Baby Blues : Drama yang Terjadi Pada Ibu Baru

Having a baby is a true gift. Being a mother is a bless. But it doesn’t mean HAPPY ALL THE TIME.

Setelah menunggu selama kurang lebih sembilan bulan dan melahirkan, punya bayi adalah hal yang sangat membahagiakan buat seorang perempuan. Apalagi kalau prosesnya lancar dan melegakan. Pinginnya deket-deket dan cium-cium terus, menggemaskan! 

In the beginning of welcoming a baby, pastinya kita takjub banget. Kemarin-kemarin perut masih buncit, ke rumah sakit eeh tau-tau pulang bawa bayi. Kadang masih belum percaya kalau sekarang punya status baru : jadi seorang Ibu.

Calon ibu kebanyakan berpikir kalau melahirkan bayi bakal bikin hepi-hepi terus. Pada kenyataannya, usai melahirkan, seorang perempuan akan struggling melakukan penyesuaian sebagai ibu baru. Paling nggak, sebulan pertama jadi waktu yang paling ‘menyiksa’. *Jangan salah paham ya, ini bukan berarti kita nggak siap atau nggak ikhlas mengurus si bayi, tapi hanya soal proses aja.

Tiba-tiba ada seorang bayi di pelukan, tiba-tiba harus berkali-kali bangun malam hari untuk ganti popok dan menyusui, ASI belum keluar dengan lancar, mencuci baju bayi, merawat diri pasca melahirkan, harus menyiapkan kebutuhan suami, suami sangat sibuk di kantor, dll dll bisa bikin seorang ibu baru yang kecapean jadi melow. Ketika melihat bayinya sendiri bikin bahagia bercampur sedih, tiba-tiba (pingin) nangis, bahkan tau-tau udah nangis aja.

Pic credit by

wholemindwellness.wordpress.com

Gejala seperti ini dikenal sebagai sindrom baby blues. Banyak perempuan yang mengalami ini, termasuk saya. Seminggu setelah melahirkan, saya merasakan capek yang luar biasa secara fisik dan psikologis. Mengerjakan pekerjaan di rumah tanpa ART, perubahan hormonal yang drastis, ditambah suami yang sibuk kerja dan jadi agak cuek karena pulang ke rumah sudah dalam keadan capek. I feel drained. Beruntung, seminggu pertama mama mertua datang dan membantu beberapa kerjaan seperti masak, nyetrika baju bayi dan beres-beres. Meski akhirnya beliau harus istirahat karena kecapean yang menyebabkan typhus-nya kambuh. Ini juga jadi beban pikiran saya waktu itu, takut merepotkan. 
One day, waktu pulang kerja suami mendapati saya sedang memeluk Ziel sambil nangis. 

“Kamu kenapa..?” 

Saya diam nggak menjawab.

“Ada masalah sama mama?” 

Saya menggeleng. Cuma bisa diam membiarkan air mata mengalir di pipi.

“Capek ya….?” 

Saya mengangguk pelan. Suami saya diam. 

Tidak bermaksud lebay atau mendramatisir, tapi yang saya rasakan ada energi yang nggak bisa saya kontrol dalam diri saya. Seminggu sebelum melahirkan saya baru kehilangan Papa. Rasa sesal nggak bisa pulang karena sedang hamil besar, nggak bisa merawat di waktu-waktu terakhirnya, nggak bisa menyaksikan pemakamannya, sedikit banyak mengganggu kestabilan emosi saya. Tubuh yang masih begitu lelah, harus tetap bergerak mengurusi ini-itu, sambil merasakan nyeri di jahitan yang belum kering. Dan jujur saja, suami yang agak cuek karena kecapean kerja, bikin saya tambah sedih. Mama mertua yang begitu proaktif mengerjakan berbagai hal juga bikin saya parno sendiri, takut dibilang pemalas (padahal cuma pikiran saya aja). Sedangkan keluarga yang nun jauh di sana masih sibuk dengan pengurusan ini-itu, gono-gini dan tahlilan meninggalnya Papa.

Bagaimanapun capeknya laki-laki bekerja, nggak bisa dibandingkan dengan kondisi seorang istri yang baru melahirkan dan harus mengerjakan semuanya sendiri. 

And again, satu faktor yang paling nggak bisa dibandingin, itu faktor homonal *again, blame those hormones 🙈*. Secara fisik mungkin sama-sama terkuras energi dan emosi, karena suami juga kan menemani waktu saya melahirkan sementara kerjaan terus mengejarnya. 

Dalam prosesnya toh saya juga berbagi, supaya fair *buktinya saya berbagi ranjang rumah sakit dan saya tidur di sofa waktu menunggu kelahiran heheh. Seminggu setelah melahirkan, dengan kondisi badan yang masih lelah pun saya tetap melayani suami yang minta pijit. Ini yang baru lahiran aja belom dipijit lho ya, hohoho. 

Besoknya, waktu suami saya sedang kerja, saya kirimkan sebuah link untuk dia baca. Artikel yang menggambarkan kondisi saya saat itu. Setelah membaca artikel itu, barulah suami mengerti kondisi saya. Yang saya butuhkan adalah support dan bantuan. Kondisi memang memaksa kami nggak menggunakan bantuan ART. Alhamdulillah setelah mama mertua pulang, suami mulai membantu saya mengurus Ziel, mengganti popoknya dan mencuci baju sebelum berangkat kerja. *Bahkan sekarang mau bantuin masak, mandiin dan nyetrika baju Ziel. Seneng banget. prokprokprok 👏👏😆

Untungnya, saya nggak berlama-lama mengalami baby blues. Dukungan suami adalah hal terbesar yang membantu saya bangkit. Other than that, saya harus mengangkat diri saya sendiri dari keterpurukan. Dengan menepis pemikiran yang negatif, mengerjakan semuanya tanpa terlalu banyak mikir atau berasumsi, gak menggubris omongan-omongan miring atau apapun yang sekiranya bakal bikin saya down, sehingga kondisi tersebut nggak semakin parah. 

Sindrom baby blues kalau berkepanjangan bisa berubah jadi Post Partum Depression (PPD) di mana si ibu baru merasakan depresi yang lebih panjang dan mendalam. Di beberapa kasus yang cukup parah, si ibu malah merasa benci terhadap bayinya, gak mau merawat atau bahkan terpikir untuk menyakiti bayi yang baru dia lahirkan *serem😰. Saya pernah baca blog seorang perempuan yang mengalami PPD, and she really needs help. Bahkan walaupun dari luar ia kelihatan seperti perempuan yang kuat, kondisi yang jauh dari keluarga, melahiran dan merawat tanpa suami, dan harus menanggung biaya hidup sendirian, beban yang dipikulnya terlalu berat. Women with PPD needs a particular treatment, bukan hanya butuh dukungan dan bantuan keluarga tapi juga psikolog bahkan psikiater, tergantung segimana parah kondisinya. 

Saya bersyukur banget kondisi berangsur-angsur membaik. Sekarang Ziel sudah berumur satu bulan, perkembangannya pesat, ehat, dan lucu. Suami juga banyak sekali membantu, dan kita saling menguatkan. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi informasi tambahan buat para calon ibu, ibu baru, calon ayah dan ayah baru, atau kerabat yang baru punya bayi, untuk memahami adanya kondisi tertentu pasca melahirkan. Baby blues itu sama sekali gak dibuat-buat dan gak bisa ditepis sendirian. 

Untuk ibu-ibu yang nggak mengalami baby blues dan kondisinya lebih kuat, apalagi yang belum pernah mengalami, please nggak usah nge-judge “lebay”, “ngeluh mulu”, “jadi ibu koq ngeluh”, “nggak tulus/ikhlas ngurus anak”, “kalau nggak mau ribet ya nggak usah punya anak”, atau bilang “kayaknya belom siap deh jadi ibu” dan komentar-komentar miring lainnya. Terlepas dari kondisi yang bagaimanapun, bertemu dengan perempuan yang baru punya baby sepatutnya ya di-support ajalah, berempati itu jauh lebih baik. Selaiknya kasih tips atau masukan aja supaya si ibu baru ini juga bisa ‘ketularan’ tegar dan kuat melaluinya ketimbang bikin dia down. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat untuk sesama. Ya nggak?? 😄 

Tips Mempersiapkan Persalinan : Cerita Rock n Roll Jelang Kelahiran Ziel

 

Setiap kelahiran bayi punya ceritanya sendiri-sendiri. Pengalaman orang lain nggak akan persis apalagi sama. Terutama kelahiran anak pertama, banyak yang menginfokan kalau biasanya akan lama bukaan (kontraksinya). Cerita mama mertua waktu melahirkan suami, butuh hampir 24 jam sampai akhirnya lahir. Temen juga ada yang 20 jam ‘menikmati’ kontraksi.

 

*nggak heran kalau kakak saya ngeliat saya terlalu lebay karena baru bukaan dua udah stay di rumah sakit. Gak taunya memang Ziel lahir gak sampai 7 jam kemudian.

 

Nah, Seperti juga mempersiapkan penyambutan si jabang bayi itu sendiri. Mulai dari menyiapkan perlengkapan dan peralatan bayi, sampai menyiapkan kamar bayi (walau pada akhirnya banyak juga yang tidur barengan–sekasur bertiga– sama si bayi).

 

Semua tergantung bawaan si calon ibu (dan calon ayah–alias sepaket). Rata-rata memang menyarankan untuk menyiapkan perlengkapan bayi 4 minggu sebelum hari perkiraan lahir (HPL) si bayi.

 

Waktu hamil Ziel, saya sama sekali nggak kesusu (buru-buru.red) untuk beli perlengkapan bayi. Tiga minggu sebelumnya, kami masih jalan-jalan ke Balikpapan untuk mengisi liburan Idul Fitri, kondisi hamil tua nggak membolehkan saya naik pesawat untuk pulkam.

 

Saya dan suami santai banget. Baru dua hari sebelum persalinan (Sabtu), kami belanja perlengkapan bayi seperti hunting lemari baju bayi, keperluan mandi, popok, baju bayi, dll. Hitungannya sih memang harusnya tanggal tersebut adalah tiga minggu sebelum HPL. Besokannya (Minggu), baru deh membereskan kamar bayi, yang sebelumnya kami gunakan untuk menaruh barang-barang tak terpakai (semacam gudang). Sebenernya sih kamar itu juga disiapkan untuk kedatangan mama-mama kita nanti kalau datang menjenguk. Hari Minggu itu juga, saya baru mencuci sebagian baju-baju yang kami beli sehari sebelumnya. Tanpa disangka-sangka Ziel lahir keesokan harinya (Senin), sementara baju-baju yang baru dicuci belumlah kering. Akhirnya ya bawa baju yang belum dicuci juga. Hahaha..😄

 

Di hari kelahiran Ziel, kami sama sekali belum packing. Jadi begitu ada tanda-tanda mau melahirkan, kami hanya membawa perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan saya dan bayi. Sisanya ya dikira-kira aja kebutuhannya apa.

 

wp-image-1535740599jpg.jpg

List yang saya buat. Kurang lengkap

 

Belanja Peralatan dan Perlengkapan Bayi

Sebelumnya belanja, saya sempat browsing apa aja kebutuhan bayi baru lahir dan kebutuhan si ibu. Banyak banget ternyata, dan untuk belanja keperluan tersebut, kita harus mempersiapkan budget khusus. Gak harus semua dibeli, karena kebutuhan masing-masing gak persis sama. Misalnya nih, saya ngerasa gak butuh untuk beli pompa ASI, box bayi, stroller dan bouncer. Selain memberatkan budget (mahal-red), peralatan seperti itu nggak harus dibeli saat bayi baru lahir. Kalau memang butuh, bisa dibeli kalau bayi udah bisa diajak jalan-jalan. *Alhamdulillah ternyata ada kerabat yang menghadiahkan Ziel stroller dan baby walker. Rejeki anak soleh ya, Nak. Hehehe ✌

 

Setelah membuat list, taunya toko yang saya datangi ternyata udah punya list tersendiri untuk keperluan bayi baru lahir. Memudahkan memang, tapi sekali lagi, kita nggak harus beli semua. Lagipula, saya udah punya daftarnya sendiri, jadi tinggal checklist ulang aja ke daftar yang disediakan si toko.

 

wp-image-474028451jpg.jpg

List dari toko bayi. Membantu banget

 

Catatan tambahan

Menurut pengalaman saya dan beberapa teman, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum belanja keperluan bayi.

 

– Beli peralatan / perlengkapan yang bakal langsung dipake / dibutuhkan si bayi, seperti peralatan mandi, popok, baju, bedong dll. Dan sesuai yang saya tulis sebelumnya, peralatan seperti stroller, bouncer dan baby walker nggak usah dibeli dulu. Selain karena belum perlu, siapa tau ada kerabat / sodara yang bakal menghadiahkan, heehe.

 

– Awalnya saya gak niat beli botol dan pompa ASI. Karena saya ibu rumah tangga, jadi ASI bakal selalu disajikan langsung. Beda dengan ibu yang bekerja, yang perlu untuk menyediakan ASI selama meninggalkan bayi. Tapi pada akhirnya, karena kurang persiapan soal laktasi, saya mengalami mastitis (pembengkakan payudara) sampai badan meriang, dan memaksa suami beli pompa ASI manual untuk membantu pengeluaran ASI supaya lebih cepat dan mengurangi peradangan. Tapi sekarang setelah ASI lancar, pompa ASI jadi nggak kepake lagi 😕

 

*info soal laktasi ini bakal saya tulis di judul terpisah supaya lebih jelas.

 

– Kamar bayi dan box bayi. Lucu banget memang lihat box bayi yang terbuat dari kayu bercat putih. Elegan, dan emhhh.. pengen beli.. tapi mahalll. 😂

 

Pada akhirnya, saya memilih co-sleeping alias menidurkan bayi di sebelah saya, ketimbang beli box bayi –yang menurut pengalaman orang-orang juga kepake cuma sebulan. Alasannya, co-sleeping memudahkan untuk menyusui bayi dengan segera. Si ibu nggak perlu repot-repot bolak-balik bangun dari tempat tidur untuk menyusui, yang juga membutuhkan energi ekstra. Tinggal angkat bayi dan susui sambil bersandar deh.

 

Mempersiapkan kamar bayi juga nggak wajib, apalagi kalau suami bsa beradaptasi dengan siklus bayi yang nangis minta nenen setiap dua jam sekali. Tapi berhubung kami sudah punya kamar yang siap dipakai, sekarang saya dan Ziel tidur terpisah dengan suami. Alasannya, karena kebutuhan suhu AC yang berbeda. Suami biasa tidur dengan suhu dingin (20°C-23°C), sedangkan saya dan (terutama) si bayi nggak boleh tidur dengan suhu yang terlalu dingin. Batas amannya 25°C-26°C. Selain itu, dengan tidur terpisah, suami juga bisa istirahat lebih panjang dan lelap. Jadi bisa bangun lebih pagi buat nyuci bajunya Ziel, dan berangkat kerja juga nggak kekurangan energi hehe.

 

– Nggak ada salahnya untuk mempersiapkan semua kebutuhan 4 minggu sebelum HPL. Kalau-kalau terjadi seperti saya yang persalinan maju 2-3 minggu, jadinya udah siap tinggal angkut.

 

– Saya beli breastpad yang washable, jadinya lebih irit ketimbang beli yang sekali buang, karena harus ganti tiap hari.

 

– Beli baju tidur 6 pasang. Berhubung dapet baju ‘turunan’ dari ponakan, saya nggak beli baju banyak-banyak karena kepakainya juga cuma sebentar, nanti ukuran bayi bakal cepet banget berubah dan beli lagi dengan ukuran yang sesuai. Beli baju pergi juga nanti aja kalau 3 bulan dan udah bisa diajak jalan-jalan.

 

– Tetap pakai popok kain. Kasian debaynya kalau terus-terusan pakai popok biasa, kulitnya bisa merah-merah dan penanganannya lebih repot kalau udah bruntusan. Berkorban sedikit gapapa (terutama malam hari–alias pagi buta) untuk mengganti popok kain. Sebulan pertama Ziel full pakai popok kain. Baru setelah itu siangnya dia mulai pakai popok biasa yang diganti tiap empat jam sekali, sementara malem pakai popok kain. Terbalik sama orang-orang, yang memakai popok biasa pada malam hari, katanya supaya tidurnya nyenyak dan si bayi bisa membedakan antara malam dan siang. *Sebenernya nggak ngaruh ya menurut saya, karena nanti toh di bulan ketiga dan seterusnya dia bakalan terus pake popok biasa. 

 

Alasan saya memakai metode terbalik karena : Pertama, kalau malam, meski pakai popok kain pun dia bakal tidur lebih nyenyak karena memang jam biologisnya manusia 》 malam = tidur. Jadi kalau asumsinya pakai popok biasa si bayi jadi lebih nyenyak, berarti Ziel dapet tuh tidur nyenyaknya siang dan malam. Kedua, pakai popok kain malam hari bisa langsung dicuci pagi harinya. Siangnya kering, disetrika, jadi malemnya bisa dipake lagi deh. Kalau pakai popok kain siang hari, dicucinya mesti malem, dan dijemurnya tetep besij paginya kan. Jadi proses pengeringannya lebih lama, sedangkan kebutuhan popok kain itu harus cepat tersedia.

Mempersiapkan Fisik, Mental dan Finansial untuk Melahirkan

 

Saya nggak ada persiapan fisik khusus jelang persalinan. Selama hamil yang penting jaga kesehatan, makan makanan yang sehat (hindari MSG–tapi sesekali boleh, dikit aja hehe), minum vitamin tambahan kalo perlu. Saya nggak suka susu hamil. Selama 8 bulan plus, cuma habis satu box itupun ogah-ogahan. Lebih sering “malakin” susu Di*mond rasa stroberi punya suami, karena rasanya enakkk. Sesekali minum penguat tulang jaga-jaga untuk tambahan kalsium. Karena kabarnya, janin laki-laki ‘nyedot’ kalsium si ibu lebih banyak daripada anak perempuan. 

Olah raga cuma ngandelin senam hamil/yoga seminggu 3-5x tergantung mood, berenang cuma sempet 2x pas usia 5 bulan dan 8 bulan (3 minggu sebelum melahirkan, pake acara nyilem ke dasar kolam segala hahaha), dan jalan santai ngelilingin stadion tiga puteran cuma sempet 2x. Nggak ngoyo olah raga, yang penting jangan sampe nggak olah raga sama sekali alias malas waktu hamil. Saya sih udah lumayan banyak olah raga di dapur ya, cukup koq hehehe

Pas udah ada tanda-tanda melahirkan sih yang penting jangan ngelewatin makan, sekalipun lagi ngerasain kontraksi. Karena melahirkan itu butuh banyak energi. Sisanya, tiap kali suami ngulang-ngulang ngasihtau teknik pernafasan saat melahirkan, saya nggak terlalu dengerin. Cukup dikasihtau sekali, saya udah ngerti. Toh nanti juga tubuh kita bakal ngatur sendiri secara naluriah. Yang penting niatkan dan yakinkan diri kalau kita kuat. Naik gunung berhari-hari berjam-jam bisa, berarti melahirkan juga bisa doong, ahaha. *songong ✌
Persiapan mental / psikologis nggak kalah pentingnya. Bahkan menurut saya ini lebih penting. Saya percaya kalau si bayi di dalam perut bisa merasakan apa yang bumil rasakan. Itulah kenapa saya nggak mau lama-lama bersedih waktu papa saya meninggal seminggu sebelum persalinan. Tiga hari saya nangis-berhenti-nangis lagi, karena kasian debaynya kalau saya sedih terus, takutnya dia di dalem kebawa stres juga. Jadi, jangan stres.

 

Kedua, cari informasi sebanyak-banyaknya. Kita bisa tanya saudara atau teman mengenai pengalaman mereka melahirkan. Tapi sekali lagi, untuk prosesnya nggak akan sama. Informasi ini sebatas untuk tahu tahapan-tahapannya dan bagaimana kita menghadapi tahapan tersebut.

 

Cari info yang positif. Kenapa? Karena saya pernah baca blog pengalaman orang melahirkan tapi prosesnya koq sangat bikin si ibu stres, depressed dan amat tertekan mengalami semua itu — terutama rasa sakitnya kotraksi (yang berlangsung lama). Beruntung, saya juga nemu blog lain yang gaya berceritanya begitu melegakan dan sama santainya ketika melewati proses persalinan. Sama, blog tersebut juga menyarankan supaya kita (calon ibu) mencari info yang menenangkan.

 

Intinya, gak usah panik. Walaupun pengalaman saya bilang “Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit”, tapi kembali pada toleransi tiap orang terhadap rasa sakit itu sendiri berbeda-beda. Saya membayangkan rasa sakit yang teramat sangat, tapi Alhamdulillah pada prosesnya nggak se-sakit itu. Bayangin aja sakit hati yang tak terlupakan, diputusin pacar, diselingkuhin, ditikung teman, atau apa aja, siapa tau membantu. Ahahahha gak nyambung!

 

Pastikan pasangan (suami) juga punya bekal informasi dan siap jadi suami siaga. Ini berguna banget supaya si calon ayah punya bayangan gimana tahapan prosesnya, (yang terutama) sudah siap dan tenang mendampingi si calon ibu. Buat pasangan yang LDR, pastikan siap cuti dekat-dekat HPL. But btw, HPL juga bisa meleset, solusinya adalah begitu ada tanda-tanda mau melahirkan, langsung cuss deh pulang buat nemenin istri melahirkan. Pastikan juga nggak ada dinas luar kota dekat-dekat HPL atau di minggu-minggu terakhir. Suami saya ngambil waktu training ke Surabaya 3 hari di week 36-37, saya sempet kesel juga sih (lah koq curhat😅), dan waktu dia pulang, tiga hari kemudian saya melahirkan. Ini kalau persalinan maju seminggu lagi, saya bakal bener-bener ngelahirin sendirian. Aduh ga kebayang dehh..🙈

 

 

Kamar di RS, cukup memadai buat kita berdua

Pilih tempat yang paling sreg di hati. Buat saya yang tinggal di seberang pulau sama suami, sempat dilanda rasa galau mau melahirkan di mana. Beberapa teman menyarankan untuk melahirkan dekat dengan keluarga. Alasannya karena banyak yang bisa bantuin dan nemenin. Tapi itu artinya saya harus LDR-an sama suami selama beberapa bulan (seenggaknya lima bulan), dari usia kehamilan 7 bulan –batas aman bumil terbang, sampai bayi bisa dibawa dalam perjalanan menggunakan pesawat (tiga bulanan). Jujur aja, saya lebih nggak bisa jauh sama suami ketimbang sama keluarga. Lagipula, saya takut kalau-kalau saya justru bakal merepotkan mereka. Akhirnyalah, saya memutuskan untuk melahirkan di Samarinda, hanya ditemani suami. Bukan cuma soal ‘ada keluarga yang nemenin atau nggak’, pemilihan tempat juga didasarkan pada fasilitas kesehatan yang dipilih. Banyak juga orang yang lebih milih melahirkan di bidan, karena rata-rata biaya persalinannya lebih murah ketimbang melahirkan di rumah sakit. Bisa jadi begitu, dan bisa jadi karena udah nyaman juga, karena kebanyakan bidan itu ramah-ramah. Tapi (*amit-amit) kalau tiba-tiba terjadi apa-apa, ujung-ujungnya tetap dirujuk ke rumah sakit.
 

Ada cerita membahagiakan juga di balik pengurusan administrasi persalinan kemarin. Awalnya, resepsionis bilang asuransi hanya bisa meng-cover setengah dari biaya persalinan. Saya dan suami udah siap-siap dengan kenyataan, “Bakalan bayar cukup banyak nih (sekian juta),” tapi yaudah, yang penting bayi dan ibunya selamat, soal biaya gusah terlalu dipikirin. Waktu menyelesaikan administrasi pada saat chek out (cailah macem nginep di hotel LOL), ternyata biaya tambahan yang perlu dibayar hanya 200ribuan aja. Alhamdulillaahhh, rejekinya Ziel yaaah. *makin terharu dengan semua proses ini, hiks* Love you, nak. 😙

 

Segitu deh informasi yang bisa saya bagi. Mudah-mudahan bermanfaat, terutama yang sedang mempersiapkan kelahiran.

 

Cerita saya melahirkan Ziel bisa dibaca di SINI

 

Semangat moms! 💪💪💪

 

Salam,

 

@nderahma

Bahagianya Melahirkan Ziel

​It’s a Boy!

Alhamdulillah, Allah telah karuniakan kepada kami seorang putera yang sehat pada Senin, 25 Juli 2016 pukul 17.30 WITA di RS Haji Darjad Samarinda. Ziel lahir melalui persalinan normal dengan berat 2,9 kg dan panjang 50cm. 

*saya merampungkan tulisan ini di tengah pagi buta, menggendong Ziel yang baru selesai nenen. Sambil memandangi wajah polosnya yang sesekali tersenyum bahkan tertawa terkekeh dalam tidurnya. Love you, nak.
(Tapi lama-lama pegel jugak. Bobok sendiri ya, nak hihihi)

Lanjuuuut…..

* * *
Tanggal 25 Juli, sekitar pukul 01.00 menjelang tidur, seperti biasa saya Buang Air Kecil (BAK) karena frekuensi BAK yang semakin sering di bulan-bulan akhir kehamilan memang agak merepotkan. Saya dapati lendir bercampur darah di celana dalam, dengan jumlah yang sedikit. “Wah tanda-tanda nihh” pikir saya. Tapi dengan santai saya beranjak tidur, kayak nggak terjadi apa-apa. 

Terbangun pukul 04.30 karena kebelet BAK, ternyata lendir bercampur darah jumlahnya lebih banyak. Saya bangunkan suami untuk memberitahu. Suami nampak syok dan tersadar kalau benar itu tanda-tanda melahirkan. 
Agak bingung karena kami belum sempat packing untuk persiapan melahirkan. Jujur aja, kami baru belanja perlengkapan bayi 2 hari sebelumnya. Dan baru beres-beres kamar buat bayi sehari sebelumnya. Santai abis, LOL. Baju yang dibeli pun baru sebagian dicuci sehari sebelumnya dan belum kering benar. Akhirnya bawa bedong yang belum dicuci dan baju bayi peninggalan ponakan yang sudah dicuci seminggu sebelumnya. Baju yang baru dibeli masih menggantung di tempat jemuran *tutupmata*

Selesai Shalat Subuh, kami baru mulai packing. Gak banyak persiapan sih, bawa yang sekiranya perlu aja, tapi kami sempatkan untuk makan pagi soto + nasi sisa semalam. 
“Kita harus punya tenaga nih,” sahut saya dan diamini suami. Ingat ya, proses melahirkan gak cuma melibatkan si calon ibu, tapi juga calon ayah. Repot kan kalo suami tiba-tiba pingsan karena kelaparan waktu nemenin kita melahirkan. Maklum, suami suka gelisah dan cranky kalo lagi lapar. Hahahaha

Kontraksi sudah mulai berasa tapi sedikit-sedikit, jadi masih santai sarapannya. Setengah delapan pagi, suami mendaftar untuk cek dokter, kebetulan pagi itu dokter kandungan saya praktek juga jam 9 pagi. Sebenernya, hari itu memang jadwal cek bulanan kandungan, tapi biasanya kami datang di jam praktek malam. Tapi yaudah, sekalian aja deh. 
Setelah ganti baju (tapi lupa mandi hahaha), saya menunggu waktu untuk berangkat. Saya jalan-jalan di dalam rumah sambil baca-baca buku kehamilan sehat, kado dari teman suami *telat banget baca bukunya menjelang melahirkan ahaha. Sementara suami masih rebahan di kamar sambil tidur-tidur ayam. Ternyata waktu saya bangunin subuh tadi, dia agak kaget jadinya agak pusing, katanya.
Kami berangkat pukul 8.30, perjalanan ke rumah sakit sekitar 10-15 menit. Tapi dokter baru datang jam 9.30. Dapat urutan pertama, dokter memeriksa kandungan saya dan dinyatakan sudah bukaan dua. Berat badan janin (BBJ) waktu di-USG sekitar 2,4kg. Tapi dokter bilang kepala bayi sudah masuk panggul jadi kemungkinan BBJ lebih dari itu. Yang saya tau, memang BBJ untuk kelahiran normal (minimal & aman) itu 2,5kg. Jadi waktu dokter bilang gitu, saya nggak worry. Santai aja.
“Tipis ini (gatau deh yang dimaksud tipis itu lapisan apa). Gak lama lagi ini, Bu (bakal melahirkan-red),” katanya. “Langsung aja ke UGD terus booking kamar,” 

Di UGD, suster memasang jarum untuk infus, sementara suami yang takut jarum nunggu di luar. *badan doang gede tapi lihat jarum suntik langsung lemes hehehe. 

Sementara suami mendaftar untuk mendapat kamar, saya jalan muter-muter di lobby rumah sakit, sambil ngajak ngobrol debay di perut. 
“Bantu amih ya, lancar ya nak keluarnya,” saya ulang-ulang kalimat tersebut. Dari sejak usia kandungan 8 bulan selalu saya bisikkan ke perut seperti itu. 

Katanya sih, jelang melahirkan harus jalan-jalan kecil supaya pembukaannya cepet. Kontraksi masih 10 menit sekali. Setelah dapat kamar, kami masuk dan masih sempat foto-foto, cengangas-cengenges, sambil nonton tv. Keluarga di Jakarta pun sudah kami kabari. Jam 11, suami minta ijin untuk pulang dulu, mandi dan beli makan siang. Maklum, perut gabisa laper dikit hehehe. Sekalian, mau ambil barang-barang yang ketinggalan seperti bantal, selimut, sekalian juga mau beli kasur lampung buat mama mertua yang mau dateng besok (*rempong amat, zzzz -_-“) 

Antara jam 12 siang sampe jam 1, mulas naik dari 10 menit sekali jadi 5 menit sekali. Saya pun minta suami untuk cepet-cepet balik ke RS. Waktu saya mengabari kedua kakak perempuan saya, mereka punya pendapat beda, yang satu bilang lahirannya gak bakal lama (terhitung sejak keluar flek), satunya lagi malah “ngeledek” saya karena terlalu terburu-buru ke rumah sakit. 
“Palingan juga baru melahirkan besok subuh atau pagi,” katanya. Mama mertua juga memprediksi kalau saya bakal lahiran besok paginya. Well, pendapat dan pengalaman orang kan beda-beda ya. Kami sih ambil jalan amannya aja.

“Maklumlah anak pertama, takut gimana-gimana, kalo standby di RS kan gampang. Kalo brojolan di jalan khan repot,” jawab saya. 

Hmm.. kalo ternyata baru melahirkan besok, memang jadinya kelamaan di RS. Lumayan kan, irit bayar sehari di kamar VIP. Hehehe *ibu-ibu mode on

“Tapi kalo dibayarin asuransi kantor sih tenang aja,” timpal kakak saya lagi. Sementara kakak saya satunya lagi gak banyak ngomong, cuma mendoakan supaya lahirannya cepat dan lancar. 

“Langsar lungsur, ya. Moga lahirannya lancar,”

Selesai makan siang, shalat zhuhur, saya dan suami masih ngobrol ketawa-ketawa. Bahkan kami masih sempat tidur. Saya tidur di sofa, sementara suami tidur selimutan di ranjang dengan lelapnya. Hisshhh, yang mau melahirkan siapa, yang tiduran di kasur siapa -_-” *maklum, kami menganut prinsip kesetaraan, jadi ya gak jarang saya ngalah untuk suami dan sebaliknya. Demi kebaikan bersama hehe. 

Enak yaa boboknyaa 😅

Singkat kata, jam 15.30 saya terbangun dari sofa karena pingin BAK. Gak taunya, waktu berdiri saya rasakan ada air yang merembes di celana. Saya bangunin suami untuk panggilkan suster, takutnya saya pecah ketuban duluan. 
“Rebahan, Bu. Sudah tidak boleh jalan-jalan lagi,” katanya. Setelah diperiksa, ternyata baru bukaan tiga. Walaupun saya nggak tau itu beneran pecah ketuban atau bukan–saya mah orangnya manut aja hehe. Saya mengganti celana dengan kain batik (supaya gampang dilepas) dan suster melapisi badan saya dengan popok dewasa, supaya nggak rembes ke kasur. 

Rembes…

Sambil menikmati sensasi mulas yang belum naik frekuensinya, masih 5 menit sekali, saya mencoba untuk tidur, takutnya bakal lama. Gak pingin dong kalau nanti saya terlalu ngantuk dan gak punya energi untuk mengejan. Sekira pukul 16.00 saya merasa frekuensi mulas lebih kencang, jadi saya minta suami panggilkan suster lagi.
“Gak boleh sering-sering dicek, Bu. Paling nggak 6 jam sekali dicek (pembukaan),” katanya. Wah, berarti bukaan selanjutnya baru enam jam lagi? Pikir saya. Kedua adik ipar menelfon dan videocall bergantian. Awalnya sih oke-oke aja, lama-lama risih juga vcall-an sambil nahan mules. Bikin hilang konsentrasi hahaha… 

Suami pun menunggui saya sambil browsing-browsing, cari info tentang proses melahirkan.

“Katanya sih yang paling sakit itu di bukaan 9 ke 10,” duh, kok infonya bikin parno ya. Suster cuma bilang, (boleh) panggil lagi kalau rasa sakitnya seperti orang mau BAB yang benar-benar nggak tertahankan.

Jujur aja, saya nggak punya bayangan gimana rasanya mulas mau melahirkan. Dokter bilang, 
“Seperti sakit waktu mens, tapi jauh lebih sakit,” katanya. Saya yang nggak pernah merasakan sakit perut hebat kalau lagi mens, masih bertanya-tanya, segimana dahsyatnya kah rasa sakit (mulas) itu. Saya pun mengingat-ingat rasa perut yang super melilit kalau kebanyakan makan cabe. Terus, saya juga gak punya bayangan gimana rasanya sakit waktu melahirkan. Otak saya pun menginstruksikan untuk mengingat-ingat rasa sakit “di bawah sana” waktu pertama-tama berhubungan setelah menikah. Waktu itu saya rasakan miss V sakit dan panas seperti terbakar karena infeksi jamur, sampai-sampai meringis kesakitan, seperti disayat-sayat. 

Frekuensi kontraksi semakin sering, dan begitu “nikmatnya” rasa mulas itu, saya nikmati sambil berdzikir, ga ada hal lain yang bisa saya lakukan, saya cuma minta kekuatan sama Allah. Jam 5-an sore saya minta suami panggilkan suster karena saya udah ngerasa gak tahan banget kayak pingin pup. 
“Beneran gak bisa ditahan sakitnya?” Suami memastikan, karena terkahir kali suster bilang estimasinya 6 jam ke pembukaan berikutnya. Takut-takut susternya judes karena nggak percaya dan ngerasa rempong dipanggil-panggil mulu. 

Suster yang datang beda dengan suster sebelumnya. Sang suster pun memeriksa bukaan dan dinyatakan sudah bukaan 8. Wohhh, cepet. 
“Kita ke ruang bersalin, ya Bu,” suster pun bergegas mengambil kursi roda dan membawa saya ke ruang bersalin yang letaknya sekira 10-15 meter dari kamar. 

Sampai di ruang bersalin, sudah ada empat orang suster dan dokter kandungan saya di sana. Saya naik ke bangsal melahirkan. Gak lama, dokter memeriksa bukaan saya dan dinyatakan sudah bukaan 9. Sementara mereka masih siap-siap, dokter bilang supaya saya nggak mengejan dulu, karena bukaan belum lengkap. 

Kebayang ya seperti pingin banget pup tapi gaboleh mengejan. Saya diminta untuk mengatur nafas dan gak henti berdzikir. Gak lama, palingan 5 menit kemudian saya merasa bener-bener nggak bisa nahan pingin mengejan. Dan dokter pun bilang bukaan sudah lengkap. Kepala bayi juga sudah kelihatan. 
“Dorong. Tarik nafas. Dorong,” instruksi-instruksi dokter pun diulang sama suami, yang mendampingi di samping saya, sambil mengabadikan kelahiran Ziel dengan ponselnya. Hanya dua kali mengejan, Ziel pun lahir ke dunia. Tangisannya nggak begitu kencang, tapi melegakan. Cepat banget, gak sampai setengah jam. 

“Sudah Bu jangan mengejan lagi. Batuk aja, batuk(-in),” 

Alhamdulillah lancar – cepat – nggak sakit**. Setelah disedot air ketubannya dengan pipet, Ziel diperlihatkan ke saya. (**intensitas dan ketahanan orang berbeda-beda terhadap rasa sakit)
“Anaknya laki-laki ya Bu,” sambil saya kecup pipinya. Kemudian Ziel dibawa ke ruang bayi utuk dibersihkan, sementara dokter masih mengeluarkan plasenta dari perut saya.

Rasanya hangat waktu plasenta itu dikeluarkan. Sekaligus rasanya ada yang hilang dari perut saya. OMG, perutnya mengerut dan mengendur. Malah hal-hal bodoh seperti itu yang muncul di pikiran saya. Satu lagi yang terlintas, otak saya bilang, “Okay, I’m ready for baby number two (anak kedua),” yahh ilaahh, konyol banget kan, hahaha. Sayangnya nggak ada Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang langsung dilakuin begitu bayi dilahirkan. Padahal video-video yang pernah saya tonton sih begitu, paling nggak 30 menit sampai satu jam setelah bayi dilahirkan. Saya diminta menunggu dua jam di bangsal melahirkan, ditemani suami. Katanya untuk memantau apakah saya mengalami pendarahan (hebat) atau nggak. Alhamdulillah, darah yang keluar hanya darah nifas biasa. Saya pun dibawa kembali ke kamar dengan kursi roda. 
Suami saya keluar lagi untuk beli makan malam. Maklum, rumah sakit kan hanya menyediakan makan untuk saya saja. Sekalian ambil guling dan baju Ziel yang baru kering, karena estimasi kami bakal stay sampe 2-3 hari di RS. Waktu Ziel diantarkan ke kamar jam 19.30, suster seperti keheranan.
“Ibu sendirian aja? Suaminya mana?” Seakan-akan dia gak habis pikir kok orang melahirkan (ditinggal) sendirian.

“Lagi keluar sebentar sus,” 

Dia pun menginstruksikan saya untuk menyusui Ziel dan menyarakankan posisi yang nyaman untuk menyusui. Tapi yaudah, abis itu dia keluar lagi. Hmmm.. memang suster di sini agak-agak jutek apa gimana sih, pikir saya. 

Well, saya nggak ambil pusing. Kebahagiaan kami sudah ada di pangkuan. Saya mencoba menyusui dia, meski yang keluar baru cairan bening kekuningan yang disebut kolostrum. Memang, katanya ASI yang sesungguhnya baru bakal keluar 2-3 hari setelah melahirkan. Sementara itu, bayi cukup minum kolostrum yang fungsinya gak kalah penting untuk imunitas si bayi. Malamnya, Ziel bangun beberapa kali, dan suami pun ikutan kebangun. Akhirnya, daripada repot ngangkat-nurunin Ziel ke box bayi, saya tidurkan dia di sebelah saya. Barulah dia lebih tenang dan gak sering nangis.
Besoknya, setelah Ziel diperiksa golongan darahnya, dokter anak dan dokter kandungan datang ke kamar. Mereka menyatakan kami udah boleh pulang. Yap, hanya sehari setelah melahirkan. Jadilah barang-barang yang banyak itu dibawa pulang lagi. (Btw selain kasur lampung, suami bawa 2 bantal dan juga guling–tapi dia malah lupa bawa celana buat tidur. Azzzzz -_-“) 
Setelah urusan administrasi selesai jam 11-an, kami masih nunggu teman-teman kantor suami yang mau datang menjenguk, baru setelah itu sekira pukul 3 sore kami pulang. 

And guess what… begitu nyampe ke rumah, yang kami lakukan adalah beres-beres. Nyapu,  ngepel, dll karena mama mertua bakal datang jadi rumah harus bersih. 
Aduh mak, aku baru melahirkan lho ini…

* * *
Ziel lahir 2-3 minggu lebih cepat daripada perkiraan HPL dokter. Bahkan waktu pertama kali cek pas usia kehamilan 5 minggu, prediksi HPLnya tanggal 25 Agustus, yang mana di hari ini Ziel udah berusia satu bulan. 

Namanya juga takdir. Meski dokter sudah punya prediksi, tapi kekuatan dan kekuasaan terbesar hanya milik Allah. Dia-lah yang paling tau kapan waktu terbaik. 
Ziel lahir 6 hari setelah kakeknya– papa saya, meninggal. Mungkin Allah percepat kelahiran Ziel untuk menghibur supaya saya nggak lama-lama bersedih. Walaupun memang, rasa sedih itu sempat meremukkan hati saya. Selama tiga hari, saya yang waktu itu ditinggal suami dinas ke Surabaya, harus menanggung kesedihan sendirian. Gak bisa pulang ke Jakarta menyaksikan penguburan papa, suami pun gak bisa pulang karena tiket Surabaya-Balikpapan maupun Surabaya-Jakarta waktu itu full sampai dua hari kemudian. 
Dalam seminggu, rasa sedih berubah menjadi cita, duka pun berubah menjadi suka. Betapa kuasa Allah tak bisa kita kira. Begitu juga dengan prosesnya, ga nyangka bakal secepat itu. Bener-bener doa dan usaha kami dimudahkan. Terhitung dari kontraksi-kontraksi kecil, gak sampai setengah hari, Ziel udah lahir. Gak sampai 24 jam, kami udah diperbolehkan pulang oleh dokter. Denger pengalaman orang lain, bahkan ada yang 20-24 jam bayinya baru lahir, dan baru 2-3 hari (persalinan normal) baru bisa pulang dari RS. Melahirkan berdua aja sama suami, gak masalah. Buktinya kita bisa hehe..

Dari mulai hamil, melahirkan, sampe sekarang, Ziel baik banget, sama sekali nggak nyusahin atau rewel. Kadang-kadang saya suka terharu sendiri deh hihi. Mudah-mudahan sampai besar selalu kooperatif ya, nak. 

Gini nih kalau Ziel ketawa terkekeh pas lagi bobo. Ucul!😙

You are the star in our heart. Grow well, my darling. We love you so much.

Jalan-jalan Sore ke Kota Tenggarong

“Nanti mau berangkat jam berapa?” tanya saya.

“Jam sebelasan lah, kan perjalanan cuma sebentar, setengah jam,”

Kemudian sampai jam 12 lewat kami masih leyeh-leyeh di kasur. Maklum, weekend terutama Hari Sabtu paling enak buat tiduran sampai siang. Apalagi buat para pekerja seperti suami, akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk santai-santai dan bermalas-malasan, hehe.

Akhirnya baru jam tiga sore setelah makan siang, kami baru berangkat ke Tenggarong. Saya pikir kami bakal kemaleman pulang dari sana. Tetapi mengingat hitungan waktu yang lebih cepat daripada Jakarta, jadi sampai pukul enam sore, di Kalimantan ini suasananya masih seperti sejam lebih lambat.

Setengah empat lewat, kami sudah sampai di Tenggarong dan berputar-putar sekitaran kota, kantor pemerintahan, dan taman. Secara keseluruhan, tata kota di Tenggarong lebih rapi daripada Samarinda. Well, kalo dibandingkan dari segi luas kota sih Samarinda jauh lebih luas. Kalau dilihat-lihat, Kota Tenggarong mirip sama kota-kota kecil di Pulau Jawa. Meski kecil, tapi tetap rapi dan bersih.

IMG_4583[1]

Jembatan Tenggarong

Begitu masuk kotanya melalui Jembatan Tenggarong, kami disambut oleh kawasan CBD (pusat bisnis) yang berada dekat dengan kantor walikota dan kantor pemerintahan lainnya. Pandangan kami pun tertuju kepada Creative Park yang berada di pinggir Sungai Mahakam, berseberangan dengan Pulau Kumala.

IMG_4579[1].JPG

Pulau Kumala yang terletak di seberang

Meski tak se-panjang keseluruhan taman di pinggiran Kota Samarinda, tapi Creative Park Kota Tenggarong terlihat lebih bersih dan teratur. Banyak mainan untuk anak-anak seperti skuter dan mobil remote control. Di beberapa bagian juga terdapat tenda-tenda penjual makanan.

Dari creative park, kami bergeser sedikit untuk duduk-duduk di pinggiran sungai sambil menikmati angin yang berhembus. Banyak orang-orang lain, baik pasangan maupun berkelompok yang duduk-duduk santai, istilahnya nongkrong-nongkrong di pinggir sungai.

Kata suami, Kota Tenggarong ya segitu aja, gak ada mall dan sejenisnya.

“Mungkin orang Tenggarong kalau nonton film ya perginya ke Samarinda,” katanya.

IMG_4585[1]

Creative Park Kota Tenggarong

Overall, saya suka kota kecil ini. Memang tak banyak tempat hiburan, tapi keteraturan sangat terjaga. Dulu, saya sempat kepikiran gimana rasanya tinggal di kota-kota kecil di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, kota yang tak terlalu hingar-bingar, yang penting rapi, teratur dan banyak makanan enak, ha ha ha…

Walau bagaimanapun, sekarang diberi “jatah” untuk tinggal di Samarinda, kami bersyukur aja. Kotanya luas, meski kurang teratur dan pusat bisnisnya ada di kota tetangga (Balikpapan), tapi gak ada polusi dan macet seperti yang kami alami kalau tinggal di Jakarta.

Bakmi Enak di Samarinda : Depot Mie Pangsit Jakarta

Sudah pindah jauh-jauh ke Samarinda, ujung-ujungnya nyari Bakmi Jakarta juga. Hahaa. Bukan tak sengaja. Dari awal hamil, saya selalu penasaran untuk menemukan mi ayam yang enak di Samarinda. Sudah coba di sana-sini, dari yang mi ayam kampung sampai yang modern, belum ada yang benar-benar cocok. Sampai akhirnya coba mi ayam di Depot Mie Pangsit Jakarta, di Jl. P. Sulawesi No.21, Samarinda.

Menawarkan Bakmi ala Jakarta (menurut judulnya), letaknya di Jalan Sulawesi, tapi adanya di Samarinda. Lucu juga sih. Seperti biasa, suami yang punya informan tentang segala hal di Samarinda, mengajak saya ke Depot Mie Pangsit Jakarta atas pemberitahuan sang teman.

IMG_3842

selesai makan pas di waktu depot tutup

Usut punya usut, Depot Mie Pangsit Jakarta ternyata merupakan salah satu tempat mi ayam legendaris di Samarinda. Menurut informasi dari banyak sumber, Depot Mie Pangsit Jakarta dirintis sejak tahun 70-an, dan saat ini usaha dijalankan oleh generasi ke-tiga mereka.

Tempatnya tidak begitu besar, tapi selalu ramai. Menyediakan beberapa set meja dan kursi, Depot Mie Pangsit Jakarta ternyata hanya buka sampai pukul 17.00 atau mirip dengan office hour. Di Samarinda, memang banyak toko dan tempat makan yang memberlakukan jam buka sama seperti orang kantoran.

Seporsi mi ayam di Depot Mie Pangsit Jakarta terdiri dari semangkuk mi telor dengan taburan ayam suwir, kuah kaldu berisi dua buah bakso yang disajikan terpisah. Kuah kaldu dan baksonya enak. Rasa mi-nya juga gurih. Sayangnya, mi yang disajikan tidak sesuai dengan gambar. Saya berharap mereka menyajikan mi pipih sesuai dengan foto di spanduk depan, tapi ternyata yang datang adalah mi telor. Meski begitu, bau khas terigu pada mi sudah hilang, karena mereka mencampur dengan minyak (bawang / ikan).

Di meja makan, Depot Mie Pangsit Jakarta menyajikan pelengkap acar timun dan acar cabe rawit hijau seperti depot-depot chinese food kebanyakan. Well, buat saya sih mi ayam cukup diracik dengan sambal rawit dan kecap aja. Kalau rasa aslinya sudah enak, nggak pakai racikan tambahan pun akan tetap terasa enak, terutama kuah kaldunya.

Seporsi mi ayam di Depot Mie Ayam Pangsit Jakarta dibanderol Rp 18.000 – Rp 26.000, tergantung isi tambahan yang ditawarkan. Sayangnya waktu saya makan di sana, pangsit keringnya habis, berhubung dekat dengan waktu tutup mereka. Harganya cukup reasonable jika dibandingkan dengan rasanya yang legendaris.

IMG_3836

harga menu di depot mie pangsit jakarta, samarinda

Tak berhenti di Depot Mie Pangsit Jakarta, pencarian mi ayam enak lainnya akan saya terus posting sampai dapat yang paling mendekati rasa yang sempurna. Oya, menurut saya, bakmi ayam yang paling enak datang dari jenis bakmi ayam bangka. So, kalau ada bakmi ayam bangka di Samarinda, pasti akan saya datangi.

Mencoba Cita Rasa Ayam Goreng Banjar Samarinda

Siapa sih yang tak suka ayam goreng? Dari anak kecil sampai orang tua pasti suka. Di mana-mana, restoran ayam goreng yang legendaris pasti disukai pelanggan. Di Samarinda, ada satu tempat makan ayam goreng yang bisa dikatakan favorit warga Samarinda. Namanya RM Ayam Goreng Banjar. 

Makanan di Samarinda memang banyak dipengaruhi oleh cita rasa kuliner Banjar (Banjarmasin), Makassar, dan Jawa Timur. Mungkin karena di Samarinda kebanyakan adalah pendatang dari tiga daerah tersebut.

RM Ayam Goreng Banjar terletak di Jl. Abdul Hasan No.54. Ada dua rumah makan yang terpaut jarak sekitar 20-an meter yang menawarkan ayam goreng khas Banjar. Katanya sih masing-masing punya cita rasa yang berbeda. Saya baru sempat icip di salah satunya saja.

IMG_2854

ayam goreng khas Banjar

Setiap memesan menu ayam goreng di RM Ayam Goreng Banjar akan dilengkapi dengan nasi putih, ati ampela masak merah, dan sayur bening. Berhubung setiap lewat parkirannya selalu ramai di rumah makan yang cukup terkenal ini, saya tak menolak untuk diajak icip-icip di RM Ayam Goreng Banjar. 

Ayam goreng yang disajikan bukan ayam goreng panas yang baru digoreng seperti di tempat lain. Teksturnya sangat kering dan cenderung keras sewaktu dikunyah. Ahh, maafkan, tapi rasa gurihnya tak membantu menaikkan mood saya sewaktu menyantap ayam goreng ini. Seperti yang saya bilang, menyoal legendaris bukan berarti pas di lidah saya. Maklum, lidah saya masih lidah Pulau Jawa. Masih jauh lebih enak ayam kampung goreng, bahkan ayam goreng bikinan sendiri di rumah.

Untuk ati-ampela masak merah, rasanya cukup enak, legit dan manis. Justru menu inilah yang jadi penghibur saya waktu makan di RM Ayam Goreng Banjar. Sayur beningnya, aduhai, saya gak sentuh sama sekali sejak sendokan pertama.

Okelah, cukup sekali untuk memenuhi rasa penasaran saya. Di Samarinda ini saya cukup selektif memilih jajanan atau makanan di luar makanan yang saya masak. Saya dan suami biasanya seminggu sekali makan di luar untuk menyelingi masakan yang dibuat sendiri di rumah. Intinya supaya tidak bosan sekaligus mengexplore kuliner di Samarinda sedikit-sedikit.

RM Ayam Goreng Banjar Samarinda, once is enough. Kalau ada Ayam Kremes Bu Tjondro di Samarinda, jelas saya akan pilih Ayam Kremes Bu Tjondro. Ayam goreng khas Jawa masih yang paling enak sejauh ini. 2,5 out of 5I prefer try another place.