Melancholic Disaster

​Pernah nggak sih tiba-tiba merasa sedih, tapi sebenernya kehidupanmu saat itu ya nggak sedih-sedih amat? Tau-tau kepingin nangis melihat sesuatu yang sebetulnya nggak bikin kamu sedih juga. 

 I feel sometimes I don’t know nor I don’t want to feel what I feel.

Ini nyebelin banget sih ya. Karena ada di titik tertentu saya jadi nggak tau sebenernya apa yang sedang saya alami atau rasain. Mood swing-nya parrraaah!

To be honest saya bukan orang yang suka drama-dramaan, terutama buat dipertontonkan ke seluruh dunia alias biar orang tau. Dan puji syukur hidup saya juga nggak se-drama-tis itu. Dalam postingan-postingan saya selalu punya alasan yang jelas kenapa saya menulis topik tersebut. Saya nggak pernah nulis sejenis postingan seolah-olah “saya pengen makan tapi bingung sebenernya saya makan karena lapar atau karena bete”. 

Jadi ibaratnya saya juga nggak akan bingung kenapa saya makan (udah pasti karena lapar), and of course saya nggk perlu masukan orang lain tentang apa yang ingin saya makan saat itu diakibatkan oleh kebingungan (yang mana kebingungan itu sebenernya bukan diperut tapi di otak). Saya tau kebutuhan makanan untuk perut dan untuk pikiran itu beda. Ya pokoknya gitulah.

Dulu, waktu awal kuliah saya bukan tipe orang yang bisa tiba-tiba sedih tanpa alasan. Tapi di satu titik terlemah dalam hidup, ternyata saya bisa jadi sejenis super melancholic person. Selidik punya selidik, ternyata lingkungan yang berperan serta di dalamnya. Ketika saya dikelilingi oleh teman-teman yang menyenangkan, saling mendukung dan melindungi, saya bisa dengan cepat me-recover mood saya. Alias ga kelamaan bersedih-sedih. 

“Musik kayak gitu tuh buat didengerin pas kapan sih? Kalau lagi seneng, bakal bikin bete. Kalau lagi bete, dengerin musik macam gitu, ya makin depresi lah” petikan dialog film Ngenest.


Well ternyata, musik termasuk ke lingkungan yang mempengaruhi juga. Ketika sedih dengerin lagu minor, dijamin bakal tambah stress ya. Buat saya ini absolut. Musik bernada minor bikin mood saya berubah cepat. Melow, kalau kata anak jaman dulu. Baper, kata anak jaman sekarang. Padahal ya sebenernya, saat dengerin musik itu, saya nggak lagi sedih. Biasa aja. 


Tes  Kepribadian Galen VS MBTI

Nyontek dari Wapannuri, Claudius Galen membagi manusia ke dalam empat tipe kepribadian, yaitu Sanguinis, Koleris, Plegmatis dan Melankolis. Tapi pada dasarnya setiap manusia itu terdiri dari percampuran keempat kepribadian tersebut dan nggak ada yang bener-bener absolut, tapi salah satu/duanya akan dominan, yang menjadi kekuatan (strength) dan sisanya akan jadi kelemahannya (weaknesses). Dan hasil tes saya Plegmatis – Melankolis. Yep, saya tipe orang yang nggak suka dengan perselisihan, cinta damai, pesimis dan agak sensitif. 

Nah, saya pikir teori Galen ini nggak bersangkut paut sama MBTI yang membagi kepriadian manusia jadi 16 tipe. Ternyata justru MBTI merincinya jadi lebih gamblang. 

Menurut pengalaman, dengan berbagai penyesuaian, seseorang bisa punya hasil yang berbeda di waktu yang berbeda pula. Artinya, seseorang bisa berubah. Yes, perubahan yang lebih baik tentunya. Waktu pertama kali tes, saya INFJ (persis sama dengan hasil tes Galen). Tapi dites beberapa kali ternyata hasilnya bisa jadi INFP (pure phlegmatic)atau ISFP (phlegmatic-sanguine). Nah, sebetulnya saya lebih suka result yang terakhir. Seenggaknya masih ada sanguinnya lah, enggak melow banget gituuu. 

Sejak saya menikah, rasanya memang saya sedikit ketularan sisi sanguine dari suami yang sanguine – phlegmatic. Nah, kayaknya justru suami yang sedikit ketuleran sisi melancholic dari saya deh, jadi di waktu tertentu dia sempet gampang bete galau gitu, untungnya nggak lama. Aduh, melow-melow gak jelas itu memang nggak ada untungnya deh buat kami. 
Babyblues, melodramatic moment strike me back  

Sudah tau yang namanya babyblues dong ya? Memang, babyblues kebanyakan dipicu oleh faktor hormon yang tiba-tiba drop. Tapi kayaknya secara tidak langsung dipengaruhi juga oleh sisi melancholic seseorang deh. Coba dilihat lagi sisi negatif kepribadian melancholic di tabel atas. Yeeeaa, cepat kuatir, penakut, tidak punya motivasi. Bisa dibayangkan kalo ibu baru yang kepribadiannya melancholic pasti rentan terdeteksi babyblues. 

Kemarin, sehari sebelum menulis posting-an ini, saya tiba-tiba dilanda sedih yang entah datangnya dari mana. Terutama ketika saya melihat wajah baby saya. Umurnya 8 bulan sekarang, tumbuh dengan baik, mudah diajak senyum, jadi kalo dipikir-pikir ngapain saya sedih? (*nah mulai repot kannn!)😅

Memang saya punya alasan untuk baper, karena tetiba saya kepikiran waktu pertama kali babyblues dulu. Saya sempat kesal sama bayi saya karena telah merenggut waktu tidur saya. Ya ampun, cètèk banget ya… saya sempat berpikir apakah saya benar-benar siap jadi ibu, ngurus dua bayi (yang satu lagi bayi gede, alias suami hahaha). Which means saya harus menekan ego saya sekuat mungkin. Di titik ini, saya kok merasa seperti babyblues lagi gara-gara pernah ngerasain babyblues (mulai puyeng lagi ye kann). 

Lalu saya mulai teringat tes kepribadian saya itu. Kepribadian nyatanya bisa berubah menurut kebutuhan. Bener nih? Iyalah, tergantung dari kitanya mau apa enggak. And yesss, saya berhasil menghalau kegalauan dengan positive thinking, berhenti membiarkan sisi melancholic datang menghujam pikiran saya. Memang sisi melancholic bisa membuat sisi sensitif memunculkan empati yang tinggi. Tapi rasa empati bisa ditempatkan cukup pada waktu yang tepat aja kan, nggak harus sensitif sepanjang waktu. 

Dengan mengontrol sisi sensitif, saya merasa lebih baik. Saya jadi nggak terlalu melodramatic alias nggak berlama-lama bete karena suatu hal. Bete boleh, tapi kalau terlalu lama mendominasi, kita yang akan rugi sendiri. Kenapa? Coba bayangin kalo orang bete biasanya males ngapa-ngapain kan. Males makan, males pergi, males mandi (eh, yang ini bukan hanya karena bete sih hahaha). Di kondisi sekarang, akan rugi banget saya kalo enggak ngapa-ngapain. Saya harus makan (banyak) karena menyusui, dan saya harus ngerjain banyak hal karena nggak punya ART. 

So, bye bye my melodramatic side👋👋👋

Jangan sering-sering mampir yah. 

Ziel nyemplung perdana di kolam renang umum. Santai, gak panik. Untung tadi isinya kebanyakan anak kecil yg lagi les. Dan kolamnya gak berasa kaporit. Jadi aman buat Ziel nyilem.
#babyZ #6m10d

View on Path

Kalau Belum Siap, Jangan (dulu) Punya Anak

“Kalau engga mau ribet, mending gak usah punya anak deh,” kata teman saya, mother of two. 

Waktu itu saya cerita soal tetangga yang setiap hari hidupnya selalu RAME. Dalam arti sebenarnya. Tiada hari tanpa neriakin anaknya. Ya ampun, saya sama suami jadi suka ikutan spaneng dengernya. FYI, saya sama suami bukan tipe orang yang suka ngegosip atau menjelek-jelekkan orang lain. Tapi menurut kami, “kegiatan” si ibu tetangga itu bukan sesuatu yang perlu. SAMA SEKALI engga perlu dilakuin. Apalagi. Tiap. Hari. 😧

Kalau saya perhatikan, tetangga saya itu seringkali teriak atau ngomong pakai nada tinggi waktu ngajarin anak pertamanya belajar. Teriakan ini terdengar ke telinga kami kadang siang, kadang menjelang maghrib, kadang malem. Kayaknya sih anak pertamanya sekitaran kelas satu atau dua SD, sementara anak keduanya belum lancar ngomong, jadi saya asumsikan sekitar satu tahun-an. Dalam hati saya mikir, itu anaknya kalau diajarin belajarnya pakai nada tinggi dan dimarah-marahin, gimana mau pinter, yang ada malah keblinger. Dan suatu kali saya dengar ibu itu bilang, 

“Ngapain kamu gambar-gambar? Bukannya belajar malah ngegambar!!” Padahal menurut saya, yang namanya belajar itu gak bisa dilakukan underpressure. Jadi ya kenapa sih anaknya nggak dibiarin aja dulu ngegambar sampai puas, siapatau dia punya bakat seni di situ, setelah itu baru deh suruh dia fokus belajar. Tapi ya nggak perlu sampai dimarah-marahin kalau dia belum bisa jawab. Kalau setiap kali anak gak bisa jawab terus si ibu bentak-bentak, yang ada dia malah gak punya mood buat belajar. Bisa jadi nanti pas agak besar, belajar adalah hal yang dibenci oleh si anak. Salah-salah, kalau nggak membenci kegiatan belajarnya, dia bakal membenci ibunya. 

“Ketika orangtua berpikir buruk, maka energi negatif tersalur ke diri sang anak. Seakan-akan orangtua mendoakan anaknya selalu buruk. Apa yang mereka sampaikan berdasarkan proses berpikir mereka, sebab energi mengikuti pikiran,” kata Founder Spirit of Life (SOUL) Bunda Arsaningsih – dikutip dari Liputan6.com


Your Kids Will Hate You

Jujur aja, I will definetely hates my mom if I were him. Kenapa? Karena saya enggak suka lihat orang bentak-bentak. Apalagi saya sesekali dengar si ibu tetangga itu ngata-ngatain anaknya B*GO atau G*BLOK. Aduh mak, tega banget bilang anaknya sendiri bodoh, padahal si ibu lagi berusaha supaya si anak jadi pintar. That is so wrong. I feel so angry about it.😬 

Lalu, kebiasaan bentak-bentak itupun ia terapkan ke anak keduanya yang belum lancar bicara itu. Alhasil, saya sering dengar si balita ini teriak-teriak kalo lagi dibentak sama ibunya. Saya sih yakin banget mereka belum punya mental yang matang untuk jadi orang tua. Nanti, anak-anaknyalah yang akan menjadi korban. Anak-anak yang belum bisa berpikir dengan logika akan menelan kalimat yang meluncur dari mulut orang tuanya mentah-mentah. Semakin sering dia disebut bodoh, semakin dia akan merasa dirinya memang bodoh. Dan ini bahaya. Sebagai orang tua, sama saja dia sedang melakukan bullying terhadap anaknya sendiri. Dan menurut saya, anak tersebut sudah verbally abused. Apalagi kalau dilakukan terus-menerus. Beneran deh, kasihan banget kalau psikis anak harus dikorbankan untuk jadi tempat melampiaskan emosi. *Kayaknya ibu itu kurang piknik deh😥

Secara psikologis, mental anak bisa terganggu. Ada kemungkinan si anak jadi pendiam, merasa takut, atau malah jadi pemberontak dan berani melawan orang tua. Semakin si anak besar dan bisa menggunakan logikanya dengan benar, dia akan merasa masa kecilnya penuh tekanan dan tidak bahagia. Dan kita semua tau, kalau waktu nggak bisa diputar ke belakang.

Pic from quemas.mamaslatinas.com



Anak adalah Cerminan Orang TuaAda peribahasa, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Tidak ada anak yang akan tumbuh baik dalam ajaran yang melenceng, atau dalam perasaan tertekan. Peran orang tua sangat besar, karenanya parenting itu bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga ayah. 

Dorothy Law Nolte, Ph.D menulis dalam bukunya “Children Learn What They Live”: 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan (encourage), ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebenar-benarnya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dan kehidupan. “

Well, kalau cuma kata-kata, kelihatannya mudah ya, sedangkan penerapannya sangat rumit sekali. Tapi setidaknya semua itu bisa menjadi ilmu tambahan sekaligus guidance supaya kita sebagai orang tua senantiasa teringatkan bahwa having kids is not about us, but (totally) about them. Orang tua punya aturan, kedisiplinan dll tapi tetap, semua itu penerapannya disesuikan dengan karakter si anak. Semua hal yang akan kita ajarkan harus menyesuaikan mereka, tapi bukan berarti kita yang disetir sama mereka ya. 

Yang namanya baru punya anak berarti kita menjalani hidup dengan “alien”. Kenapa saya sebut demikian, karena setiap anak, meskipun masih bayi, dan dimulai dari bayi, pertama-tama akan terasa “asing” karena kita sama sekali belum mengenal mereka. In the beginning, they are totally strangers. Lambat laun seiring waktu, kita semakin tau kebiasaan-kebiasaannya, karakter dan sifat-sifatnya. Which is, raising kids is always about sacrifice and huuuge patience. Kalau belum ngerti atau belum bisa berkorban dan sabar, mungkin Anda termasuk dalam kategori orang yang belum siap punya anak. Dan saya sarankan untuk menunda dulu punya anak sampai merasa benar-benar siap. 

Anak Bukan Robot dan Bukan Orang Dewasa

Memang anak akan menirukan apa yang dilakukan orang tua, tapi karakter yang dibawanya akan mempengaruhi bagaimana dia meng-copy segala sikap kita di depan mereka. Artinya, tidak semua yang kita ajarkan akan dilakukan sama persis 100%. Jangan berharap seperti itu, karena dia bukan robot yang bisa diprogram dan hanya melakukan sesuatu sesuai program yang ditanamkan. 

Kids are not robot. Pic from http://www.salon.com

Anak akan meniru tindak-tanduk kita atau menuruti arahan kita dengan caranya sendiri. Namanya juga anak-anak ya, nggak mungkin dong bisa menyikapi sesuatu seperti halnya orang dewasa. Kita harus mengajarkan sesuatu dengan bahasa mereka, disesuaikan dengan umur dan karakter mereka. Hindari kata-kata yang membuat mereka tertekan, karena daya tahan mereka terhadap pressure berbeda dengan orang dewasa. Pokoknya jangan mengaggap mereka seperti orang dewasa deh. Dan yang terpenting, jangan terapkan kekerasan karena akan membuat psikis mereka semakin down. Intinya, untuk membesarkan anak, semua harus disaring melalui nalar (ilmu+logika) yang diiringi dengan kesabaran. Menyayangi bukan berarti memanjakan. Memberi hukuman bukan berarti harus dengan kekerasan.


Reaching 100 Posts. Yeayy??

Today, I received a notification from Worpress that my blog has 100 posts. 

Wow, a hundred? 

What was I’m writing about within all these years? Does it necessary? Does it good? Does it just bragged out? 

Ha. Ha. Honestly, I don’t really care about what people think about my posts (*really??). I just want to fulfill my needs to devote what inside my mind. 

By the way, dalam satu jam terakhir ini (mumpung sibayi lagi tidur), saya mulai scrolling-scrolling blog sendiri, terus baca komen-komen, liat followers yang nggak seberapa (wkwk), liat postingan orang, visit blog lain di komentar postingan tersebut, baca beberapa blog yang seliweran yang jadi referensi untuk dibaca (*karena saling nge-link atau mem-follow. 

Biasanya, followers itu adalah orang yang tertarik dan/atau memiliki pandangan, pengalaman, dan gaya menulis yang mirip dengan yang mereka follow. Tapi, belum tentu punya plot yang sama-sama enak buat dibaca. Kadang ada yang bercerita hanya dari satu sisi dan satu bagian, ada yang memilih untuk meng-hide beberapa bagian dalam tulisan. Beragam. Ada yang ‘cuma mau keliatan sendiri’ misalnya semua foto isinya cuma si penulis, padahal dalam hampir semua postingannya, dia menceritakan keluarga, suaminya dll. Ada juga yang sama sekali gak mau keliatan di postingannya sendiri. Fotonya sendiri di-blur padahal postingan-postingannya ya nggak jauh dari tentang keluarga dan anak-anaknya (*yang juga kadang fotonya sengaja diambil dari atas atau samping).

Those are unusual yet funny, thou. Kadang saya juga mikir, postingan saya udah enak dibaca belum ya? Informatif nggak ya? Berguna nggak sih? Atau cuma dilihat sebagai tulisan-tulisan yang isinya di-lebay-lebay-in? Sorry I don’t think I need to brag, hidup saya terlalu biasa untuk dianggap atau terlihat “wah” atau luar biasa. 

There are some people out there who always think, 

“Yailah, apaan sih postingannya gak penting banget,” 

“Tulisannya doang kayaknya seru-seru, hidupnya belum tentu deh,”  atau

Kok bisa ya hidupnya kayak gitu?” (antara iri atau apaan sih ini?). 

pic from etsy.com

Intinya, pasti ada lah yang begitu. Terkadang idealisme-nya menulis jadi meng-underestimate tulisan orang lain yang bercerita dengan gaya yang berbeda. To be honest, kadang-kadang saya juga begitu sih, hehe.. #pengakuandosa
Kalo kata mama mertua (yang jauh lebih sholehah daripada saya), yang namanya manusia pasti adaaa aja, walaupun sedikiiit, dalam hatinya nyeletuk A B C D. Yakin deh. Seeee-sholeh/sholehah, haji, ustad or apapun itu, apalagi orang-orang biasa kayak kita (kita??) 

But then, I’m just hoping that my 100 posts doesn’t hurt nor insult anybody, dan beberapa waktu belakangan, saya menghapus page atau postingan yang udah nggak relevan dengan kehidupan saya sekarang. Ciyee ceritanya mau move on. 

From now on, I’m choosing to post more about positive and happy thoughts. More inspiring (at least for myself and people around me). I CHOOSE to look up the bright side of anything. 

How about you? 


But anyway, happy blogging 😊 

Kenali Dirimu, Kenali Tuhanmu, Berbahagialah

Bahagia itu seperti sedih, datangnya dari HATI. Silakan selami hati masing-masing. Kalau nggak ada, coba cek di toko sebelah. 

happiness-is

pic by hipwee.com

* * *

“Kak, usiaku sudah mau kepala tiga, tapi belum juga menemukan jodoh,” ucap seorang perempuan kepada temannya. Karena perbedaan umur beberapa tahun, ia pun menganggap sang teman seperti kakaknya sendiri, karena ia tak punya kakak perempuan.

“Tenang dik, gaperlu risau. Di luaran sana masih banyak orang-orang dewasa, umur 30 bahkan mau 40, yang jangankan menemukan jodoh, menemukan jati diri dan Tuhannya saja belum,” ucap sang ‘kakak’

Si ‘adik’ terdiam. Belumlah ia percaya ada kenyataan seperti itu. Tapi ia beruntung tak tersasar sejauh itu.

“Jikalau kamu baik, percayalah kamu akan menemukan orang (jodoh) yang baik. Atau ditemukan oleh orang yang baik,” kata sang kakak lagi.

* * *

Dalam kehidupan, ada banyak perjalanan. Banyak pertemuan. Perpisahan. Kita mungkin sudah banyak melihat, banyak mendengar, banyak mengeksplor, tapi tak ada jawaban yang diinginkan.
Begitu banyak pertanyaan akan hadir di benak seseorang, mengenai apa saja yang ditemuinya, dirasakannya, diinginkannya. Sehingga seseorang itu mungkin saja perlu melintasi banyak daerah, mengunjungi banyak tempat, bertemu banyak orang, untuk menemukan apa yang ia cari. Menemukan jati diri.

Bisakah kebahagiaan dihadirkan oleh sejumlah uang? Belilah apapun yang kamu mau, pergi kemana pun kamu inginkan dengan uang tersebut. Tapi apakah kamu akan bahagia? Jikalau kedamaian dan kesyukuran belum menghampiri, saya hampir yakin, perjalanan sejauh apapun dan benda semahal apapun yang dibeli dengan uang tersebut hanya akan jadi sebuah ‘ritual’, sekedar barang tak bernyawa atau kegiatan/peristiwa, tanpa ada makna.

  • Pergi ke Raja Ampat, jauh dan pricey, tempatnya bagus banget, pondokan yang instagramable, senang riang, lantas ambil foto, cekrak-cekrek, posting, banyak like. Selesai.
  • Pergi ke Gunung Papandayan, dekat, murah, tidur di tenda, makan seadanya, pemandangan tak kalah indahnya. Tapi merasa damai, lebih dekat dengan Tuhan.
  • Kumpul sama teman-teman, nongkrong asik, makan-ngebir-rokok, begadang bareng, haha-hihi. Hepi. Besok-besok diulang lagi. Soalnya males kalau sendiri.
  • Nonton dvd di rumah, menikmati waktu luang di antara kesibukan & kepenatan. Syukur banget kalo udah berdua sama pasangan. Ngobrolin banyak hal, becanda-becanda. Cuddling. 

Sejauh apapun kau pergi, kebahagiaan tak akan kau temui, selain di dalam dirimu sendiri.

Bagi seseorang yang bisa memaknai sesuatu, ia takkan melihat sebuah peristiwa / benda tak sekedar sebagai fasilitas, tapi juga dapat menemukan arti yang mendalam. Kenapa bisa begitu? Karena ia tau dirinya sendiri, ia tau Tuhannya yang mengirimkan rasa itu padanya, dan juga segala ciptaan yang ia lihat.

Nikmati Setiap Fase Kehidupan
Menurut suami saya, setiap fase dalam kehidupan memiliki jangka waktu / batasan, arti, dan cara menikmatinya masing-masing. Ketika bayi kita tak ingat apa-apa, sebagai anak kecil cara kita menikmatinya ya dengan bermain-main, beranjak remaja mungkin kita sudah mulai cinta-cintaan, setelah bekerja kita menikmati hidup dengan mempergunakan hasil kerja keras, setelah menikah cara menikmatinya mungkin jalan-jalan berdua, kalau sudah punya anak cara menikmatinya ya dengan mengurus anak. Dan seterusnya.

“Tapi ada batasannya seseorang harus sudah move on. Artinya, kalau sudah di fase tertentu kita nggak akan bisa mundur. Untuk melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan, mungkin aja, tapi nggak akan rutin seperti sebelumnya, dan esensinya pun akan lain,” katanya.
Kalau dulu kita bisa hura-hura, di batasan usia tertentu hal itu sudah nggak ‘menarik’ lagi, nggak seru lagi, karena fase dan prioritas yang berubah. Yang dulu kita anggap menyenangkan belum tentu sama menyenangkannya di masa sekarang. Semua itu terjadi secara alamiah. Kita nggak bisa kembali ke masa remaja seperti film “17 Again”, dan nggak akan bisa untuk selalu 17 tahun. Sebagai manusia dewasa kita harus mengerti dan menerima kenyataan bahwa kita semakin tua. Semakin tua. Semakin tua. Lantas apa? MATI. Yap, semua manusia dan makhluk di bumi ini akan mati. Dengan meyakini hal itu, kita akan semakin meyakini keberadaan Tuhan. Dia yang menciptakan dan juga yang men-switch off segalanya.
Bagaimana memaknai kematian bagi mereka yang tak menemukan Tuhan di hatinya? Bisa jadi, sebenarnya mereka berasal dari keluarga yang religius, sejak kecil diajarkan agama, keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Tapi kemudian lingkungan dan pikirannya menjerumuskan mereka pada kondisi yang sedemikian rumit sehingga tak mampu atau tak mau menerima ‘jawaban dari Tuhan’. Sebagai muslim, saya meyakini segala sesuatu yang ada di bumi, setiap fase kehidupan telah diatur dalam kitab suci Al Quran. Begitu pula ketika pikiran kita ‘tersesat’, hal itu tak luput dari campur tangan-Nya.

Mengutip website quran.al-shia.org, ada beberapa ayat yang menerangkan hal tersebut:

  1. Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
  2. Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
  3. Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.
  4. Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Jadi, kata siapa kalau kita tidak (baca: belum) mengenal Tuhan, Ia tidak akan campur tangan dalam kehidupan kita? Setiap helai rambut yang rontok, kulit yang gosong, gigi yang kuning (*eh* hehe), setiap hela nafas, setiap kedip mata, gerakan tangan-kaki-seluruh tubuh kita, ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Semua itu cuma-cuma diberikan pada kita. Lantas kenapa kita selalu mengeluh, “AKU NGGAK PERNAH BAHAGIA”.

Bahagia itu Syukur, dan Bukan Gratis Kayak Hadiah Makanan Ringan

Hallo Jeng, Mas, Mba, Tuan, Puan, FYI ya, KEBAHAGIAAN ITU NGGAK GRATIS. Lha wong buang air aja banyak tempat yang mengharuskan bayar. Kalau semua keinginan manusia dikasih gratis, bukan kedamaian tapi yang timbul justru kekacauan. Gimana kalau ternyata banyak manusia yang tinggal di bumi ini lebih berbahagia di atas penderitaan orang lain, coba?

Tidak ada satu pun manusia yang bisa menentukan kebahagiaan manusia yang lainnya. Karena hal yang membuat seseorang bahagia belum tentu bikin orang lain juga bahagia. Buat saya, kebahagiaan adalah hal yang langka, ibarat berlian. Untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan, mungkin juga rasa pahit, sakit, sedih, depresi, putus asa. Sudah barang tentu, kalau kita tidak pernah merasakan kesedihan, kita tidak akan tahu yang namanya kebahagiaan. Jadi kalau seseorang merasa sulit untuk bahagia, kemungkinannya ada dua : dia nggak pernah merasa sedih (banget), atau mungkin dia kurang bersyukur.

Dengan mengenal Tuhan, mengenal iman, kita akan senantiasa bersyukur. Jangan terlalu sering membandingkan diri dengan mereka yang “lebih”.

“Kok dia hepi-hepi terus ya hidupnya, barang-barangnya branded, stylish, punya mobil, rumah, gadget terkini, nongki blenji sana-sini, (*dalam hati, aku kok nggak?)” kalau kebahagiaan orang lain bikin kamu sedih, mendingan balik lagi jadi orok. Bahagia itu bukan cuma hal-hal yang bersifat duniawi.

Sering-seringlah melihat ke bawah dan merasakan kepedihan mereka yang “selalu sedih”. Tidakkah kita menyadari, bahwa di belahan bumi lain masih banyak orang yang terpaksa merasakan sedih sebagai “kegiatan sehari-harinya”. Kekurangan uang untuk beli beras, makan nasi kemarin cuma dengan garam dan sambal, harus rela anaknya keterbelakangan mental karena waktu hamil nggak mampu beli makanan bergizi, rumah gubuk tak mampu merenovasi– yang kalau hujan harus rela kebasahan karena bocor. Di belahan bumi lain itu, banyak yang kelaparan, busung lapar–badan tinggal kulit dan tulang, hidup dalam peperangan sehingga ditinggal orang tua ketika masih kecil. Sementara kita yang hidup berkecukupan, makan enak, kasur empuk, keluarga lengkap dan sehat, pekerjaan layak, bisa menginap di hotel-hotel, jalan-jalan ke luar kota (dan atau luar negeri), masiiiih aja mengeluh enggak bahagia. Hati mereka itu di mana ya? Selfish tingkat tinggi.

Remember, selalu ada alasan untuk bahagia. Paling tidak, merasa senang. Lihat sekeliling, lihat siapa yang mengisi kehidupan kita, bagaimana mereka peduli pada kita, kondisi badan dan kehidupan kita secara menyeluruh, dan lain sebagainya. Pasti selalu ada alasan untuk kita mensyukuri semua hal yang hadir di hidup kita sekarang ini. Kalau memang belum, mungkin kita belum maksimal mengejar dan memperjuangkannya. Tuhan akan menghadiahkan kebahagiaan buat mereka yang berjuang dan sabar melewati perjuangannya.

“Sebenernya yang bikin aku bahagia tuh ini, TAPI…….blablabla…..” bahagia itu nggak mengenal TAPI. Bahagia itu nggak instant. Karena yang instant (dan enak) cuma Indomie 😛

Indomie_Rebus_Ra_50f38909bfff5-500x500.jpg

Indomie paling enak ya rasa kari ayam *drooling #salahfokus (pic by indo.wsj.com)

Bahagia (Memang) Enggak Pernah Sederhana

Panjang perjalanan saya untuk bisa mendeskripsikan “arti bahagia” menurut saya sendiri. Untuk mengetahui kita sudah bahagia atau belum, kita harus mengenal diri kita sendiri. Yang terutama adalah mengetahui tujuan hidup (yang sejalan dengan prinsip), dari sana kita akan menemukan hal-hal yang bisa membuat kita senang, meresapi kesenangan kita, dan berujung rasa bahagia.

Mungkin karena kebanyakan nonton cerita Disney, saya pernah berpikir, bisa bersama dengan seseorang yang dikagumi akan membuat saya bahagia. Tapi ternyata menurut Tuhan nggak seperti itu, Tuhan nggak pernah mengijinkan saya pacaran sama laki-laki yang saya suka (*yailah curcol). Dulu sih saya kesel, kok Tuhan nggak mengijinkan saya untuk bahagia. Tapi akhirnya saya ngerti, kalau laki-laki yang indah dipandang mata, yang kelihatan bagus di kemasan luarnya (*ups) belum tentu laki-laki yang bisa membahagiakan saya.

*sambil nengokin orang-orang dari masa lalu buat berkaca dan berkata, “hey, mereka belum se-bahagia saya deh,” lalu tersenyum bangga. ha ha ha.

Bahagia itu proporsional, cukup (karena dalam kondisi kekurangan kita akan sulit merasa bahagia), dan tak berhenti bersyukur. Lebih dari itu, bahagia adalah hasil dari proses. Proses dan hasil berbeda-beda pada setiap orang (*kok kayak tulisan dalam kemasan produk ya ^_^). Bahagia memang nggak pernah sederhana. Tapi saya percaya, orang-orang yang menghargai proses akan lebih mudah bahagia daripada mereka yang hanya mengharapkan hasil akhir. Bahagia itu bukan pura-pura, jadi kalau kita lebih sering melakukan kepura-puraan, percuma aja, nggak akan berujung bahagia.

Abaikan aja hashtag #BahagiaItuSederhana kalau nggak sesuai dengan pandangan kita. Mereka-mereka itu hanya orang-orang yang (berusaha/sedang) menghargai hal-hal kecil dalam kehidupannya. Which is, engga ada salahnya juga kan?

Buat yang belum merasa bahagia, enggak pernah merasa bahagia, kalau udah mentok banget boleh deh dibantuin cari “Apa Itu Bahagia” di mesin pencari Google, siapatau nemu artikel-artikel yang mencerahkan. Misalnya ini :

Fakta-fakta Kecil Tentang Bahagia – hipwee