Kenali Dirimu, Kenali Tuhanmu, Berbahagialah

Bahagia itu seperti sedih, datangnya dari HATI. Silakan selami hati masing-masing. Kalau nggak ada, coba cek di toko sebelah. 

happiness-is

pic by hipwee.com

* * *

“Kak, usiaku sudah mau kepala tiga, tapi belum juga menemukan jodoh,” ucap seorang perempuan kepada temannya. Karena perbedaan umur beberapa tahun, ia pun menganggap sang teman seperti kakaknya sendiri, karena ia tak punya kakak perempuan.

“Tenang dik, gaperlu risau. Di luaran sana masih banyak orang-orang dewasa, umur 30 bahkan mau 40, yang jangankan menemukan jodoh, menemukan jati diri dan Tuhannya saja belum,” ucap sang ‘kakak’

Si ‘adik’ terdiam. Belumlah ia percaya ada kenyataan seperti itu. Tapi ia beruntung tak tersasar sejauh itu.

“Jikalau kamu baik, percayalah kamu akan menemukan orang (jodoh) yang baik. Atau ditemukan oleh orang yang baik,” kata sang kakak lagi.

* * *

Dalam kehidupan, ada banyak perjalanan. Banyak pertemuan. Perpisahan. Kita mungkin sudah banyak melihat, banyak mendengar, banyak mengeksplor, tapi tak ada jawaban yang diinginkan.
Begitu banyak pertanyaan akan hadir di benak seseorang, mengenai apa saja yang ditemuinya, dirasakannya, diinginkannya. Sehingga seseorang itu mungkin saja perlu melintasi banyak daerah, mengunjungi banyak tempat, bertemu banyak orang, untuk menemukan apa yang ia cari. Menemukan jati diri.

Bisakah kebahagiaan dihadirkan oleh sejumlah uang? Belilah apapun yang kamu mau, pergi kemana pun kamu inginkan dengan uang tersebut. Tapi apakah kamu akan bahagia? Jikalau kedamaian dan kesyukuran belum menghampiri, saya hampir yakin, perjalanan sejauh apapun dan benda semahal apapun yang dibeli dengan uang tersebut hanya akan jadi sebuah ‘ritual’, sekedar barang tak bernyawa atau kegiatan/peristiwa, tanpa ada makna.

  • Pergi ke Raja Ampat, jauh dan pricey, tempatnya bagus banget, pondokan yang instagramable, senang riang, lantas ambil foto, cekrak-cekrek, posting, banyak like. Selesai.
  • Pergi ke Gunung Papandayan, dekat, murah, tidur di tenda, makan seadanya, pemandangan tak kalah indahnya. Tapi merasa damai, lebih dekat dengan Tuhan.
  • Kumpul sama teman-teman, nongkrong asik, makan-ngebir-rokok, begadang bareng, haha-hihi. Hepi. Besok-besok diulang lagi. Soalnya males kalau sendiri.
  • Nonton dvd di rumah, menikmati waktu luang di antara kesibukan & kepenatan. Syukur banget kalo udah berdua sama pasangan. Ngobrolin banyak hal, becanda-becanda. Cuddling. 

Sejauh apapun kau pergi, kebahagiaan tak akan kau temui, selain di dalam dirimu sendiri.

Bagi seseorang yang bisa memaknai sesuatu, ia takkan melihat sebuah peristiwa / benda tak sekedar sebagai fasilitas, tapi juga dapat menemukan arti yang mendalam. Kenapa bisa begitu? Karena ia tau dirinya sendiri, ia tau Tuhannya yang mengirimkan rasa itu padanya, dan juga segala ciptaan yang ia lihat.

Nikmati Setiap Fase Kehidupan
Menurut suami saya, setiap fase dalam kehidupan memiliki jangka waktu / batasan, arti, dan cara menikmatinya masing-masing. Ketika bayi kita tak ingat apa-apa, sebagai anak kecil cara kita menikmatinya ya dengan bermain-main, beranjak remaja mungkin kita sudah mulai cinta-cintaan, setelah bekerja kita menikmati hidup dengan mempergunakan hasil kerja keras, setelah menikah cara menikmatinya mungkin jalan-jalan berdua, kalau sudah punya anak cara menikmatinya ya dengan mengurus anak. Dan seterusnya.

“Tapi ada batasannya seseorang harus sudah move on. Artinya, kalau sudah di fase tertentu kita nggak akan bisa mundur. Untuk melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan, mungkin aja, tapi nggak akan rutin seperti sebelumnya, dan esensinya pun akan lain,” katanya.
Kalau dulu kita bisa hura-hura, di batasan usia tertentu hal itu sudah nggak ‘menarik’ lagi, nggak seru lagi, karena fase dan prioritas yang berubah. Yang dulu kita anggap menyenangkan belum tentu sama menyenangkannya di masa sekarang. Semua itu terjadi secara alamiah. Kita nggak bisa kembali ke masa remaja seperti film “17 Again”, dan nggak akan bisa untuk selalu 17 tahun. Sebagai manusia dewasa kita harus mengerti dan menerima kenyataan bahwa kita semakin tua. Semakin tua. Semakin tua. Lantas apa? MATI. Yap, semua manusia dan makhluk di bumi ini akan mati. Dengan meyakini hal itu, kita akan semakin meyakini keberadaan Tuhan. Dia yang menciptakan dan juga yang men-switch off segalanya.
Bagaimana memaknai kematian bagi mereka yang tak menemukan Tuhan di hatinya? Bisa jadi, sebenarnya mereka berasal dari keluarga yang religius, sejak kecil diajarkan agama, keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Tapi kemudian lingkungan dan pikirannya menjerumuskan mereka pada kondisi yang sedemikian rumit sehingga tak mampu atau tak mau menerima ‘jawaban dari Tuhan’. Sebagai muslim, saya meyakini segala sesuatu yang ada di bumi, setiap fase kehidupan telah diatur dalam kitab suci Al Quran. Begitu pula ketika pikiran kita ‘tersesat’, hal itu tak luput dari campur tangan-Nya.

Mengutip website quran.al-shia.org, ada beberapa ayat yang menerangkan hal tersebut:

  1. Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
  2. Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
  3. Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.
  4. Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Jadi, kata siapa kalau kita tidak (baca: belum) mengenal Tuhan, Ia tidak akan campur tangan dalam kehidupan kita? Setiap helai rambut yang rontok, kulit yang gosong, gigi yang kuning (*eh* hehe), setiap hela nafas, setiap kedip mata, gerakan tangan-kaki-seluruh tubuh kita, ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Semua itu cuma-cuma diberikan pada kita. Lantas kenapa kita selalu mengeluh, “AKU NGGAK PERNAH BAHAGIA”.

Bahagia itu Syukur, dan Bukan Gratis Kayak Hadiah Makanan Ringan

Hallo Jeng, Mas, Mba, Tuan, Puan, FYI ya, KEBAHAGIAAN ITU NGGAK GRATIS. Lha wong buang air aja banyak tempat yang mengharuskan bayar. Kalau semua keinginan manusia dikasih gratis, bukan kedamaian tapi yang timbul justru kekacauan. Gimana kalau ternyata banyak manusia yang tinggal di bumi ini lebih berbahagia di atas penderitaan orang lain, coba?

Tidak ada satu pun manusia yang bisa menentukan kebahagiaan manusia yang lainnya. Karena hal yang membuat seseorang bahagia belum tentu bikin orang lain juga bahagia. Buat saya, kebahagiaan adalah hal yang langka, ibarat berlian. Untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan, mungkin juga rasa pahit, sakit, sedih, depresi, putus asa. Sudah barang tentu, kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan tahu yang namanya kebahagiaan. Jadi kalau seseorang merasa sulit untuk bahagia, kemungkinannya ada dua : dia nggak pernah merasa sedih (banget), atau mungkin dia kurang bersyukur.

Dengan mengenal Tuhan, mengenal iman, kita akan senantiasa bersyukur. Jangan terlalu sering membandingkan diri dengan mereka yang “lebih”.

“Kok dia hepi-hepi terus ya hidupnya, barang-barangnya branded, stylish, punya mobil, rumah, gadget terkini, nongki blenji sana-sini, (*dalam hati, aku kok nggak?)” kalau kebahagiaan orang lain bikin kamu sedih, mendingan balik lagi jadi orok. Bahagia itu bukan cuma hal-hal yang bersifat duniawi.

Sering-seringlah melihat ke bawah dan merasakan kepedihan mereka yang “selalu sedih”. Tidakkah kita menyadari, bahwa di belahan bumi lain masih banyak orang yang terpaksa merasakan sedih sebagai “kegiatan sehari-harinya”. Kekurangan uang untuk beli beras, makan nasi kemarin cuma dengan garam dan sambal, harus rela anaknya keterbelakangan mental karena waktu hamil nggak mampu beli makanan bergizi, rumah gubuk tak mampu merenovasi– yang kalau hujan harus rela kebasahan karena bocor. Di belahan bumi lain itu, banyak yang kelaparan, busung lapar–badan tinggal kulit dan tulang, hidup dalam peperangan sehingga ditinggal orang tua ketika masih kecil. Sementara kita yang hidup berkecukupan, makan enak, kasur empuk, keluarga lengkap dan sehat, pekerjaan layak, bisa menginap di hotel-hotel, jalan-jalan ke luar kota (dan atau luar negeri), masiiiih aja mengeluh enggak bahagia. Hati mereka itu di mana ya? Selfish tingkat tinggi.

Remember, selalu ada alasan untuk bahagia. Paling tidak, merasa senang. Lihat sekeliling, lihat siapa yang mengisi kehidupan kita, bagaimana mereka peduli pada kita, kondisi badan dan kehidupan kita secara menyeluruh, dan lain sebagainya. Pasti selalu ada alasan untuk kita mensyukuri semua hal yang hadir di hidup kita sekarang ini. Kalau memang belum, mungkin kita belum maksimal mengejar dan memperjuangkannya. Tuhan akan menghadiahkan kebahagiaan buat mereka yang berjuang dan sabar melewati perjuangannya.

“Sebenernya yang bikin aku bahagia tuh ini, TAPI…….blablabla…..” bahagia itu nggak mengenal TAPI. Bahagia itu nggak instant. Karena yang instant (dan enak) cuma Indomie😛

Indomie_Rebus_Ra_50f38909bfff5-500x500.jpg

Indomie paling enak ya rasa kari ayam *drooling #salahfokus (pic by indo.wsj.com)

Bahagia (Memang) Enggak Pernah Sederhana

Panjang perjalanan saya untuk bisa mendeskripsikan “arti bahagia” menurut saya sendiri. Untuk mengetahui kita sudah bahagia atau belum, kita harus mengenal diri kita sendiri. Yang terutama adalah mengetahui tujuan hidup (yang sejalan dengan prinsip), dari sana kita akan menemukan hal-hal yang bisa membuat kita senang, meresapi kesenangan kita, dan berujung rasa bahagia.

Mungkin karena kebanyakan nonton cerita Disney, saya pernah berpikir, bisa bersama dengan seseorang yang dikagumi akan membuat saya bahagia. Tapi ternyata menurut Tuhan nggak seperti itu, Tuhan nggak pernah mengijinkan saya pacaran sama laki-laki yang saya suka (*yailah curcol). Dulu sih saya kesel, kok Tuhan nggak mengijinkan saya untuk bahagia. Tapi akhirnya saya ngerti, kalau laki-laki yang indah dipandang mata, yang kelihatan bagus di kemasan luarnya (*ups) belum tentu laki-laki yang bisa membahagiakan saya.

*sambil nengokin orang-orang dari masa lalu buat berkaca dan berkata, “hey, mereka belum se-bahagia saya deh,” lalu tersenyum bangga. ha ha ha.

Bahagia itu proporsional, cukup (karena dalam kondisi kekurangan kita akan sulit merasa bahagia), dan tak berhenti bersyukur. Lebih dari itu, bahagia adalah hasil dari proses. Proses dan hasil berbeda-beda pada setiap orang (*kok kayak tulisan dalam kemasan produk ya ^_^). Bahagia memang nggak pernah sederhana. Tapi saya percaya, orang-orang yang menghargai proses akan lebih mudah bahagia daripada mereka yang hanya mengharapkan hasil akhir. Bahagia itu bukan pura-pura, jadi kalau kita lebih sering melakukan kepura-puraan, percuma aja, nggak akan berujung bahagia.

Abaikan aja hashtag #BahagiaItuSederhana kalau nggak sesuai dengan pandangan kita. Mereka-mereka itu hanya orang-orang yang (berusaha/sedang) menghargai hal-hal kecil dalam kehidupannya. Which is, engga ada salahnya juga kan?

Buat yang belum merasa bahagia, enggak pernah merasa bahagia, kalau udah mentok banget boleh deh dibantuin cari “Apa Itu Bahagia” di mesin pencari Google, siapatau nemu artikel-artikel yang mencerahkan. Misalnya ini :

Fakta-fakta Kecil Tentang Bahagia – hipwee

IRT Tanpa ART

Jadi Ibu Rumah Tangga (IRT)? Biasa saja. Tak ada yang istimewa. Kerjaannya kan cuma diem di rumah

Weiiitsss… nyatanya ibu-ibu yang memutuskan jadi IRT juga bisa dibilang tangguh, terutama yang bekerja tanpa Asisten Rumah Tangga (ART). 

Palingan kerjanya cuma nyuci, ngepel, masak. Gak ngerasain macet dan penatnya kerja kantoran seperti di Jakarta.

Iyasih, mereka nggak ngerasain macet berjam-jam menuju kantor, nggak ribet harus meeting sama bos/klien. Kalo capek ya tinggal tidur aja. 

Wuaaahh. Enak sih kalo kenyataannya memang gitu. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya. Seberat-beratnya perjalanan dua jam pulang plus pergi ngantor, tetap lebih berat jadi IRT tanpa ART

* * * Intermezzo * * *

Pertama kali bekerja, kantor saya di daerah Tanah Abang, dengan perjalanan 1,5 jam menggunakan kereta listrik (KRL) + angkot, dengan gaji setara UMR tahun 2010. Iya, setara UMR. Makanya saya sering berangkat pakai KRL Ekonomi yang penuh sesak, pakai angin gelebug dan isinya macem-macem orang (kebanyakan golongan ekonomi menengah ke bawah), pedagang asongan, pengamen, bahkan waria. Tiketnya cuma Rp 1.500 *Tapi justru dari perjalanan di KRL ekonomi itu saya banyak belajar tentang menghargai hidup dan bagaimana cara bijak memandang orang lain.* Pulang kerja setelah Maghrib, jadi sampai di rumah sekitar pukul 20.00. 

Perjalanan yang paling melelahkan waktu saya kerja di daerah SCBD Jakarta. Masuk kerja pukul 8 pagi, saya berangkat dari rumah sekitar jam 5.30, paling telat 5.45 supaya sampai ontime. Gajinya? Bikin nyesek kalau ingat. Nggak sampai angka 3 sementara posisi tersebut seenggaknya kena di angka 4,5 di tahun 2011-2012. Tapi toh waktu kerja di sana, saya tetap bisa menyisihkan uang untuk dua bulan sekali mengunjungi pacar (sekarang suami) yang sedang kuliah S2 di Jogja. Berangkat ngantor dengan KAI Commuterline *yang waktu itu memutuskan untuk menghapuskan KRL Ekonomi* turun di Stasiun Palmerah, jalan kaki 5 menit ke jembatan layang, lalu lanjut dengan berebutan naik bis Mayasari penuh sesak ke kawasan Sudirman. Belum lagi pulangnya, sering nggak kebagian bis. Sering juga saya diturunkan jauh dari tempat berhenti yang seharusnya (karena bis tiba-tiba masuk tol, berkejaran dengan macetnya jam pulang kantor) kemudian jalan sekitar 2km ke stasiun. Beberapa kali gak dapat bis, saya naik kopaja/metro mini turun di JCC Senayan, trus jalan kaki melewati Gedung DPR sampai ke Stasiun Palmerah. *Sering banget pulang kantor ngelewatin demo. Gak ikutan demo lho ya hehehe* Kalau lanjut naik bis jurusan lain koq nanggung, jalan kaki koq ternyata jauh juga hhhh 😥😥😅

Ibukota emang lebih kejam dari ibu tiri (belom pernah ngerasain sih punya ibu tiri heheh) saya nggak punya banyak waktu dan tenaga buat nongkinongki di seputatan Jakarta. 

Kerjaan paling enak memang yang terakhir di kawasan CBD Bintaro Sektor 7 (Bintaro itu Tangsel lho yaaa bukan JeKaTe). Perjalanan dari rumah setengah jam-an, gak macet, gaji okelah. *Daripada harus kerja di Jakarta dengan gaji tinggi tapi load stresnya gak bisa ditolerir*. Pokoknya kalau saya waktu itu masih tinggal di Serpong, atau setelah nikah tinggal di Cinere, pasti saya nggak bakal keluar dari kerjaan itu, karena semua sudah nyaman. 

**maaf ya paragraf-paragraf sebelumnya kebanyakan curhatnya😅😅

Sekarang saya mendedikasikan diri sepenuhnya untuk keluarga kecil saya. Setelah resign dari kerjaan terakhir, saya ikut suami pindah ke Samarinda. Selain karena sulitnya cari pekerjaan yang sesuai dengan background  dan pengalaman, suami juga meminta saya untuk di rumah aja. Belanja ke pasar, masak, beres-beres, cucian tinggal di-laundry karena kami nggak punya mesin cuci. Begitu setiap hari sampai saya hamil. Setelah melahirkan, suami memutuskan membeli mesin cuci untuk membantu saya mengeringkan baju sikecil (nyuci tetep dikucek dan jadi jobdesk-nya suami sebelum berangkat kerja). Kami nggak memakai jasa ART untuk menekan biaya pengeluaran. 

Pekerjaan seperti memasak, membersihan rumah, nyetrika, masih dikerjakan sendiri. 

“Bisa koq,” pikir saya. Seperti halnya waktu baru melahirkan Ziel saya gerak kesana-sini buat bersihin rumah tanpa khawatir (*seriously, harusnya saya istirahat). Suami yang waktu itu sama-sama capek juga gak mungkin beres-beres sendirian. Seminggu pertama, urusan masak-memasak kami dibantu mama mertua, tapi setelah mama pulang, tetap masak sendiri (sarapan dan makan malam), sedangkan untuk makan siang di weekdays, saya dipesankan catering harian dari tetangga depan rumah. Weekend semua dikerjakan sendiri. So, weekend kami setelah punya bayi artinya kerjaan lebih banyak hehehe. 

In fact, kerjaan yang kelihatannya gak banyak itu, menguras tenaga dan pikiran saya cukup banyak, terutama waktu mengalami baby blues. Saya juga sering skip sarapan karena bangun masih terlalu ngantuk, sementara kerjaan setelah bangun tidur adalah memandikan Ziel, menyusui, baru mengerjakan yang lain-lain. Ritual mandi(in badan sendiri) justru lebih sering dilakuin belakangan setelah Ziel tidur. 

Mestinya semua bisa lancar kalau badan saya sudah fit. Sayangnya, sampai sekarang Ziel umur sebulan lebih, capek dan letihnya badan belum hilang. Belum lagi ditambah cedera otot di kedua pergelangan tangan yang terasa nyeri dan membatasi pergerakan saya. Nggak cuma di tangan, ternyata kedua lutut, bahu, dan telapak kaki juga ikut-ikutan nyeri. Untuk mengangkat badannya Ziel–jangankan itu, buat ngiket rambut atau ngangkat teko minuman aja– pergelangan saya terasa nyeri😧😥

Bayik di gendongan tetep nyusu😉

Lama kelamaan, semua badan ikut-ikutan punya keluhan. Migren lah, pinggang dan punggung super pegal, sampai pada keluhan sembelit yang bikin jahitan nggak sembuh-sembuh, huhu. Belum pernah saya merasakan badan saya selunglai ini. I feel so exhausted and helpless. Tapi semua harus dilewati karena banyak yang harus dikerjain. Nggak jarang, hal-hal tersebut harus dilakuin sambil menggendong Ziel. Nyetrika, ngangkat tempat jemuran, masak, kadang pipis juga harus sambil gendong dia karena pingin nyusu. Klo pup sih belum pernah dan jangan sampe ya, kasian dianya 😂😂😂

Ini baru baju buat di rumah, belum sekeranjang baju ngantor suami dan sekeranjang lagi baju bayinya hehehe (*setrikanya dicicil, ky mobil 🙊)

Puncaknya, saya rasakan sebelum menuliskan posting-an ini. Bangun jam tiga pagi karena Ziel minta mimik, tangan saya berasa semakin kaku. Ziel yang beratnya 3,9kg kok rasanya kayak 5kg, berat banget di tangan. Kalau udah begini biasanya saya lanjutkan memberi ASI sambil tiduran. Tapi tetep, setelah mimik, Ziel harus diangkat dan di-pukpuk supaya sendawa dan nggak gumoh. 

Saya sadar banget semuanya sudah resiko dan ini terjadi lumrah pada banyak perempuan (jadi IRT tanpa ART)  dan buktinya mereka bisa. Sebetulnya saya enggak mengeluh soal load kerjaan dan konsekuensi sebagai ibu baru mengurusi bayi. Which is, sekarang Ziel minta mimik sejam bahkan setengah jam sekali, yang membuat saya sering ngerjain ini-itu sepotong-sepotong. Tapi lebih kepada keheranan saya soal badan saya sendiri. Kalau badan saya fit, yakin banget saya bisa ngerjain semuanya tanpa dibantu suami, bahkan jadi ibu bekerja (*I think so). Selama ini, termasuk selama hamil, badan saya selalu fit. Bahkan saat hamil suami terkena flu berat tapi saya sehat-sehat aja, alhamdulillah

Mungkin badan saya sedang menyesuaikan diri, melatih semua otot-ototnya jadi lebih aktif. But seriously, saya nggak kebayang kalo harus tetep kerja kantoran selama mengurusi bayi : kebangun-bangun tiap jam tengah malem sampe pagi dan harus siap-siap macet-macetan ke kantor. Pasti bakalan berkawan dengan mata panda. Meskipuuun, di rumah pun saya nggak punya banyak waktu buat tidur siang. 15 menit tidur, eh Ziel udah “owee owee”. Malahan di kerjaan terakhir, setelah sholat saya bisa ketiduran di musholla sampe setengah jam, atau lebih! *yang lain kerja ini malah tidur #magabutmode:on😂😂😂

Kalau saya sambil kerja kantoran, saya bakalan berbagi begadang sama suami #gamaurugi# Karena sejak punya bayi, kami tidur di kamar terpisah untuk memberikan privilege buat suami tidur enak-nyenyak tanpa gangguan tangis Ziel, berhubung dia harus kerja. *masih ingat kan, kami menganut kesetaraan dan saling membantu meringankan beban satu sama lain* 

Melahirkan Sendiri atau Dekat Orang Tua?

Melahirkan sendiri buat kita mandiri, sedangkan melahirkan dekat keluarga akan banyak yang bantu. Bener? Atau justru menjadi beban?

Sejak merantau ikut suami ke Samarinda, kami menata dan me-manage semuanya berdua. Tanpa Asisten Rumah Tangga (ART), ngurus rumah dengan dua kamar aja sih ngga ada kendala berarti. Toh, cucian juga diserahkan ke laundry aja, karena kita juga belum punya mesin cuci waktu itu. Awal-awal kepindahan, justru saya punya banyak waktu luang, karena memang sejak awal suami meminta saya untuk stay di rumah, jadi ibu rumah tangga saja. Kegiatan cuma masak, beres-beres rumah, belanja ke pasar seminggu sekali, sisanya ya nonton tv dan tidur. Seems so boring? Ya gitulah, dinikmati aja. Kan nggak semua orang bisa punya waktu luang seperti saya, cara orang menikmati hidup juga beda-beda.

Saya cukup menikmati momen-momen di ketika suami pulang, saya bisa menyambutnya dengan cium tangan, senyum dan tersedianya makan malam. Gak semua orang bisa. Begitu weekend datang, sama seperti pasangan lainnya, pergi nonton di bioskop dan makan di luar. *yeaay free dari tugas masak hehehe*

Setelah punya baby, keadaan berubah. Waktu luang yang banyak, sekarang terisi dengan mengurus si kecil. Malah, dulu waktu yang terasa lama menunggu suami pulang, sekarang terasa cepat. Eh, tau-tau udah waktunya sikecil mandi sore, setelah itu menyusui, mandi, dan suami pun pulang. Gak jarang yang masak buat makan malam justru suami. Atau kita masak bareng. *another precious and romantic moment adalah masak berdua sambil ngobrol segala hal😊
Nah, dengan segala kerepotannya, saya pernah terpikir untuk melahirkan di Jakarta. Karena sama sekali belum terbayang capek dan riweuh-nya, saya sempat kepikiran kalo melahirkan dekat keluarga akan lebih tenang karena bakal banyak yang bantuin. Tapi entah kenapa waktu itu suami keukeuh supaya saya melahirkan di Samarinda, dekat dengan dia.

“Aku pingin nemenin kamu di setiap momennya, baik sebelum dan sesudah melahirkan,” katanya. Memang, kalau saya melahirkan di Jakarta, mau gak mau kami harus terpisah jarak sedari saya hamil 7 bulan dan setidaknya 3 bulan setelah melahirkan. Kalau dihitung-hitung bisa LDR-an 5 bulan. Antara tega-nggak tega juga sih ninggalin suami sendirian, walau memang dia bisa sebulan sekali pulang, tapi kan cuma sebentar (dan MAHAL). Salah-salah pas hari-H malah nggak bisa nemenin lahiran (*oh no!! 😱🙈)

Karena masukan dari temen kantornya dia, dan melihat pengalaman temen yang senasib sama saya (ngikut suami ke Samarinda), saya sempet galau. Karena sepertinya mereka sangat menyarankan untuk lahiran dekat sama keluarga. But then, dengan pertimbangan sendiri, kami memutuskan untuk melahirkan berdua aja di Samarinda. Why?? This is the reason..

Pertama, alasan yang sama saya sebutkan sebelumnya. Saya nggak tega ninggalin suami sendirian dalam jangka waktu lama (*waktu itu suami belum se-mandiri sekarang: bisa masak, ke pasar dll). Dan lagi, saya tipe istri yang lebih nggak bisa jauh dari suami ketimbang jauh dari keluarga. (Udah kenyang LDR-an dari jaman pacaran heheee).

Kedua, melahirkan dekat keluarga justru bakal bikin mereka kerepotan. Karena kondisi setiap keluarga berbeda ya, dan kami hafal betul bagaimana kondisi orang tua kami. Mama mertua single parent sejak lama, orang tua saya pun terhitung sepuh karena keduanya sudah menginjak usia lebih dari 60 tahun, dan sudah nggak bisa nyetir. Kebayang dong kalo saya kontraksi, mau ke rumah sakit bareng orang tua tapi yang nyetir saya sendiri. Untuk minta tolong kakak, agak segan ya, karena dia juga kan punya keluarga dan kepentingannya sendiri. Jadi, kalau orang bilang orang tua akan bantu, mungkin iya, tapi sejauh mana? Dan sejauh mana juga kalau justru sebaliknya: kita malah bikin mereka jadi repot di usia yang sudah tua.

Kalau dipikir lagi, semua orang (pasangan) punya rezekinya masing-masing. Melahirkan dekat keluarga, nggak menjamin prosesnya se-nyaman yang dikira. Kembali lagi, itu rezeki yang diatur oleh Tuhan berbeda-beda kepada setiap calon ibu. Ada juga kok yang melahirkan dekat keluarga tapi ada kendala di bayinya sehingga harus melewati C-section. **Seperti diketahui, sampai sekarang operasi cesar masih jadi momok yang menakutkan atau jalan yang dilalui dengan ‘terpaksa’ bagi calon ibu dan calon ayah. Selain karena biayanya, juga proses pemulihannya yang lebih lama. Alhamdulillah, keputusan yang kami ambil untuk melahirkan berdua aja, dilimpahi rezeki kemudahan dalam prosesnya. Kalau kenapa-kenapa gimana? Ya jangan mikir bakal kenapa-kenapa hehe. Kitasih kuncinya satu, yaQin aja.

Ketiga, suami takut nggak bisa menemani di momen terpenting. Jarak Samarinda-Jakarta yang harus dilewati selama setengah hari, bikin parno tersendiri. Memang sih, proses melahirkan nggak ujug-ujug mules trus langsung keluar bayinya. Tapi, suami punya pemikiran tersendiri untuk bisa nemenin saya dari bulan-bulan terakhir kehamilan sampai awal-awal bulan kelahiran.

“Aku mau melewati itu semua, ngajak ngobrol waktu masih di perut, mengazani sewaktu lahir, dan mengurus si kecil di awal-awal usianya, dari masih 0 tahun,” katanya. “Memang repot sih, tapi aku percaya, bayi baru lahir itu punya feeling yang kuat, meskipun belum secara sadar merasakannya. Tapi bonding dari dia digendong dekat dengan jantung kita, itu akan melekat di alam bawah sadarnya, dan mendekatkan ikatan batin.”

 

Suami waktu pertama kali mandiin dan mijit sikecil

Nggak bisa dipungkiri, sebulan pertama adalah proses penyesuaian yang paling berat. Tapi bukan berarti nggak bisa. Lihat deh orang-orang bule di luaran sana, mereka bisa koq mandiri mengurus buah hatinya, nggak tergantung sama orang tua. Bahkan sejak memasuki usia dewasa, kebanyakan dari mereka “keluar dari rumah” untuk hidup mandiri. Cuma di Indonesia aja nih, yang sering ‘menyarankan atau terpaksa’ untuk menitipkan cucu ke orang tua, sementara anaknya sibuk bekerja.

“Orang tua itu sudah punya ‘jatah’-nya ngurusin kita waktu kecil sampai dewasa. Masa udah tua masih aja disuruh ngurusin cucunya,” kata suami lagi. Saya setuju dengan pendapat suami. Inilah alasan keempat, yang mana menurut kami, orang tua semestinya ‘kebagian’ main barengnya aja, bukan ngurusin dari mandi, makan dll, karena itu kewajiban kita sebagai ayah-ibunya. Kecualiii.. kalau memang orang tua kita yang menawarkan *again, ini tergantung dari kondisi masing-masing orang tua ya. Kami berpikir mama-mama kita sudah punya kegiatan dan kepentingannya sendiri, untuk mencari bekal di kehidupan mendatang*
Last but not least, alasan terakhir ini yang justru bikin saya terharu (dan setuju). Suami pingin melihat proses perkembangan anak lanangnya dari awal. Tau dan merasakan langsung begadang-begadangnya, mandiinnya, tau kebiasaan-kebiasaan si jagoan kecil dari awal kehidupannya.

“Aku gak pingin, tau-tau sianak udah bisa diajak main,” kata suami. Ya sih, kalau melahirkan di Jakarta, seenggaknya bakal jauh-jauhan sama istri dan anak sampai tiga bulan awal. Biasanya bayi umur tiga bulan memang udah bisa diajakin main. Kalau LDR-an, belum tentu suami bisa menyaksikan Ziel yang udah bisa keluar bedong sendiri di usia 3 hari, tidur miring di usia dua setengah minggu, tidur yang menggeliat-geliat sampai gumoh, tidur nyengsol ke kanan-kiri dan ndlosor dari bantal, melihat Ziel tidur sambil senyum-senyum dan ketawa terkekeh, melihat pertama kali Ziel bisa mengeluarkan suara “hao..” seolah-olah mengerti waktu diajakin ngobrol, dan lain-lainnya.

 

Aren’t they cute? 😍😙

 

Suami bilang, kalau nggak ngerasain sendiri gimana repotnya, kita nggak akan bisa mandiri kayak sekarang, ngurusin sikecil dan rumah sendiri. Secara nggak langsung, ikatan kami berdua juga lebih dekat karena saling menguatkan, saling membantu dan saling pijit-pijitan (lol haha) “Belum tentu lho, suami-suami lain itu mau ke dapur untuk masak, gantiin popok, nyuciin baju bayinya. Kamu beruntung punya suami kayak aku!” Kata suami lagi dengan nada bangga, lalu kami berdua ketawa-ketawa.

“Nah makanya, kenapa nggak dari dulu? (menikah lebih cepat)” Tanya saya.

“Kalau nikah dari dulu, belum tentu bisa kayak sekarang,” pungkasnya. Kalau nikah (dan punya anak) lebih cepat, kemungkinan besar kami akan ‘nebeng’ di rumah orang tua, membesarkan anak di rumah orang tua, dan selanjutnya dan selanjutnya yang ujung-ujungnya nyusahin orang tua juga hehee.

“Lebih enak kayak gini,” katanya.

“Tos dulu dong..!” kata saya. Makan malam kami pun selesai. Obrolan yang panjang, dan untungnya sikecil tidur nyenyak. Padahal biasanya dia bangun hampir setiap kali kami mau makan (siang ataupun malam). Kondisi begini juga bikin kami sadar, tinggal terpisah dari orang tua biar bagaimanapun memang lebih enakkkk. Tetiba saya jadi keingetan wejangan Bpk Ridwan Kamil.

Ngerasain ngontrak. ngerasain roller coaster kehidupan sambil nangis, ketawa, nangis lagi, ketawa lagi. sambil saling berpelukan menguatkan. *indah tauuukkk itu!

-Ridwan Kamil, Walikota Bandung

Beginilah cerita kami. Tidak bermaksud membanding-bandingkan. Karena semua keputusan itu ada konsekuensinya. Ini yang kami yakini, kami putuskan, dan kami jalani. Walau bagaimana pun, toh, hampir semua orang pada dasarnya ingin berbagi kebahagiaan di tengah-tengah keluarga. Hanya saja, kondisi kami tidak demikian adanya. Tapi, tak ada yang perlu disesali. Jadi, nikmati saja apa yang ada di depan mata.

Selamat menjadi ibu, untuk semua ibu baru di seluruh dunia! *halah*

Baby Blues : Drama yang Terjadi Pada Ibu Baru

Having a baby is a true gift. Being a mother is a bless. But it doesn’t mean HAPPY ALL THE TIME.

Setelah menunggu selama hampir sembilan bulan dan melahirkan, punya bayi adalah hal yang sangat membahagiakan buat seorang perempuan. Apalagi kalau prosesnya lancar dan melegakan. Pinginnya deket-deket dan cium-cium terus, menggemaskan!

In the beginning of welcoming a baby, pastinya kita takjub banget. Kemarin-kemarin perut masih buncit, bawa bayi kemana-mana di dalam perut, begitu ke rumah sakit eeh tau-tau pulang bawa bayi. Kadang masih belum percaya kalau sekarang punya status baru : jadi seorang Ibu.

Calon ibu kebanyakan berpikir kalau melahirkan bayi bakal bikin hepi-hepi terus. Pada kenyataannya, usai melahirkan, seorang perempuan akan struggling melakukan penyesuaian sebagai ibu baru. Paling nggak, sebulan pertama jadi waktu yang paling ‘menyiksa’. *Jangan salah paham ya, ini bukan berarti kita nggak siap atau nggak ikhlas mengurus si bayi, tapi hanya soal proses penyesuaian aja.

Tiba-tiba ada seorang bayi di pelukan, tiba-tiba harus berkali-kali bangun malam hari untuk ganti popok dan menyusui, ASI belum keluar dengan lancar, mencuci baju bayi, merawat diri pasca melahirkan, harus menyiapkan kebutuhan suami, suami sangat sibuk di kantor, dll dll bisa bikin seorang ibu baru yang kecapean jadi melow. Dalam kondisi sepwrti itu, ketika melihat bayinya sendiri bikin si ibu baru bahagia bercampur sedih, tiba-tiba (pingin) nangis, bahkan tau-tau udah nangis aja.

 

Gejala seperti ini dikenal sebagai sindrom baby blues. Banyak perempuan yang mengalami ini, termasuk saya. Seminggu setelah melahirkan, saya merasakan capek yang luar biasa secara fisik dan psikologis. Mengerjakan pekerjaan di rumah tanpa ART, perubahan hormonal yang drastis, ditambah suami yang sibuk kerja dan jadi agak cuek karena pulang ke rumah sudah dalam keadan capek. I feel drained. Beruntung, seminggu pertama mama mertua datang dan membantu beberapa kerjaan seperti masak, nyetrika baju bayi dan beres-beres. Meski akhirnya beliau harus istirahat karena kecapean yang menyebabkan typhus-nya kambuh. Ini juga jadi beban pikiran saya waktu itu, takut merepotkan.
One day, waktu pulang kerja suami mendapati saya sedang memeluk Ziel sambil nangis.

“Kamu kenapa..?”

Saya diam nggak menjawab.

“Ada masalah sama mama?”

Saya menggeleng. Cuma bisa diam membiarkan air mata mengalir di pipi.

“Capek ya….?”

Saya mengangguk pelan. Suami saya diam.

Tidak bermaksud lebay atau mendramatisir, tapi yang saya rasakan ada energi yang nggak bisa saya kontrol dalam diri saya. Seminggu sebelum melahirkan saya baru kehilangan Papa. Rasa sesal nggak bisa pulang karena sedang hamil besar, nggak bisa merawat di waktu-waktu terakhirnya, nggak bisa menyaksikan pemakamannya, sedikit banyak mengganggu kestabilan emosi saya. Tubuh yang masih begitu lelah, harus tetap bergerak mengurusi ini-itu, sambil merasakan nyeri di jahitan yang belum kering. Dan jujur saja, suami yang agak cuek karena kecapean kerja, bikin saya tambah sedih. Mama mertua yang begitu proaktif mengerjakan berbagai hal juga bikin saya parno sendiri, takut dibilang pemalas (padahal cuma pikiran saya aja). Sedangkan keluarga yang nun jauh di sana masih sibuk dengan pengurusan ini-itu, gono-gini dan tahlilan meninggalnya Papa.

 

Bagaimanapun capeknya laki-laki bekerja, nggak bisa dibandingkan dengan kondisi seorang istri yang baru melahirkan dan harus mengerjakan semuanya sendiri.

 

Satu faktor yang paling nggak bisa dibandingin, itu faktor homonal *again, blame those hormones 🙈*. Secara fisik mungkin sama-sama terkuras energi dan emosi, karena suami juga kan menemani waktu saya melahirkan sementara kerjaan terus mengejarnya.

Dalam prosesnya toh saya juga berbagi, supaya fair *buktinya saya berbagi ranjang rumah sakit dan saya tidur di sofa waktu merasakan kontraksi sambil menunggu melahirkan heheh. Seminggu setelah melahirkan, dengan kondisi badan yang masih lelah pun saya tetap melayani suami yang minta pijit. Ini yang baru lahiran aja belom dipijit lho ya, hohoho.

Besoknya, waktu suami saya sedang kerja, saya kirimkan sebuah link untuk dia baca. Artikel yang menggambarkan kondisi saya saat itu. Setelah membaca artikel itu, barulah suami mengerti kondisi saya. Yang saya butuhkan adalah support dan bantuan. Kondisi memang memaksa kami nggak menggunakan bantuan ART. Alhamdulillah setelah mama mertua pulang, suami mulai membantu saya mengurus Ziel, mengganti popoknya dan mencuci baju sebelum berangkat kerja. *Bahkan sekarang mau bantuin masak, mandiin dan nyetrika baju Ziel. Seneng banget. prokprokprok 👏👏😆

Untungnya, saya nggak berlama-lama mengalami baby blues. Dukungan suami adalah hal terbesar yang membantu saya bangkit. Other than that, saya harus mengangkat diri saya sendiri dari keterpurukan. Dengan menepis pemikiran yang negatif, mengerjakan semuanya tanpa terlalu banyak mikir atau berasumsi, gak menggubris omongan-omongan miring atau apapun yang sekiranya bakal bikin saya down, sehingga kondisi tersebut nggak semakin parah.

My greatest cure 😙

 

Sindrom baby blues kalau berkepanjangan bisa berubah jadi Post Partum Depression (PPD) di mana si ibu baru merasakan depresi yang lebih panjang dan mendalam. Di beberapa kasus yang cukup parah, si ibu malah merasa benci terhadap bayinya, gak mau merawat atau bahkan terpikir untuk menyakiti bayi yang baru dia lahirkan *serem😰. Saya pernah baca blog seorang perempuan yang mengalami PPD, and she really needs help. Bahkan walaupun dari luar ia kelihatan seperti perempuan yang kuat, kondisi yang jauh dari keluarga, melahiran dan merawat tanpa suami, dan harus menanggung biaya hidup sendirian, beban yang dipikulnya terlalu berat. Women with PPD needs a particular treatment, bukan hanya butuh dukungan dan bantuan keluarga tapi juga psikolog bahkan psikiater, tergantung segimana parah kondisinya.

Saya bersyukur banget kondisi berangsur-angsur membaik. Sekarang Ziel sudah berumur satu bulan, perkembangannya pesat, sehat, dan lucu. Suami juga banyak sekali membantu, dan kita saling menguatkan. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi informasi tambahan buat para calon ibu, ibu baru, calon ayah dan ayah baru, atau kerabat yang baru punya bayi, untuk memahami adanya kondisi tertentu pasca melahirkan. Baby blues itu sama sekali gak dibuat-buat dan gak bisa ditepis sendirian.

Untuk ibu-ibu yang nggak mengalami baby blues dan kondisinya lebih kuat, apalagi yang belum pernah mengalami atau bahkan belum menikah, please nggak usah nge-judge “lebay”, “ngeluh mulu”, “jadi ibu koq ngeluh”, “nggak tulus/ikhlas ngurus anak”, “kalau nggak mau ribet ya nggak usah punya anak”, atau bilang “kayaknya belom siap deh jadi ibu” dan komentar-komentar miring lainnya. Terlepas dari kondisi yang bagaimanapun, bertemu dengan perempuan yang baru punya baby sepatutnya ya di-support ajalah, berempati itu jauh lebih baik. Selaiknya kasih tips atau masukan aja supaya si ibu baru ini juga bisa ‘ketularan’ tegar dan kuat melaluinya ketimbang bikin dia down. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat untuk sesama. Ya nggak?? 😄

So, menghadapi baby blues enggak bisa sendirian.

– Minta bantuan dan support suami. Sering-sering minta peluk kalau sudah mulai melow. Don’t take it by yourself. Don’t let yourself feel alone.

– If you’re not that strong and perfect, it’s okay, you’re still learning. Gausah dijadiin beban dan gausah ngerjain semuanya sendirian dulu. Jangan ngoyo mau mengerjakan ini-itu semua (*ini saya banget), terlebih tubuh ibu baru yang masih dalam pemulihan butuh kondisi fisik dan psikologis yang fit untuk sehat kembali. Karena orang bilang, kondisi badan ibu habis melahirkan itu seperti orang yang lagi sakit.

– Cari hal-hal yang bisa menaikkan mood. Browsing-browsing tentang hal yang menyenangkan, tonton acara tv yang bikin ketawa, masak atau beli makanan yang enak (*tapi jangan yang ber-gas ya, kasian baby-nya hehe)

Last but not least, support yourself for recovery your condition. Minta dipanggilin tukang pijit (khusus untuk setelah melahirkan), bakal ngebantu banget. I loove massage 😊😊. Faktanya, badan saya baru bisa ‘bener’ setelah dipijit kedua kalinya. Kalau memang belum bisa olah raga (ada tipe orang yang bisa ilang badmood-nya dengan olah raga), latihan pernafasan aja. Di playstore ada aplikasi Prana Breath, atau dengerin musik-musik relaksasi. Lumayan buat membantu menenangkan pikiran. Jangan lupa, kita punya Tuhan. Ini adalah proses menguatkan untuk mempersiapkan proses berikutnya.

Yang terpenting, cari orang yang bisa membantu kita. Jangan pernah merasa sendiri. Because you are not. 

Tips Mempersiapkan Persalinan : Cerita Rock n Roll Jelang Kelahiran Ziel

 

Setiap kelahiran bayi punya ceritanya sendiri-sendiri. Pengalaman orang lain nggak akan persis apalagi sama. Terutama kelahiran anak pertama, banyak yang menginfokan kalau biasanya akan lama bukaan (kontraksinya). Cerita mama mertua waktu melahirkan suami, butuh hampir 24 jam sampai akhirnya lahir. Temen juga ada yang 20 jam ‘menikmati’ kontraksi.

 

*nggak heran kalau kakak saya ngeliat saya terlalu lebay karena baru bukaan dua udah stay di rumah sakit. Gak taunya memang Ziel lahir gak sampai 7 jam kemudian.

 

Nah, Seperti juga mempersiapkan penyambutan si jabang bayi itu sendiri. Mulai dari menyiapkan perlengkapan dan peralatan bayi, sampai menyiapkan kamar bayi (walau pada akhirnya banyak juga yang tidur barengan–sekasur bertiga– sama si bayi).

 

Semua tergantung bawaan si calon ibu (dan calon ayah–alias sepaket). Rata-rata memang menyarankan untuk menyiapkan perlengkapan bayi 4 minggu sebelum hari perkiraan lahir (HPL) si bayi.

 

Waktu hamil Ziel, saya sama sekali nggak kesusu (buru-buru.red) untuk beli perlengkapan bayi. Tiga minggu sebelumnya, kami masih jalan-jalan ke Balikpapan untuk mengisi liburan Idul Fitri, kondisi hamil tua nggak membolehkan saya naik pesawat untuk pulkam.

 

Saya dan suami santai banget. Baru dua hari sebelum persalinan (Sabtu), kami belanja perlengkapan bayi seperti hunting lemari baju bayi, keperluan mandi, popok, baju bayi, dll. Hitungannya sih memang harusnya tanggal tersebut adalah tiga minggu sebelum HPL. Besokannya (Minggu), baru deh membereskan kamar bayi, yang sebelumnya kami gunakan untuk menaruh barang-barang tak terpakai (semacam gudang). Sebenernya sih kamar itu juga disiapkan untuk kedatangan mama-mama kita nanti kalau datang menjenguk. Hari Minggu itu juga, saya baru mencuci sebagian baju-baju yang kami beli sehari sebelumnya. Tanpa disangka-sangka Ziel lahir keesokan harinya (Senin), sementara baju-baju yang baru dicuci belumlah kering. Akhirnya ya bawa baju yang belum dicuci juga. Hahaha..😄

 

Di hari kelahiran Ziel, kami sama sekali belum packing. Jadi begitu ada tanda-tanda mau melahirkan, kami hanya membawa perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan saya dan bayi. Sisanya ya dikira-kira aja kebutuhannya apa.

 

wp-image-1535740599jpg.jpg

List yang saya buat. Kurang lengkap

 

Belanja Peralatan dan Perlengkapan Bayi

Sebelumnya belanja, saya sempat browsing apa aja kebutuhan bayi baru lahir dan kebutuhan si ibu. Banyak banget ternyata, dan untuk belanja keperluan tersebut, kita harus mempersiapkan budget khusus. Gak harus semua dibeli, karena kebutuhan masing-masing gak persis sama. Misalnya nih, saya ngerasa gak butuh untuk beli pompa ASI, box bayi, stroller dan bouncer. Selain memberatkan budget (mahal-red), peralatan seperti itu nggak harus dibeli saat bayi baru lahir. Kalau memang butuh, bisa dibeli kalau bayi udah bisa diajak jalan-jalan. *Alhamdulillah ternyata ada kerabat yang menghadiahkan Ziel stroller dan baby walker. Rejeki anak soleh ya, Nak. Hehehe ✌

 

Setelah membuat list, taunya toko yang saya datangi ternyata udah punya list tersendiri untuk keperluan bayi baru lahir. Memudahkan memang, tapi sekali lagi, kita nggak harus beli semua. Lagipula, saya udah punya daftarnya sendiri, jadi tinggal checklist ulang aja ke daftar yang disediakan si toko.

 

wp-image-474028451jpg.jpg

List dari toko bayi. Membantu banget

 

Catatan tambahan

Menurut pengalaman saya dan beberapa teman, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum belanja keperluan bayi.

 

– Beli peralatan / perlengkapan yang bakal langsung dipake / dibutuhkan si bayi, seperti peralatan mandi, popok, baju, bedong dll. Dan sesuai yang saya tulis sebelumnya, peralatan seperti stroller, bouncer dan baby walker nggak usah dibeli dulu. Selain karena belum perlu, siapa tau ada kerabat / sodara yang bakal menghadiahkan, heehe.

 

– Awalnya saya gak niat beli botol dan pompa ASI. Karena saya ibu rumah tangga, jadi ASI bakal selalu disajikan langsung. Beda dengan ibu yang bekerja, yang perlu untuk menyediakan ASI selama meninggalkan bayi. Tapi pada akhirnya, karena kurang persiapan soal laktasi, saya mengalami mastitis (pembengkakan payudara) sampai badan meriang, dan memaksa suami beli pompa ASI manual untuk membantu pengeluaran ASI supaya lebih cepat dan mengurangi peradangan. Tapi sekarang setelah ASI lancar, pompa ASI jadi nggak kepake lagi 😕

 

*info soal laktasi ini bakal saya tulis di judul terpisah supaya lebih jelas.

 

– Kamar bayi dan box bayi. Lucu banget memang lihat box bayi yang terbuat dari kayu bercat putih. Elegan, dan emhhh.. pengen beli.. tapi mahalll. 😂

 

Pada akhirnya, saya memilih co-sleeping alias menidurkan bayi di sebelah saya, ketimbang beli box bayi –yang menurut pengalaman orang-orang juga kepake cuma sebulan. Alasannya, co-sleeping memudahkan untuk menyusui bayi dengan segera. Si ibu nggak perlu repot-repot bolak-balik bangun dari tempat tidur untuk menyusui, yang juga membutuhkan energi ekstra. Tinggal angkat bayi dan susui sambil bersandar deh.

 

Mempersiapkan kamar bayi juga nggak wajib, apalagi kalau suami bsa beradaptasi dengan siklus bayi yang nangis minta nenen setiap dua jam sekali. Tapi berhubung kami sudah punya kamar yang siap dipakai, sekarang saya dan Ziel tidur terpisah dengan suami. Alasannya, karena kebutuhan suhu AC yang berbeda. Suami biasa tidur dengan suhu dingin (20°C-23°C), sedangkan saya dan (terutama) si bayi nggak boleh tidur dengan suhu yang terlalu dingin. Batas amannya 25°C-26°C. Selain itu, dengan tidur terpisah, suami juga bisa istirahat lebih panjang dan lelap. Jadi bisa bangun lebih pagi buat nyuci bajunya Ziel, dan berangkat kerja juga nggak kekurangan energi hehe.

 

– Nggak ada salahnya untuk mempersiapkan semua kebutuhan 4 minggu sebelum HPL. Kalau-kalau terjadi seperti saya yang persalinan maju 2-3 minggu, jadinya udah siap tinggal angkut.

 

– Saya beli breastpad yang washable, jadinya lebih irit ketimbang beli yang sekali buang, karena harus ganti tiap hari.

 

– Beli baju tidur 6 pasang. Berhubung dapet baju ‘turunan’ dari ponakan, saya nggak beli baju banyak-banyak karena kepakainya juga cuma sebentar, nanti ukuran bayi bakal cepet banget berubah dan beli lagi dengan ukuran yang sesuai. Beli baju pergi juga nanti aja kalau 3 bulan dan udah bisa diajak jalan-jalan.

 

– Tetap pakai popok kain. Kasian debaynya kalau terus-terusan pakai popok biasa, kulitnya bisa merah-merah dan penanganannya lebih repot kalau udah bruntusan. Berkorban sedikit gapapa (terutama malam hari–alias pagi buta) untuk mengganti popok kain. Sebulan pertama Ziel full pakai popok kain. Baru setelah itu siangnya dia mulai pakai popok biasa yang diganti tiap empat jam sekali, sementara malem pakai popok kain. Terbalik sama orang-orang, yang memakai popok biasa pada malam hari, katanya supaya tidurnya nyenyak dan si bayi bisa membedakan antara malam dan siang. *Sebenernya nggak ngaruh ya menurut saya, karena nanti toh di bulan ketiga dan seterusnya dia bakalan terus pake popok biasa. 

 

Alasan saya memakai metode terbalik karena : Pertama, kalau malam, meski pakai popok kain pun dia bakal tidur lebih nyenyak karena memang jam biologisnya manusia 》 malam = tidur. Jadi kalau asumsinya pakai popok biasa si bayi jadi lebih nyenyak, berarti Ziel dapet tuh tidur nyenyaknya siang dan malam. Kedua, pakai popok kain malam hari bisa langsung dicuci pagi harinya. Siangnya kering, disetrika, jadi malemnya bisa dipake lagi deh. Kalau pakai popok kain siang hari, dicucinya mesti malem, dan dijemurnya tetep besij paginya kan. Jadi proses pengeringannya lebih lama, sedangkan kebutuhan popok kain itu harus cepat tersedia.

Mempersiapkan Fisik, Mental dan Finansial untuk Melahirkan

 

Saya nggak ada persiapan fisik khusus jelang persalinan. Selama hamil yang penting jaga kesehatan, makan makanan yang sehat (hindari MSG–tapi sesekali boleh, dikit aja hehe), minum vitamin tambahan kalo perlu. Saya nggak suka susu hamil. Selama 8 bulan plus, cuma habis satu box itupun ogah-ogahan. Lebih sering “malakin” susu Di*mond rasa stroberi punya suami, karena rasanya enakkk. Sesekali minum penguat tulang jaga-jaga untuk tambahan kalsium. Karena kabarnya, janin laki-laki ‘nyedot’ kalsium si ibu lebih banyak daripada anak perempuan. 

Olah raga cuma ngandelin senam hamil/yoga seminggu 3-5x tergantung mood, berenang cuma sempet 2x pas usia 5 bulan dan 8 bulan (3 minggu sebelum melahirkan, pake acara nyilem ke dasar kolam segala hahaha), dan jalan santai ngelilingin stadion tiga puteran cuma sempet 2x. Nggak ngoyo olah raga, yang penting jangan sampe nggak olah raga sama sekali alias malas waktu hamil. Saya sih udah lumayan banyak olah raga di dapur ya, cukup koq hehehe

Pas udah ada tanda-tanda melahirkan sih yang penting jangan ngelewatin makan, sekalipun lagi ngerasain kontraksi. Karena melahirkan itu butuh banyak energi. Sisanya, tiap kali suami ngulang-ngulang ngasihtau teknik pernafasan saat melahirkan, saya nggak terlalu dengerin. Cukup dikasihtau sekali, saya udah ngerti. Toh nanti juga tubuh kita bakal ngatur sendiri secara naluriah. Yang penting niatkan dan yakinkan diri kalau kita kuat. Naik gunung berhari-hari berjam-jam bisa, berarti melahirkan juga bisa doong, ahaha. *songong ✌
Persiapan mental / psikologis nggak kalah pentingnya. Bahkan menurut saya ini lebih penting. Saya percaya kalau si bayi di dalam perut bisa merasakan apa yang bumil rasakan. Itulah kenapa saya nggak mau lama-lama bersedih waktu papa saya meninggal seminggu sebelum persalinan. Tiga hari saya nangis-berhenti-nangis lagi, karena kasian debaynya kalau saya sedih terus, takutnya dia di dalem kebawa stres juga. Jadi, jangan stres.

 

Kedua, cari informasi sebanyak-banyaknya. Kita bisa tanya saudara atau teman mengenai pengalaman mereka melahirkan. Tapi sekali lagi, untuk prosesnya nggak akan sama. Informasi ini sebatas untuk tahu tahapan-tahapannya dan bagaimana kita menghadapi tahapan tersebut.

 

Cari info yang positif. Kenapa? Karena saya pernah baca blog pengalaman orang melahirkan tapi prosesnya koq sangat bikin si ibu stres, depressed dan amat tertekan mengalami semua itu — terutama rasa sakitnya kotraksi (yang berlangsung lama). Beruntung, saya juga nemu blog lain yang gaya berceritanya begitu melegakan dan sama santainya ketika melewati proses persalinan. Sama, blog tersebut juga menyarankan supaya kita (calon ibu) mencari info yang menenangkan.

 

Intinya, gak usah panik. Walaupun pengalaman saya bilang “Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit”, tapi kembali pada toleransi tiap orang terhadap rasa sakit itu sendiri berbeda-beda. Saya membayangkan rasa sakit yang teramat sangat, tapi Alhamdulillah pada prosesnya nggak se-sakit itu. Bayangin aja sakit hati yang tak terlupakan, diputusin pacar, diselingkuhin, ditikung teman, atau apa aja, siapa tau membantu. Ahahahha gak nyambung!

 

Pastikan pasangan (suami) juga punya bekal informasi dan siap jadi suami siaga. Ini berguna banget supaya si calon ayah punya bayangan gimana tahapan prosesnya, (yang terutama) sudah siap dan tenang mendampingi si calon ibu. Buat pasangan yang LDR, pastikan siap cuti dekat-dekat HPL. But btw, HPL juga bisa meleset, solusinya adalah begitu ada tanda-tanda mau melahirkan, langsung cuss deh pulang buat nemenin istri melahirkan. Pastikan juga nggak ada dinas luar kota dekat-dekat HPL atau di minggu-minggu terakhir. Suami saya ngambil waktu training ke Surabaya 3 hari di week 36-37, saya sempet kesel juga sih (lah koq curhat😅), dan waktu dia pulang, tiga hari kemudian saya melahirkan. Ini kalau persalinan maju seminggu lagi, saya bakal bener-bener ngelahirin sendirian. Aduh ga kebayang dehh..🙈

 

 

Kamar di RS, cukup memadai buat kita berdua

Pilih tempat yang paling sreg di hati. Buat saya yang tinggal di seberang pulau sama suami, sempat dilanda rasa galau mau melahirkan di mana. Beberapa teman menyarankan untuk melahirkan dekat dengan keluarga. Alasannya karena banyak yang bisa bantuin dan nemenin. Tapi itu artinya saya harus LDR-an sama suami selama beberapa bulan (seenggaknya lima bulan), dari usia kehamilan 7 bulan –batas aman bumil terbang, sampai bayi bisa dibawa dalam perjalanan menggunakan pesawat (tiga bulanan). Jujur aja, saya lebih nggak bisa jauh sama suami ketimbang sama keluarga. Lagipula, saya takut kalau-kalau saya justru bakal merepotkan mereka. Akhirnyalah, saya memutuskan untuk melahirkan di Samarinda, hanya ditemani suami. Bukan cuma soal ‘ada keluarga yang nemenin atau nggak’, pemilihan tempat juga didasarkan pada fasilitas kesehatan yang dipilih. Banyak juga orang yang lebih milih melahirkan di bidan, karena rata-rata biaya persalinannya lebih murah ketimbang melahirkan di rumah sakit. Bisa jadi begitu, dan bisa jadi karena udah nyaman juga, karena kebanyakan bidan itu ramah-ramah. Tapi (*amit-amit) kalau tiba-tiba terjadi apa-apa, ujung-ujungnya tetap dirujuk ke rumah sakit.
 

Ada cerita membahagiakan juga di balik pengurusan administrasi persalinan kemarin. Awalnya, resepsionis bilang asuransi hanya bisa meng-cover setengah dari biaya persalinan. Saya dan suami udah siap-siap dengan kenyataan, “Bakalan bayar cukup banyak nih (sekian juta),” tapi yaudah, yang penting bayi dan ibunya selamat, soal biaya gusah terlalu dipikirin. Waktu menyelesaikan administrasi pada saat chek out (cailah macem nginep di hotel LOL), ternyata biaya tambahan yang perlu dibayar hanya 200ribuan aja. Alhamdulillaahhh, rejekinya Ziel yaaah. *makin terharu dengan semua proses ini, hiks* Love you, nak. 😙

 

Segitu deh informasi yang bisa saya bagi. Mudah-mudahan bermanfaat, terutama yang sedang mempersiapkan kelahiran.

 

Cerita saya melahirkan Ziel bisa dibaca di SINI

 

Semangat moms! 💪💪💪

 

Salam,

 

@nderahma

Bahagianya Melahirkan Ziel

​It’s a Boy!

Alhamdulillah, Allah telah karuniakan kepada kami seorang putera yang sehat pada Senin, 25 Juli 2016 pukul 17.30 WITA di RS Haji Darjad Samarinda. Ziel lahir melalui persalinan normal dengan berat 2,9 kg dan panjang 50cm. 

*saya merampungkan tulisan ini di tengah pagi buta, menggendong Ziel yang baru selesai nenen. Sambil memandangi wajah polosnya yang sesekali tersenyum bahkan tertawa terkekeh dalam tidurnya. Love you, nak.
(Tapi lama-lama pegel jugak. Bobok sendiri ya, nak hihihi)

Lanjuuuut…..

* * *
Tanggal 25 Juli, sekitar pukul 01.00 menjelang tidur, seperti biasa saya Buang Air Kecil (BAK) karena frekuensi BAK yang semakin sering di bulan-bulan akhir kehamilan memang agak merepotkan. Saya dapati lendir bercampur darah di celana dalam, dengan jumlah yang sedikit. “Wah tanda-tanda nihh” pikir saya. Tapi dengan santai saya beranjak tidur, kayak nggak terjadi apa-apa. 

Terbangun pukul 04.30 karena kebelet BAK, ternyata lendir bercampur darah jumlahnya lebih banyak. Saya bangunkan suami untuk memberitahu. Suami nampak syok dan tersadar kalau benar itu tanda-tanda melahirkan. 
Agak bingung karena kami belum sempat packing untuk persiapan melahirkan. Jujur aja, kami baru belanja perlengkapan bayi 2 hari sebelumnya. Dan baru beres-beres kamar buat bayi sehari sebelumnya. Santai abis, LOL. Baju yang dibeli pun baru sebagian dicuci sehari sebelumnya dan belum kering benar. Akhirnya bawa bedong yang belum dicuci dan baju bayi peninggalan ponakan yang sudah dicuci seminggu sebelumnya. Baju yang baru dibeli masih menggantung di tempat jemuran *tutupmata*

Selesai Shalat Subuh, kami baru mulai packing. Gak banyak persiapan sih, bawa yang sekiranya perlu aja, tapi kami sempatkan untuk makan pagi soto + nasi sisa semalam. 
“Kita harus punya tenaga nih,” sahut saya dan diamini suami. Ingat ya, proses melahirkan gak cuma melibatkan si calon ibu, tapi juga calon ayah. Repot kan kalo suami tiba-tiba pingsan karena kelaparan waktu nemenin kita melahirkan. Maklum, suami suka gelisah dan cranky kalo lagi lapar. Hahahaha

Kontraksi sudah mulai berasa tapi sedikit-sedikit, jadi masih santai sarapannya. Setengah delapan pagi, suami mendaftar untuk cek dokter, kebetulan pagi itu dokter kandungan saya praktek juga jam 9 pagi. Sebenernya, hari itu memang jadwal cek bulanan kandungan, tapi biasanya kami datang di jam praktek malam. Tapi yaudah, sekalian aja deh. 
Setelah ganti baju (tapi lupa mandi hahaha), saya menunggu waktu untuk berangkat. Saya jalan-jalan di dalam rumah sambil baca-baca buku kehamilan sehat, kado dari teman suami *telat banget baca bukunya menjelang melahirkan ahaha. Sementara suami masih rebahan di kamar sambil tidur-tidur ayam. Ternyata waktu saya bangunin subuh tadi, dia agak kaget jadinya agak pusing, katanya.
Kami berangkat pukul 8.30, perjalanan ke rumah sakit sekitar 10-15 menit. Tapi dokter baru datang jam 9.30. Dapat urutan pertama, dokter memeriksa kandungan saya dan dinyatakan sudah bukaan dua. Berat badan janin (BBJ) waktu di-USG sekitar 2,4kg. Tapi dokter bilang kepala bayi sudah masuk panggul jadi kemungkinan BBJ lebih dari itu. Yang saya tau, memang BBJ untuk kelahiran normal (minimal & aman) itu 2,5kg. Jadi waktu dokter bilang gitu, saya nggak worry. Santai aja.
“Tipis ini (gatau deh yang dimaksud tipis itu lapisan apa). Gak lama lagi ini, Bu (bakal melahirkan-red),” katanya. “Langsung aja ke UGD terus booking kamar,” 

Di UGD, suster memasang jarum untuk infus, sementara suami yang takut jarum nunggu di luar. *badan doang gede tapi lihat jarum suntik langsung lemes hehehe. 

Sementara suami mendaftar untuk mendapat kamar, saya jalan muter-muter di lobby rumah sakit, sambil ngajak ngobrol debay di perut. 
“Bantu amih ya, lancar ya nak keluarnya,” saya ulang-ulang kalimat tersebut. Dari sejak usia kandungan 8 bulan selalu saya bisikkan ke perut seperti itu. 

Katanya sih, jelang melahirkan harus jalan-jalan kecil supaya pembukaannya cepet. Kontraksi masih 10 menit sekali. Setelah dapat kamar, kami masuk dan masih sempat foto-foto, cengangas-cengenges, sambil nonton tv. Keluarga di Jakarta pun sudah kami kabari. Jam 11, suami minta ijin untuk pulang dulu, mandi dan beli makan siang. Maklum, perut gabisa laper dikit hehehe. Sekalian, mau ambil barang-barang yang ketinggalan seperti bantal, selimut, sekalian juga mau beli kasur lampung buat mama mertua yang mau dateng besok (*rempong amat, zzzz -_-“) 

Antara jam 12 siang sampe jam 1, mulas naik dari 10 menit sekali jadi 5 menit sekali. Saya pun minta suami untuk cepet-cepet balik ke RS. Waktu saya mengabari kedua kakak perempuan saya, mereka punya pendapat beda, yang satu bilang lahirannya gak bakal lama (terhitung sejak keluar flek), satunya lagi malah “ngeledek” saya karena terlalu terburu-buru ke rumah sakit. 
“Palingan juga baru melahirkan besok subuh atau pagi,” katanya. Mama mertua juga memprediksi kalau saya bakal lahiran besok paginya. Well, pendapat dan pengalaman orang kan beda-beda ya. Kami sih ambil jalan amannya aja.

“Maklumlah anak pertama, takut gimana-gimana, kalo standby di RS kan gampang. Kalo brojolan di jalan khan repot,” jawab saya. 

Hmm.. kalo ternyata baru melahirkan besok, memang jadinya kelamaan di RS. Lumayan kan, irit bayar sehari di kamar VIP. Hehehe *ibu-ibu mode on

“Tapi kalo dibayarin asuransi kantor sih tenang aja,” timpal kakak saya lagi. Sementara kakak saya satunya lagi gak banyak ngomong, cuma mendoakan supaya lahirannya cepat dan lancar. 

“Langsar lungsur, ya. Moga lahirannya lancar,”

Selesai makan siang, shalat zhuhur, saya dan suami masih ngobrol ketawa-ketawa. Bahkan kami masih sempat tidur. Saya tidur di sofa, sementara suami tidur selimutan di ranjang dengan lelapnya. Hisshhh, yang mau melahirkan siapa, yang tiduran di kasur siapa -_-” *maklum, kami menganut prinsip kesetaraan, jadi ya gak jarang saya ngalah untuk suami dan sebaliknya. Demi kebaikan bersama hehe. 

Enak yaa boboknyaa 😅

Singkat kata, jam 15.30 saya terbangun dari sofa karena pingin BAK. Gak taunya, waktu berdiri saya rasakan ada air yang merembes di celana. Saya bangunin suami untuk panggilkan suster, takutnya saya pecah ketuban duluan. 
“Rebahan, Bu. Sudah tidak boleh jalan-jalan lagi,” katanya. Setelah diperiksa, ternyata baru bukaan tiga. Walaupun saya nggak tau itu beneran pecah ketuban atau bukan–saya mah orangnya manut aja hehe. Saya mengganti celana dengan kain batik (supaya gampang dilepas) dan suster melapisi badan saya dengan popok dewasa, supaya nggak rembes ke kasur. 

Rembes…

Sambil menikmati sensasi mulas yang belum naik frekuensinya, masih 5 menit sekali, saya mencoba untuk tidur, takutnya bakal lama. Gak pingin dong kalau nanti saya terlalu ngantuk dan gak punya energi untuk mengejan. Sekira pukul 16.00 saya merasa frekuensi mulas lebih kencang, jadi saya minta suami panggilkan suster lagi.
“Gak boleh sering-sering dicek, Bu. Paling nggak 6 jam sekali dicek (pembukaan),” katanya. Wah, berarti bukaan selanjutnya baru enam jam lagi? Pikir saya. Kedua adik ipar menelfon dan videocall bergantian. Awalnya sih oke-oke aja, lama-lama risih juga vcall-an sambil nahan mules. Bikin hilang konsentrasi hahaha… 

Suami pun menunggui saya sambil browsing-browsing, cari info tentang proses melahirkan.

“Katanya sih yang paling sakit itu di bukaan 9 ke 10,” duh, kok infonya bikin parno ya. Suster cuma bilang, (boleh) panggil lagi kalau rasa sakitnya seperti orang mau BAB yang benar-benar nggak tertahankan.

Jujur aja, saya nggak punya bayangan gimana rasanya mulas mau melahirkan. Dokter bilang, 
“Seperti sakit waktu mens, tapi jauh lebih sakit,” katanya. Saya yang nggak pernah merasakan sakit perut hebat kalau lagi mens, masih bertanya-tanya, segimana dahsyatnya kah rasa sakit (mulas) itu. Saya pun mengingat-ingat rasa perut yang super melilit kalau kebanyakan makan cabe. Terus, saya juga gak punya bayangan gimana rasanya sakit waktu melahirkan. Otak saya pun menginstruksikan untuk mengingat-ingat rasa sakit “di bawah sana” waktu pertama-tama berhubungan setelah menikah. Waktu itu saya rasakan miss V sakit dan panas seperti terbakar karena infeksi jamur, sampai-sampai meringis kesakitan, seperti disayat-sayat. 

Frekuensi kontraksi semakin sering, dan begitu “nikmatnya” rasa mulas itu, saya nikmati sambil berdzikir, ga ada hal lain yang bisa saya lakukan, saya cuma minta kekuatan sama Allah. Jam 5-an sore saya minta suami panggilkan suster karena saya udah ngerasa gak tahan banget kayak pingin pup. 
“Beneran gak bisa ditahan sakitnya?” Suami memastikan, karena terkahir kali suster bilang estimasinya 6 jam ke pembukaan berikutnya. Takut-takut susternya judes karena nggak percaya dan ngerasa rempong dipanggil-panggil mulu. 

Suster yang datang beda dengan suster sebelumnya. Sang suster pun memeriksa bukaan dan dinyatakan sudah bukaan 8. Wohhh, cepet. 
“Kita ke ruang bersalin, ya Bu,” suster pun bergegas mengambil kursi roda dan membawa saya ke ruang bersalin yang letaknya sekira 10-15 meter dari kamar. 

Sampai di ruang bersalin, sudah ada empat orang suster dan dokter kandungan saya di sana. Saya naik ke bangsal melahirkan. Gak lama, dokter memeriksa bukaan saya dan dinyatakan sudah bukaan 9. Sementara mereka masih siap-siap, dokter bilang supaya saya nggak mengejan dulu, karena bukaan belum lengkap. 

Kebayang ya seperti pingin banget pup tapi gaboleh mengejan. Saya diminta untuk mengatur nafas dan gak henti berdzikir. Gak lama, palingan 5 menit kemudian saya merasa bener-bener nggak bisa nahan pingin mengejan. Dan dokter pun bilang bukaan sudah lengkap. Kepala bayi juga sudah kelihatan. 
“Dorong. Tarik nafas. Dorong,” instruksi-instruksi dokter pun diulang sama suami, yang mendampingi di samping saya, sambil mengabadikan kelahiran Ziel dengan ponselnya. Hanya dua kali mengejan, Ziel pun lahir ke dunia. Tangisannya nggak begitu kencang, tapi melegakan. Cepat banget, gak sampai setengah jam. 

“Sudah Bu jangan mengejan lagi. Batuk aja, batuk(-in),” 

Alhamdulillah lancar – cepat – nggak sakit**. Setelah disedot air ketubannya dengan pipet, Ziel diperlihatkan ke saya. (**intensitas dan ketahanan orang berbeda-beda terhadap rasa sakit)
“Anaknya laki-laki ya Bu,” sambil saya kecup pipinya. Kemudian Ziel dibawa ke ruang bayi utuk dibersihkan, sementara dokter masih mengeluarkan plasenta dari perut saya.

Rasanya hangat waktu plasenta itu dikeluarkan. Sekaligus rasanya ada yang hilang dari perut saya. OMG, perutnya mengerut dan mengendur. Malah hal-hal bodoh seperti itu yang muncul di pikiran saya. Satu lagi yang terlintas, otak saya bilang, “Okay, I’m ready for baby number two (anak kedua),” yahh ilaahh, konyol banget kan, hahaha. Sayangnya nggak ada Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang langsung dilakuin begitu bayi dilahirkan. Padahal video-video yang pernah saya tonton sih begitu, paling nggak 30 menit sampai satu jam setelah bayi dilahirkan. Saya diminta menunggu dua jam di bangsal melahirkan, ditemani suami. Katanya untuk memantau apakah saya mengalami pendarahan (hebat) atau nggak. Alhamdulillah, darah yang keluar hanya darah nifas biasa. Saya pun dibawa kembali ke kamar dengan kursi roda. 
Suami saya keluar lagi untuk beli makan malam. Maklum, rumah sakit kan hanya menyediakan makan untuk saya saja. Sekalian ambil guling dan baju Ziel yang baru kering, karena estimasi kami bakal stay sampe 2-3 hari di RS. Waktu Ziel diantarkan ke kamar jam 19.30, suster seperti keheranan.
“Ibu sendirian aja? Suaminya mana?” Seakan-akan dia gak habis pikir kok orang melahirkan (ditinggal) sendirian.

“Lagi keluar sebentar sus,” 

Dia pun menginstruksikan saya untuk menyusui Ziel dan menyarakankan posisi yang nyaman untuk menyusui. Tapi yaudah, abis itu dia keluar lagi. Hmmm.. memang suster di sini agak-agak jutek apa gimana sih, pikir saya. 

Well, saya nggak ambil pusing. Kebahagiaan kami sudah ada di pangkuan. Saya mencoba menyusui dia, meski yang keluar baru cairan bening kekuningan yang disebut kolostrum. Memang, katanya ASI yang sesungguhnya baru bakal keluar 2-3 hari setelah melahirkan. Sementara itu, bayi cukup minum kolostrum yang fungsinya gak kalah penting untuk imunitas si bayi. Malamnya, Ziel bangun beberapa kali, dan suami pun ikutan kebangun. Akhirnya, daripada repot ngangkat-nurunin Ziel ke box bayi, saya tidurkan dia di sebelah saya. Barulah dia lebih tenang dan gak sering nangis.
Besoknya, setelah Ziel diperiksa golongan darahnya, dokter anak dan dokter kandungan datang ke kamar. Mereka menyatakan kami udah boleh pulang. Yap, hanya sehari setelah melahirkan. Jadilah barang-barang yang banyak itu dibawa pulang lagi. (Btw selain kasur lampung, suami bawa 2 bantal dan juga guling–tapi dia malah lupa bawa celana buat tidur. Azzzzz -_-“) 
Setelah urusan administrasi selesai jam 11-an, kami masih nunggu teman-teman kantor suami yang mau datang menjenguk, baru setelah itu sekira pukul 3 sore kami pulang. 

And guess what… begitu nyampe ke rumah, yang kami lakukan adalah beres-beres. Nyapu,  ngepel, dll karena mama mertua bakal datang jadi rumah harus bersih. 
Aduh mak, aku baru melahirkan lho ini…

* * *
Ziel lahir 2-3 minggu lebih cepat daripada perkiraan HPL dokter. Bahkan waktu pertama kali cek pas usia kehamilan 5 minggu, prediksi HPLnya tanggal 25 Agustus, yang mana di hari ini Ziel udah berusia satu bulan. 

Namanya juga takdir. Meski dokter sudah punya prediksi, tapi kekuatan dan kekuasaan terbesar hanya milik Allah. Dia-lah yang paling tau kapan waktu terbaik. 
Ziel lahir 6 hari setelah kakeknya– papa saya, meninggal. Mungkin Allah percepat kelahiran Ziel untuk menghibur supaya saya nggak lama-lama bersedih. Walaupun memang, rasa sedih itu sempat meremukkan hati saya. Selama tiga hari, saya yang waktu itu ditinggal suami dinas ke Surabaya, harus menanggung kesedihan sendirian. Gak bisa pulang ke Jakarta menyaksikan penguburan papa, suami pun gak bisa pulang karena tiket Surabaya-Balikpapan maupun Surabaya-Jakarta waktu itu full sampai dua hari kemudian. 
Dalam seminggu, rasa sedih berubah menjadi cita, duka pun berubah menjadi suka. Betapa kuasa Allah tak bisa kita kira. Begitu juga dengan prosesnya, ga nyangka bakal secepat itu. Bener-bener doa dan usaha kami dimudahkan. Terhitung dari kontraksi-kontraksi kecil, gak sampai setengah hari, Ziel udah lahir. Gak sampai 24 jam, kami udah diperbolehkan pulang oleh dokter. Denger pengalaman orang lain, bahkan ada yang 20-24 jam bayinya baru lahir, dan baru 2-3 hari (persalinan normal) baru bisa pulang dari RS. Melahirkan berdua aja sama suami, gak masalah. Buktinya kita bisa hehe..

Dari mulai hamil, melahirkan, sampe sekarang, Ziel baik banget, sama sekali nggak nyusahin atau rewel. Kadang-kadang saya suka terharu sendiri deh hihi. Mudah-mudahan sampai besar selalu kooperatif ya, nak. 

Gini nih kalau Ziel ketawa terkekeh pas lagi bobo. Ucul!😙

You are the star in our heart. Grow well, my darling. We love you so much.