Kalau Belum Siap, Jangan (dulu) Punya Anak

“Kalau engga mau ribet, mending gak usah punya anak deh,” kata teman saya, mother of two. 

Waktu itu saya cerita soal tetangga yang setiap hari hidupnya selalu RAME. Dalam arti sebenarnya. Tiada hari tanpa neriakin anaknya. Ya ampun, saya sama suami jadi suka ikutan spaneng dengernya. FYI, saya sama suami bukan tipe orang yang suka ngegosip atau menjelek-jelekkan orang lain. Tapi menurut kami, “kegiatan” si ibu tetangga itu bukan sesuatu yang perlu. SAMA SEKALI engga perlu dilakuin. Apalagi. Tiap. Hari. 😧

Kalau saya perhatikan, tetangga saya itu seringkali teriak atau ngomong pakai nada tinggi waktu ngajarin anak pertamanya belajar. Teriakan ini terdengar ke telinga kami kadang siang, kadang menjelang maghrib, kadang malem. Kayaknya sih anak pertamanya sekitaran kelas satu atau dua SD, sementara anak keduanya belum lancar ngomong, jadi saya asumsikan sekitar satu tahun-an. Dalam hati saya mikir, itu anaknya kalau diajarin belajarnya pakai nada tinggi dan dimarah-marahin, gimana mau pinter, yang ada malah keblinger. Dan suatu kali saya dengar ibu itu bilang, 

“Ngapain kamu gambar-gambar? Bukannya belajar malah ngegambar!!” Padahal menurut saya, yang namanya belajar itu gak bisa dilakukan underpressure. Jadi ya kenapa sih anaknya nggak dibiarin aja dulu ngegambar sampai puas, siapatau dia punya bakat seni di situ, setelah itu baru deh suruh dia fokus belajar. Tapi ya nggak perlu sampai dimarah-marahin kalau dia belum bisa jawab. Kalau setiap kali anak gak bisa jawab terus si ibu bentak-bentak, yang ada dia malah gak punya mood buat belajar. Bisa jadi nanti pas agak besar, belajar adalah hal yang dibenci oleh si anak. Salah-salah, kalau nggak membenci kegiatan belajarnya, dia bakal membenci ibunya. 

“Ketika orangtua berpikir buruk, maka energi negatif tersalur ke diri sang anak. Seakan-akan orangtua mendoakan anaknya selalu buruk. Apa yang mereka sampaikan berdasarkan proses berpikir mereka, sebab energi mengikuti pikiran,” kata Founder Spirit of Life (SOUL) Bunda Arsaningsih – dikutip dari Liputan6.com


Your Kids Will Hate You

Jujur aja, I will definetely hates my mom if I were him. Kenapa? Karena saya enggak suka lihat orang bentak-bentak. Apalagi saya sesekali dengar si ibu tetangga itu ngata-ngatain anaknya B*GO atau G*BLOK. Aduh mak, tega banget bilang anaknya sendiri bodoh, padahal si ibu lagi berusaha supaya si anak jadi pintar. That is so wrong. I feel so angry about it.😬 

Lalu, kebiasaan bentak-bentak itupun ia terapkan ke anak keduanya yang belum lancar bicara itu. Alhasil, saya sering dengar si balita ini teriak-teriak kalo lagi dibentak sama ibunya. Saya sih yakin banget mereka belum punya mental yang matang untuk jadi orang tua. Nanti, anak-anaknyalah yang akan menjadi korban. Anak-anak yang belum bisa berpikir dengan logika akan menelan kalimat yang meluncur dari mulut orang tuanya mentah-mentah. Semakin sering dia disebut bodoh, semakin dia akan merasa dirinya memang bodoh. Dan ini bahaya. Sebagai orang tua, sama saja dia sedang melakukan bullying terhadap anaknya sendiri. Dan menurut saya, anak tersebut sudah verbally abused. Apalagi kalau dilakukan terus-menerus. Beneran deh, kasihan banget kalau psikis anak harus dikorbankan untuk jadi tempat melampiaskan emosi. *Kayaknya ibu itu kurang piknik deh😥

Secara psikologis, mental anak bisa terganggu. Ada kemungkinan si anak jadi pendiam, merasa takut, atau malah jadi pemberontak dan berani melawan orang tua. Semakin si anak besar dan bisa menggunakan logikanya dengan benar, dia akan merasa masa kecilnya penuh tekanan dan tidak bahagia. Dan kita semua tau, kalau waktu nggak bisa diputar ke belakang.

Pic from quemas.mamaslatinas.com



Anak adalah Cerminan Orang TuaAda peribahasa, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Tidak ada anak yang akan tumbuh baik dalam ajaran yang melenceng, atau dalam perasaan tertekan. Peran orang tua sangat besar, karenanya parenting itu bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga ayah. 

Dorothy Law Nolte, Ph.D menulis dalam bukunya “Children Learn What They Live”: 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan (encourage), ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebenar-benarnya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan. “

Well, kalau cuma kata-kata, kelihatannya mudah ya, sedangkan penerapannya sangat rumit sekali. Tapi setidaknya semua itu bisa menjadi ilmu tambahan sekaligus guidance supaya kita sebagai orang tua senantiasa teringatkan bahwa having kids is not about us, but (totally) about them. Orang tua punya aturan, kedisiplinan dll tapi tetap, semua itu penerapannya disesuikan dengan karakter si anak. Semua hal yang akan kita ajarkan harus menyesuaikan mereka, tapi bukan berarti kita yang disetir sama mereka ya. 

Yang namanya baru punya anak berarti kita menjalani hidup dengan “alien”. Kenapa saya sebut demikian, karena setiap anak, meskipun masih bayi, dan dimulai dari bayi, pertama-tama akan terasa “asing” karena kita sama sekali belum mengenal mereka. In the beginning, they are totally strangers. Lambat laun seiring waktu, kita semakin tau kebiasaan-kebiasaannya, karakter dan sifat-sifatnya. Which is, raising kids is always about sacrifice and huuuge patience. Kalau belum ngerti atau belum bisa berkorban dan sabar, mungkin Anda termasuk dalam kategori orang yang belum siap punya anak. Dan saya sarankan untuk menunda dulu punya anak sampai merasa benar-benar siap. 

Anak Bukan Robot dan Bukan Orang Dewasa

Memang anak akan menirukan apa yang dilakukan orang tua, tapi karakter yang dibawanya akan mempengaruhi bagaimana dia meng-copy segala sikap kita di depan mereka. Artinya, tidak semua yang kita ajarkan akan dilakukan sama persis 100%. Jangan berharap seperti itu, karena dia bukan robot yang bisa diprogram dan hanya melakukan sesuatu sesuai program yang ditanamkan. 

Kids are not robot. Pic from http://www.salon.com

Anak akan meniru tindak-tanduk kita atau menuruti arahan kita dengan caranya sendiri. Namanya juga anak-anak ya, nggak mungkin dong bisa menyikapi sesuatu seperti halnya orang dewasa. Kita harus mengajarkan sesuatu dengan bahasa mereka, disesuaikan dengan umur dan karakter mereka. Hindari kata-kata yang membuat mereka tertekan, karena daya tahan mereka terhadap pressure berbeda dengan orang dewasa. Pokoknya jangan mengaggap mereka seperti orang dewasa deh. Dan yang terpenting, jangan terapkan kekerasan karena akan membuat psikis mereka semakin down. Intinya, untuk membesarkan anak, semua harus disaring melalui nalar (ilmu+logika) yang diiringi dengan kesabaran. Menyayangi bukan berarti memanjakan. Memberi hukuman bukan berarti harus dengan kekerasan.


Advertisements

2 thoughts on “Kalau Belum Siap, Jangan (dulu) Punya Anak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s