Ziel nyemplung perdana di kolam renang umum. Santai, gak panik. Untung tadi isinya kebanyakan anak kecil yg lagi les. Dan kolamnya gak berasa kaporit. Jadi aman buat Ziel nyilem.
#babyZ #6m10d

View on Path

Kalau Belum Siap, Jangan (dulu) Punya Anak

“Kalau engga mau ribet, mending gak usah punya anak deh,” kata teman saya, mother of two. 

Waktu itu saya cerita soal tetangga yang setiap hari hidupnya selalu RAME. Dalam arti sebenarnya. Tiada hari tanpa neriakin anaknya. Ya ampun, saya sama suami jadi suka ikutan spaneng dengernya. FYI, saya sama suami bukan tipe orang yang suka ngegosip atau menjelek-jelekkan orang lain. Tapi menurut kami, “kegiatan” si ibu tetangga itu bukan sesuatu yang perlu. SAMA SEKALI engga perlu dilakuin. Apalagi. Tiap. Hari. 😧

Kalau saya perhatikan, tetangga saya itu seringkali teriak atau ngomong pakai nada tinggi waktu ngajarin anak pertamanya belajar. Teriakan ini terdengar ke telinga kami kadang siang, kadang menjelang maghrib, kadang malem. Kayaknya sih anak pertamanya sekitaran kelas satu atau dua SD, sementara anak keduanya belum lancar ngomong, jadi saya asumsikan sekitar satu tahun-an. Dalam hati saya mikir, itu anaknya kalau diajarin belajarnya pakai nada tinggi dan dimarah-marahin, gimana mau pinter, yang ada malah keblinger. Dan suatu kali saya dengar ibu itu bilang, 

“Ngapain kamu gambar-gambar? Bukannya belajar malah ngegambar!!” Padahal menurut saya, yang namanya belajar itu gak bisa dilakukan underpressure. Jadi ya kenapa sih anaknya nggak dibiarin aja dulu ngegambar sampai puas, siapatau dia punya bakat seni di situ, setelah itu baru deh suruh dia fokus belajar. Tapi ya nggak perlu sampai dimarah-marahin kalau dia belum bisa jawab. Kalau setiap kali anak gak bisa jawab terus si ibu bentak-bentak, yang ada dia malah gak punya mood buat belajar. Bisa jadi nanti pas agak besar, belajar adalah hal yang dibenci oleh si anak. Salah-salah, kalau nggak membenci kegiatan belajarnya, dia bakal membenci ibunya. 

“Ketika orangtua berpikir buruk, maka energi negatif tersalur ke diri sang anak. Seakan-akan orangtua mendoakan anaknya selalu buruk. Apa yang mereka sampaikan berdasarkan proses berpikir mereka, sebab energi mengikuti pikiran,” kata Founder Spirit of Life (SOUL) Bunda Arsaningsih – dikutip dari Liputan6.com


Your Kids Will Hate You

Jujur aja, I will definetely hates my mom if I were him. Kenapa? Karena saya enggak suka lihat orang bentak-bentak. Apalagi saya sesekali dengar si ibu tetangga itu ngata-ngatain anaknya B*GO atau G*BLOK. Aduh mak, tega banget bilang anaknya sendiri bodoh, padahal si ibu lagi berusaha supaya si anak jadi pintar. That is so wrong. I feel so angry about it.😬 

Lalu, kebiasaan bentak-bentak itupun ia terapkan ke anak keduanya yang belum lancar bicara itu. Alhasil, saya sering dengar si balita ini teriak-teriak kalo lagi dibentak sama ibunya. Saya sih yakin banget mereka belum punya mental yang matang untuk jadi orang tua. Nanti, anak-anaknyalah yang akan menjadi korban. Anak-anak yang belum bisa berpikir dengan logika akan menelan kalimat yang meluncur dari mulut orang tuanya mentah-mentah. Semakin sering dia disebut bodoh, semakin dia akan merasa dirinya memang bodoh. Dan ini bahaya. Sebagai orang tua, sama saja dia sedang melakukan bullying terhadap anaknya sendiri. Dan menurut saya, anak tersebut sudah verbally abused. Apalagi kalau dilakukan terus-menerus. Beneran deh, kasihan banget kalau psikis anak harus dikorbankan untuk jadi tempat melampiaskan emosi. *Kayaknya ibu itu kurang piknik dehđŸ˜„

Secara psikologis, mental anak bisa terganggu. Ada kemungkinan si anak jadi pendiam, merasa takut, atau malah jadi pemberontak dan berani melawan orang tua. Semakin si anak besar dan bisa menggunakan logikanya dengan benar, dia akan merasa masa kecilnya penuh tekanan dan tidak bahagia. Dan kita semua tau, kalau waktu nggak bisa diputar ke belakang.

Pic from quemas.mamaslatinas.com



Anak adalah Cerminan Orang TuaAda peribahasa, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Tidak ada anak yang akan tumbuh baik dalam ajaran yang melenceng, atau dalam perasaan tertekan. Peran orang tua sangat besar, karenanya parenting itu bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga ayah. 

Dorothy Law Nolte, Ph.D menulis dalam bukunya “Children Learn What They Live”: 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan (encourage), ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebenar-benarnya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan. “

Well, kalau cuma kata-kata, kelihatannya mudah ya, sedangkan penerapannya sangat rumit sekali. Tapi setidaknya semua itu bisa menjadi ilmu tambahan sekaligus guidance supaya kita sebagai orang tua senantiasa teringatkan bahwa having kids is not about us, but (totally) about them. Orang tua punya aturan, kedisiplinan dll tapi tetap, semua itu penerapannya disesuikan dengan karakter si anak. Semua hal yang akan kita ajarkan harus menyesuaikan mereka, tapi bukan berarti kita yang disetir sama mereka ya. 

Yang namanya baru punya anak berarti kita menjalani hidup dengan “alien”. Kenapa saya sebut demikian, karena setiap anak, meskipun masih bayi, dan dimulai dari bayi, pertama-tama akan terasa “asing” karena kita sama sekali belum mengenal mereka. In the beginning, they are totally strangers. Lambat laun seiring waktu, kita semakin tau kebiasaan-kebiasaannya, karakter dan sifat-sifatnya. Which is, raising kids is always about sacrifice and huuuge patience. Kalau belum ngerti atau belum bisa berkorban dan sabar, mungkin Anda termasuk dalam kategori orang yang belum siap punya anak. Dan saya sarankan untuk menunda dulu punya anak sampai merasa benar-benar siap. 

Anak Bukan Robot dan Bukan Orang Dewasa

Memang anak akan menirukan apa yang dilakukan orang tua, tapi karakter yang dibawanya akan mempengaruhi bagaimana dia meng-copy segala sikap kita di depan mereka. Artinya, tidak semua yang kita ajarkan akan dilakukan sama persis 100%. Jangan berharap seperti itu, karena dia bukan robot yang bisa diprogram dan hanya melakukan sesuatu sesuai program yang ditanamkan. 

Kids are not robot. Pic from http://www.salon.com

Anak akan meniru tindak-tanduk kita atau menuruti arahan kita dengan caranya sendiri. Namanya juga anak-anak ya, nggak mungkin dong bisa menyikapi sesuatu seperti halnya orang dewasa. Kita harus mengajarkan sesuatu dengan bahasa mereka, disesuaikan dengan umur dan karakter mereka. Hindari kata-kata yang membuat mereka tertekan, karena daya tahan mereka terhadap pressure berbeda dengan orang dewasa. Pokoknya jangan mengaggap mereka seperti orang dewasa deh. Dan yang terpenting, jangan terapkan kekerasan karena akan membuat psikis mereka semakin down. Intinya, untuk membesarkan anak, semua harus disaring melalui nalar (ilmu+logika) yang diiringi dengan kesabaran. Menyayangi bukan berarti memanjakan. Memberi hukuman bukan berarti harus dengan kekerasan.


Reaching 100 Posts. Yeayy??

Today, I received a notification from Worpress that my blog has 100 posts. 

Wow, a hundred? 

What was I’m writing about within all these years? Does it necessary? Does it good? Does it just bragged out? 

Ha. Ha. Honestly, I don’t really care about what people think about my posts (*really??). I just want to fulfill my needs to devote what inside my mind. 

By the way, dalam satu jam terakhir ini (mumpung sibayi lagi tidur), saya mulai scrolling-scrolling blog sendiri, terus baca komen-komen, liat followers yang nggak seberapa (wkwk), liat postingan orang, visit blog lain di komentar postingan tersebut, baca beberapa blog yang seliweran yang jadi referensi untuk dibaca (*karena saling nge-link atau mem-follow. 

Biasanya, followers itu adalah orang yang tertarik dan/atau memiliki pandangan, pengalaman, dan gaya menulis yang mirip dengan yang mereka follow. Tapi, belum tentu punya plot yang sama-sama enak buat dibaca. Kadang ada yang bercerita hanya dari satu sisi dan satu bagian, ada yang memilih untuk meng-hide beberapa bagian dalam tulisan. Beragam. Ada yang ‘cuma mau keliatan sendiri’ misalnya semua foto isinya cuma si penulis, padahal dalam hampir semua postingannya, dia menceritakan keluarga, suaminya dll. Ada juga yang sama sekali gak mau keliatan di postingannya sendiri. Fotonya sendiri di-blur padahal postingan-postingannya ya nggak jauh dari tentang keluarga dan anak-anaknya (*yang juga kadang fotonya sengaja diambil dari atas atau samping).

Those are unusual yet funny, thou. Kadang saya juga mikir, postingan saya udah enak dibaca belum ya? Informatif nggak ya? Berguna nggak sih? Atau cuma dilihat sebagai tulisan-tulisan yang isinya di-lebay-lebay-in? Sorry I don’t think I need to brag, hidup saya terlalu biasa untuk dianggap atau terlihat “wah” atau luar biasa. 

There are some people out there who always think, 

“Yailah, apaan sih postingannya gak penting banget,” 

“Tulisannya doang kayaknya seru-seru, hidupnya belum tentu deh,”  atau

Kok bisa ya hidupnya kayak gitu?” (antara iri atau apaan sih ini?). 

pic from etsy.com

Intinya, pasti ada lah yang begitu. Terkadang idealisme-nya menulis jadi meng-underestimate tulisan orang lain yang bercerita dengan gaya yang berbeda. To be honest, kadang-kadang saya juga begitu sih, hehe.. #pengakuandosa
Kalo kata mama mertua (yang jauh lebih sholehah daripada saya), yang namanya manusia pasti adaaa aja, walaupun sedikiiit, dalam hatinya nyeletuk A B C D. Yakin deh. Seeee-sholeh/sholehah, haji, ustad or apapun itu, apalagi orang-orang biasa kayak kita (kita??) 

But then, I’m just hoping that my 100 posts doesn’t hurt nor insult anybody, dan beberapa waktu belakangan, saya menghapus page atau postingan yang udah nggak relevan dengan kehidupan saya sekarang. Ciyee ceritanya mau move on. 

From now on, I’m choosing to post more about positive and happy thoughts. More inspiring (at least for myself and people around me). I CHOOSE to look up the bright side of anything. 

How about you? 


But anyway, happy blogging 😊 

Kenali Dirimu, Kenali Tuhanmu, Berbahagialah

Bahagia itu seperti sedih, datangnya dari HATI. Silakan selami hati masing-masing. Kalau nggak ada, coba cek di toko sebelah. 

happiness-is

pic by hipwee.com

* * *

“Kak, usiaku sudah mau kepala tiga, tapi belum juga menemukan jodoh,” ucap seorang perempuan kepada temannya. Karena perbedaan umur beberapa tahun, ia pun menganggap sang teman seperti kakaknya sendiri, karena ia tak punya kakak perempuan.

“Tenang dik, gaperlu risau. Di luaran sana masih banyak orang-orang dewasa, umur 30 bahkan mau 40, yang jangankan menemukan jodoh, menemukan jati diri dan Tuhannya saja belum,” ucap sang ‘kakak’

Si ‘adik’ terdiam. Belumlah ia percaya ada kenyataan seperti itu. Tapi ia beruntung tak tersasar sejauh itu.

“Jikalau kamu baik, percayalah kamu akan menemukan orang (jodoh) yang baik. Atau ditemukan oleh orang yang baik,” kata sang kakak lagi.

* * *

Dalam kehidupan, ada banyak perjalanan. Banyak pertemuan. Perpisahan. Kita mungkin sudah banyak melihat, banyak mendengar, banyak mengeksplor, tapi tak ada jawaban yang diinginkan.
Begitu banyak pertanyaan akan hadir di benak seseorang, mengenai apa saja yang ditemuinya, dirasakannya, diinginkannya. Sehingga seseorang itu mungkin saja perlu melintasi banyak daerah, mengunjungi banyak tempat, bertemu banyak orang, untuk menemukan apa yang ia cari. Menemukan jati diri.

Bisakah kebahagiaan dihadirkan oleh sejumlah uang? Belilah apapun yang kamu mau, pergi kemana pun kamu inginkan dengan uang tersebut. Tapi apakah kamu akan bahagia? Jikalau kedamaian dan kesyukuran belum menghampiri, saya hampir yakin, perjalanan sejauh apapun dan benda semahal apapun yang dibeli dengan uang tersebut hanya akan jadi sebuah ‘ritual’, sekedar barang tak bernyawa atau kegiatan/peristiwa, tanpa ada makna.

  • Pergi ke Raja Ampat, jauh dan pricey, tempatnya bagus banget, pondokan yang instagramable, senang riang, lantas ambil foto, cekrak-cekrek, posting, banyak like. Selesai.
  • Pergi ke Gunung Papandayan, dekat, murah, tidur di tenda, makan seadanya, pemandangan tak kalah indahnya. Tapi merasa damai, lebih dekat dengan Tuhan.
  • Kumpul sama teman-teman, nongkrong asik, makan-ngebir-rokok, begadang bareng, haha-hihi. Hepi. Besok-besok diulang lagi. Soalnya males kalau sendiri.
  • Nonton dvd di rumah, menikmati waktu luang di antara kesibukan & kepenatan. Syukur banget kalo udah berdua sama pasangan. Ngobrolin banyak hal, becanda-becanda. Cuddling. 

Sejauh apapun kau pergi, kebahagiaan tak akan kau temui, selain di dalam dirimu sendiri.

Bagi seseorang yang bisa memaknai sesuatu, ia takkan melihat sebuah peristiwa / benda tak sekedar sebagai fasilitas, tapi juga dapat menemukan arti yang mendalam. Kenapa bisa begitu? Karena ia tau dirinya sendiri, ia tau Tuhannya yang mengirimkan rasa itu padanya, dan juga segala ciptaan yang ia lihat.

Nikmati Setiap Fase Kehidupan
Menurut suami saya, setiap fase dalam kehidupan memiliki jangka waktu / batasan, arti, dan cara menikmatinya masing-masing. Ketika bayi kita tak ingat apa-apa, sebagai anak kecil cara kita menikmatinya ya dengan bermain-main, beranjak remaja mungkin kita sudah mulai cinta-cintaan, setelah bekerja kita menikmati hidup dengan mempergunakan hasil kerja keras, setelah menikah cara menikmatinya mungkin jalan-jalan berdua, kalau sudah punya anak cara menikmatinya ya dengan mengurus anak. Dan seterusnya.

“Tapi ada batasannya seseorang harus sudah move on. Artinya, kalau sudah di fase tertentu kita nggak akan bisa mundur. Untuk melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan, mungkin aja, tapi nggak akan rutin seperti sebelumnya, dan esensinya pun akan lain,” katanya.
Kalau dulu kita bisa hura-hura, di batasan usia tertentu hal itu sudah nggak ‘menarik’ lagi, nggak seru lagi, karena fase dan prioritas yang berubah. Yang dulu kita anggap menyenangkan belum tentu sama menyenangkannya di masa sekarang. Semua itu terjadi secara alamiah. Kita nggak bisa kembali ke masa remaja seperti film “17 Again”, dan nggak akan bisa untuk selalu 17 tahun. Sebagai manusia dewasa kita harus mengerti dan menerima kenyataan bahwa kita semakin tua. Semakin tua. Semakin tua. Lantas apa? MATI. Yap, semua manusia dan makhluk di bumi ini akan mati. Dengan meyakini hal itu, kita akan semakin meyakini keberadaan Tuhan. Dia yang menciptakan dan juga yang men-switch off segalanya.
Bagaimana memaknai kematian bagi mereka yang tak menemukan Tuhan di hatinya? Bisa jadi, sebenarnya mereka berasal dari keluarga yang religius, sejak kecil diajarkan agama, keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Tapi kemudian lingkungan dan pikirannya menjerumuskan mereka pada kondisi yang sedemikian rumit sehingga tak mampu atau tak mau menerima ‘jawaban dari Tuhan’. Sebagai muslim, saya meyakini segala sesuatu yang ada di bumi, setiap fase kehidupan telah diatur dalam kitab suci Al Quran. Begitu pula ketika pikiran kita ‘tersesat’, hal itu tak luput dari campur tangan-Nya.

Mengutip website quran.al-shia.org, ada beberapa ayat yang menerangkan hal tersebut:

  1. Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
  2. Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
  3. Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.
  4. Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Jadi, kata siapa kalau kita tidak (baca: belum) mengenal Tuhan, Ia tidak akan campur tangan dalam kehidupan kita? Setiap helai rambut yang rontok, kulit yang gosong, gigi yang kuning (*eh* hehe), setiap hela nafas, setiap kedip mata, gerakan tangan-kaki-seluruh tubuh kita, ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Semua itu cuma-cuma diberikan pada kita. Lantas kenapa kita selalu mengeluh, “AKU NGGAK PERNAH BAHAGIA”.

Bahagia itu Syukur, dan Bukan Gratis Kayak Hadiah Makanan Ringan

Hallo Jeng, Mas, Mba, Tuan, Puan, FYI ya, KEBAHAGIAAN ITU NGGAK GRATIS. Lha wong buang air aja banyak tempat yang mengharuskan bayar. Kalau semua keinginan manusia dikasih gratis, bukan kedamaian tapi yang timbul justru kekacauan. Gimana kalau ternyata banyak manusia yang tinggal di bumi ini lebih berbahagia di atas penderitaan orang lain, coba?

Tidak ada satu pun manusia yang bisa menentukan kebahagiaan manusia yang lainnya. Karena hal yang membuat seseorang bahagia belum tentu bikin orang lain juga bahagia. Buat saya, kebahagiaan adalah hal yang langka, ibarat berlian. Untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan, mungkin juga rasa pahit, sakit, sedih, depresi, putus asa. Sudah barang tentu, kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan tahu yang namanya kebahagiaan. Jadi kalau seseorang merasa sulit untuk bahagia, kemungkinannya ada dua : dia nggak pernah merasa sedih (banget), atau mungkin dia kurang bersyukur.

Dengan mengenal Tuhan, mengenal iman, kita akan senantiasa bersyukur. Jangan terlalu sering membandingkan diri dengan mereka yang “lebih”.

“Kok dia hepi-hepi terus ya hidupnya, barang-barangnya branded, stylish, punya mobil, rumah, gadget terkini, nongki blenji sana-sini, (*dalam hati, aku kok nggak?)” kalau kebahagiaan orang lain bikin kamu sedih, mendingan balik lagi jadi orok. Bahagia itu bukan cuma hal-hal yang bersifat duniawi.

Sering-seringlah melihat ke bawah dan merasakan kepedihan mereka yang “selalu sedih”. Tidakkah kita menyadari, bahwa di belahan bumi lain masih banyak orang yang terpaksa merasakan sedih sebagai “kegiatan sehari-harinya”. Kekurangan uang untuk beli beras, makan nasi kemarin cuma dengan garam dan sambal, harus rela anaknya keterbelakangan mental karena waktu hamil nggak mampu beli makanan bergizi, rumah gubuk tak mampu merenovasi– yang kalau hujan harus rela kebasahan karena bocor. Di belahan bumi lain itu, banyak yang kelaparan, busung lapar–badan tinggal kulit dan tulang, hidup dalam peperangan sehingga ditinggal orang tua ketika masih kecil. Sementara kita yang hidup berkecukupan, makan enak, kasur empuk, keluarga lengkap dan sehat, pekerjaan layak, bisa menginap di hotel-hotel, jalan-jalan ke luar kota (dan atau luar negeri), masiiiih aja mengeluh enggak bahagia. Hati mereka itu di mana ya? Selfish tingkat tinggi.

Remember, selalu ada alasan untuk bahagia. Paling tidak, merasa senang. Lihat sekeliling, lihat siapa yang mengisi kehidupan kita, bagaimana mereka peduli pada kita, kondisi badan dan kehidupan kita secara menyeluruh, dan lain sebagainya. Pasti selalu ada alasan untuk kita mensyukuri semua hal yang hadir di hidup kita sekarang ini. Kalau memang belum, mungkin kita belum maksimal mengejar dan memperjuangkannya. Tuhan akan menghadiahkan kebahagiaan buat mereka yang berjuang dan sabar melewati perjuangannya.

“Sebenernya yang bikin aku bahagia tuh ini, TAPI…….blablabla…..” bahagia itu nggak mengenal TAPI. Bahagia itu nggak instant. Karena yang instant (dan enak) cuma Indomie 😛

Indomie_Rebus_Ra_50f38909bfff5-500x500.jpg

Indomie paling enak ya rasa kari ayam *drooling #salahfokus (pic by indo.wsj.com)

Bahagia (Memang) Enggak Pernah Sederhana

Panjang perjalanan saya untuk bisa mendeskripsikan “arti bahagia” menurut saya sendiri. Untuk mengetahui kita sudah bahagia atau belum, kita harus mengenal diri kita sendiri. Yang terutama adalah mengetahui tujuan hidup (yang sejalan dengan prinsip), dari sana kita akan menemukan hal-hal yang bisa membuat kita senang, meresapi kesenangan kita, dan berujung rasa bahagia.

Mungkin karena kebanyakan nonton cerita Disney, saya pernah berpikir, bisa bersama dengan seseorang yang dikagumi akan membuat saya bahagia. Tapi ternyata menurut Tuhan nggak seperti itu, Tuhan nggak pernah mengijinkan saya pacaran sama laki-laki yang saya suka (*yailah curcol). Dulu sih saya kesel, kok Tuhan nggak mengijinkan saya untuk bahagia. Tapi akhirnya saya ngerti, kalau laki-laki yang indah dipandang mata, yang kelihatan bagus di kemasan luarnya (*ups) belum tentu laki-laki yang bisa membahagiakan saya.

*sambil nengokin orang-orang dari masa lalu buat berkaca dan berkata, “hey, mereka belum se-bahagia saya deh,” lalu tersenyum bangga. ha ha ha.

Bahagia itu proporsional, cukup (karena dalam kondisi kekurangan kita akan sulit merasa bahagia), dan tak berhenti bersyukur. Lebih dari itu, bahagia adalah hasil dari proses. Proses dan hasil berbeda-beda pada setiap orang (*kok kayak tulisan dalam kemasan produk ya ^_^). Bahagia memang nggak pernah sederhana. Tapi saya percaya, orang-orang yang menghargai proses akan lebih mudah bahagia daripada mereka yang hanya mengharapkan hasil akhir. Bahagia itu bukan pura-pura, jadi kalau kita lebih sering melakukan kepura-puraan, percuma aja, nggak akan berujung bahagia.

Abaikan aja hashtag #BahagiaItuSederhana kalau nggak sesuai dengan pandangan kita. Mereka-mereka itu hanya orang-orang yang (berusaha/sedang) menghargai hal-hal kecil dalam kehidupannya. Which is, engga ada salahnya juga kan?

Buat yang belum merasa bahagia, enggak pernah merasa bahagia, kalau udah mentok banget boleh deh dibantuin cari “Apa Itu Bahagia” di mesin pencari Google, siapatau nemu artikel-artikel yang mencerahkan. Misalnya ini :

Fakta-fakta Kecil Tentang Bahagia – hipwee

IRT Tanpa ART

Jadi Ibu Rumah Tangga (IRT)? Biasa saja. Tak ada yang istimewa. Kerjaannya kan cuma diem di rumah

Weiiitsss… nyatanya ibu-ibu yang memutuskan jadi IRT juga bisa dibilang tangguh, terutama yang bekerja tanpa Asisten Rumah Tangga (ART). 

Palingan kerjanya cuma nyuci, ngepel, masak. Gak ngerasain macet dan penatnya kerja kantoran seperti di Jakarta.

Iyasih, mereka nggak ngerasain macet berjam-jam menuju kantor, nggak ribet harus meeting sama bos/klien. Kalo capek ya tinggal tidur aja. 

Wuaaahh. Enak sih kalo kenyataannya memang gitu. Tapi yang saya rasakan justru sebaliknya. Seberat-beratnya perjalanan dua jam pulang plus pergi ngantor, tetap lebih berat jadi IRT tanpa ART

* * * Intermezzo * * *

Pertama kali bekerja, kantor saya di daerah Tanah Abang, dengan perjalanan 1,5 jam menggunakan kereta listrik (KRL) + angkot, dengan gaji setara UMR tahun 2010. Iya, setara UMR. Makanya saya sering berangkat pakai KRL Ekonomi yang penuh sesak, pakai angin gelebug dan isinya macem-macem orang (kebanyakan golongan ekonomi menengah ke bawah), pedagang asongan, pengamen, bahkan waria. Tiketnya cuma Rp 1.500 *Tapi justru dari perjalanan di KRL ekonomi itu saya banyak belajar tentang menghargai hidup dan bagaimana cara bijak memandang orang lain.* Pulang kerja setelah Maghrib, jadi sampai di rumah sekitar pukul 20.00. 

Perjalanan yang paling melelahkan waktu saya kerja di daerah SCBD Jakarta. Masuk kerja pukul 8 pagi, saya berangkat dari rumah sekitar jam 5.30, paling telat 5.45 supaya sampai ontime. Gajinya? Bikin nyesek kalau ingat. Nggak sampai angka 3 sementara posisi tersebut seenggaknya kena di angka 4,5 di tahun 2011-2012. Tapi toh waktu kerja di sana, saya tetap bisa menyisihkan uang untuk dua bulan sekali mengunjungi pacar (sekarang suami) yang sedang kuliah S2 di Jogja. Berangkat ngantor dengan KAI Commuterline *yang waktu itu memutuskan untuk menghapuskan KRL Ekonomi* turun di Stasiun Palmerah, jalan kaki 5 menit ke jembatan layang, lalu lanjut dengan berebutan naik bis Mayasari penuh sesak ke kawasan Sudirman. Belum lagi pulangnya, sering nggak kebagian bis. Sering juga saya diturunkan jauh dari tempat berhenti yang seharusnya (karena bis tiba-tiba masuk tol, berkejaran dengan macetnya jam pulang kantor) kemudian jalan sekitar 2km ke stasiun. Beberapa kali gak dapat bis, saya naik kopaja/metro mini turun di JCC Senayan, trus jalan kaki melewati Gedung DPR sampai ke Stasiun Palmerah. *Sering banget pulang kantor ngelewatin demo. Gak ikutan demo lho ya hehehe* Kalau lanjut naik bis jurusan lain koq nanggung, jalan kaki koq ternyata jauh juga hhhh đŸ˜„đŸ˜„đŸ˜…

Ibukota emang lebih kejam dari ibu tiri (belom pernah ngerasain sih punya ibu tiri heheh) saya nggak punya banyak waktu dan tenaga buat nongkinongki di seputatan Jakarta. 

Kerjaan paling enak memang yang terakhir di kawasan CBD Bintaro Sektor 7 (Bintaro itu Tangsel lho yaaa bukan JeKaTe). Perjalanan dari rumah setengah jam-an, gak macet, gaji okelah. *Daripada harus kerja di Jakarta dengan gaji tinggi tapi load stresnya gak bisa ditolerir*. Pokoknya kalau saya waktu itu masih tinggal di Serpong, atau setelah nikah tinggal di Cinere, pasti saya nggak bakal keluar dari kerjaan itu, karena semua sudah nyaman. 

**maaf ya paragraf-paragraf sebelumnya kebanyakan curhatnya😅😅

Sekarang saya mendedikasikan diri sepenuhnya untuk keluarga kecil saya. Setelah resign dari kerjaan terakhir, saya ikut suami pindah ke Samarinda. Selain karena sulitnya cari pekerjaan yang sesuai dengan background  dan pengalaman, suami juga meminta saya untuk di rumah aja. Belanja ke pasar, masak, beres-beres, cucian tinggal di-laundry karena kami nggak punya mesin cuci. Begitu setiap hari sampai saya hamil. Setelah melahirkan, suami memutuskan membeli mesin cuci untuk membantu saya mengeringkan baju sikecil (nyuci tetep dikucek dan jadi jobdesk-nya suami sebelum berangkat kerja). Kami nggak memakai jasa ART untuk menekan biaya pengeluaran. 

Pekerjaan seperti memasak, membersihan rumah, nyetrika, masih dikerjakan sendiri. 

“Bisa koq,” pikir saya. Seperti halnya waktu baru melahirkan Ziel saya gerak kesana-sini buat bersihin rumah tanpa khawatir (*seriously, harusnya saya istirahat). Suami yang waktu itu sama-sama capek juga gak mungkin beres-beres sendirian. Seminggu pertama, urusan masak-memasak kami dibantu mama mertua, tapi setelah mama pulang, tetap masak sendiri (sarapan dan makan malam), sedangkan untuk makan siang di weekdays, saya dipesankan catering harian dari tetangga depan rumah. Weekend semua dikerjakan sendiri. So, weekend kami setelah punya bayi artinya kerjaan lebih banyak hehehe. 

In fact, kerjaan yang kelihatannya gak banyak itu, menguras tenaga dan pikiran saya cukup banyak, terutama waktu mengalami baby blues. Saya juga sering skip sarapan karena bangun masih terlalu ngantuk, sementara kerjaan setelah bangun tidur adalah memandikan Ziel, menyusui, baru mengerjakan yang lain-lain. Ritual mandi(in badan sendiri) justru lebih sering dilakuin belakangan setelah Ziel tidur. 

Mestinya semua bisa lancar kalau badan saya sudah fit. Sayangnya, sampai sekarang Ziel umur sebulan lebih, capek dan letihnya badan belum hilang. Belum lagi ditambah cedera otot di kedua pergelangan tangan yang terasa nyeri dan membatasi pergerakan saya. Nggak cuma di tangan, ternyata kedua lutut, bahu, dan telapak kaki juga ikut-ikutan nyeri. Untuk mengangkat badannya Ziel–jangankan itu, buat ngiket rambut atau ngangkat teko minuman aja– pergelangan saya terasa nyeriđŸ˜§đŸ˜„

Bayik di gendongan tetep nyusu😉

Lama kelamaan, semua badan ikut-ikutan punya keluhan. Migren lah, pinggang dan punggung super pegal, sampai pada keluhan sembelit yang bikin jahitan nggak sembuh-sembuh, huhu. Belum pernah saya merasakan badan saya selunglai ini. I feel so exhausted and helpless. Tapi semua harus dilewati karena banyak yang harus dikerjain. Nggak jarang, hal-hal tersebut harus dilakuin sambil menggendong Ziel. Nyetrika, ngangkat tempat jemuran, masak, kadang pipis juga harus sambil gendong dia karena pingin nyusu. Klo pup sih belum pernah dan jangan sampe ya, kasian dianya 😂😂😂

Ini baru baju buat di rumah, belum sekeranjang baju ngantor suami dan sekeranjang lagi baju bayinya hehehe (*setrikanya dicicil, ky mobil 🙊)

Puncaknya, saya rasakan sebelum menuliskan posting-an ini. Bangun jam tiga pagi karena Ziel minta mimik, tangan saya berasa semakin kaku. Ziel yang beratnya 3,9kg kok rasanya kayak 5kg, berat banget di tangan. Kalau udah begini biasanya saya lanjutkan memberi ASI sambil tiduran. Tapi tetep, setelah mimik, Ziel harus diangkat dan di-pukpuk supaya sendawa dan nggak gumoh. 

Saya sadar banget semuanya sudah resiko dan ini terjadi lumrah pada banyak perempuan (jadi IRT tanpa ART)  dan buktinya mereka bisa. Sebetulnya saya enggak mengeluh soal load kerjaan dan konsekuensi sebagai ibu baru mengurusi bayi. Which is, sekarang Ziel minta mimik sejam bahkan setengah jam sekali, yang membuat saya sering ngerjain ini-itu sepotong-sepotong. Tapi lebih kepada keheranan saya soal badan saya sendiri. Kalau badan saya fit, yakin banget saya bisa ngerjain semuanya tanpa dibantu suami, bahkan jadi ibu bekerja (*I think so). Selama ini, termasuk selama hamil, badan saya selalu fit. Bahkan saat hamil suami terkena flu berat tapi saya sehat-sehat aja, alhamdulillah

Mungkin badan saya sedang menyesuaikan diri, melatih semua otot-ototnya jadi lebih aktif. But seriously, saya nggak kebayang kalo harus tetep kerja kantoran selama mengurusi bayi : kebangun-bangun tiap jam tengah malem sampe pagi dan harus siap-siap macet-macetan ke kantor. Pasti bakalan berkawan dengan mata panda. Meskipuuun, di rumah pun saya nggak punya banyak waktu buat tidur siang. 15 menit tidur, eh Ziel udah “owee owee”. Malahan di kerjaan terakhir, setelah sholat saya bisa ketiduran di musholla sampe setengah jam, atau lebih! *yang lain kerja ini malah tidur #magabutmode:on😂😂😂

Kalau saya sambil kerja kantoran, saya bakalan berbagi begadang sama suami #gamaurugi# Karena sejak punya bayi, kami tidur di kamar terpisah untuk memberikan privilege buat suami tidur enak-nyenyak tanpa gangguan tangis Ziel, berhubung dia harus kerja. *masih ingat kan, kami menganut kesetaraan dan saling membantu meringankan beban satu sama lain* 

Melahirkan Sendiri atau Dekat Orang Tua?

Melahirkan sendiri buat kita mandiri, sedangkan melahirkan dekat keluarga akan banyak yang bantu. Bener? Atau justru menjadi beban?

Sejak merantau ikut suami ke Samarinda, kami menata dan me-manage semuanya berdua. Tanpa Asisten Rumah Tangga (ART), ngurus rumah dengan dua kamar aja sih ngga ada kendala berarti. Toh, cucian juga diserahkan ke laundry aja, karena kita juga belum punya mesin cuci waktu itu. Awal-awal kepindahan, justru saya punya banyak waktu luang, karena memang sejak awal suami meminta saya untuk stay di rumah, jadi ibu rumah tangga saja. Kegiatan cuma masak, beres-beres rumah, belanja ke pasar seminggu sekali, sisanya ya nonton tv dan tidur. Seems so boring? Ya gitulah, dinikmati aja. Kan nggak semua orang bisa punya waktu luang seperti saya, cara orang menikmati hidup juga beda-beda.

Saya cukup menikmati momen-momen di ketika suami pulang, saya bisa menyambutnya dengan cium tangan, senyum dan tersedianya makan malam. Gak semua orang bisa. Begitu weekend datang, sama seperti pasangan lainnya, pergi nonton di bioskop dan makan di luar. *yeaay free dari tugas masak hehehe*

Setelah punya baby, keadaan berubah. Waktu luang yang banyak, sekarang terisi dengan mengurus si kecil. Malah, dulu waktu yang terasa lama menunggu suami pulang, sekarang terasa cepat. Eh, tau-tau udah waktunya sikecil mandi sore, setelah itu menyusui, mandi, dan suami pun pulang. Gak jarang yang masak buat makan malam justru suami. Atau kita masak bareng. *another precious and romantic moment adalah masak berdua sambil ngobrol segala hal😊
Nah, dengan segala kerepotannya, saya pernah terpikir untuk melahirkan di Jakarta. Karena sama sekali belum terbayang capek dan riweuh-nya, saya sempat kepikiran kalo melahirkan dekat keluarga akan lebih tenang karena bakal banyak yang bantuin. Tapi entah kenapa waktu itu suami keukeuh supaya saya melahirkan di Samarinda, dekat dengan dia.

“Aku pingin nemenin kamu di setiap momennya, baik sebelum dan sesudah melahirkan,” katanya. Memang, kalau saya melahirkan di Jakarta, mau gak mau kami harus terpisah jarak sedari saya hamil 7 bulan dan setidaknya 3 bulan setelah melahirkan. Kalau dihitung-hitung bisa LDR-an 5 bulan. Antara tega-nggak tega juga sih ninggalin suami sendirian, walau memang dia bisa sebulan sekali pulang, tapi kan cuma sebentar (dan MAHAL). Salah-salah pas hari-H malah nggak bisa nemenin lahiran (*oh no!! đŸ˜±đŸ™ˆ)

Karena masukan dari temen kantornya dia, dan melihat pengalaman temen yang senasib sama saya (ngikut suami ke Samarinda), saya sempet galau. Karena sepertinya mereka sangat menyarankan untuk lahiran dekat sama keluarga. But then, dengan pertimbangan sendiri, kami memutuskan untuk melahirkan berdua aja di Samarinda. Why?? This is the reason..

Pertama, alasan yang sama saya sebutkan sebelumnya. Saya nggak tega ninggalin suami sendirian dalam jangka waktu lama (*waktu itu suami belum se-mandiri sekarang: bisa masak, ke pasar dll). Dan lagi, saya tipe istri yang lebih nggak bisa jauh dari suami ketimbang jauh dari keluarga. (Udah kenyang LDR-an dari jaman pacaran heheee).

Kedua, melahirkan dekat keluarga justru bakal bikin mereka kerepotan. Karena kondisi setiap keluarga berbeda ya, dan kami hafal betul bagaimana kondisi orang tua kami. Mama mertua single parent sejak lama, orang tua saya pun terhitung sepuh karena keduanya sudah menginjak usia lebih dari 60 tahun, dan sudah nggak bisa nyetir. Kebayang dong kalo saya kontraksi, mau ke rumah sakit bareng orang tua tapi yang nyetir saya sendiri. Untuk minta tolong kakak, agak segan ya, karena dia juga kan punya keluarga dan kepentingannya sendiri. Jadi, kalau orang bilang orang tua akan bantu, mungkin iya, tapi sejauh mana? Dan sejauh mana juga kalau justru sebaliknya: kita malah bikin mereka jadi repot di usia yang sudah tua.

Kalau dipikir lagi, semua orang (pasangan) punya rezekinya masing-masing. Melahirkan dekat keluarga, nggak menjamin prosesnya se-nyaman yang dikira. Kembali lagi, itu rezeki yang diatur oleh Tuhan berbeda-beda kepada setiap calon ibu. Ada juga kok yang melahirkan dekat keluarga tapi ada kendala di bayinya sehingga harus melewati C-section. **Seperti diketahui, sampai sekarang operasi cesar masih jadi momok yang menakutkan atau jalan yang dilalui dengan ‘terpaksa’ bagi calon ibu dan calon ayah. Selain karena biayanya, juga proses pemulihannya yang lebih lama. Alhamdulillah, keputusan yang kami ambil untuk melahirkan berdua aja, dilimpahi rezeki kemudahan dalam prosesnya. Kalau kenapa-kenapa gimana? Ya jangan mikir bakal kenapa-kenapa hehe. Kitasih kuncinya satu, yaQin aja.

Ketiga, suami takut nggak bisa menemani di momen terpenting. Jarak Samarinda-Jakarta yang harus dilewati selama setengah hari, bikin parno tersendiri. Memang sih, proses melahirkan nggak ujug-ujug mules trus langsung keluar bayinya. Tapi, suami punya pemikiran tersendiri untuk bisa nemenin saya dari bulan-bulan terakhir kehamilan sampai awal-awal bulan kelahiran.

“Aku mau melewati itu semua, ngajak ngobrol waktu masih di perut, mengazani sewaktu lahir, dan mengurus si kecil di awal-awal usianya, dari masih 0 tahun,” katanya. “Memang repot sih, tapi aku percaya, bayi baru lahir itu punya feeling yang kuat, meskipun belum secara sadar merasakannya. Tapi bonding dari dia digendong dekat dengan jantung kita, itu akan melekat di alam bawah sadarnya, dan mendekatkan ikatan batin.”

 

Suami waktu pertama kali mandiin dan mijit sikecil

Nggak bisa dipungkiri, sebulan pertama adalah proses penyesuaian yang paling berat. Tapi bukan berarti nggak bisa. Lihat deh orang-orang bule di luaran sana, mereka bisa koq mandiri mengurus buah hatinya, nggak tergantung sama orang tua. Bahkan sejak memasuki usia dewasa, kebanyakan dari mereka “keluar dari rumah” untuk hidup mandiri. Cuma di Indonesia aja nih, yang sering ‘menyarankan atau terpaksa’ untuk menitipkan cucu ke orang tua, sementara anaknya sibuk bekerja.

“Orang tua itu sudah punya ‘jatah’-nya ngurusin kita waktu kecil sampai dewasa. Masa udah tua masih aja disuruh ngurusin cucunya,” kata suami lagi. Saya setuju dengan pendapat suami. Inilah alasan keempat, yang mana menurut kami, orang tua semestinya ‘kebagian’ main barengnya aja, bukan ngurusin dari mandi, makan dll, karena itu kewajiban kita sebagai ayah-ibunya. Kecualiii.. kalau memang orang tua kita yang menawarkan *again, ini tergantung dari kondisi masing-masing orang tua ya. Kami berpikir mama-mama kita sudah punya kegiatan dan kepentingannya sendiri, untuk mencari bekal di kehidupan mendatang*
Last but not least, alasan terakhir ini yang justru bikin saya terharu (dan setuju). Suami pingin melihat proses perkembangan anak lanangnya dari awal. Tau dan merasakan langsung begadang-begadangnya, mandiinnya, tau kebiasaan-kebiasaan si jagoan kecil dari awal kehidupannya.

“Aku gak pingin, tau-tau sianak udah bisa diajak main,” kata suami. Ya sih, kalau melahirkan di Jakarta, seenggaknya bakal jauh-jauhan sama istri dan anak sampai tiga bulan awal. Biasanya bayi umur tiga bulan memang udah bisa diajakin main. Kalau LDR-an, belum tentu suami bisa menyaksikan Ziel yang udah bisa keluar bedong sendiri di usia 3 hari, tidur miring di usia dua setengah minggu, tidur yang menggeliat-geliat sampai gumoh, tidur nyengsol ke kanan-kiri dan ndlosor dari bantal, melihat Ziel tidur sambil senyum-senyum dan ketawa terkekeh, melihat pertama kali Ziel bisa mengeluarkan suara “hao..” seolah-olah mengerti waktu diajakin ngobrol, dan lain-lainnya.

 

Aren’t they cute? 😍😙

 

Suami bilang, kalau nggak ngerasain sendiri gimana repotnya, kita nggak akan bisa mandiri kayak sekarang, ngurusin sikecil dan rumah sendiri. Secara nggak langsung, ikatan kami berdua juga lebih dekat karena saling menguatkan, saling membantu dan saling pijit-pijitan (lol haha) “Belum tentu lho, suami-suami lain itu mau ke dapur untuk masak, gantiin popok, nyuciin baju bayinya. Kamu beruntung punya suami kayak aku!” Kata suami lagi dengan nada bangga, lalu kami berdua ketawa-ketawa.

“Nah makanya, kenapa nggak dari dulu? (menikah lebih cepat)” Tanya saya.

“Kalau nikah dari dulu, belum tentu bisa kayak sekarang,” pungkasnya. Kalau nikah (dan punya anak) lebih cepat, kemungkinan besar kami akan ‘nebeng’ di rumah orang tua, membesarkan anak di rumah orang tua, dan selanjutnya dan selanjutnya yang ujung-ujungnya nyusahin orang tua juga hehee.

“Lebih enak kayak gini,” katanya.

“Tos dulu dong..!” kata saya. Makan malam kami pun selesai. Obrolan yang panjang, dan untungnya sikecil tidur nyenyak. Padahal biasanya dia bangun hampir setiap kali kami mau makan (siang ataupun malam). Kondisi begini juga bikin kami sadar, tinggal terpisah dari orang tua biar bagaimanapun memang lebih enakkkk. Tetiba saya jadi keingetan wejangan Bpk Ridwan Kamil.

Ngerasain ngontrak. ngerasain roller coaster kehidupan sambil nangis, ketawa, nangis lagi, ketawa lagi. sambil saling berpelukan menguatkan. *indah tauuukkk itu!

-Ridwan Kamil, Walikota Bandung

Beginilah cerita kami. Tidak bermaksud membanding-bandingkan. Karena semua keputusan itu ada konsekuensinya. Ini yang kami yakini, kami putuskan, dan kami jalani. Walau bagaimana pun, toh, hampir semua orang pada dasarnya ingin berbagi kebahagiaan di tengah-tengah keluarga. Hanya saja, kondisi kami tidak demikian adanya. Tapi, tak ada yang perlu disesali. Jadi, nikmati saja apa yang ada di depan mata.

Selamat menjadi ibu, untuk semua ibu baru di seluruh dunia! *halah*

Baby Blues : Drama yang Terjadi Pada Ibu Baru

Having a baby is a true gift. Being a mother is a bless. But it doesn’t mean HAPPY ALL THE TIME.

Setelah menunggu selama hampir sembilan bulan dan melahirkan, punya bayi adalah hal yang sangat membahagiakan buat seorang perempuan. Apalagi kalau prosesnya lancar dan melegakan. Pinginnya deket-deket dan cium-cium terus, menggemaskan!

In the beginning of welcoming a baby, pastinya kita takjub banget. Kemarin-kemarin perut masih buncit, bawa bayi kemana-mana di dalam perut, begitu ke rumah sakit eeh tau-tau pulang bawa bayi. Kadang masih belum percaya kalau sekarang punya status baru : jadi seorang Ibu.

Calon ibu kebanyakan berpikir kalau melahirkan bayi bakal bikin hepi-hepi terus. Pada kenyataannya, usai melahirkan, seorang perempuan akan struggling melakukan penyesuaian sebagai ibu baru. Paling nggak, sebulan pertama jadi waktu yang paling ‘menyiksa’. *Jangan salah paham ya, ini bukan berarti kita nggak siap atau nggak ikhlas mengurus si bayi, tapi hanya soal proses penyesuaian aja.

Tiba-tiba ada seorang bayi di pelukan, tiba-tiba harus berkali-kali bangun malam hari untuk ganti popok dan menyusui, ASI belum keluar dengan lancar, mencuci baju bayi, merawat diri pasca melahirkan, harus menyiapkan kebutuhan suami, suami sangat sibuk di kantor, dll dll bisa bikin seorang ibu baru yang kecapean jadi melow. Dalam kondisi sepwrti itu, ketika melihat bayinya sendiri bikin si ibu baru bahagia bercampur sedih, tiba-tiba (pingin) nangis, bahkan tau-tau udah nangis aja.

 

Gejala seperti ini dikenal sebagai sindrom baby blues. Banyak perempuan yang mengalami ini, termasuk saya. Seminggu setelah melahirkan, saya merasakan capek yang luar biasa secara fisik dan psikologis. Mengerjakan pekerjaan di rumah tanpa ART, perubahan hormonal yang drastis, ditambah suami yang sibuk kerja dan jadi agak cuek karena pulang ke rumah sudah dalam keadan capek. I feel drained. Beruntung, seminggu pertama mama mertua datang dan membantu beberapa kerjaan seperti masak, nyetrika baju bayi dan beres-beres. Meski akhirnya beliau harus istirahat karena kecapean yang menyebabkan typhus-nya kambuh. Ini juga jadi beban pikiran saya waktu itu, takut merepotkan.
One day, waktu pulang kerja suami mendapati saya sedang memeluk Ziel sambil nangis.

“Kamu kenapa..?”

Saya diam nggak menjawab.

“Ada masalah sama mama?”

Saya menggeleng. Cuma bisa diam membiarkan air mata mengalir di pipi.

“Capek ya….?”

Saya mengangguk pelan. Suami saya diam.

Tidak bermaksud lebay atau mendramatisir, tapi yang saya rasakan ada energi yang nggak bisa saya kontrol dalam diri saya. Seminggu sebelum melahirkan saya baru kehilangan Papa. Rasa sesal nggak bisa pulang karena sedang hamil besar, nggak bisa merawat di waktu-waktu terakhirnya, nggak bisa menyaksikan pemakamannya, sedikit banyak mengganggu kestabilan emosi saya. Tubuh yang masih begitu lelah, harus tetap bergerak mengurusi ini-itu, sambil merasakan nyeri di jahitan yang belum kering. Dan jujur saja, suami yang agak cuek karena kecapean kerja, bikin saya tambah sedih. Mama mertua yang begitu proaktif mengerjakan berbagai hal juga bikin saya parno sendiri, takut dibilang pemalas (padahal cuma pikiran saya aja). Sedangkan keluarga yang nun jauh di sana masih sibuk dengan pengurusan ini-itu, gono-gini dan tahlilan meninggalnya Papa.

 

Bagaimanapun capeknya laki-laki bekerja, nggak bisa dibandingkan dengan kondisi seorang istri yang baru melahirkan dan harus mengerjakan semuanya sendiri.

 

Satu faktor yang paling nggak bisa dibandingin, itu faktor homonal *again, blame those hormones 🙈*. Secara fisik mungkin sama-sama terkuras energi dan emosi, karena suami juga kan menemani waktu saya melahirkan sementara kerjaan terus mengejarnya.

Dalam prosesnya toh saya juga berbagi, supaya fair *buktinya saya berbagi ranjang rumah sakit dan saya tidur di sofa waktu merasakan kontraksi sambil menunggu melahirkan heheh. Seminggu setelah melahirkan, dengan kondisi badan yang masih lelah pun saya tetap melayani suami yang minta pijit. Ini yang baru lahiran aja belom dipijit lho ya, hohoho.

Besoknya, waktu suami saya sedang kerja, saya kirimkan sebuah link untuk dia baca. Artikel yang menggambarkan kondisi saya saat itu. Setelah membaca artikel itu, barulah suami mengerti kondisi saya. Yang saya butuhkan adalah support dan bantuan. Kondisi memang memaksa kami nggak menggunakan bantuan ART. Alhamdulillah setelah mama mertua pulang, suami mulai membantu saya mengurus Ziel, mengganti popoknya dan mencuci baju sebelum berangkat kerja. *Bahkan sekarang mau bantuin masak, mandiin dan nyetrika baju Ziel. Seneng banget. prokprokprok 👏👏😆

Untungnya, saya nggak berlama-lama mengalami baby blues. Dukungan suami adalah hal terbesar yang membantu saya bangkit. Other than that, saya harus mengangkat diri saya sendiri dari keterpurukan. Dengan menepis pemikiran yang negatif, mengerjakan semuanya tanpa terlalu banyak mikir atau berasumsi, gak menggubris omongan-omongan miring atau apapun yang sekiranya bakal bikin saya down, sehingga kondisi tersebut nggak semakin parah.

My greatest cure 😙

 

Sindrom baby blues kalau berkepanjangan bisa berubah jadi Post Partum Depression (PPD) di mana si ibu baru merasakan depresi yang lebih panjang dan mendalam. Di beberapa kasus yang cukup parah, si ibu malah merasa benci terhadap bayinya, gak mau merawat atau bahkan terpikir untuk menyakiti bayi yang baru dia lahirkan *serem😰. Saya pernah baca blog seorang perempuan yang mengalami PPD, and she really needs help. Bahkan walaupun dari luar ia kelihatan seperti perempuan yang kuat, kondisi yang jauh dari keluarga, melahiran dan merawat tanpa suami, dan harus menanggung biaya hidup sendirian, beban yang dipikulnya terlalu berat. Women with PPD needs a particular treatment, bukan hanya butuh dukungan dan bantuan keluarga tapi juga psikolog bahkan psikiater, tergantung segimana parah kondisinya.

Saya bersyukur banget kondisi berangsur-angsur membaik. Sekarang Ziel sudah berumur satu bulan, perkembangannya pesat, sehat, dan lucu. Suami juga banyak sekali membantu, dan kita saling menguatkan. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi informasi tambahan buat para calon ibu, ibu baru, calon ayah dan ayah baru, atau kerabat yang baru punya bayi, untuk memahami adanya kondisi tertentu pasca melahirkan. Baby blues itu sama sekali gak dibuat-buat dan gak bisa ditepis sendirian.

Untuk ibu-ibu yang nggak mengalami baby blues dan kondisinya lebih kuat, apalagi yang belum pernah mengalami atau bahkan belum menikah, please nggak usah nge-judge “lebay”, “ngeluh mulu”, “jadi ibu koq ngeluh”, “nggak tulus/ikhlas ngurus anak”, “kalau nggak mau ribet ya nggak usah punya anak”, atau bilang “kayaknya belom siap deh jadi ibu” dan komentar-komentar miring lainnya. Terlepas dari kondisi yang bagaimanapun, bertemu dengan perempuan yang baru punya baby sepatutnya ya di-support ajalah, berempati itu jauh lebih baik. Selaiknya kasih tips atau masukan aja supaya si ibu baru ini juga bisa ‘ketularan’ tegar dan kuat melaluinya ketimbang bikin dia down. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat untuk sesama. Ya nggak?? 😄

So, menghadapi baby blues enggak bisa sendirian.

– Minta bantuan dan support suami. Sering-sering minta peluk kalau sudah mulai melow. Don’t take it by yourself. Don’t let yourself feel alone.

– If you’re not that strong and perfect, it’s okay, you’re still learning. Gausah dijadiin beban dan gausah ngerjain semuanya sendirian dulu. Jangan ngoyo mau mengerjakan ini-itu semua (*ini saya banget), terlebih tubuh ibu baru yang masih dalam pemulihan butuh kondisi fisik dan psikologis yang fit untuk sehat kembali. Karena orang bilang, kondisi badan ibu habis melahirkan itu seperti orang yang lagi sakit.

– Cari hal-hal yang bisa menaikkan mood. Browsing-browsing tentang hal yang menyenangkan, tonton acara tv yang bikin ketawa, masak atau beli makanan yang enak (*tapi jangan yang ber-gas ya, kasian baby-nya hehe)

Last but not least, support yourself for recovery your condition. Minta dipanggilin tukang pijit (khusus untuk setelah melahirkan), bakal ngebantu banget. I loove massage 😊😊. Faktanya, badan saya baru bisa ‘bener’ setelah dipijit kedua kalinya. Kalau memang belum bisa olah raga (ada tipe orang yang bisa ilang badmood-nya dengan olah raga), latihan pernafasan aja. Di playstore ada aplikasi Prana Breath, atau dengerin musik-musik relaksasi. Lumayan buat membantu menenangkan pikiran. Jangan lupa, kita punya Tuhan. Ini adalah proses menguatkan untuk mempersiapkan proses berikutnya.

Yang terpenting, cari orang yang bisa membantu kita. Jangan pernah merasa sendiri. Because you are not.