Kenali Dirimu, Kenali Tuhanmu, Berbahagialah

Bahagia itu seperti sedih, datangnya dari HATI. Silakan selami hati masing-masing. Kalau nggak ada, coba cek di toko sebelah. 

happiness-is

pic by hipwee.com

* * *

“Kak, usiaku sudah mau kepala tiga, tapi belum juga menemukan jodoh,” ucap seorang perempuan kepada temannya. Karena perbedaan umur beberapa tahun, ia pun menganggap sang teman seperti kakaknya sendiri, karena ia tak punya kakak perempuan.

“Tenang dik, gaperlu risau. Di luaran sana masih banyak orang-orang dewasa, umur 30 bahkan mau 40, yang jangankan menemukan jodoh, menemukan jati diri dan Tuhannya saja belum,” ucap sang ‘kakak’

Si ‘adik’ terdiam. Belumlah ia percaya ada kenyataan seperti itu. Tapi ia beruntung tak tersasar sejauh itu.

“Jikalau kamu baik, percayalah kamu akan menemukan orang (jodoh) yang baik. Atau ditemukan oleh orang yang baik,” kata sang kakak lagi.

* * *

Dalam kehidupan, ada banyak perjalanan. Banyak pertemuan. Perpisahan. Kita mungkin sudah banyak melihat, banyak mendengar, banyak mengeksplor, tapi tak ada jawaban yang diinginkan.
Begitu banyak pertanyaan akan hadir di benak seseorang, mengenai apa saja yang ditemuinya, dirasakannya, diinginkannya. Sehingga seseorang itu mungkin saja perlu melintasi banyak daerah, mengunjungi banyak tempat, bertemu banyak orang, untuk menemukan apa yang ia cari. Menemukan jati diri.

Bisakah kebahagiaan dihadirkan oleh sejumlah uang? Belilah apapun yang kamu mau, pergi kemana pun kamu inginkan dengan uang tersebut. Tapi apakah kamu akan bahagia? Jikalau kedamaian dan kesyukuran belum menghampiri, saya hampir yakin, perjalanan sejauh apapun dan benda semahal apapun yang dibeli dengan uang tersebut hanya akan jadi sebuah ‘ritual’, sekedar barang tak bernyawa atau kegiatan/peristiwa, tanpa ada makna.

  • Pergi ke Raja Ampat, jauh dan pricey, tempatnya bagus banget, pondokan yang instagramable, senang riang, lantas ambil foto, cekrak-cekrek, posting, banyak like. Selesai.
  • Pergi ke Gunung Papandayan, dekat, murah, tidur di tenda, makan seadanya, pemandangan tak kalah indahnya. Tapi merasa damai, lebih dekat dengan Tuhan.
  • Kumpul sama teman-teman, nongkrong asik, makan-ngebir-rokok, begadang bareng, haha-hihi. Hepi. Besok-besok diulang lagi. Soalnya males kalau sendiri.
  • Nonton dvd di rumah, menikmati waktu luang di antara kesibukan & kepenatan. Syukur banget kalo udah berdua sama pasangan. Ngobrolin banyak hal, becanda-becanda. Cuddling. 

Sejauh apapun kau pergi, kebahagiaan tak akan kau temui, selain di dalam dirimu sendiri.

Bagi seseorang yang bisa memaknai sesuatu, ia takkan melihat sebuah peristiwa / benda tak sekedar sebagai fasilitas, tapi juga dapat menemukan arti yang mendalam. Kenapa bisa begitu? Karena ia tau dirinya sendiri, ia tau Tuhannya yang mengirimkan rasa itu padanya, dan juga segala ciptaan yang ia lihat.

Nikmati Setiap Fase Kehidupan
Menurut suami saya, setiap fase dalam kehidupan memiliki jangka waktu / batasan, arti, dan cara menikmatinya masing-masing. Ketika bayi kita tak ingat apa-apa, sebagai anak kecil cara kita menikmatinya ya dengan bermain-main, beranjak remaja mungkin kita sudah mulai cinta-cintaan, setelah bekerja kita menikmati hidup dengan mempergunakan hasil kerja keras, setelah menikah cara menikmatinya mungkin jalan-jalan berdua, kalau sudah punya anak cara menikmatinya ya dengan mengurus anak. Dan seterusnya.

“Tapi ada batasannya seseorang harus sudah move on. Artinya, kalau sudah di fase tertentu kita nggak akan bisa mundur. Untuk melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan, mungkin aja, tapi nggak akan rutin seperti sebelumnya, dan esensinya pun akan lain,” katanya.
Kalau dulu kita bisa hura-hura, di batasan usia tertentu hal itu sudah nggak ‘menarik’ lagi, nggak seru lagi, karena fase dan prioritas yang berubah. Yang dulu kita anggap menyenangkan belum tentu sama menyenangkannya di masa sekarang. Semua itu terjadi secara alamiah. Kita nggak bisa kembali ke masa remaja seperti film “17 Again”, dan nggak akan bisa untuk selalu 17 tahun. Sebagai manusia dewasa kita harus mengerti dan menerima kenyataan bahwa kita semakin tua. Semakin tua. Semakin tua. Lantas apa? MATI. Yap, semua manusia dan makhluk di bumi ini akan mati. Dengan meyakini hal itu, kita akan semakin meyakini keberadaan Tuhan. Dia yang menciptakan dan juga yang men-switch off segalanya.
Bagaimana memaknai kematian bagi mereka yang tak menemukan Tuhan di hatinya? Bisa jadi, sebenarnya mereka berasal dari keluarga yang religius, sejak kecil diajarkan agama, keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Tapi kemudian lingkungan dan pikirannya menjerumuskan mereka pada kondisi yang sedemikian rumit sehingga tak mampu atau tak mau menerima ‘jawaban dari Tuhan’. Sebagai muslim, saya meyakini segala sesuatu yang ada di bumi, setiap fase kehidupan telah diatur dalam kitab suci Al Quran. Begitu pula ketika pikiran kita ‘tersesat’, hal itu tak luput dari campur tangan-Nya.

Mengutip website quran.al-shia.org, ada beberapa ayat yang menerangkan hal tersebut:

  1. Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
  2. Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
  3. Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.
  4. Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Jadi, kata siapa kalau kita tidak (baca: belum) mengenal Tuhan, Ia tidak akan campur tangan dalam kehidupan kita? Setiap helai rambut yang rontok, kulit yang gosong, gigi yang kuning (*eh* hehe), setiap hela nafas, setiap kedip mata, gerakan tangan-kaki-seluruh tubuh kita, ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Semua itu cuma-cuma diberikan pada kita. Lantas kenapa kita selalu mengeluh, “AKU NGGAK PERNAH BAHAGIA”.

Bahagia itu Syukur, dan Bukan Gratis Kayak Hadiah Makanan Ringan

Hallo Jeng, Mas, Mba, Tuan, Puan, FYI ya, KEBAHAGIAAN ITU NGGAK GRATIS. Lha wong buang air aja banyak tempat yang mengharuskan bayar. Kalau semua keinginan manusia dikasih gratis, bukan kedamaian tapi yang timbul justru kekacauan. Gimana kalau ternyata banyak manusia yang tinggal di bumi ini lebih berbahagia di atas penderitaan orang lain, coba?

Tidak ada satu pun manusia yang bisa menentukan kebahagiaan manusia yang lainnya. Karena hal yang membuat seseorang bahagia belum tentu bikin orang lain juga bahagia. Buat saya, kebahagiaan adalah hal yang langka, ibarat berlian. Untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan, mungkin juga rasa pahit, sakit, sedih, depresi, putus asa. Sudah barang tentu, kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan tahu yang namanya kebahagiaan. Jadi kalau seseorang merasa sulit untuk bahagia, kemungkinannya ada dua : dia nggak pernah merasa sedih (banget), atau mungkin dia kurang bersyukur.

Dengan mengenal Tuhan, mengenal iman, kita akan senantiasa bersyukur. Jangan terlalu sering membandingkan diri dengan mereka yang “lebih”.

“Kok dia hepi-hepi terus ya hidupnya, barang-barangnya branded, stylish, punya mobil, rumah, gadget terkini, nongki blenji sana-sini, (*dalam hati, aku kok nggak?)” kalau kebahagiaan orang lain bikin kamu sedih, mendingan balik lagi jadi orok. Bahagia itu bukan cuma hal-hal yang bersifat duniawi.

Sering-seringlah melihat ke bawah dan merasakan kepedihan mereka yang “selalu sedih”. Tidakkah kita menyadari, bahwa di belahan bumi lain masih banyak orang yang terpaksa merasakan sedih sebagai “kegiatan sehari-harinya”. Kekurangan uang untuk beli beras, makan nasi kemarin cuma dengan garam dan sambal, harus rela anaknya keterbelakangan mental karena waktu hamil nggak mampu beli makanan bergizi, rumah gubuk tak mampu merenovasi– yang kalau hujan harus rela kebasahan karena bocor. Di belahan bumi lain itu, banyak yang kelaparan, busung lapar–badan tinggal kulit dan tulang, hidup dalam peperangan sehingga ditinggal orang tua ketika masih kecil. Sementara kita yang hidup berkecukupan, makan enak, kasur empuk, keluarga lengkap dan sehat, pekerjaan layak, bisa menginap di hotel-hotel, jalan-jalan ke luar kota (dan atau luar negeri), masiiiih aja mengeluh enggak bahagia. Hati mereka itu di mana ya? Selfish tingkat tinggi.

Remember, selalu ada alasan untuk bahagia. Paling tidak, merasa senang. Lihat sekeliling, lihat siapa yang mengisi kehidupan kita, bagaimana mereka peduli pada kita, kondisi badan dan kehidupan kita secara menyeluruh, dan lain sebagainya. Pasti selalu ada alasan untuk kita mensyukuri semua hal yang hadir di hidup kita sekarang ini. Kalau memang belum, mungkin kita belum maksimal mengejar dan memperjuangkannya. Tuhan akan menghadiahkan kebahagiaan buat mereka yang berjuang dan sabar melewati perjuangannya.

“Sebenernya yang bikin aku bahagia tuh ini, TAPI…….blablabla…..” bahagia itu nggak mengenal TAPI. Bahagia itu nggak instant. Karena yang instant (dan enak) cuma Indomie 😛

Indomie_Rebus_Ra_50f38909bfff5-500x500.jpg

Indomie paling enak ya rasa kari ayam *drooling #salahfokus (pic by indo.wsj.com)

Bahagia (Memang) Enggak Pernah Sederhana

Panjang perjalanan saya untuk bisa mendeskripsikan “arti bahagia” menurut saya sendiri. Untuk mengetahui kita sudah bahagia atau belum, kita harus mengenal diri kita sendiri. Yang terutama adalah mengetahui tujuan hidup (yang sejalan dengan prinsip), dari sana kita akan menemukan hal-hal yang bisa membuat kita senang, meresapi kesenangan kita, dan berujung rasa bahagia.

Mungkin karena kebanyakan nonton cerita Disney, saya pernah berpikir, bisa bersama dengan seseorang yang dikagumi akan membuat saya bahagia. Tapi ternyata menurut Tuhan nggak seperti itu, Tuhan nggak pernah mengijinkan saya pacaran sama laki-laki yang saya suka (*yailah curcol). Dulu sih saya kesel, kok Tuhan nggak mengijinkan saya untuk bahagia. Tapi akhirnya saya ngerti, kalau laki-laki yang indah dipandang mata, yang kelihatan bagus di kemasan luarnya (*ups) belum tentu laki-laki yang bisa membahagiakan saya.

*sambil nengokin orang-orang dari masa lalu buat berkaca dan berkata, “hey, mereka belum se-bahagia saya deh,” lalu tersenyum bangga. ha ha ha.

Bahagia itu proporsional, cukup (karena dalam kondisi kekurangan kita akan sulit merasa bahagia), dan tak berhenti bersyukur. Lebih dari itu, bahagia adalah hasil dari proses. Proses dan hasil berbeda-beda pada setiap orang (*kok kayak tulisan dalam kemasan produk ya ^_^). Bahagia memang nggak pernah sederhana. Tapi saya percaya, orang-orang yang menghargai proses akan lebih mudah bahagia daripada mereka yang hanya mengharapkan hasil akhir. Bahagia itu bukan pura-pura, jadi kalau kita lebih sering melakukan kepura-puraan, percuma aja, nggak akan berujung bahagia.

Abaikan aja hashtag #BahagiaItuSederhana kalau nggak sesuai dengan pandangan kita. Mereka-mereka itu hanya orang-orang yang (berusaha/sedang) menghargai hal-hal kecil dalam kehidupannya. Which is, engga ada salahnya juga kan?

Buat yang belum merasa bahagia, enggak pernah merasa bahagia, kalau udah mentok banget boleh deh dibantuin cari “Apa Itu Bahagia” di mesin pencari Google, siapatau nemu artikel-artikel yang mencerahkan. Misalnya ini :

Fakta-fakta Kecil Tentang Bahagia – hipwee

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s