Sebelum memutuskan untuk hidup dengan seseorang, alangkah baiknya siapapun itu untuk jujur dengan diri mereka sendiri, dan berhenti melakukan drama-drama yang nggak penting. Karena ketika menikah, kejujuran menimbulkan kepercayaan dan keharmonisan yang harus selalu dijaga. 

Sebelum kepo sama mimpi orang lain, yakini mimpi kita sendiri. Apa yang ingin diraih dalam hidup, bagaimana cara meraihnya. Ketika menikah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana untuk saling mendukung mimpi masing-masing. Katanya, kebahagiaan dan keridhoan istri membuka pintu rezeki bagi suami. Tapi sebagai istri, kita juga harus tau diri. Jangan mempersulit suami dengan permintaan yang nggak masuk akal. Intinya saling toleran dan mendukung lah, bukan menjatuhkan, karena inti pernikahan bukan kompetisi. 

Ahhh, banyak dan panjang banget pokoknya kalo ada yang tanya. Gimana Rasanya Menikah. Yang pasti sih, happy. Tapi rasanya nggak cukup diwakili dengan satu kata, satu kalimat, atau satu paragraf. Mungkin cukup sih kalo dengan satu hari cerita, meski nggak akan mewakili keseluruhannya, karena cerita-cerita yang lain akan datang menyusul. Kalau mau tau gimana rasanya, ya rasakan sendiri, wujudkan ceritamu sendiri. Tapi ada satu pekerjaan berat sebelum semua itu terjadi : find the right one and be sure he’s/she’s the one. Keraguan nggak akan memberikan jawaban, apalagi kebahagiaan. Make sure and be sure you’ll happy 😊  

always happy together💏

How about yours? 

Gak Nyangka…

Jumat lalu, Aji jemput saya di St.Palmerah. Saya memang tau dia ada pekerjaan dinas di Tangerang dari Senin-Rabu. Waktu dikabarin dia bakal pulang, saya agak kaget juga sih. Dari Samarinda, dinasnya jauh banget sampe ke Gading Serpong, which is lumayan deket sama rumah saya. Nasib baik banget ini namanya wuhuuuw. Walaupun nggak bisa ketemuan karena kerjaannya sampe malem, saya tetep ngerasa lebih deket. Sebulan lebih nggak ketemu dan terpisah pulau, gitu kan… kangen banget pastinya.

Sebenernya hari sebelumnya dia dateng ke kantor buat ngambil undangan. Kebetulan Kamis itu, dia mau ngasih undangan ke kantor cabangnya di Cipete tempat OJT dulu. Ketemunya cuma bentar, karena dia juga pake taksi jadi gak bisa lama-lama. Duuh, namanya juga kangen ya, saya cubit-cubitin deh tuh pipinya yang makin lebar dan perutnya yang makin gembul di depan gerbang kantor. Untung nggak ada yang liat. hahaha…

Nah, di Jumat itu, kita ketemuan di St.Palmerah buat ngasih undangan ke kantor lama kita di daerah Tanah Abang. Dia tau saya bukan tipe perempuan yang harus dijemput di rumah. Kalo bisa cari tempat ketemu yang searah sama tempat tujuan ya di situ kita ketemu. Biasanya kalo nggak di Palmerah ya di Kebayoran. Tapi jalan di St.Kebayoran terlalu sempit jadi susah buat berhenti, sedangkan kita nggak tau siapa yang bakal sampe duluan. Jadi lah kita putuskan untuk ketemu di Palmerah, kebetulan juga lebih deket ke Tanah Abang.

Setelah cari cemilan dan makan siang sebentar sebelum Jumatan, kita berangkat ke SPOT (kantor lama saya & Aji). Kebanyakan temen-temen ‘seangkatan’ kita dah pada nggak ada, kecuali ‘dedengkot’nya hehe. Sambil nunggu Aji dan temen cowok lain Jumatan, saya ngobrol-ngobrol sama ‘anak-anak baru’ SPOT. Beda banget sama yang dulu, sekarang anaknya rame-rame dan kayaknya nggak terlalu ‘ngenes’ nasibnya sama kita dulu, lebih keliatan terawat lah hahah..

Setelah itu, saya dan Aji pulang ke rumahnya di daerah Cinere buat ketemuan sama MC kita di Hari-H nanti. Mba Lela, yang juga mantan anak buah mamanya Aji, orangnya rame dan ramah. Awalnya kita sempet ragu karena kita pengen acara kita nanti seru dan entertaining. Setelah ketemuan sih saya yakin beliau bisa. Walaupun bagian dari Angkatan Laut, bukan berarti nggak bisa bikin suasana cair.

Habis Maghrib, saya dan Aji cari-cari glitter buat ditabur di pigura berisi mahar. Tapi dah cari ke tiga tempat, semua nggak ada. Akhirnya kita cuma makan dan beliin makanan buat mama (camer). Karena kemaleman buat nganter saya pulang, Aji minta saya nginep aja di rumah, bobok sama Mama, judulnya, hehe…

Jam setengah sebelasan, setelah ngobrol-ngobrol dikit, saya dan mama camer tidur. Jam tiga pagi, saya kebangun karena mama camer bangun. Beliau memang biasa terbangun pagi banget untuk Tahajjud dan baca Quran. Saya bangun sih, tapi karena bingung mau ngapain, akhirnya baru bener-bener beranjak dari kasur sekitar setengah empat-an, wudhu, Tahajjud, baru deh kita bertiga pergi ke masjid untuk Shalat Subuh berjamaah di masjid terdekat, walaupun nggak deket-deket banget ya, sekitar 500m dari rumah.

Pulang dari masjid, beli nasi liwet dulu buat sarapan. Ini kayaknya pertama kalinya deh saya sarapan jam 5.30 pagi. Biasanya jarang sarapan atau nggak sama sekali, yang jelas nggak se-pagi itu. Habis itu, kita semua bobok lagi dan bangun jam 8. Itu juga kebangun karena suara telepon mama camer. Karena nggak biasa tidur kelamaan, saya juga bangun, mandi. Mama camer yang dasarnya ‘nggak bisa diem’ alias selalu aktif, pagi itu bersihin rumput di halaman belakang. Sedangkan saya diminta masangin label dan plastik undangan yang (ternyata) belum disebar ke kolega beliau.

Sabtu sore kita janjian ketemu sama Mas Abhe (band), Mbak Nisa (dekor), dan Mas Uci (pihak resto) dan Bang Ayat (sepupu Aji yang in charge di acara kita nanti). Alhamdulillah semua bisa ketemu hari itu, sekalian Mbak Nisa juga bawain baju yang mau kita pake nanti untuk fitting. Dan ternyata oh ternyata, akusih memang ngerasa banget sejak Jumat itu udah naik berat badan ya, tulang sayapku nggak nonjol-nonjol banget seperti biasanya. Pas ditimbang juga memang naik sekitar 1-1,5 kg. Itu juga karena Aji nggak mau liat saya terlalu kurus (duh terharu banget dibilang kurus). Tapi memang sih, kerasa sebelumnya tulang-tulang tangan dan belikat saya nongol-ngongol. Sekarang-sekarang, udah mulai keliatan lebih bohay kalo ngaca hihiiiwww.. *orang lain mati-matian diet buat ngurusin badan, saya malah bersusah-susah naikin berat badan.* Tapi sekarang saya lagi mati-matian memberantas jerawat yang tiba-tiba dateng nih huhuuu sedih banget deh, kenapa harus sekarang..??

Nah, waktu Aji nyobain bajunya. Waaaaawwww, perutnya offside jauh. Kancing jadi mletek-mletek (kayak mau copot). Haaaaaa, baru juga sebulan di Samarinda dah menggemuk lagi. Saya pun jadi makin bawel minta dia berhenti makan gorengan dan karbohidrat berlebihan malam-malam, pokoknya jangan ngemil malem deh. Itu kebiasaan buruk dia dari dulu. Dulu sering banget katanya makan nasi goreng lewat jam 9 malem, bikin mi instant, atau ngemil snack potato chips yang (tau banget dong kita) kalorinya banyak. Udah gitu, gak lama, tidur. Walaupun perut buncitnya emang unyu-unyu dan ngangenin buat dielus-elus (bhahahh), tapi sekarang saya lebih concern supaya kita berdua lebih sehat. Soalnya ngeri ya, jaman sekarang banyak orang-orang masih muda kena cancer, serangan jantung sampe meninggal di usia yang terbilang muda, 35-40an, mana anaknya masih kecil-kecil (SD-SMP).

Pokoknya, kalo orang lain married jadi gemuk gak beraturan, saya kepingin nanti kita lebih sehat dari sebelumnya. Saya bakal masak makanan yang sehat juga, gak terlalu goreng-gorengan, kalori dan lemak berlebihan. Buncit sedikit gak masalah ya, tapi kalo udah mirip om-om, aduuuh… bikin worry. 

However, di jalan menuju tempat ketemuan, kita ngobrolin lagi. Betapa semua ini nggak disangka berjalan cepat.

“Gak kerasa ya, tiga minggu lagi. Berasa cepet,” dia bilang.

“Hehehe iya,”

“Dulu (banget) aku pernah bilang, kamu siap-siap aja kalau suatu hari nanti aku tiba-tiba ngajak nikah,”

*saya flashback ke momen itu. Momen perjalanan kami ke Bandung naik kereta, cuma mau numpang makan siang di sana, sambil nikmatin pemandangan pergi-pulang.

“Aku tuh, kayak udah tau aja, gak tau gimana. Sepertinya aku udah tau mau begini dan begitu,” katanya.

“Heheee…” saya nyengir-nyengir aja.

di tengah dilema naiknya berat badan (dia) dan jerawat yg bertebaran (saya)

di tengah perbincangan, dilema naiknya berat badan (dia) dan jerawat yg bertebaran (saya)

Nggak sebentar memang saya menunggu sampai hari itu datang. Perjalanannya panjang (banget) rasanya. Walaupun kalau dibandingin, saya masih punya beberapa teman yang udah lama banget pacaran, ada yang 7 tahun, 8 tahun, bahkan 10 tahun pacaran, tapi belum nikah. Salah satunya yang udah pacaran 8 tahun bakal nikah seminggu sebelum pernikahan kami.

Nggak nyangka juga sih, Bulan November (kalo nggak salah) saya jalan bareng dia ke nikahan temen, waktu saya ajak ke Rinjani, dia bilang nggak bisa karena dia punya ‘big plan‘ di Bulan Mei. Sedangkan saya dan Aji baru memutuskan untuk menikah beberap bulan lalu. Persiapan juga singkat, sekitar 2,5 bulan. Surprisingly, semua udah sampe di 85%, mungkin lebih. Diselingi dengan prahara undangan, diganggu kegalauan ini-itu. Mudah-mudahan semua bisa berjalan dengan baik. Walaupun, kami sih lebih mementingkan bagaimana setelah menikah nanti.

Semoga semuanya lancar, amiiiiiiin…

Dua Kali Dibuat Nangis Tukang Undangan

Sekitar tiga minggu lalu adalah puncaknya stress selama nyiapin wedding. Pasalnya, undangan yang dibuat di tempat pertama, gagal total. Kenapa? Karena orangnya sama sekali nggak ngerti prosedur dan proses desain sampai cetak. Kacau banget. Memang sih, salah juga milih percetakan dari online, liat barang (undangan) cuma dari contoh. Tapi gak teliti liat contoh gambar asli hasil cetak. Alhasil, ya sudahlah, kesel banget pokoknya. Ini gara-gara si tukang percetakannya gak bener kerjanya. 1. Dia nggak ngerespon komunikasi saya dengan benar. Komunikasi keputus-putus gara-gara saya ngomong ini-itu ga ditanggepin. Tau-tau dia bilang undangan udah dicetak dan siap kirim. Emang sih saya yang nggak suka pekerjaan yang dilakuin di akhir-akhir, memutuskan untuk gak menunda-nunda buat undangan. Pinginnya lebih dari sebulan sebelum hari-H udah jadi, supaya bisa santai ngurusin yang lain. 2. Dia nyetak undangan tanpa final approval dari saya. Well sebenernya saya udah bikin sendiri desainnya, dia tinggal tambah ornamen-ornamen aja. Saya minta untuk dikasih liat desain finalnya sebelum cetak tapi dia gak pernah respon sampai akhirnya dia bilang udah selesai cetak. Di sini udah rada curiga sih, tapi saya coba cuek dan hanya berharap hasilnya bagus. Hmmm, sepertinya emang etos/etika kerja itu sejalan dengan hasil akhir deh. Jadi yaudah, maklum aja kalo emang hasilnya juga ancur. 3. Sikapnya kasar. Ini yang paling  parah. Berhubung saya pesan via T*kopedia, ada prosedur buat komplain dan diskusi sama penjual untuk dapet jalan keluar. Awalnya dia bilang bau ganti uang kerugian saya. Tapi waktu saya bilang ganti (bagi) rugi setengah-setengah (dikembalikan uang 50%), dia mencak-mencak. Sampai mengancam mau datang ke rumah. Saya sih gak takut ya. Lagian apa mungkin dia berani? Bukan sekali ini saya digertak sama tukang jualan yang gak terima sama kesalahannya sendiri. Hmm kata temen sih emang banyak penjual di Tokped yang arogan gamau disalahkan, dan matanya ijo sama bintang supaya dinilai bagus jualannya.

image

image image image image image image Kekesalan ini berlanjut ke Tokped. Well akhirnya uang saya dikembaliin 20%, yang mana tetap aja rugi. Karena undangan tersebut sama sekali nggak layak dipake. Mau liat perbedaannya? Ini dia..

image

image

Hwaaaaahh, bener-bener gila ini orang. Berani-beraninya bikin percetakan padahal material dia sama sekali gak layak. Itu baru luarnya. Dalamnya lebih parah lagi. Maka saya putuskan undangan itu diloak aja. 😪 Ceritanya, pada proses alot minta pengembalian tersebut, saya udah mulai curhat sama si percetakan yang kedua. Saya dapet dari internet juga, hasil melakukan googling dengan keywords “Undangan Murah Tangerang Selatan”. Wajar dong saya mau undangan yang simpel dan murah aja karena diharapkan bisa diproses cepat. Kontak saya dapatkan dari blog WordPress mereka. Nah, kebetulan saya terhubung via Whatsapp dengan si mbak-mbaknya dan mulai bertanya-tanya. Yang saya liat sih awalnya prosedurnya bener. Yang gak bener cuma attitude-nya: Sensi Tingkat Tinggi. Singkat kata saya udah DP kepada simbak via rekening suaminya (katanya). Sampai terima DP, dia masih ramah ala-ala Islami. Esok harinya saya menemukan blog lain yang punya harga mirip dengan blog si mbaknya. Karena sudah pernah hampir janjian datang ke tempat simbaknya, waktu saya tanya alamat workshop ke pemilik blog kedua, rupanya alamat mereka sama. Maka, saya pun berkesimpulan kalau kedua blog ini (mbak dan masnya) berbisnis bersama dan terkoneksi. Saya pun sempat berasumsi bahwa si pemilik blog kedua adalah nama pemilik akun rekening tempat saya mengirimkan DP. Ga ada salah dengan asumsi tersebut donggggg. Besoknya, saya berniat datang ke rumah (workshop atau apalah namanya), pokoknya alamat yang tertera di blog keduanya. Tapi karena hujan, setengah perjalanan pun saya memilih untuk pulang karena takut nyasar. Maklum hujannya besar banget sedangkan saya bermotor dan belum paham daerah yang mau saya datangi. Saya pun bilang akan datang keesokan hari. Malam tersebut saya bertanya sama simbaknya, mengenai keberadaan blog kedua milik simasnya. Saya menanyakan melalui siapa saya bisa berdiskusi soal desain (desain dari undangan sebelumnya sudah saya kirim via email). image image image image image image Gilaaaaaa.. Kebayang dong gimana herannya saya. Ajaib banget ni orang. Belom apa-apa udah bikin pusing. Orang-orang yang saya ceritain soal ini, juga pada takjub, ada tukang jualan yang ajaib kayak gitu. I was upset. Saya hampir give up nyari alternatif percetakan lain yang bisa ngerjain cepet. Sedangkan waktu saya udah mepet, tinggal sebulan setengah lagi, sekitaran lima minggu lah. Saya sempet tanya ke percetakan di Tebet, tapi (rata-rata) mereka butuh sebulan (lebih) buat cetak undangan. Maklum lah, di sana kan yang order juga ngantri. Kalau cetak aja butuh waktu sebulan, belum lagi keterlambatan bisa seminggu-dua minggu, habis dong waktu saya keburu hari-H #tepokjidat Seharian saya nggak konsen. Saya minta pacar saya yang nyari, saya nggak mau tau lagi soal undangan. *mulai deh emosi goyah* gabisa berhenti nangis. Tapi saya ngerti banget dia gak bakat buat nyari-nyari ginian. He’s not good in digging information, FYI. Jadi akhirnyalah saya buka lagi web http://bridestory.com dan mulai cari-cari percetakan dengan sortiran kota. Ngeliat desain-desain yang ciamik dari vendor-vendor percetakan di Jakarta bikin saya jiper (kapok) liat harganya. Saya pun menyortir pencarian untuk kota Tangerang. Dan ternyata, hanya ada satu vendor yang tertera di sana. Dari sanalah “keajaiban undangan” terjadi…. *bersambung ke cerita selanjutnya

In Two Days, We Decide…

Welcoming New Year, there’s nothing special with it. I was just spending time with his family (mom and his twin sisters), doing a barbeque thing and watch movie. Also watching the firework from his neighbors. Then sleeping and… tadaa.. Welcome 2015. 

Ha!

Okay, let’s started to talk about US.

Honestly, we (actually him) avoid to talk about a wedding before ‘the right time’. The right time means nothing but financially ready (read : settled). Karena kalau dilihat dari sejarah pacaran yang udah 4,5 tahun, kayaknya nggak perlu diragukan ya, kalau kita berhubungan bukan buat main-main. Intinya sih kita (dia) gamau memulai hidup bersama tanpa kepastian. Namanya juga laki-laki, ya gamau asal-asalan nikahin anak orang dong, tanpa kejelasan sumber keuangan dan pekerjaannya. Mau dikasih makan apa nanti??

When is your final test?” I asked.

February 17th, then I’ll have a closing ceremony a week after”

Then?” this girl (I) asked impatiently *LOL

The replacement announcement will be on Friday, 20th,” 

Oh, okay,” setelah ada pengumuman lulus ujian, hati udah tenang, karena itu artinya dia udah joined with the company sebagai karyawan tetap. Walaupun kita gak pernah tau his replacement ke mana, kota mana. Bakalan stay di Jakarta, pindah ke Jakarta bagian lain, ke luar kota, luar provinsi dan sebagainya.

Wednesday, February 18th 2015 

Ding! Suara message masuk via Whatsapp.

Pack your stuff honey, we’ll move to Samarinda. 

*melongo baca message dia.

Maksudnya? 

Ding!

Aku dipindah ke Samarinda.

Entah mau bersorak sorai atau sedih. Yang jelas nggak nyangka, kalau akhirnya dia dipindah ke luar pulau. Udah gitu katanya Samarinda kota banjir, karena ketinggiannya sama rendah dengan Sungai Mahakam. Katanya Samarinda itu gak tertata baik seperti Balikpapan, nggak ada flight langsung ke sana, dan bla bla bla. Ada keraguan juga sih, karena nggak ada bayangan kotanya seperti apa.

Bismillah aja.

The next day, I did a searching for a venue, asking about vendors, and everything about the wedding. Only two days after, we visit and do the meeting with the vendors. Hari Sabtu itu, kita datengin Mbak Nisa, langsung janjian di sanggarnya. Tanpa tanya-tanya dulu, langsung ngebahas maunya kita begini-begitu, langsung pilih kostum dan konsep.

Nanti saya email ya rinciannya,” 

Oke mbak,” gak sampe sejam deh kayaknya ketemu sama Mbak Nisa sore itu, udah gak nanya-nanya lagi make-upnya bagus apa nggak, dekornya dia bagus apa nggak, dan pertanyaan lainnya.

Tumben nih si Bebey nggak rempong tanya ini-itu. Hehe.. Mungkin karena dia juga udah kebanyakan pikiran karena dalam waktu seminggu dia bakalan terbang ke Samarinda, gak bisa nemenin untuk nyiap-nyiapin kerempongan wedding. Mbak Nisa provide kebutuhan kita secara sekaligus : dekor, make-up, dan dokumentasi. Tiga kerjaan selesai sekali, yippie!!

Dari sanggar Mbak Nisa, kita datengin Venue. Jujur ajasih saya nggak kepikiran bakal langsung decide untuk ambil tempat itu sebagai venue. Namanya juga baru survey. Tapi ternyata setelah kita ketemu sama supervisornya, Mas Uci, yang welcome dan langsung ngerti apa maunya kita, kita ngerasa gak perlu cari tempat lain lagi. Selain karena venue deket dari rumahku, tempatnya sesuai dengan konsep dan keinginan kita, udahlah, kita ambil.

pic by pinterest

pic by pinterest

Hari itu, yang tadinya kita mau nonton, gak jadi karena sudah padat sama jadwal ketemuan dan survey. Akhirnya cuma makan malam bareng. Tapi cukup lega karena hal inti udah kepegang.
Eh, tunggu dulu…

Ternyata di Sabtu itu, kita ada janjian sama band yang mau ngisi acara nanti. Mas Abhe, salah satu personil Beatnite, nemuin kita di Papa Ong, persis di samping stage dia dan bandnya biasa manggung. Kenapa kita pilih band tersebut?

Karena sejarahnya dulu, pertama kali kita liat band tersebut manggung di salah satu kompleks pertokoan di daerah BSD, penontonnya masih sepi banget. Kita salah satu penonton mereka sebelum kursi-kursi di depan panggung penuh sesak seperti sekarang. Dari awal, kita pengen band itu yang ngiringin dan mengisi wedding kita. Padahal waktu itu kita gak tau kapan mau married. Hahaha..

Fiuhh… such a tiring day. Agak lucu juga sih, karena semua serba cepat. Gak ada propose2an. Yaudah layah, kita udah cukup dewasa untuk merencanakan sesuatu tanpa basa-basi. Lagipula, udah dari lama kita sama-sama tau apa yang kita mau. We don’t want to waste the time for something ‘silly’. We have the different way to be a ‘romantic’ couple, do things like mature people, easy weezy. Yang penting SAH. *nyengirlebar

Malem itu, sebenernya Mas Abhe nanyain request lagu yang pengen kita mainin. Saya request dua lagu. Tapi sayang, kita harus cepet-cepet pergi karena ada barang yang mau dibeli, jadi nggak sempet deh denger lagu yang direquest. Saya pun minta maaf via Whatsapp karena gak bisa nonton sampai selesai.

Well, kita lupa sesuatu. Udah ngurus ini-itu, tapi belum bilang apa-apa sama keluarga. Padahal, kita udah pesen semuanya di satu tanggal tertentu. Tapi yaudahlah, palingan keluarga iya-iya aja.

Ternyata……………………

*bersambung

What Is Love? Let’s Think About It Rationally

Kata orang, jatuh cinta itu sejuta rasanya.
Kata orang, cinta itu buta.
Apa Iya?
Banyak definisi dan sudut pandang orang tentang APA ITU CINTA.
Apakah cinta menurut Anda?
Apakah Anda masih tersesat dengan arti cinta itu sendiri?
Bagi mereka yang merasa sedang jatuh cinta, mungkin akan sulit mendeskripsikannya ke dalam kata-kata. “Cinta? Yaaa… begitulah. Membuat jadi terasa melayang dan berbunga-bunga. Tanpa alasan. Tetiba bisa menjadi bahagia seketika. Mungkin itu cinta,” katanya.
Boleh, tentu boleh saja menikmatinya. Meski di lain waktu mungkin Anda akan merasa terperdaya dengan bujuk rayu yang lalu itu menjadi sesuatu yang tidak lagi relevan didengar atau dipercaya.
Mungkin, tulisan berikut ini bisa memberikan definisi atau pandangan lain dari arti cinta itu sendiri. Boleh setuju, boleh juga tidak. Karena Anda punya hak untuk memilih apa yang Anda anggap benar atau tidak.
Image
————————————————————————————–
Writen by Jacinta F. Rini
Immature people falling in love destroy each other’s freedom, create a bondage, make a prison. Mature persons in love help each other to be free; they help each other to destroy all sorts of bondages. And when love flows with freedom there is beauty. When love flows with dependence there is ugliness

(OSHO)
Kalimat di atas sengaja di tampilkan untuk menimbulkan kontras dan keterkejutan terhadap mereka yang selama ini menganggap cinta sebagai benda statik yang akan terus begitu sepanjang masa, atau sesuatu yang akan di capai ketika menikah. Pengertian ini telah membawa banyak kekecewaan dalam kehidupan berpasangan maupun berkeluarga. Salah satu penelitian yang dimuat dalam berita online memperlihatkan tahun 2010 angka perceraian mencapai rekor tertinggi selama 5 tahun terakhir yakni 285.184 (sumber : Direktur Jenderal Badilag MA, Agung Wahyu Widiana). Berbagai alasan yang melatarbelakangi perceraian, mulai dari faktor cemburu, masalah ekonomi, ketidakharmonisan hingga masalah politik yang rupanya kian turut berkontribusi dalam menceraiberaikan perkawinan.
       Selain itu, jumlah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Indonesia dari tahun ke tahun juga semakin meningkat, terlihat dari laporan dari berbagai daerah di Indonesia, masing-masing menunjukkan peningkatan signifikan. Misalnya, Kepala Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga  Berencana (BP3AKB) Jateng Soelaimah mengatakan, kasus kekerasan di 35 kabupaten/kota di tahun 2010 mencapai 2.829 dan hingga semester I/2011 tercatat 1.234 kasus. Di wilayah lain seperti Tegal, Tuban, Makassar, Papua, bahkan Jakarta, tingkat KDRT juga terbilang tinggi. Beberapa alasan yang melatarbelakangi adalah faktor ekonomi, minuman keras, rendahnya tingkat pendidikan serta faktor usia dini. Menurut laporan PLAN, 44% kasus KDRT dengan frekuensi tinggi, dialami wanita yang menikah di usia dini, sementara 56% perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah; dan laporan tersebut mengindikasikan banyaknya perkawinan anak (13 – 18 tahun). Faktor tradisi, masalah social – ekonomi, perilaku seksual dan kehamilan yang tidak dikehendaki, rendahnya pengetahuan tentang reproduksi, rendahnya pendidikan orangtua serta lemahnya penegakkan hukum menjadi persoalan yang memicu terjadinya perkawinan usia dini.  Pertanyaannya, apa sebenarnya yang terjadi ketika mengawali sebuah hubungan ? apakah hubungan yang dilandasi oleh cinta sudah pasti akan abadi ? Apakah hubungan yang tidak abadi karena tidak ada cinta ? pertanyaan semacam ini kerap muncul dalam pemikiran maupun asumsi-asumsi. Marilah kita telaah bersama.
       Ada beberapa jenis cinta di dalam berbagai versi dan definisi para pakarnya yang dapat di unduh maupun di pelajari lewat berbagai buku. Oleh karenanya, dalam artikel ini kita tidak akan membahas jenis cinta, maupun manifestasinya,  namun akan membatasi pembahasan pada persoalan problem perkawinan.

It needs love to make to make two become one
       Kalimat di atas bisa benar, tapi bisa pula keliru jika mengartikannya secara sempit dan dangkal. Sebab, makna cinta tidak berhenti pada rasa senang terhadap sesuatu, seseorang maupun lawan jenis (pacar, calon suami atau calon istri). CS. Lewis mengkategorikan perasaan “senang dan suka” di tingkat terbawah dari derajat intensitas cinta; rasa senang dan suka ini muncul karena di antara kedua pihak ada kesamaan, sama-sama senang nonton bioskop, menyukai group musik yang sama, mempunyai tempat makan favorit yang sama, sedang menyukai kegiatan yang sama, entah itu demonstrasi atau sama-sama ikut menjadi pendukung sebuah gerakan. Kekuatan dan durasi perasaan suka ini sangat lemah karena sifatnya yang situasional dan temporer; dan hubungan yang terbentuk atas dasar perasaan suka ini pun rentan persoalan karena tidak punya fondasi yang kuat. Sementara, banyak orang yang mengambil keputusan untuk menikah atas dasar kuantitas kesamaan, karena rasionalitas kedua pihak terhalang oleh emosi jiwa serta fantasi fairy tale “happily ever after”.
       Selama ini banyak orang umumnya menganggap cinta adalah sebuah produk pabrikan dan bersifat one for all. Ketika diantara kedua manusia ada cinta, maka semua persoalan selesai atau akan selesai. Sayangnya banyak pula yang lupa bahwa definisi cinta yang digunakan sebagai acuan penilaian kualitas dan masa depan hubungan, adalah perasaan “suka dan senang”. Bagi Scott Peck dalam bukunya The Roadless Travelled, cinta bukanlah perasaan, melainkan tindakan nyata “The will to extend one’s self for the purpose of nurturing one’s own or another’s spiritual growth”. Motivasi dan tindakan untuk membuat diri sendiri dan orang lain yang “dicintai” bertumbuh, menjadi pribadi yang punya identitas sejati, dan menggenapi panggilan hidupnya, itulah yang dinamakan cinta. Dan karena itulah, cinta tidak mungkin bersifat mengekang, menjajah, menindas, membatasi, memanipulasi, menghilangkan kemerdekaan apalagi menghilangkan kemanusiaan orang yang dicintai. “It is about giving the other person what they need to grow”.
Kedewasaan Pribadi, Kedewasaan Cinta
       Dari definsi cinta Scott Peck terlihat bahwa orang yang bisa mencintai, tentunya bukan orang yang masih terjebak dalam egosentrisme dan egoisme namun sudah mampu berkeinginan dan berbuat untuk orang lain. Apabila orang menyatakan cinta, namun dalam tindakan sehari-hari, banyak menuntut, mengekang, melarang, memenjarakan kemanusiaan pasangan, maka itu bukanlah cinta, namun conditioning/pengkondisian agar orang memenuhi kebutuhannya, entah itu kebutuhan fisik (makan, minum, sexual, dsb) maupun psikologis (ingin di perhatikan, diakui, dikagumi, di puja, dsb). Di sini lah banyak terjadi kesalahkaprahan, ketika pasangan bersikap nrimo, diam saja bahkan semakin takut dan taat serta semakin “menderita demi cinta”. Kesalahkaprahan ini membuat banyak penderitaan panjang terutama di sisi wanita (ada pula pria), tidak hanya menghancurkan perkawinan itu sendiri, namun menghancurkan pula jiwa-jiwa dan setiap pribadi yang ada di dalamnya, seperti dirinya sendiri serta anak-anak (bagi yang telah punya anak).  Cinta tidak menjajah.

 Oleh karena cinta bukanlah romantisme perasaan belaka, maka kedewasaan seseorang akhirnya berperan dalam menentukan seperti apa cinta yang ia berikan kepada orang lain, baik itu pasangan maupun komunitasnya. Semakin dewasa seseorang, maka semakin dewasalah cinta-nya; sehingga untuk menghasilkan cinta yang dewasa dan buah-buah cinta yang mendewasakan diri sendiri dan orang lain, maka seseorang harus melalui proses pendewasaan. Scott Peck mengatakan dalam The Roadless Travelled, seseorang menjadi dewasa dan matang, melalui proses yang bertahap dan semua itu menuntut latihan disiplin diri dalam beberapa elemen, yakni :

1. Delaying gratification, menunda  kepuasan sesaat / saat ini demi kebaikan di masa mendatang. Istilah Indonesia, sakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Secara kongkrit, setiap keputusan baik itu berpacaran (dengan segala tingkatannya dan tindakannya) dan berkeluarga, didasarkan pada pertanyaan apakah yang menjadi motivasinya. Apakah karena ingin segera memuaskan apapun desakan yang ingin di puaskan atau karena ada alasan rasional lain yang memang baik dan bermanfaat besar bagi kedua belah pihak (yang menjadi ukuran adalah menumbuhkan dan mendewasakan kedua pihak).
2.  Acceptance of responsibility, bertanggung jawab atas pilihan dan keputusan diri sendiri. Apa yang termasuk di dalamnya adalah menyadari bahwa setiap orang punya andil dalam menciptakan problem yang sedang dihadapi, sudah dialami atau akan terjadi. Semua berawal dari pilihan sikap diri. Padahal umumnya, ketika terjadi masalah cenderung menyalahkan orang lain, persoalan, situasi dan kondisi daripada introspeksi diri.  Konsekuensi logisnya, menganggap diri sebagai korban keadaan yang tidak berdaya untuk mengambil alih kendali hidup. Amat disayangkan karena sebagian orang melihat proses ini sebagai suratan takdir dan nasib bahwa ia terlahir untuk melayani dan menderita demi orang yang dikasihi. Padahal, takdir cinta tidaklah demikian. Cinta itu membebaskan dan memerdekaan, seperti ungkapan Oslo, seorang filsuf kontemporer,  di bagian paling atas artikel ini.
Menerima tanggung jawab di sini mempunyai konsekuensi logis, untuk membuat setiap pribadi berhati-hati, jangan sampai aplikasi dari memerdekakan diri menciptakan penjajahan bagi pribadi lainnya. Mengutip Erich Fromm yang mengatakan, no freedom without responsibility, tidak ada kemerdekaan tanpa tanggung jawab. Jika ingin berpacaran atau menikah, ingin bercerai atau bahkan ingin bertahan dalam problema yang ada, maka setiap pemikiran, keputusan dan tindakan harus dipikirkan sejauh mana kita mampu bertanggung jawab atas implikasinya, baik bagi diri sendiri, keluarga, orangtua, anak, pasangan, mertua, tempat kerja kita, dsb.
3. Dedication to the truth, selalu mencari dan menemukan kebenaran. Mabuk kepayang maupun kepahitan, bisa menjadi penghalang kejernihan dalam melihat kenyataan dan kebenaran. Konsep diri yang negative (menganggap diri tidak baik, buruk rupa, banyak dosa, tidak berharga, tidak cantik, tidak beruntung, dsb) juga menjadi tembok penghalang realitas karena kenegatifan itu sudah mewarnai cara pandang kita terhadap dunia.

Image
Kasus KDRT yang berkepanjangan membuat pihak korban percaya bahwa dirinya pantas dan layak di hina dan disia-siakan karena tidak berharga. Oleh sebab itu korban tidak berani melepaskan diri dari abuser  karena tidak yakin ada tempat yang bisa menerima kehadirannya,  atau tidak yakin dirinya  kuat hidup tanpa abuser.  Scott Peck mengatakan, jika jiwa manusia ingin bertumbuh, jauhkan diri dari prejudis, stereotype, prasangka negatif yang mendistorsi kebenaran. Sikap terbuka, berani menatap kenyataan, bahkan menerima bahwa ada kebenaran dan fakta lain yang bisa meruntuhkan keteguhan hati dan keyakinan  – mengapa kita takut jika hal itu justru memerdekakan kita. The truth will set you free.
4. Balancing & flexible, menjadi lebih seimbang dan fleksibel. Kedewasaan dan kematangan akan dialami ketika diri kita maju. Sebaliknya, segala sesuatu yang terlalu rigid, baik dalam soal berpikir, berkeyakinan maupun berelasi, menghambat kemajuan diri sendiri dan orang lain serta hubungan itu sendiri. Bayangkan saja hubungan yang penuh dengan ketakutan, peraturan, larangan, batasan, kecurigaan, pengekangan, penindasan, tidak akan menumbuhkan sesuatu yang baik; yang muncul adalah hal negatif, seperti ketakutan, kemarahan, kepahitan, kebosanan, ketidakpuasan, kesepian dan kekosongan yang melanda jiwa. Tidak akan ada kebahagiaan dalam relasi yang rigid, namun sama halnya dengan relasi yang tidak berakar dan berkomitmen, karena keduanya tidak berdasarkan cinta, namun ketakutan.

Image
       Kembali pada persoalan cinta yang berakhir duka nestapa, apalagi tragedi, dapat disimpulkan kondisi itu disebabkan ketidakmatangan pribadi yang menganggap bahwa memiliki, mengupahi, meladeni, membayari, menafkahi, adalah cinta dan bukti cinta itu sendiri.  Padahal, silogisme-nya tidak demikian. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ungkapan cinta dari Ibu Theresa
It is not how much we do,
but how much love we put in the doing.
It is not how much we give,
but how much love we put in the giving

 Jadi mari bertanya pada diri sendiri, apakah saya melakukan ini semua karena cinta? Apakah yang kita lakukan selama ini sudah memerdekakan & menumbuhkan diri kita dan orang yang kita cintai ?

To be Independent and Getting Married? It’s Not That Easy

“THINK TWICE BEFORE YOU GET MARRIED”

This is not the way I wanted to scared you about getting married. But in fact, nowadays, people will think twice, or even thousand times before they decide to spend time with one person for their whole life. Not only for westerners, this is appears also for people in the growing countries. The people nowadays has the different priority of life. Let’s compare to our parents. Maybe in that era, they have a big expectation to get married at young age. The reason is usually because they want to see their children grow and also behold the grandchildren to get married. But they didn’t think too much about to be independent and get rich, before they raised the kids. Well it’s happend mostly to Indonesian with the middle economic level, until 1990’s.

Image

I hope it could be this easy to get married 😦

After the millenium era, people’s point of view has changes. It is maybe the consequences of receiving the liberalism from outside the counrty. Especially Indonesia, the people now has a modern mentation of this issue. They want to be independent, owned a house and vehicles before getting married. It is actually a positive matter because it turns people to work harder and achieve their goal before they have a serious relationship and live with somebody to walk to the future.

But things is different with the middle or low economic level of people. They’re who didn’t have enough income or salary to embody the goals, will take more time to finally decide that THEY’RE READY for it. As a modern people, they need to keep the dignity. Because living with parents or mother in law, lately is not a positive issue. For sure. Eastern culture actually give that impact to us.

Just like when I have conversation with my American friend who married with Indonesian woman and decide to live here.

“You’re 27 and still living with parents?” he asked while raised his eyebrow.

“Uhm… Yeah…” I stumble. I know what he wanted to ‘say’.

I’m an adult, but still live with my parents. Oh yeah, of course because I have some reason for it. Indonesian parents, mostly expect their children to live near them. If something happen, they easier to come, give some help, etc. Especially if the parents has some problems with their healthy.

So, if we compared to American and English parents, or another modern and liberal countries, I can say it’s totally different. Because in their tradition, they expect the children to be independent started or after they attend the college. They will and prefer to live separated. One of the reason is to get the latitude to do anything they want. As we know, we need to mingle, socialize. Meeting new people or invite them to our own place, held some parties etc, couldn’t do if we still live with parents.

Image

Own a house? Yeah, someday

Back to ‘Being Independent and Getting Married’, as a normal office worker, it’s gonna be hard for me or people like to get rich. I mean… RICH. lol. Here in my country, to have a big income (read : SALARY), we need to be a part of a great company and reach a good position with some addition benefits. An baccalaureate or undergraduate people hard to reach this position if they have no other ability. Especially leadership (and public speaking). They will be in the same level of job without any progress. So, how to buy a house or car, if we had a low income?

WE NEED MORE TIME.

That is the reason of us, me, in the entry level job, to tied knot and finally decide to get married. Because I need to prepare for many things before I getting involved into a HUGE THING. Fiancial and psychological preparation need to be done. This is like the two side of coins. Cannot be separated. Because if we only done with one of it, another will ‘destroy’ us, if we’re not ready. IF have a great financial, we have money to held a wedding and pay for all the bills in the future, but we’re not ready to share and spend time with another person, in the end we’ll have a complicated life and relationship. Also the opposite thing, if there’s a big expectation of a marriage to be held, without a financial preparation, what we’ll do in the future? how we’ll pay the bills and owned some other things?

Image

Money & Marriage

To earn more money, we better learn about entrepreneurship and try a new small business. Learn how Chinese people runs their business, with patience and loyalty, they could turn the small into a huge company. But also, not only the pre-marriage financial preparation, we need to planned how we manage our money after. About the psychological prepararation, you can read here