Tak Lagi “Merayakan” Ulang Tahun Setelah Kepala Tiga

 

Bagi sebagian orang, hari lahir atau hari ulang tahun adalah hari yang istimewa. Pada hari tersebut biasanya diadakan perayaan, pesta, doa dan lain-lain, baik yang diadakan sendiri atau diadakan (dibuat) oleh orang-orang dekat. Sepertinya seru sekali ya. Saya pun pernah diberikan hadiah dan “perayaan” beberapa kali oleh teman kantor. Dan beberapa kali oleh pasangan.

Tapi setelah menginjak umur 30, saya tak lagi merayakan atau terlalu mengingat-ingat hari ulang tahun. Dan di umur tersebut juga saya mendapat hadiah terakhir berupa benda dari suami berupa Al-Quran dengan terjemahan dan tafsir beserta tafsir khusus perempuan. Alhamdulillah.

Saya menangis waktu itu. Alasan pertama karena haru, diberi hadiah Al-Quran yang membuat saya jadi lebih semangat untuk membacanya. (Tapi belakangan, saya lebih suka membaca Al-Quran digital karena lebih mudah membacanya dan tampilannya lebih sederhana.) Alasan kedua saya menangis, justru karena tak punya alasan lain, hanya tetiba mengangis begitu saja. Saya lalu mengucapkan terima kasih pada suami dan memeluknya. **Sayangnya, justru saya lihat beliau belakangan lebih sering mempergunakan ponsel untuk hal lain ketimbang mencari ilmu. Semoga nanti lebih baik lagi ke depannya, karena saya pun sedang berusaha mengurangi terlalu banyak menggunakan ponsel untuk hal-hal yang tidak berguna.

diariesimage_2015-03-04_21-46-26

Ada beberapa hal yang menjadi alasan bagi saya untuk tidak lagi “merayakan” ulang tahun.

  1. Tidak ada perayaan Ulang Tahun di dalam Islam. Perayaan Ulang Tahun adalah sesuatu yang diada-adakan oleh kaum tertentu. Banyak Ustadz yang mengatakan, perayaan ulang tahun adalah adat atau kebiasaan orang kafir. Dan sebagaimana dijelaskan dalam Islam, “Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]. Terlebih lagi jika Ulang Tahun dikaitkan dengan ibadah (tambahan), misalnya dengan doa-doa, dzikir-dzikir yang merupakan ritualisasi rasa syukur, maka hal tersebut termasuk ke dalam bid’ah. Sebagaimana kita tahu, segala hal yang berhubungan dengan ibadah (termasuk syukur, doa, dzikir) telah diatur oleh Allah SWT, dan menjadi hak perogatif Allah untuk menentukan adabnya. Terkadang, manusialah yang meng-ada-adakan/menambah-nambahi. Dan sebagaimana pula Hadist Bukhari-Muslim mengatakan, “Orang yang melakukan amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak.” Bukan hanya tertolak amalannya, ibadah-ibadah yang termasuk bid’ah juga mendapatkan dosa. Wallahualam. Monggo dipelajari lagi apa itu bid’ah, karena saya juga masih belajar. Yang jelas, kita harus hati-hati dan lebih banyak mencari informasi, apakah sesuatu yang kita lakukan itu bid’ah atau bukan.
  2. Alasan kedua, saya tak perlu menunggu setahun atau tanggal tertentu untuk berdoa dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap hari selagi masih sehat dan memiliki waktu lapang, saya berusaha untuk memperbaiki diri. Hal yang sama (akan) saya lakukan pada anak saya. Saya berdoa setiap hari untuk dia dan mengajarkannya untuk berdoa setiap hari, tak perlu menunggu saat Ulang Tahun. Di keluarga saya pun tidak diajarkan perayaan Ulang Tahun sama sekali. Jadi, walaupun dulu saya sempat bertanya-tanya kenapa Ayah Ibu saya seolah lupa tanggal lahir kelima anak mereka, (terlepas dari terlalu sibuk bekerja haha), saya mengerti sekarang.
  3. Alasan ketiga, setelah saya pikir-pikir, saya tak punya alasan untuk “merayakan”. I mean, why do I need to celebrate my birthday? Setiap kali Ulang Tahun kita semakin tua. Apa yang bisa dirayakan dari umur yang menua? Hellooo, we’re getting older, c’mon!! Setiap ulang tahun artinya umur kita juga berkurang, jadi apa yang bisa dirayakan dari hal itu? If I have a happy family, a great life, I will celebrate it everyday, feel thankful everyday, not only on my birthday. Bila dalam lagu ulang tahun biasanya kita bernyanyi, “Panjang umurnya.. panjang umurnya…” Pada kenyataannya umur yang bertambah atau panjangnya umur belum tentu memberikan berkah, belum tentu semakin giat juga kita beribadah dan berucap syukur. Bisa jadi bertambah panjangnya umur hanya membuat kita semakin sering mengeluh, mengumpat, menghujat, menyakiti orang lain, dll. Sama sekali bukan sesuatu yang baik dan tidak membawa manfaat. Mengubah Selamat Ulang Tahun dengan Met Milad, mengubah “Semoga panjang umur”  dengan “Barakallahu fii  umriik” juga tidak menjadikannya lebih Islami, kawan. Hukum perayaan ulang tahun, menghadiri acara ulang tahun, dan sekitarnya silakan digoogling sendiri atau tanya ke Ustadz untuk lebih jauhnya. They know a lot better than me.
  4. Alasan keempat, Celebrating (mostly) need a cost. Seperti halnya saya nggak pernah minta oleh-oleh sama teman yang akan traveling karena takut memberatkan mereka, saya juga nggak berharap orang rela menyisihkan uangnya untuk “merayakan” hari lahir saya. Berdasar pengalaman ya, dulu saya sering terlibat dalam patungan macam ini, hampir setiap bulanlah ada yang ulang tahun. Terus, nagihnya ke beberapa orang kok agak susah. Sampai-sampai kalo ada yang ulang tahun saling menunjuk untuk membayar atau membelikan duluan hadiah untuk yang mau ulang tahun. “Kamu aja ya, tolong cariin dan beliin dulu pake uangmu,” tapi hasil penagihan ke orang-orang gak lengkap alias kurang karena ada yang nggak mau bayar. Akhirnya ya direlakan saja kekurangannya. Saya juga mikir kenapa bisa susah banget nagih dua puluhan ribuan doang. Well, maybe bukan itu masalahnya. Mungkin memang merayakan ulang tahun itu bukan kebiasaan mereka, dan bukan prioritas hidupnya. Setelah saya pikir lagi, kalo setiap bulan keluar dua-tiga puluhan ribu, setahun bisa berapa? Daripada dikasih ke orang mampu, ya mending disedekahin. Kalo dihitung-hitung waktu itu jumlah pengeluaran untuk beli-beli hadiah macam gini selama setahun hampir setengah dari jumlah zakat penghasilan yang harus saya bayarkan. Lagian mereka ya udah bisa beli sendiri barang-barang yang mereka pingin kok. Sebaliknya orang yang dikasih surprise mesti nraktir balik sekian banyak orang yang memberinya hadiah. Nraktir belasan orang itu lumayan lho cost-nya. Bukannya pelit, kalo yang bersangkutan mau bagi-bagi makanan toh ya nggak usah ditodong juga, dia akan membagi secara suka rela. Tapi kalo memang menurutnya hari ulang tahun itu biasa-biasa saja, ya jangan paksa mereka dengan minta traktiran lah. Nggak semua punya budget untuk selebrasi macam begini. Memberatkan saudara (seiman) itu juga nggak baik lho.
  5. Last but not leastAs I started to forget about my birthday, so are the people. To be honest, saya dulu orang yang paling getol ngafalin tanggal ulang tahun keluarga, teman. Saya senang mengirimkan mereka ucapan-ucapan dengan penuh arti. Sesekali saya kirimkan hadiah juga, meski sekarang saya sudah tinggal jauh dari mereka. I do remember them as my best friends. Tapi seiring waktu mereka juga lupa terhadap saya. Invisible persons are easy to be forgotten, I knew it. And it’s fine. Setiap kali saya mengirimkan hadiah juga saya tahu saya tak perlu repot-repot berharap mereka akan mengingat saya dan melakukan hal yang sama. Hanya berusaha menunjukkan apa arti mereka di mata saya, itu yang saya lakukan. Dan sejujurnya tak perlu menunggu Hari Ulang Tahun, jika saya bisa, akan saya kirimkan berbagai macam hadiah untuk mereka. Tapi.. hal percuma lebih baik tak usah dilakukan sih ya. Kita toh udah gede juga, setiap orang udah sibuk dengan kehidupannya masing-masing sekarang.

So, intinya berdoa dan bersyukurlah setiap saat. Itu yang selalu saya tanamkan sejak tahun lalu. Memberikan hadiah juga tak perlu menunggu Hari Ulang Tahun, ini yang juga menjadi prinsip suami saya. Tapi bila masih ingin terlibat dalam perayaan macam ini, ya silakan saja, semua itu pilihan (atau karena nggak ada pilihan?? Biasanya karena nggak enak yaa berada di lingkungan yang melakukan kebiasaan tersebut hehee 😁)

Sejak saya memutuskan hal ini, saya justru merasa hidup lebih bermakna, berusaha untuk menikmati dan berbahagia setiap harinya. Saya juga jadi nggak terlalu berharap pada orang lain, about my existence. Kalau mereka menganggap saya berarti, mereka akan ingat terhadap saya. Kalopun nggak, ya sudah, life goes on. Seperti halnya setiap bayangan akan bergerak atau hilang, begitu juga memori akan diri kita di mata orang lain. Mungkin orang-orang akan mulai melupakan kita, dan kita mulai sibuk dengan kehidupan kita sendiri. Hidup berputar terus, hidup berjalan terus, ada yang menemani atau sendiri. Yang terpenting kita tak menyakiti siapapun. Dan yang lebih penting untuk dipikirkan adalah keberadaan kita di mata Allah. Sudah lebih baikkah setiap harinya.. setiap minggunya.. setiap bulannya.. setiap tahunnya.. dan seterusnya.

13118970_227883667588960_462716440577539941_n

Terlebih setelah punya anak ~~yang luar biasa menyenangkannya, alhamdulillah, saya bisa menikmati hidup setiap harinya. Selalu ada kekurangan tapi kita selalu berusaha memperbaiki keesokan harinya. Saya juga sudah mulai berhenti mengeluh dalam kehidupan di perantauan. Meski selalu dan tetap berharap jalan hidup akan sesuai dengan apa yang kita impikan. Ya, mimpi dan usaha harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Saya mencoba untuk menerima dan menjalani sebaik-baiknya, tetap berada dekat dengan mereka dan mendukung mereka.

Untuk sebagian orang, mertua, saudara ipar, keponakan-keponakan dan teman dekat, saya masih mengucapkan Ulang Tahun pada mereka, karena sesuatu alasan. Saya tak mau mereka merasa terlupakan. Tapi di keluarga inti saya, saya sudah berhenti mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Saya senantiasa mendoakam mereka, sebagaimana saya berdoa untuk diri saya sendiri. Terlebih untuk saudara-saudara saya yang sering saling membantu dalam kesulitan dan saling mendoakan untuk kehidupan yang lancar dan baik.

Ini hanya sebagian kecil hal yang ingin saya ubah, untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Saya hanya seorang fakir ilmu yang masih belajar menerapkan segala sesuatu sesuai dengan keyakinan yang saya percayai. Semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang berdoa, bersyukur dan berusaha menjadi insan yang lebih baik setiap saat. Tak perlu menunggu tahun besok, tahun besok, tahun besoknya, belum tentu umur kita sampe, ikhtiar mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik, lakukan sekarang. Kalau bukan sekarang, ya kapan lagi? *Bukan iklan* 😊

 

 

Advertisements

Melancholic Disaster

​Pernah nggak sih tiba-tiba merasa sedih, tapi sebenernya kehidupanmu saat itu ya nggak sedih-sedih amat? Tau-tau kepingin nangis melihat sesuatu yang sebetulnya nggak bikin kamu sedih juga. 

 I feel sometimes I don’t know nor I don’t want to feel what I feel.

Ini nyebelin banget sih ya. Karena ada di titik tertentu saya jadi nggak tau sebenernya apa yang sedang saya alami atau rasain. Mood swing-nya parrraaah!

To be honest saya bukan orang yang suka drama-dramaan, terutama buat dipertontonkan ke seluruh dunia alias biar orang tau. Dan puji syukur hidup saya juga nggak se-drama-tis itu. Dalam postingan-postingan saya selalu punya alasan yang jelas kenapa saya menulis topik tersebut. Saya nggak pernah nulis sejenis postingan seolah-olah “saya pengen makan tapi bingung sebenernya saya makan karena lapar atau karena bete”. 

Jadi ibaratnya saya juga nggak akan bingung kenapa saya makan (udah pasti karena lapar), and of course saya nggk perlu masukan orang lain tentang apa yang ingin saya makan saat itu diakibatkan oleh kebingungan (yang mana kebingungan itu sebenernya bukan diperut tapi di otak). Saya tau kebutuhan makanan untuk perut dan untuk pikiran itu beda. Ya pokoknya gitulah.

Dulu, waktu awal kuliah saya bukan tipe orang yang bisa tiba-tiba sedih tanpa alasan. Tapi di satu titik terlemah dalam hidup, ternyata saya bisa jadi sejenis super melancholic person. Selidik punya selidik, ternyata lingkungan yang berperan serta di dalamnya. Ketika saya dikelilingi oleh teman-teman yang menyenangkan, saling mendukung dan melindungi, saya bisa dengan cepat me-recover mood saya. Alias ga kelamaan bersedih-sedih. 

“Musik kayak gitu tuh buat didengerin pas kapan sih? Kalau lagi seneng, bakal bikin bete. Kalau lagi bete, dengerin musik macam gitu, ya makin depresi lah” petikan dialog film Ngenest.


Well ternyata, musik termasuk ke lingkungan yang mempengaruhi juga. Ketika sedih dengerin lagu minor, dijamin bakal tambah stress ya. Buat saya ini absolut. Musik bernada minor bikin mood saya berubah cepat. Melow, kalau kata anak jaman dulu. Baper, kata anak jaman sekarang. Padahal ya sebenernya, saat dengerin musik itu, saya nggak lagi sedih. Biasa aja. 


Tes  Kepribadian Galen VS MBTI

Nyontek dari Wapannuri, Claudius Galen membagi manusia ke dalam empat tipe kepribadian, yaitu Sanguinis, Koleris, Plegmatis dan Melankolis. Tapi pada dasarnya setiap manusia itu terdiri dari percampuran keempat kepribadian tersebut dan nggak ada yang bener-bener absolut, tapi salah satu/duanya akan dominan, yang menjadi kekuatan (strength) dan sisanya akan jadi kelemahannya (weaknesses). Dan hasil tes saya Plegmatis – Melankolis. Yep, saya tipe orang yang nggak suka dengan perselisihan, cinta damai, pesimis dan agak sensitif. 

Nah, saya pikir teori Galen ini nggak bersangkut paut sama MBTI yang membagi kepriadian manusia jadi 16 tipe. Ternyata justru MBTI merincinya jadi lebih gamblang. 

Menurut pengalaman, dengan berbagai penyesuaian, seseorang bisa punya hasil yang berbeda di waktu yang berbeda pula. Artinya, seseorang bisa berubah. Yes, perubahan yang lebih baik tentunya. Waktu pertama kali tes, saya INFJ (persis sama dengan hasil tes Galen). Tapi dites beberapa kali ternyata hasilnya bisa jadi INFP (pure phlegmatic)atau ISFP (phlegmatic-sanguine). Nah, sebetulnya saya lebih suka result yang terakhir. Seenggaknya masih ada sanguinnya lah, enggak melow banget gituuu. 

Sejak saya menikah, rasanya memang saya sedikit ketularan sisi sanguine dari suami yang sanguine – phlegmatic. Nah, kayaknya justru suami yang sedikit ketuleran sisi melancholic dari saya deh, jadi di waktu tertentu dia sempet gampang bete galau gitu, untungnya nggak lama. Aduh, melow-melow gak jelas itu memang nggak ada untungnya deh buat kami. 
Babyblues, melodramatic moment strike me back  

Sudah tau yang namanya babyblues dong ya? Memang, babyblues kebanyakan dipicu oleh faktor hormon yang tiba-tiba drop. Tapi kayaknya secara tidak langsung dipengaruhi juga oleh sisi melancholic seseorang deh. Coba dilihat lagi sisi negatif kepribadian melancholic di tabel atas. Yeeeaa, cepat kuatir, penakut, tidak punya motivasi. Bisa dibayangkan kalo ibu baru yang kepribadiannya melancholic pasti rentan terdeteksi babyblues. 

Kemarin, sehari sebelum menulis posting-an ini, saya tiba-tiba dilanda sedih yang entah datangnya dari mana. Terutama ketika saya melihat wajah baby saya. Umurnya 8 bulan sekarang, tumbuh dengan baik, mudah diajak senyum, jadi kalo dipikir-pikir ngapain saya sedih? (*nah mulai repot kannn!)😅

Memang saya punya alasan untuk baper, karena tetiba saya kepikiran waktu pertama kali babyblues dulu. Saya sempat kesal sama bayi saya karena telah merenggut waktu tidur saya. Ya ampun, cètèk banget ya… saya sempat berpikir apakah saya benar-benar siap jadi ibu, ngurus dua bayi (yang satu lagi bayi gede, alias suami hahaha). Which means saya harus menekan ego saya sekuat mungkin. Di titik ini, saya kok merasa seperti babyblues lagi gara-gara pernah ngerasain babyblues (mulai puyeng lagi ye kann). 

Lalu saya mulai teringat tes kepribadian saya itu. Kepribadian nyatanya bisa berubah menurut kebutuhan. Bener nih? Iyalah, tergantung dari kitanya mau apa enggak. And yesss, saya berhasil menghalau kegalauan dengan positive thinking, berhenti membiarkan sisi melancholic datang menghujam pikiran saya. Memang sisi melancholic bisa membuat sisi sensitif memunculkan empati yang tinggi. Tapi rasa empati bisa ditempatkan cukup pada waktu yang tepat aja kan, nggak harus sensitif sepanjang waktu. 

Dengan mengontrol sisi sensitif, saya merasa lebih baik. Saya jadi nggak terlalu melodramatic alias nggak berlama-lama bete karena suatu hal. Bete boleh, tapi kalau terlalu lama mendominasi, kita yang akan rugi sendiri. Kenapa? Coba bayangin kalo orang bete biasanya males ngapa-ngapain kan. Males makan, males pergi, males mandi (eh, yang ini bukan hanya karena bete sih hahaha). Di kondisi sekarang, akan rugi banget saya kalo enggak ngapa-ngapain. Saya harus makan (banyak) karena menyusui, dan saya harus ngerjain banyak hal karena nggak punya ART. 

So, bye bye my melodramatic side👋👋👋

Jangan sering-sering mampir yah. 

Ziel nyemplung perdana di kolam renang umum. Santai, gak panik. Untung tadi isinya kebanyakan anak kecil yg lagi les. Dan kolamnya gak berasa kaporit. Jadi aman buat Ziel nyilem.
#babyZ #6m10d

View on Path

Kalau Belum Siap, Jangan (dulu) Punya Anak

“Kalau engga mau ribet, mending gak usah punya anak deh,” kata teman saya, mother of two. 

Waktu itu saya cerita soal tetangga yang setiap hari hidupnya selalu RAME. Dalam arti sebenarnya. Tiada hari tanpa neriakin anaknya. Ya ampun, saya sama suami jadi suka ikutan spaneng dengernya. FYI, saya sama suami bukan tipe orang yang suka ngegosip atau menjelek-jelekkan orang lain. Tapi menurut kami, “kegiatan” si ibu tetangga itu bukan sesuatu yang perlu. SAMA SEKALI engga perlu dilakuin. Apalagi. Tiap. Hari. 😧

Kalau saya perhatikan, tetangga saya itu seringkali teriak atau ngomong pakai nada tinggi waktu ngajarin anak pertamanya belajar. Teriakan ini terdengar ke telinga kami kadang siang, kadang menjelang maghrib, kadang malem. Kayaknya sih anak pertamanya sekitaran kelas satu atau dua SD, sementara anak keduanya belum lancar ngomong, jadi saya asumsikan sekitar satu tahun-an. Dalam hati saya mikir, itu anaknya kalau diajarin belajarnya pakai nada tinggi dan dimarah-marahin, gimana mau pinter, yang ada malah keblinger. Dan suatu kali saya dengar ibu itu bilang, 

“Ngapain kamu gambar-gambar? Bukannya belajar malah ngegambar!!” Padahal menurut saya, yang namanya belajar itu gak bisa dilakukan underpressure. Jadi ya kenapa sih anaknya nggak dibiarin aja dulu ngegambar sampai puas, siapatau dia punya bakat seni di situ, setelah itu baru deh suruh dia fokus belajar. Tapi ya nggak perlu sampai dimarah-marahin kalau dia belum bisa jawab. Kalau setiap kali anak gak bisa jawab terus si ibu bentak-bentak, yang ada dia malah gak punya mood buat belajar. Bisa jadi nanti pas agak besar, belajar adalah hal yang dibenci oleh si anak. Salah-salah, kalau nggak membenci kegiatan belajarnya, dia bakal membenci ibunya. 

“Ketika orangtua berpikir buruk, maka energi negatif tersalur ke diri sang anak. Seakan-akan orangtua mendoakan anaknya selalu buruk. Apa yang mereka sampaikan berdasarkan proses berpikir mereka, sebab energi mengikuti pikiran,” kata Founder Spirit of Life (SOUL) Bunda Arsaningsih – dikutip dari Liputan6.com


Your Kids Will Hate You

Jujur aja, I will definetely hates my mom if I were him. Kenapa? Karena saya enggak suka lihat orang bentak-bentak. Apalagi saya sesekali dengar si ibu tetangga itu ngata-ngatain anaknya B*GO atau G*BLOK. Aduh mak, tega banget bilang anaknya sendiri bodoh, padahal si ibu lagi berusaha supaya si anak jadi pintar. That is so wrong. I feel so angry about it.😬 

Lalu, kebiasaan bentak-bentak itupun ia terapkan ke anak keduanya yang belum lancar bicara itu. Alhasil, saya sering dengar si balita ini teriak-teriak kalo lagi dibentak sama ibunya. Saya sih yakin banget mereka belum punya mental yang matang untuk jadi orang tua. Nanti, anak-anaknyalah yang akan menjadi korban. Anak-anak yang belum bisa berpikir dengan logika akan menelan kalimat yang meluncur dari mulut orang tuanya mentah-mentah. Semakin sering dia disebut bodoh, semakin dia akan merasa dirinya memang bodoh. Dan ini bahaya. Sebagai orang tua, sama saja dia sedang melakukan bullying terhadap anaknya sendiri. Dan menurut saya, anak tersebut sudah verbally abused. Apalagi kalau dilakukan terus-menerus. Beneran deh, kasihan banget kalau psikis anak harus dikorbankan untuk jadi tempat melampiaskan emosi. *Kayaknya ibu itu kurang piknik deh😥

Secara psikologis, mental anak bisa terganggu. Ada kemungkinan si anak jadi pendiam, merasa takut, atau malah jadi pemberontak dan berani melawan orang tua. Semakin si anak besar dan bisa menggunakan logikanya dengan benar, dia akan merasa masa kecilnya penuh tekanan dan tidak bahagia. Dan kita semua tau, kalau waktu nggak bisa diputar ke belakang.

Pic from quemas.mamaslatinas.com



Anak adalah Cerminan Orang TuaAda peribahasa, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Tidak ada anak yang akan tumbuh baik dalam ajaran yang melenceng, atau dalam perasaan tertekan. Peran orang tua sangat besar, karenanya parenting itu bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga ayah. 

Dorothy Law Nolte, Ph.D menulis dalam bukunya “Children Learn What They Live”: 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan (encourage), ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebenar-benarnya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan. “

Well, kalau cuma kata-kata, kelihatannya mudah ya, sedangkan penerapannya sangat rumit sekali. Tapi setidaknya semua itu bisa menjadi ilmu tambahan sekaligus guidance supaya kita sebagai orang tua senantiasa teringatkan bahwa having kids is not about us, but (totally) about them. Orang tua punya aturan, kedisiplinan dll tapi tetap, semua itu penerapannya disesuikan dengan karakter si anak. Semua hal yang akan kita ajarkan harus menyesuaikan mereka, tapi bukan berarti kita yang disetir sama mereka ya. 

Yang namanya baru punya anak berarti kita menjalani hidup dengan “alien”. Kenapa saya sebut demikian, karena setiap anak, meskipun masih bayi, dan dimulai dari bayi, pertama-tama akan terasa “asing” karena kita sama sekali belum mengenal mereka. In the beginning, they are totally strangers. Lambat laun seiring waktu, kita semakin tau kebiasaan-kebiasaannya, karakter dan sifat-sifatnya. Which is, raising kids is always about sacrifice and huuuge patience. Kalau belum ngerti atau belum bisa berkorban dan sabar, mungkin Anda termasuk dalam kategori orang yang belum siap punya anak. Dan saya sarankan untuk menunda dulu punya anak sampai merasa benar-benar siap. 

Anak Bukan Robot dan Bukan Orang Dewasa

Memang anak akan menirukan apa yang dilakukan orang tua, tapi karakter yang dibawanya akan mempengaruhi bagaimana dia meng-copy segala sikap kita di depan mereka. Artinya, tidak semua yang kita ajarkan akan dilakukan sama persis 100%. Jangan berharap seperti itu, karena dia bukan robot yang bisa diprogram dan hanya melakukan sesuatu sesuai program yang ditanamkan. 

Kids are not robot. Pic from http://www.salon.com

Anak akan meniru tindak-tanduk kita atau menuruti arahan kita dengan caranya sendiri. Namanya juga anak-anak ya, nggak mungkin dong bisa menyikapi sesuatu seperti halnya orang dewasa. Kita harus mengajarkan sesuatu dengan bahasa mereka, disesuaikan dengan umur dan karakter mereka. Hindari kata-kata yang membuat mereka tertekan, karena daya tahan mereka terhadap pressure berbeda dengan orang dewasa. Pokoknya jangan mengaggap mereka seperti orang dewasa deh. Dan yang terpenting, jangan terapkan kekerasan karena akan membuat psikis mereka semakin down. Intinya, untuk membesarkan anak, semua harus disaring melalui nalar (ilmu+logika) yang diiringi dengan kesabaran. Menyayangi bukan berarti memanjakan. Memberi hukuman bukan berarti harus dengan kekerasan.