Me and Maladaptive Daydreaming

Beberapa waktu ke belakang, saya berpikir keras. Berpikir keras kenapa saya selalu berpikir terlalu keras. Saking kerasnya, saya seringkali menambahkan cerita-cerita yang tak ada dalam hidup saya. Sebagian waktu saya habiskan untuk mengarang cerita-cerita yang mirip dengan cerita film, sinetron, dan sejenisnya. Di kehidupan sebenarnya, saya tak punya banyak teman. Saya tak punya teman-teman dekat, sehingga tak betul-betul ada teman yang memahami diri saya secara utuh. Apabila saya punya orang yang paling dekat yang bukan keluarga, biasanya saya merepotkan mereka dengan pemikiran rumit saya. Seringkali saya merisaukan hal-hal yang belum terjadi. Dan itu lebih sering merusak harapan yang seharusnya saya pakai untuk meraih hal yang saya inginkan terjadi.

Dalam bekerja, saya sulit sekali untuk berkonsentrasi. Terlebih ketika saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan meliput dan menulis, otot dan otak saya bekerja lebih sedikit dibanding sebelumnya. Sehingga otak saya lebih sering dipakai untuk menciptakan fantasi-fantasi yang berlebihan. Well, sebetulnya bukan fantasi dengan menciptakan tokoh-tokoh baru, tetapi lebih kepada memposisikan diri saya pada kondisi tertentu yang tidak menguntungkan. Hal ini yang membuat saya pesimis. Meski di sisi lain saya pun terkadang menciptakan cerita yang menyenangkan yang berbeda dari yang saya alami. Tapi intinya tetap saja, saya jadi merasa tidak benar-benar hidup.

Bertahun-tahun saya merasa ada kelainan, entah apa, berlebihan atau tidak saya merisaukan hal ini. Yang jelas, saya seringkali merasakan sakit kepala bila saya mulai berpikir terlalu keras, kemudian mengungkapkan kerisauan saya kepada seseorang, tapi kenyataannya apa yang saya alami berbeda, dan saya kemudian mulai menangis, sambil berpikir terlalu keras. Sampai pada satu titik saya merasa capek, kemudian ketiduran. Apabila pemikiran tanpa solusi ini terus mengganggu dan membuat saya tak bisa tidur, saya selalu membutuhkan pelarian. Entah dengan menonton tv, menulis jurnal harian, atau mendengarkan musik yang menenangkan. Jadilah ketika itu, playlist di ponsel saya diisi dengan lagu-lagu meditasi. Sampai saya menemukan satu lagu yang tak pernah saya bosan untuk memutarnya. Lagu itu menemani saya sedari berangkat kerja, dengan waktu tempuh perjalanan hingga dua jam, hanya lagu itu yang menemani. Begitu pula dengan waktu pulang kantor, dan ketika saya hendak tidur. Sayangnya beberapa bulan lalu ponsel saya hilang, dan akhir-akhir ini saya mengingat-ingat dan mencari-cari lagi lagu yang sama. It really helps me a lot.

Selama itu pula saya mencari-cari sebabnya, juga mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada saya. Sampai pada suatu waktu saya tak sengaja menemukan bahwa hal seperti ini memang merupakan kelainan. Bukan gila. But yes it’s beyond the normal thing. And it’s called Maladaptive Daydreaming. Yakni kondisi di mana seseorang bisa menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bermimpi, melamun, dengan menciptakan cerita-cerita yang mirip dengan cerita fiktif di film dan apa pun media yang ia tonton. Meski begitu, maladaptive daydreamer mengetahui mana yang fakta dan mana yang merupakan isi lamunan. Hal ini beda dengan orang penderita schizophrenia yang seringkali sulit membedakan mana yang realita dan mana yang mimpi/halusinasi.

Saya tidak mengalami halusinasi atau delusinasi, tetapi efek samping yang saya alami, beberapa di antaranya mirip dengan efek yang dialami penderita schizophrenia, mesti tidak separah yang mungkin mereka alami. Beberapa efek yang mungkin terjadi pada mereka, dikutip dari www.medicalnewstoday.com adalah kehilangan motivasi, kurangnya ekspresi bahagia atau sedih, menarik diri secara sosial, dan hambatan kognitif lainnya seperti sulit berkonsentrasi, sering lupa dan sulit mengingat berbagai hal.

Image       Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis dunia menyatakan bahwa melamun merupakan cara seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan fantasi-fantasi tersebut bisa jadi merupakan perpaduan antara harapan dirinya dengan penyelesaian yang normal secara sosial. Melamun sebenarnya merupakan proses kreatif, tetapi jika terjadi terlalu jauh, apa yang akan terjadi? Terlalu kreatif menjadikan orang berpikir di luar hal normal sih, betul. Terlalu banyak melamun membuat orang jadi ingin loncat ke tahap yang ia harapkan, padahal faktanya belum. Daydreaming may goes too far. Dan itu bahaya, menurut saya.

       Excessive daydreaming may begin as an outlet for creativity or as a method of escaping trauma or abuse. The daydreamers experience very vivid and intricate fantasies and may become emotionally attached to the characters in their fantasies or express emotions they are feeling through vocal utterances or changing facial expressions, although most keep such behavior hidden from others.

       Walaupun tidak lebih mengerikan dari schizophrenia, maladaptive daydreaming perlu dicari jalan keluarnya. Dari yang saya baca, ini terjadi tidak secara instant. Bisa jadi, dikarenakan trauma, ketakutan, atau hal-hal buruk yang terjadi pada masa kecil. Entah itu trauma fisik, emosional, atau tidak terpenuhinya kebutuhan emosional. Saya yakin bukan hanya saya saja yang memenuhi kebutuhan emosional, ketidak puasan, dengan cara melamun. Secara sosial, saya juga tidak bisa berbaur dengan baik dengan orang-orang. Saya lebih suka diam. Tapi di tempat lain, terutama orang yang baru saya temui, saya ingin dikenal sebagai orang yang berbeda, bukan orang yang pendiam lagi. Ini juga yang membuat saya kemudian sejak beberapa tahun lalu, mencari-cari media dan teman lain, yang betul-betul strangers. Symptomps yang terjadi bisa diliat di sini

Saya sendiri, memang belum bisa sepenuhnya mengontrol pemikiran ini. Sulit. Betul-betul sulit. Terlebih karena saya tidak punya dan tidak pernah berani untuk menceritakan segala sesuatu dengan gamblang. Teman-teman yang kenal sejak lama, saya punya, tapi tidak ada yang tahu sebenar-benarnya saya seperti apa. Hmm.. sebetulnya tidak sebegitu perlunya sih. Selama saya masih bisa meluangkan waktu untuk mengalihkan pikiran-pikiran itu. Saya yakin, satu-satunya jalan untuk mengurangi kegiatan melamun adalah mempekerjakan otot saya dan mengalihkan pemikiran saya ke lain hal. Image

Bukan tanpa sebab kalau di tahun ini resolusi saya ngetrip..ngetrip..ngetrip.. saya sebutkan tiga kali. Tidak lain karena saya paham bahwa diri saya punya kelemahan dalam hal mengontrol pikiran. Saya membutuhkan sesuatu, kegiatan atau apapun yang membuat diri dan pikiran saya rileks. Tidak peduli kalau kegiatan itu bisa membuat saya benar-benar lupa pada realita yang ada di hidup saya. Keluarga, teman, pekerjaan, pacar, apapun, saya bisa lupa semua permasalahan yang berhubungan dengan mereka. Lari, ya memang, saya tak peduli.

Ada beberapa possible treatments bagi para maladaptive daydreamer. Selain dituntut untuk menghindari hal-hal yang membuat saya menjadi melamun, saya juga sebaiknya membiasakan diri untuk tetap aktif. Ya, tetap aktif. Karena itu saya sejak tahun lalu membiasakan diri untuk berolah raga, berenang setiap minggu. Diusahakan seminggu sekali. Tapi jika tak memungkinkan ya bisa mengambil kegiatan lain supaya tetap aktif. Sebaiknya memang tidak membiarkan diri bermalas-malasan di tempat tidur, karena itu bisa memicu saya untuk kembali melamun. Walau sebenarnya, melamun bisa di mana saja. Setiap hari di jalan pulang kerja, saya juga selalu melamun. Makanya, sebisa mungkin saya memutar radio dan mendengarkannya sepanjang perjalanan pulang. Tapi perlu diingat, volume radio jangan sampai membuat telinga tidak bisa mendengar suara di luar., itu lebih berbahaya.

Sekarang ini, saya tak punya banyak keinginan selain membuat diri saya untuk bisa se-rileks mungkin, menikmati waktu yang saya punya, pergi ke manapun saya mau yang memungkinkan. Sesederhana itu. Masa depan, keluarga, pekerjaan, dan bla bla bla, dan bla bla bla.. biarlah berjalan semestinya. Karena tiga hal itu bisa jadi adalah trigger bagi saya untuk kembali melakukan exessive daydreaming. Artinya saya menceburkan diri kembali pada lingkaran yang tak berujung. Saya hanya perlu menyadari bahwa tak ada keluarga yang sempurna, tak ada hubungan personal yang sempurna, pun pekerjaan yang sempurna. Saya bukan dan tak akan pernah menjadi orang yang ambisius. Apa pun yang terjadi dan akan terjadi, ya sudahlah, terjadilah.. atau tidak terjadilah..

Bagi saya. Saya hanya perlu melanjutkan hidup. Dan hanya itu yang saya minta pada Tuhan : menjalani langkah demi langkah se-ringan mungkin.

Advertisements

4 thoughts on “Me and Maladaptive Daydreaming

  1. maladaptive daydreamer bisa menyebabkan mood swing juga ga ya ? kaya tiba2 marah dan ribut sama orang, tapi setelah itu nangis, dan besoknya seakan2 hal itu gapernah terjadi.. pengen deh bisa sharing bareng sama mbaknya. makasih

  2. Halo Audi. Thanks udah mampir ke blog aku ya. Kalo tiba2 marah sih kayaknya engga ya. Saya selalu punya alasan untuk marah sih. Mood swing, iya jelas, tapi makin kesini belajar buat ngontrolnya. Oya kalo mau sharing boleh ke email saya nenden.rahma@gmail.com siapatau ada yang bisa dibantu. Hope you’ll always be okay.

    Rgds,
    Nde

  3. hallo mbak.. pertama kali tau jika saya mengidap maladaptie daydreaming saya cuma bisa nangis ga percaya jika saya mengidap gangguan kepribadian. rasanya menyedihkan hidup seperti ini, tetapi juga sulit untuk lepas. karena rasanya hal semacam ini kurang masuk akal bagi orang lain yang tdk mengidap MD, sehingga saya tidak pernah bercerita pada siapa2 jika saya MD, saya berusaha mencoba menarik diri keluar dari kebiasaan, tetapi yg ada saya kelelahan menghadapi diri sendiri… begitu sulitnya untuk berdamai dgn diri sendiri..

  4. Halo Aisyah, makasih ya udah nyempetin singgah ke artikelku. Aku jg punya long story n struggle sama MD. Tapi syukur alhamdulillah sih engga bertambah parah dan enggak sampe terjadi hal-hal buruk. Ada saatnya memang lagi ngerasa terpuruk2nya. Saran aku, kalo emang punya waktu dan penghasilan lebih, luangkan buat jalan-jalan, traveling, naik gunung, ketemu orang-orang baru. Untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal negatif.
    Waktu pertama-tama punya anak aku sempet terserang lagi tuh, tapi alhamdulillah dgn mendekatkan diri pada Tuhan semua jadi lebih mudah sekarang dan aku udah bisa enjoy life sebener-benernya.

    Kalo kamu mau cerita, silakan email aku ya di nenden.rahma@gmail.com hope you getting well😘😘

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s