Melancholic Disaster

​Pernah nggak sih tiba-tiba merasa sedih, tapi sebenernya kehidupanmu saat itu ya nggak sedih-sedih amat? Tau-tau kepingin nangis melihat sesuatu yang sebetulnya nggak bikin kamu sedih juga. 

 I feel sometimes I don’t know nor I don’t want to feel what I feel.

Ini nyebelin banget sih ya. Karena ada di titik tertentu saya jadi nggak tau sebenernya apa yang sedang saya alami atau rasain. Mood swing-nya parrraaah!

To be honest saya bukan orang yang suka drama-dramaan, terutama buat dipertontonkan ke seluruh dunia alias biar orang tau. Dan puji syukur hidup saya juga nggak se-drama-tis itu. Dalam postingan-postingan saya selalu punya alasan yang jelas kenapa saya menulis topik tersebut. Saya nggak pernah nulis sejenis postingan seolah-olah “saya pengen makan tapi bingung sebenernya saya makan karena lapar atau karena bete”. 

Jadi ibaratnya saya juga nggak akan bingung kenapa saya makan (udah pasti karena lapar), and of course saya nggk perlu masukan orang lain tentang apa yang ingin saya makan saat itu diakibatkan oleh kebingungan (yang mana kebingungan itu sebenernya bukan diperut tapi di otak). Saya tau kebutuhan makanan untuk perut dan untuk pikiran itu beda. Ya pokoknya gitulah.

Dulu, waktu awal kuliah saya bukan tipe orang yang bisa tiba-tiba sedih tanpa alasan. Tapi di satu titik terlemah dalam hidup, ternyata saya bisa jadi sejenis super melancholic person. Selidik punya selidik, ternyata lingkungan yang berperan serta di dalamnya. Ketika saya dikelilingi oleh teman-teman yang menyenangkan, saling mendukung dan melindungi, saya bisa dengan cepat me-recover mood saya. Alias ga kelamaan bersedih-sedih. 

“Musik kayak gitu tuh buat didengerin pas kapan sih? Kalau lagi seneng, bakal bikin bete. Kalau lagi bete, dengerin musik macam gitu, ya makin depresi lah” petikan dialog film Ngenest.


Well ternyata, musik termasuk ke lingkungan yang mempengaruhi juga. Ketika sedih dengerin lagu minor, dijamin bakal tambah stress ya. Buat saya ini absolut. Musik bernada minor bikin mood saya berubah cepat. Melow, kalau kata anak jaman dulu. Baper, kata anak jaman sekarang. Padahal ya sebenernya, saat dengerin musik itu, saya nggak lagi sedih. Biasa aja. 


Tes  Kepribadian Galen VS MBTI

Nyontek dari Wapannuri, Claudius Galen membagi manusia ke dalam empat tipe kepribadian, yaitu Sanguinis, Koleris, Plegmatis dan Melankolis. Tapi pada dasarnya setiap manusia itu terdiri dari percampuran keempat kepribadian tersebut dan nggak ada yang bener-bener absolut, tapi salah satu/duanya akan dominan, yang menjadi kekuatan (strength) dan sisanya akan jadi kelemahannya (weaknesses). Dan hasil tes saya Plegmatis – Melankolis. Yep, saya tipe orang yang nggak suka dengan perselisihan, cinta damai, pesimis dan agak sensitif. 

Nah, saya pikir teori Galen ini nggak bersangkut paut sama MBTI yang membagi kepriadian manusia jadi 16 tipe. Ternyata justru MBTI merincinya jadi lebih gamblang. 

Menurut pengalaman, dengan berbagai penyesuaian, seseorang bisa punya hasil yang berbeda di waktu yang berbeda pula. Artinya, seseorang bisa berubah. Yes, perubahan yang lebih baik tentunya. Waktu pertama kali tes, saya INFJ (persis sama dengan hasil tes Galen). Tapi dites beberapa kali ternyata hasilnya bisa jadi INFP (pure phlegmatic)atau ISFP (phlegmatic-sanguine). Nah, sebetulnya saya lebih suka result yang terakhir. Seenggaknya masih ada sanguinnya lah, enggak melow banget gituuu. 

Sejak saya menikah, rasanya memang saya sedikit ketularan sisi sanguine dari suami yang sanguine – phlegmatic. Nah, kayaknya justru suami yang sedikit ketuleran sisi melancholic dari saya deh, jadi di waktu tertentu dia sempet gampang bete galau gitu, untungnya nggak lama. Aduh, melow-melow gak jelas itu memang nggak ada untungnya deh buat kami. 
Babyblues, melodramatic moment strike me back  

Sudah tau yang namanya babyblues dong ya? Memang, babyblues kebanyakan dipicu oleh faktor hormon yang tiba-tiba drop. Tapi kayaknya secara tidak langsung dipengaruhi juga oleh sisi melancholic seseorang deh. Coba dilihat lagi sisi negatif kepribadian melancholic di tabel atas. Yeeeaa, cepat kuatir, penakut, tidak punya motivasi. Bisa dibayangkan kalo ibu baru yang kepribadiannya melancholic pasti rentan terdeteksi babyblues. 

Kemarin, sehari sebelum menulis posting-an ini, saya tiba-tiba dilanda sedih yang entah datangnya dari mana. Terutama ketika saya melihat wajah baby saya. Umurnya 8 bulan sekarang, tumbuh dengan baik, mudah diajak senyum, jadi kalo dipikir-pikir ngapain saya sedih? (*nah mulai repot kannn!)😅

Memang saya punya alasan untuk baper, karena tetiba saya kepikiran waktu pertama kali babyblues dulu. Saya sempat kesal sama bayi saya karena telah merenggut waktu tidur saya. Ya ampun, cètèk banget ya… saya sempat berpikir apakah saya benar-benar siap jadi ibu, ngurus dua bayi (yang satu lagi bayi gede, alias suami hahaha). Which means saya harus menekan ego saya sekuat mungkin. Di titik ini, saya kok merasa seperti babyblues lagi gara-gara pernah ngerasain babyblues (mulai puyeng lagi ye kann). 

Lalu saya mulai teringat tes kepribadian saya itu. Kepribadian nyatanya bisa berubah menurut kebutuhan. Bener nih? Iyalah, tergantung dari kitanya mau apa enggak. And yesss, saya berhasil menghalau kegalauan dengan positive thinking, berhenti membiarkan sisi melancholic datang menghujam pikiran saya. Memang sisi melancholic bisa membuat sisi sensitif memunculkan empati yang tinggi. Tapi rasa empati bisa ditempatkan cukup pada waktu yang tepat aja kan, nggak harus sensitif sepanjang waktu. 

Dengan mengontrol sisi sensitif, saya merasa lebih baik. Saya jadi nggak terlalu melodramatic alias nggak berlama-lama bete karena suatu hal. Bete boleh, tapi kalau terlalu lama mendominasi, kita yang akan rugi sendiri. Kenapa? Coba bayangin kalo orang bete biasanya males ngapa-ngapain kan. Males makan, males pergi, males mandi (eh, yang ini bukan hanya karena bete sih hahaha). Di kondisi sekarang, akan rugi banget saya kalo enggak ngapa-ngapain. Saya harus makan (banyak) karena menyusui, dan saya harus ngerjain banyak hal karena nggak punya ART. 

So, bye bye my melodramatic side👋👋👋

Jangan sering-sering mampir yah. 

Advertisements

2 thoughts on “Melancholic Disaster

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s